Sri dan Anaknya Ingin Keluar dari Aleppo

SRI Budi Setyowati Sudardi, 42, sudah tidak bisa lagi mengendalikan kecemasannya. Perempuan itu mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan Muhanad, 4, anak semata wayangnya. Bagaimana tidak, mereka saat ini berada di kota yang sama dengan Omran Daqneesh, 5, tinggal. Bocah yang foto dan videonya menghenyakkan dunia, setelah menjadi korban serangan udara di distrik Qaterji, Aleppo. Omar ditemukan di bawah reruntuhan rumahnya yang hancur lebur dengan luka di kepala.

Tak lama setelah peristiwa serangan udara itu, Sri bergegas melaporkan kondisinya ke Kantor Konsuler Indonesia cabang Aleppo. Memohon agar bisa dipulangkan segera ke Tanah Air. Ia tidak pernah membayangkan bisa terjebak di tempat yang menjadi sarang IS (Islamic State) tersebut.

“Saya pertama kali masuk ke Aleppo pada 2003. Kondisinya masih aman. Aleppo itu kota terbesar dan makmur di Suriah. Tapi sejak konflik berkecamuk tahun 2012, kondisinya berubah drastis,” ujar Sri membuka perbincangan saat dihubungi, kemarin.

Sri datang ke Suriah sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Dalam perjalanannya, Sri menikah dengan pria setempat yang bekerja sebagai sopir taksi. “Perasaan saya was-was setiap saat. Khawatir mortar yang ditembakan pemberontak jatuh di rumah atau lingkungan sekitar. Anak saya, Muhanad, juga tidak bebas bermain,” tuturnya cemas.

Sri menuturkan, sejak awal 2016 kebutuhan menjadi sangat sulit dan langka. Terutama untuk air, listrik, gas juga makanan. “Kami sering tidak mandi selama sepekan atau baru mendapatkan stok makanan baru setelah beberapa lama,” keluhnya.

Sri sebetulnya sudah lama ingin keluar dari Aleppo. Tanpa konflik saja, ia sudah tak betah. Sebab, anak laki-lakinya itu kerap dipukuli oleh majikannya dan suaminya. Ditambah lagi situasi kian mencekam. Tak ada alasan lagi bagi Sri untuk bertahan di kota itu. Namun untuk pulang ke tanah kelahiran ternyata tidak mudah. Keluar dari Aleppo tidaklah sederhana. “Apalagi majikan saya menahan saya cukup lama. Berkat bantuan dari Konsuler KBRI Damaskus saya berhasil ditarik ke shelter KBRI Damaskus.”

Sri diantarkan petugas KBRI dari Aleppo ke Damaskus dengan mobil kedutaan. Bersama Sri, ada 10 orang TKI lainnya yang ikut ditarik. Termasuk juga Nani dan anaknya yang bernama Muhammad, 3. “Saya lega dan bersyukur sekali. Harapan saya ya ingin pulang. Saat ini KBRI Damaskus tengah memperjuangkan hak-hak saya yang masih tertinggal di majikan, termasuk juga dokumen administrasi.”

Pejabat Konsuler KBRI Damaskus Adkhilni M. Sidqi menuturkan, upaya mengeluarkan para TKI dari Aleppo bukan hal mudah. Para TKI itu terlebih dahulu ditempatkan di penampungan KBRI di Aleppo bersama puluhan TKI lainnya. Setelah kondisi dinilai cukup aman, tim dari KBRI membawa rombongan TKI ke Damaskus dengan mobil KBRI dan menempuh perjalanan sekitar 8 jam. “Mustahil jika menggunakan mobil biasa, karena harus menembus puluhan pos pemeriksaan militer dan menembus reruntuhan kampung yang hancur dan ditinggalkan di tengah gurun,” ujarnya.

Saat ini, KBRI Damaskus masih mengupayakan agar para TKI itu bisa dibawa pulang ke Tanah Air. “Syarat administrasi kepulangan itu banyak. Izin tinggal (iqomah), exit permitt, gaji, tiket dan lain-lain. Untuk Sri saja, dia menunggak izin tinggal sebesar $1.000,” jelasnya.

Sejak 2012, kata Sidqi, KBRI Damaskus sudah memulangkan sekitar 13 ribu TKI. KBRI tidak memiliki data jumlah WNI yang berada di sana. Karena kebanyakan dari mereka masuk secara ilegal. “Kami tidak tahu jumlah pastinya. Karena banyak yang masuk secara ilegal. Pemerintah kita sudah menghentikan pengiriman TKI ke Suriah sejak 2011,” tuturnya.

Untuk menemukan para TKI yang tersebar di Suriah itu, pihaknya terus berupaya menyebar nomor telepon para petugas dari KBRI dan menugaskan para pengacara di wilayah-wilayah Suriah untuk mendampingi para TKI yang ditemukan untuk bisa segera ditarik pulang. KBRI Damaskus saat ini memiliki tiga tempat penampungan di Suriah yakni di Damaskus sendiri, di Lattakia dan Aleppo. “Kami terus berupaya agar para TKI itu bisa segera pulang ke Tanah Air,” tutupnya. (Nurulia Juwita)

Advertisements

Sakit apa? Mukosa.

Anak perempuan berkerudung merah itu menghampiri aku dan Bumi begitu saja. Kulitnya gelap, matanya berbinar polos, wajahnya ceria.

“Dede, hai Dede,” katanya menyapa Bumi.

Anak perempuan yang belakangan mengenalkan dirinya sebagai Ivi itu terlihat sendirian. Umurnya sekitar 8 atau 9 tahun. Mungkin ia bosan menunggu dokter bersama orangtuanya. Sehingga memutuskan berkeliling rumah sakit itu. Aku dan Bumi juga sedang menunggu Dokter Inayat merampungkan operasinya. Kunjungan kami untuk melihat perkembangan Bi, adik Bumi yang beberapa pekan lagi lahir. Ayah Bumi sedang salat Jumat di masjid seberang rumah sakit.

“Bosan ya nunggu dokternya. Lama,” kata Ivi pada kami.

Rupanya dia sedang menunggu juga. Mungkin dia menunggu dokter anak yang sedang salat Jumat.

“Nunggu dokter siapa?” Tanyaku.

“Nggak tau namanya. Tapi dokternya sedang operasi,” jawab gadis kecil itu.

Mungkin dia sedang menunggu dokter yang sama dengan kami. Bisa saja  dia menemani ibunya untuk kontrol kandungan.

“Siapa yang sakit?” tanyaku lagi.

“Aku.”

Tapi Ivi tidak terlihat sakit. “Sakit apa Ivi?”

Gadis itu mendadak agak menekuk muka. Dan menjawab dengan gumam. Aku mendengar dia samar-samar mengucapkan, “Mukosa.”

“Mukosa itu apa?” Tanyaku lagi.

“Aku mau divisum sama dokter.” Katanya.

Aku memutuskan tidak bertanya lagi. Khawatir pertanyaan soal sakit akan mengganggu dirinya. Walaupun aku tidak paham sakit apa yang dia jelaskan.

Bumi yang bosan menyimak percakapan kami, turun dari kursi. Ia mulai berjalan lagi ke sana sini. Ivi mengejar Bumi, menuntunnya seperti adik sendiri. Lalu mereka berdua menghampiriku lagi. Bumi dan Ivi sama-sama takjub melihat pintu depan rumah sakit yang otomatis bergeser terbuka saat ada orang yang berjalan di depan pintu.

“Ivi pikir ada orang yang ngedorong pintunya. Jadi kalau ada yang mau lewat, dia siap-siap dorong pintunya. Tapi Ivi cari-cari nggak ada.” Muka polosnya terlihat malu.

Seorang perempuan sebaya denganku menghampiri kami. Berbaju oranye lengan panjang. Wajahnya yang kusut berubah lega saat melihat Ivi. Perempuan itu mamanya Ivi.

“Hei sudah. Jangan terlalu dekat pintu nanti kejepit.”

Ivi menghampiri mamanya. Menceritakan teorinya tentang ada orang yang mendorong pintu otomatis. Wajah mamanya terlihat malu.

“Bukan, nak. Itu otomatis. Maklum orang kampung, nggak pernah lihat begituan,” kata mama Ivi dengan muka menahan malu.

“Biasalah anak-anak, suka polos,” kataku.

Lalu Mama Ivi bercerita, saat ke toilet tadi dia dan Ivi untuk pertama kalinya melihat mesin pengering tangan. Mereka berdua terkaget-kaget saat mesin itu tiba-tiba berbunyi. Rasa terkejut itu baru reda saat petugas pembersih toilet menjelaskan, kalau benda itu disebut pengering tangan otomatis.

“Kami orang kampung. Nggak pernah lihat begituan,” kata Mama Ivi nyengir.

“Di rumah sakit ini nggak terima pasien BPJS ya. Untung saya dibayarin pak polisi,” katanya.

Bumi sudah kudekap dalam aisan, saat bersiap mengejar Ivi yang kembali berkeliling rumah sakit. “Kakak.. Kakak..” Bumi menunjuk-nunjuk Ivi yang berlari.

“Iya, Bu. Di sini nggak bisa BPJS. Yang sakit siapa Bu? Mau berobat ke dokter mana?” tanyaku menyambut perbincangan yang ia mulai.

Mata perempuan itu mendadak berubah suram. “Anak saya korban pencabulan, pemerkosaan, si Ivi itu.”

Pandanganku beralih pada Ivi yang masih berkeliling, matanya takjub melihat ini itu.

Lewat cerita Mama Ivi yang acak, pelan-pelan kronologis ceritanya tersusun. Peristiwanya terjadi pada satu Selasa sore. Sang Mama meninggalkan Ivi di rumah bersama kakeknya yang sudah renta, karena ia sedang berkeliling mencari pekerjaan. Ivi kecil bosan di rumah, ditinggalkannya sang kakek dan pergi bermain.

Sampai datang laki-laki lajang yang umurnya sudah lewat 40 tahun, mendekati Ivi. Anak periang itu tak takut atau berprasangka buruk . Karena laki-laki itu tetangganya. Ivi kecil yang polos menurut saja saat pelan-pelan digiring ke rumah si tetangga. Bocah itu tak paham saat disuruh buka celana. Dia hanya tahu, sesudah peristiwa itu kemaluannya sakit setiap buang air kecil. “Kalau mau pipis, sakit,” kata Ivi padaku.

Peristiwa mengerikan itu ketahuan oleh sepasang suami istri, tetangga mereka yang lain. Dua orang ini lalu mengadu pada Mamanya Ivi. Hati sang Ibu remuk, saat Ivi mengiyakan laporan itu. Dan menceritakan peristiwanya dengan detail.

Mama Ivi pun bergegas melapor ke polisi. Petugas yang memeriksa, meminta Mama Ivi mengurus visum ke dokter terlebih dahulu. Sebagai barang bukti untuk menjerat si pelaku. Dan untuk itulah mereka berdua ada di rumah sakit ini

Hatiku mencelos.  Ternyata yang anak itu tadi bilang waktu kutanya apa  sakitnya ialah perkosa, bukan mukosa. Aku salah dengar.

Hidup Mama Ivi suram. Dari suami pertamanya, ia punya dua anak. Ivi yang sekarang kelas 3 SD, dan kakak perempuannya yang berumur 16 tahun. Kakak Ivi tidak sekolah. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk menghidupi mama, kakek dan dua adik perempuannya. Mama Ivi sudah bercerai dari suami pertamanya itu. Ia sendiri juga kerja serabutan, membantu tetangga-tetangga mencuci dan menyetrika. Tiga tahun lalu ia menikah lagi. Dapat satu anak perempuan lagi. Tapi belum genap setahun umur putrinya itu, si bapak berselingkuh dengan tetangga sendiri dan kabur meninggalkan keluarga.

“Kemarin ada wartawan nanya ke polisi. Untung polisinya baik. Dia bilang ke wartawan, jangan ditulis. Kasian. Saya juga nggak mau kalau Ivi sampai masuk koran. Malu. Gimana nanti masa depan Ivi. Nanti dia jadi rendah diri,” kata Mama Ivi lagi.

Tentu saja dia tidak tahu, tidak sadar sedang berbicara dengan wartawan. Sepasang suami istri wartawan. Tapi sudahlah, kami pun tak ingin memberitakan cerita Ivi.

Dari jauh aku melihat Dokter Inayat berkemeja merah muda dan kaca mata dengan rantai yang terkalung, berjalan menuju ruang prakteknya. Ivi, menjadi pasien pertama.

Anak itu tetap ceria saja sesudah menjalani pemeriksaan. Mama Ivi memegang secarik kertas hasil diagnosa awal si dokter. Dokter menggambar vagina di situ. Pada keterangannya dituliskan kalau v bengkak akibat gesekan. Tapi untungnya, selaput dara masih utuh.

Ada lega di raut wajah mamanya. “Kami mau balik ke kantor polisi untuk kasih ini. Sampai ketemu lagi ya,” kata ibu-anak itu berpamitan.

Kalau bukan melihat hasil visum Dokter Inayat, belumlah tentu kami percaya. Bukan karena sudah kebas hati. Melainkan mencegah hati terlampau iba sebelum faktanya jelas. Tak sedikit yang mengarang cerita demi mendapat belas kasihan atau ingin mencari untung.

Semoga Ivi baik-baik saja. Kubekali dia susu ultra cokelat dan sebungkus astor. Kukatakan padanya, “Cerita yang tadi rahasia kita ya. Ivi jangan ceritakan sama orang.” Mukanya bingung, tapi ia mengangguk juga.

4 September 2015

Catetan: Nama Ivi ialah samaran. Bukan nama sebenarnya gadis kecil itu.

kangen…

Sendirian, perjalanan pulang terasa lebih panjang. bahkan duduk di kereta yang biasanya terasa mewah jadi sangat membosankan. Rasa tak sampai-sampai di ujung rel sana. Pejam mata ataupun musik tidak membantu. Aku rungsing seperti Bumi menjelang waktu tidurnya.

Di hari-hari biasa, perjalanan kita bermuara di stasiun. Bisa Tebet, Cawang, atau Manggarai. Kita berbagi strategi dan semangat, dalam letih bertarung melawan pekerja-pekerja malam lain, untuk mendapatkan kursi. Tak kemaruk seperti di parlemen, cukup satu saja. Kita biasa duduk bergantian. Aku mendapat giliran lebih dulu.

Pada satu setengah jam itu, perjalanan punya kita berdua. Bertukar cerita tentang kejadian sepanjang hari, saling bercanda, bermain gim, atau mengagumi perkembangan Bumi lewat foto dan video yang kita simpan. Lalu tersenyum dan tertawa haru berdua.

Kadang kita hanya bisa berdialog lewat pandang dan seulas senyum kalau kereta terlalu penuh. Bisa juga tertidur pulas kalau sedang kelewat lelah dan kurang istirahat. Aku paling suka terlelap telungkup di pangkuanmu. menghindar senggol tangan penumpang laki-laki di kanan atau kiri. sekaligus mengistirahtkan tulang punggung yang makin rapuh.

Malam ini, tak ada teman seperjalanan berbagi cerita, pelindung yang memberi rasa aman, dan meredakan letih. Tidak bisa bermanja-manja setelah hari panjang yang penat.

Jalan raya di sebelah rel memamerkan kerlap-kerlip lampu kendaraan yang tertahan kemacetan. Kereta terus melaju. Mata dan pikiran masih menghitung stasiun yang dilewati. Perjalanan lambat, gerbong-gerbong masih penuh. Kenapa mereka belum turun juga? Tunggu aku di Stasiun Bogor.

21:53
Bubu sembilan bulan

Saat Waktu Banyak Terbuang di Perjalanan (KRL Commuter Line)

SAMBIL mengoperasikan gadget di genggaman tangannya, wanita berkemeja biru muda itu tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Sesekali ia menerima telepon dan berkomunikasi dengan rekan kerjanya untuk meminimalkan rasa bersalahnya karena akan datang terlambat di kantor. “Aduh… ini kereta mau datang jam berapa, sih?! Sudah terlambat naik (kereta) yang depan, ini malah lama banget,” kata Lidya, wanita itu, dengan gusar.

Tidak hanya warga Jombang, Ciputat, itu saja, kala itu ratusan calon penumpang lain sudah mulai menumpuk di peron. Mereka menunggu KRL commuter line menuju Stasiun Tanah Abang. Kereta seharusnya datang 27 menit yang lalu.

Lidya mengeluhkan KRL sering terlambat. Keberangkatan kereta bisa sangat jauh dari prediksi dan jadwal di atas kertas. Untuk menuju lokasi tempat kerjanya di Cideng, Jakpus, ibu dua anak itu menghabiskan waktu 20 menit. Belum lagi, perjalanan mesti disambung dengan kendaraan angkutan umum dari stasiun tujuan. “Ini padahal saya sudah janji dengan klien untuk bertemu di kantor.”

Masalah serupa juga dialami Iwan, 43. Ia terpaksa berangkat beberapa jam lebih awal karena sudah terlalu sering ditegur atasan. Ia mengeluhkan waktunya yang habis di perjalanan karena jadwal kereta penuh ketidakpastian. “Kan malu kalau alasan keretanya telat terus. Takut kena pecat karena perusahaan juga punya aturan,” kata dia.

Iwan mengatakan ketakutan yang menghantui di setiap perjalanan KRL ialah kena sial akibat ada gangguan teknis. Gangguan itu menghambat perjalanan kereta bukan dalam hitungan menit lagi, melainkan sampai beberapa jam. Pernah sekali waktu kereta baru beroperasi setelah hampir 7 jam akibat kerusakan jaringan listrik aliran atas (LAA). “Pernah pemberangkatan ditunda dari pukul 10.30 sampai 17.00. Katanya gara-gara ada gardu yang meledak.”

Lain halnya bagi Yana, 29. Gara-gara kereta sering datang terlambat, ia justru jadi mendapat teman seperjalanan. Rasa jenuh menunggu kereta kerap melahirkan perbincangan antarpenumpang. “Naik kereta itu enak. Jadi banyak teman, soalnya (kedatangan kereta) sering terlambat. Karena sama-sama senasib, jadi gampang akrab,” selorohnya. (DA/J-4)

Tidak hanya bagi penumpang, kereta yang datang terlambat membuat para petugas di stasiun ikut pegal hati karena mereka kerap jadi sasaran pertama kekesalan para penumpang.

Pelayanan masih Terkendala Faktor Alam (KRL Commuter Line)

WAKIL Kepala Stasiun Bogor Herry Susanto mengatakan faktor alam masih menjadi penyebab gangguan di beberapa lintasan KRL commuter line, termasuk di Stasiun Bogor. “Di Bogor, sebagian besar karena alam seperti banjir, air menggenang, dan longsor layaknya kejadian di Cilebut,” paparnya saat berbincang dengan Media Indonesia, akhir pekan lalu.

Genangan air atau banjir, kata dia, menyebabkan persinyalan tidak berfungsi normal, tapi tidak sampai menyebabkan tertahannya kereta hingga sekian waktu dan membatalkan perjalanan.

Soal gangguan sinyal yang kerap menjadi alasan keterlambatan kereta, menurut dia, hampir tidak pernah terjadi di Bogor. Namun, ia tidak menampik keterlambatan jadwal tetap sering terjadi di Stasiun Bogor. “Kalaupun ada gangguan, kita bisa merespons dan menanganinya. Tidak ada yang sampai menahan kereta. Di Bogor itu hanya terlambat dan itu pun tidak lama,” ungkapnya.

Untuk menjaga kondisi kereta agar tetap prima, perawatan terus dilakukan secara berkala. Di Stasiun Bogor ada tiga unit yang selalu merawat dan memelihara semua peralatan. “Jadwal pemeliharaan ada di setiap unit. Kapan harus ada pergantian dan pemeliharaan.”

Unit-unit tersebut yakni UPT Persinyalan, UPT Listrik Aliran Atas (LAA), dan UPT Jalan dan Jembatan. “Semua itu ada kaitannya dengan sinyal di unit persinyalan. LAA semua mengenai jaringan listrik di atas KA, pembangkit listrik sesuai dengan jalan. UPT Jalan dan Jembatan di antaranya menangani soal pergeseran rel,” paparnya.

Meski satu sama lain saling terkait dan terintegrasi, masing-masing memiliki jadwal perawatan sendiri. Kepala UPT Persinyalan Warisman mengungkapkan ada mekanisme sendiri-sendiri. Ada perawatan yang dilakukan harian, ada pula yang dilakukan per minggu atau bulanan. “Tidak bisa secara detail karena terlalu teknis dan penyakit dari gangguan itu berbeda-beda.”

Herry menambahkan terdapat beberapa kegiatan atau program yang sudah, tengah, dan akan dilakukan di Stasiun Bogor. Dia menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan ialah pengalihan lahan parkir, pembangunan area publik, pengadaan ruang terbuka hijau (RTH) seluas 100 x 20 meter, serta pembangunan double decker dan fasilitas penumpang. Adapun kegiatan yang akan dilakukan ialah pemindahan loket. “Loket akan direlokasi untuk memperlancar penumpang. Kalau tidak direkayasa, arus penumpang semerawut,” pungkasnya. (DD/J-4)

Tidak Cukup Menambah Jadwal (KRL Commuter Line)

POHON yang tumbang di Stasiun Universitas Indonesia, Sabtu (31/1), bukan menjadi satu-satunya peristiwa yang menyebabkan kedatangan kereta rel listrik (KRL) terlambat. Masalah ketepatan waktu masih menjadi persoalan utama bagi transportasi tersebut. Penambahan jadwal perjalanan KRL yang dilakukan awal Desember lalu nyatanya tidak berbanding lurus dengan perbaikan akurasi jadwal keberangkatan KRL.

Kamis (29/1), misalnya, hujan deras yang mengguyur Bogor hingga sebagian wilayah Jakarta yang dilalui KRL menyebabkan gangguan sinyal. Akibatnya, perjalanan kereta Bogor-Jakarta tertahan hampir 1 jam. Penumpukan penumpang pun terjadi.Tidak hanya itu, setiap hari para pelaju kereta kerap dipaksa memaklumi jadwal keberangkatan kereta yang banyak meleset.

“Yang paling banyak dikeluhkan penumpang ialah keterlambatan kereta. Itu bisa saja macam-macam alasannya. Bisa karena kereta mogok, gangguan sinyal, atau entah apa lagi,” ujar koordinator Komunitas Pecinta Kereta Api Jabodetabek KRL Mania, Nurcahyo, di Jakarta, Jumat (30/1).

Cahyo, yang saban hari memakai jasa kereta api rute Depok-Cawang, mengeluhkan jadwal KRL yang kerap meleset membuat waktu para pengguna kereta banyak terbuang untuk menunggu kereta. Dari data yang mereka pelajari, di Stasiun Jatinegara, misalnya, kemacetan terjadi karena ada pertemuan antara kereta yang keluar atau masuk dari dan ke Jawa. “Nah biasanya kalau sudah begini KRL mengalah dan harus menunggu bisa sampai 20 menit. Kan repot kalau pas berangkat kerja harus macet seperti ini.”

Masalah gangguan sinyal atau kereta mogok, lanjut dia, sering terjadi di Stasiun Manggarai, UI, Jatinegara, Kampung Bandan, Depok, dan Citayam. Ia menegaskan pihak KAI harus mencari solusi agar masalah-masalah seperti itu bisa segera diatasi. Perjalanan dengan menggunakan KRL, kata dia, seharusnya bisa lebih efektif.

Infrastruktur rel

Mulai kemarin, KRL commuter line kembali menambah jadwal keberangkatan untuk memperbaiki layanan penumpang. Rute yang baru ditambahkan ialah Depok-Jakarta Kota, Bogor-Jakarta Kota, Bogor-Jatinegara, Jatinegara-Depok, dan sisanya rute Jakarta Kota-Bogor. Namun, penambahan jadwal kereta tersebut seharusnya diiringi dengan pembenahan infrastruktur rel.

Manajer Komunikasi PT KAI Commuter Jabodetabek Eva Chairunnisa mengakui persoalan keterlambatan kereta itu terjadi karena tidak seimbangnya infrastruktur rel dengan jumlah perjalanan kereta selama ini. “Masyarakat lupa bagaimana rel-rel kita itu tidak hanya dilalui KRL saja, tetapi juga kereta barang sampai kereta penumpang ke luar Jabodetabek,” ujarnya.

Menurut dia, dengan lalu lintas kereta yang banyak, ditambah dengan pelintasan yang sama untuk kereta barang dan kereta luar dan itu sering terjadi saat ‘peak hour’, antrean perjalanan kereta tidak bisa dihindarkan lagi. Ia menjelaskan, untuk KRL Jabodetabek saja, jumlah perjalanan awal 2014 sebanyak 560. Hal itu bertambah sepanjang 2014 di saat KRL Jabodetabek menambah jumlah perjalanannya sebanyak 751. “Padahal, jumlah rel tidak bertambah,” jelas Eva.

Ia menambahkan pihaknya bukan tidak memikirkan jalan keluar dari keterbatasan infrastruktur tersebut. Saat ini pemerintah sudah mulai memikirkan pembangunan rel ganda.

Sementara itu, Senior Manager Corporate Communication of PT KAI Daop 1 Jakarta Bambang Prayitno menambahkan, selain masalah infrastruktur, adanya gangguan sinyal menjadi masalah yang juga dihadapi. “Kalau soal sinyal itu temporer saja, sangat tergantung cuaca. Intinya, kalau ada masalah, segera kita atasi dan sekarang relatif lebih baik,” jelas Bambang. (Ths/J-4)

Melengkapi Dagangan, Menadah dari Pemilik

BUKU murah yang dijual di basement Blok M Plaza ini di antaranya merupakan buku bekas, termasuk buku-buku langka. Pedagang sendiri memiliki pemasok tetap yang menjual buku jenis ini. Salah satu pedagang buku bekas, Andika, mengaku mengkhususkan menjual buku bekas untuk kalangan mahasiswa dengan harga pas kisaran Rp10 ribu. Buku-buku bekas jenis ini menurutnya didapatkan dari para pemilik buku yang segaja menjual kepadanya. “Kalau buku bekas ini, ada pemilik buku yang sudah langganan ke saya. Mereka jual dan saya beli,” ungkapnya.

Dia menerangkan, meskipun buku tersebut bekas, kondisinya masih layak pakai dan sangat dicari mahasiswa-mahasiswa untuk kepentingan kuliah. “Karena untuk mahasiswa kan yang penting isinya bisa dibaca sesuai kebutuhan dan harganya murah.”

Meski buku yang dijajakannya bukan buku baru, Andika memiliki standar untuk kualitas buku-buku yang dijualnya. Karena, kata dia, pembeli juga enggan membeli buku yang halamannya tidak lengkap atau kertasnya sudah dimakan tikus. “Kita lihat kondisinya dulu, kalau masih bagus ada cover yang masih utuh, kondisi kertasnya masih baik, dan tidak banyak coretan, baru kita beli,” jelas Andika.

Selain buku pelajaran, Andika juga menyediakan beberapa buku langka. Hanya saja buku langka yang dipajang tidak selengkap buku-buku pelajaran. Untuk buku-buku langka tertentu, para pembeli harus memesan terlebih dahulu buku yang mereka inginkan. Para penjual biasanya mencari dulu buku yang dipesan tersebut. “Kalau ada yang pesan baru deh kita carikan bukunya. Dan, biasanya buku itu dijual sama pemiliknya,” terangnya.

Untuk harga beli buku langka sendiri, tergantung dari judul dan seberapa langka buku tersebut. Adapun, untuk harga jualnya tentunya tidak bisa disamakan dengan buku bekas yang paling rendah dijualnya Rp10 ribu. Semakin langka, semakin mahal bukunya. Terutama untuk buku-buku yang penulisnya sempat dilarang menulis di Indonesia. Buku langka ini dijual dengan harga ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Ia mencontohkan buku 30 Tahun Indonesia Merdeka yang dipajangnya. Andika menjual dengan harga Rp350 ribu. “Kalau buku langka tergantung jenis bukunya apa dulu. Harga bisa disesuaikan,” tandasnya.

Untuk buku-buku bajakan, Sony, pedagang lainnya, mengaku mendapatkan buku dari daerah Bandung. “Kalau yang begini, kami langsung dapat dari Ban-dung. Mereka yang antar ke kami,” kata Sony. (Nel/J-4)