Saksi Mata-Seno Gumira Ajidarma (kumpulan cerpen)

Manuel

+

21

Di depan rumah aku melihat orang-orang berlarian kian kemari dengan panic. ‘Kapal-kapal perang menembak,’ kudengar seseorang berteriak sambil berlari. Suasana ini tak akan pernah kulupakan selama hidupku, karena sejak itu terenggutlah kedamaian hidup kami. Aku tak tahu lagi kapan kedamaian yang sebenarnya akan datang lagi ke kota kami.

27

Kami adalah orang-orang yang sudah tak bisa lagi merasa kehilangan, karena kehilangan telah menjadi kekayaan hidup kami. Kami tak punya lagi airmata untuk menangisi kehilangan kami, karena bahkan airmata darah kami telah terkuras dalam kehilangan yang hanya menyalakan semangat perlawanan kami.

27

Tak seorang pun menolong bayi-bayi yang merangkak sendiri-sendiri sambil menangis itu karena pemboman yang bertubi-tubi telah mematikan jiwa orang-orang yang masih hidup. Seolah-olah tak ada jarak antara hidup dan mati. Sebagian dari bayi-bayi itu mati, sebagian lagi hidup dan ikut mengungsi bersama kami. Bisakah kau bayangkan akan jadi manusia macam apa mereka setelah dewasa nanti?

29

Perjuangan, begitulah, toh tetap harus dilakukan dalam kesendirian

+

Maria

38

Mereka telah merusak tubuhku, tapi mereka tidak bisa menghancurkan jiwaku! Mereka mempermak aku setiap hari karena aku tidak mau mengaku, tapi itu hanya membuat aku semakin hari semakin kuat! Aku memang bukan Antonio yang dulu lagi Evangelista! Tapi aku tetap Antonio keponakanmu, Antonio anak Gregorio dan Maria, aku Antonio adik Ricardo!

+

Salvador

48

Mereka pulang dan tidur dengan harapan yang sangat tipis bahwa masa depan akan selalu lebih baik. Penderitaan, begitulah, seringkali memberikan segi-segi kenikmatannya sendiri.

+

Rosario

55

Bentakan-bentakan yang sangat menghina, bentakan-bentakan yang hanya bisa diucapkan oleh seseorang yang merasa dirinya mempunyai kekuasaan mutlak atas nasib orang-orang yang dibentaknya. Betapa bencinya Fernando jika mengingat ia tak akan pernah bisa menghapus semua itu, sekaligus ia berterima kasih karena kebencian itu telah membuatnya bertahan hidup.

+

Pelajaran Sejarah

76

Sejarah itu bukan hanya catatan tunggal dan nama-nama, Florencio, sejarah itu sering juga masih tersisa di rerumputan, terpendam dalam angin, menghempas dari balik ombak. Sejarah itu Florencio, merayap di luar kelas, kini kalian harus mempelajarinya.

80

Sebenarnya, seluruh cerita Guru Alfonso itu sudah pernah mereka dengar, bahkan sebenarnya mereka sudah hafal di luar kepala. Tapi kini mereka mengerti, itulah sejarah, yang tidak tertulis dalam buku-buku pelajaran sejarah.

+

Misteri Kota Ningi (The Invisible Christmas)

86

Sejarah tak terhapuskan, tapi catatan sejarah bisa saja dimusnahkan

+

Klandestin

98

Bukan korban itu benar my friend, yang jadi piutang, tapi keangkuhannya itu Bung, keangkuhan merasa diri paling benar itulah penghinaan besar pada kemanusiaan. Itu yang harus dibantai!

Sarang, November 2012

About these ads

3 thoughts on “Saksi Mata-Seno Gumira Ajidarma (kumpulan cerpen)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s