Sri dan Anaknya Ingin Keluar dari Aleppo

SRI Budi Setyowati Sudardi, 42, sudah tidak bisa lagi mengendalikan kecemasannya. Perempuan itu mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan Muhanad, 4, anak semata wayangnya. Bagaimana tidak, mereka saat ini berada di kota yang sama dengan Omran Daqneesh, 5, tinggal. Bocah yang foto dan videonya menghenyakkan dunia, setelah menjadi korban serangan udara di distrik Qaterji, Aleppo. Omar ditemukan di bawah reruntuhan rumahnya yang hancur lebur dengan luka di kepala.

Tak lama setelah peristiwa serangan udara itu, Sri bergegas melaporkan kondisinya ke Kantor Konsuler Indonesia cabang Aleppo. Memohon agar bisa dipulangkan segera ke Tanah Air. Ia tidak pernah membayangkan bisa terjebak di tempat yang menjadi sarang IS (Islamic State) tersebut.

“Saya pertama kali masuk ke Aleppo pada 2003. Kondisinya masih aman. Aleppo itu kota terbesar dan makmur di Suriah. Tapi sejak konflik berkecamuk tahun 2012, kondisinya berubah drastis,” ujar Sri membuka perbincangan saat dihubungi, kemarin.

Sri datang ke Suriah sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Dalam perjalanannya, Sri menikah dengan pria setempat yang bekerja sebagai sopir taksi. “Perasaan saya was-was setiap saat. Khawatir mortar yang ditembakan pemberontak jatuh di rumah atau lingkungan sekitar. Anak saya, Muhanad, juga tidak bebas bermain,” tuturnya cemas.

Sri menuturkan, sejak awal 2016 kebutuhan menjadi sangat sulit dan langka. Terutama untuk air, listrik, gas juga makanan. “Kami sering tidak mandi selama sepekan atau baru mendapatkan stok makanan baru setelah beberapa lama,” keluhnya.

Sri sebetulnya sudah lama ingin keluar dari Aleppo. Tanpa konflik saja, ia sudah tak betah. Sebab, anak laki-lakinya itu kerap dipukuli oleh majikannya dan suaminya. Ditambah lagi situasi kian mencekam. Tak ada alasan lagi bagi Sri untuk bertahan di kota itu. Namun untuk pulang ke tanah kelahiran ternyata tidak mudah. Keluar dari Aleppo tidaklah sederhana. “Apalagi majikan saya menahan saya cukup lama. Berkat bantuan dari Konsuler KBRI Damaskus saya berhasil ditarik ke shelter KBRI Damaskus.”

Sri diantarkan petugas KBRI dari Aleppo ke Damaskus dengan mobil kedutaan. Bersama Sri, ada 10 orang TKI lainnya yang ikut ditarik. Termasuk juga Nani dan anaknya yang bernama Muhammad, 3. “Saya lega dan bersyukur sekali. Harapan saya ya ingin pulang. Saat ini KBRI Damaskus tengah memperjuangkan hak-hak saya yang masih tertinggal di majikan, termasuk juga dokumen administrasi.”

Pejabat Konsuler KBRI Damaskus Adkhilni M. Sidqi menuturkan, upaya mengeluarkan para TKI dari Aleppo bukan hal mudah. Para TKI itu terlebih dahulu ditempatkan di penampungan KBRI di Aleppo bersama puluhan TKI lainnya. Setelah kondisi dinilai cukup aman, tim dari KBRI membawa rombongan TKI ke Damaskus dengan mobil KBRI dan menempuh perjalanan sekitar 8 jam. “Mustahil jika menggunakan mobil biasa, karena harus menembus puluhan pos pemeriksaan militer dan menembus reruntuhan kampung yang hancur dan ditinggalkan di tengah gurun,” ujarnya.

Saat ini, KBRI Damaskus masih mengupayakan agar para TKI itu bisa dibawa pulang ke Tanah Air. “Syarat administrasi kepulangan itu banyak. Izin tinggal (iqomah), exit permitt, gaji, tiket dan lain-lain. Untuk Sri saja, dia menunggak izin tinggal sebesar $1.000,” jelasnya.

Sejak 2012, kata Sidqi, KBRI Damaskus sudah memulangkan sekitar 13 ribu TKI. KBRI tidak memiliki data jumlah WNI yang berada di sana. Karena kebanyakan dari mereka masuk secara ilegal. “Kami tidak tahu jumlah pastinya. Karena banyak yang masuk secara ilegal. Pemerintah kita sudah menghentikan pengiriman TKI ke Suriah sejak 2011,” tuturnya.

Untuk menemukan para TKI yang tersebar di Suriah itu, pihaknya terus berupaya menyebar nomor telepon para petugas dari KBRI dan menugaskan para pengacara di wilayah-wilayah Suriah untuk mendampingi para TKI yang ditemukan untuk bisa segera ditarik pulang. KBRI Damaskus saat ini memiliki tiga tempat penampungan di Suriah yakni di Damaskus sendiri, di Lattakia dan Aleppo. “Kami terus berupaya agar para TKI itu bisa segera pulang ke Tanah Air,” tutupnya. (Nurulia Juwita)

Sakit apa? Mukosa.

Anak perempuan berkerudung merah itu menghampiri aku dan Bumi begitu saja. Kulitnya gelap, matanya berbinar polos, wajahnya ceria.

“Dede, hai Dede,” katanya menyapa Bumi.

Anak perempuan yang belakangan mengenalkan dirinya sebagai Ivi itu terlihat sendirian. Umurnya sekitar 8 atau 9 tahun. Mungkin ia bosan menunggu dokter bersama orangtuanya. Sehingga memutuskan berkeliling rumah sakit itu. Aku dan Bumi juga sedang menunggu Dokter Inayat merampungkan operasinya. Kunjungan kami untuk melihat perkembangan Bi, adik Bumi yang beberapa pekan lagi lahir. Ayah Bumi sedang salat Jumat di masjid seberang rumah sakit.

“Bosan ya nunggu dokternya. Lama,” kata Ivi pada kami.

Rupanya dia sedang menunggu juga. Mungkin dia menunggu dokter anak yang sedang salat Jumat.

“Nunggu dokter siapa?” Tanyaku.

“Nggak tau namanya. Tapi dokternya sedang operasi,” jawab gadis kecil itu.

Mungkin dia sedang menunggu dokter yang sama dengan kami. Bisa saja  dia menemani ibunya untuk kontrol kandungan.

“Siapa yang sakit?” tanyaku lagi.

“Aku.”

Tapi Ivi tidak terlihat sakit. “Sakit apa Ivi?”

Gadis itu mendadak agak menekuk muka. Dan menjawab dengan gumam. Aku mendengar dia samar-samar mengucapkan, “Mukosa.”

“Mukosa itu apa?” Tanyaku lagi.

“Aku mau divisum sama dokter.” Katanya.

Aku memutuskan tidak bertanya lagi. Khawatir pertanyaan soal sakit akan mengganggu dirinya. Walaupun aku tidak paham sakit apa yang dia jelaskan.

Bumi yang bosan menyimak percakapan kami, turun dari kursi. Ia mulai berjalan lagi ke sana sini. Ivi mengejar Bumi, menuntunnya seperti adik sendiri. Lalu mereka berdua menghampiriku lagi. Bumi dan Ivi sama-sama takjub melihat pintu depan rumah sakit yang otomatis bergeser terbuka saat ada orang yang berjalan di depan pintu.

“Ivi pikir ada orang yang ngedorong pintunya. Jadi kalau ada yang mau lewat, dia siap-siap dorong pintunya. Tapi Ivi cari-cari nggak ada.” Muka polosnya terlihat malu.

Seorang perempuan sebaya denganku menghampiri kami. Berbaju oranye lengan panjang. Wajahnya yang kusut berubah lega saat melihat Ivi. Perempuan itu mamanya Ivi.

“Hei sudah. Jangan terlalu dekat pintu nanti kejepit.”

Ivi menghampiri mamanya. Menceritakan teorinya tentang ada orang yang mendorong pintu otomatis. Wajah mamanya terlihat malu.

“Bukan, nak. Itu otomatis. Maklum orang kampung, nggak pernah lihat begituan,” kata mama Ivi dengan muka menahan malu.

“Biasalah anak-anak, suka polos,” kataku.

Lalu Mama Ivi bercerita, saat ke toilet tadi dia dan Ivi untuk pertama kalinya melihat mesin pengering tangan. Mereka berdua terkaget-kaget saat mesin itu tiba-tiba berbunyi. Rasa terkejut itu baru reda saat petugas pembersih toilet menjelaskan, kalau benda itu disebut pengering tangan otomatis.

“Kami orang kampung. Nggak pernah lihat begituan,” kata Mama Ivi nyengir.

“Di rumah sakit ini nggak terima pasien BPJS ya. Untung saya dibayarin pak polisi,” katanya.

Bumi sudah kudekap dalam aisan, saat bersiap mengejar Ivi yang kembali berkeliling rumah sakit. “Kakak.. Kakak..” Bumi menunjuk-nunjuk Ivi yang berlari.

“Iya, Bu. Di sini nggak bisa BPJS. Yang sakit siapa Bu? Mau berobat ke dokter mana?” tanyaku menyambut perbincangan yang ia mulai.

Mata perempuan itu mendadak berubah suram. “Anak saya korban pencabulan, pemerkosaan, si Ivi itu.”

Pandanganku beralih pada Ivi yang masih berkeliling, matanya takjub melihat ini itu.

Lewat cerita Mama Ivi yang acak, pelan-pelan kronologis ceritanya tersusun. Peristiwanya terjadi pada satu Selasa sore. Sang Mama meninggalkan Ivi di rumah bersama kakeknya yang sudah renta, karena ia sedang berkeliling mencari pekerjaan. Ivi kecil bosan di rumah, ditinggalkannya sang kakek dan pergi bermain.

Sampai datang laki-laki lajang yang umurnya sudah lewat 40 tahun, mendekati Ivi. Anak periang itu tak takut atau berprasangka buruk . Karena laki-laki itu tetangganya. Ivi kecil yang polos menurut saja saat pelan-pelan digiring ke rumah si tetangga. Bocah itu tak paham saat disuruh buka celana. Dia hanya tahu, sesudah peristiwa itu kemaluannya sakit setiap buang air kecil. “Kalau mau pipis, sakit,” kata Ivi padaku.

Peristiwa mengerikan itu ketahuan oleh sepasang suami istri, tetangga mereka yang lain. Dua orang ini lalu mengadu pada Mamanya Ivi. Hati sang Ibu remuk, saat Ivi mengiyakan laporan itu. Dan menceritakan peristiwanya dengan detail.

Mama Ivi pun bergegas melapor ke polisi. Petugas yang memeriksa, meminta Mama Ivi mengurus visum ke dokter terlebih dahulu. Sebagai barang bukti untuk menjerat si pelaku. Dan untuk itulah mereka berdua ada di rumah sakit ini

Hatiku mencelos.  Ternyata yang anak itu tadi bilang waktu kutanya apa  sakitnya ialah perkosa, bukan mukosa. Aku salah dengar.

Hidup Mama Ivi suram. Dari suami pertamanya, ia punya dua anak. Ivi yang sekarang kelas 3 SD, dan kakak perempuannya yang berumur 16 tahun. Kakak Ivi tidak sekolah. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk menghidupi mama, kakek dan dua adik perempuannya. Mama Ivi sudah bercerai dari suami pertamanya itu. Ia sendiri juga kerja serabutan, membantu tetangga-tetangga mencuci dan menyetrika. Tiga tahun lalu ia menikah lagi. Dapat satu anak perempuan lagi. Tapi belum genap setahun umur putrinya itu, si bapak berselingkuh dengan tetangga sendiri dan kabur meninggalkan keluarga.

“Kemarin ada wartawan nanya ke polisi. Untung polisinya baik. Dia bilang ke wartawan, jangan ditulis. Kasian. Saya juga nggak mau kalau Ivi sampai masuk koran. Malu. Gimana nanti masa depan Ivi. Nanti dia jadi rendah diri,” kata Mama Ivi lagi.

Tentu saja dia tidak tahu, tidak sadar sedang berbicara dengan wartawan. Sepasang suami istri wartawan. Tapi sudahlah, kami pun tak ingin memberitakan cerita Ivi.

Dari jauh aku melihat Dokter Inayat berkemeja merah muda dan kaca mata dengan rantai yang terkalung, berjalan menuju ruang prakteknya. Ivi, menjadi pasien pertama.

Anak itu tetap ceria saja sesudah menjalani pemeriksaan. Mama Ivi memegang secarik kertas hasil diagnosa awal si dokter. Dokter menggambar vagina di situ. Pada keterangannya dituliskan kalau v bengkak akibat gesekan. Tapi untungnya, selaput dara masih utuh.

Ada lega di raut wajah mamanya. “Kami mau balik ke kantor polisi untuk kasih ini. Sampai ketemu lagi ya,” kata ibu-anak itu berpamitan.

Kalau bukan melihat hasil visum Dokter Inayat, belumlah tentu kami percaya. Bukan karena sudah kebas hati. Melainkan mencegah hati terlampau iba sebelum faktanya jelas. Tak sedikit yang mengarang cerita demi mendapat belas kasihan atau ingin mencari untung.

Semoga Ivi baik-baik saja. Kubekali dia susu ultra cokelat dan sebungkus astor. Kukatakan padanya, “Cerita yang tadi rahasia kita ya. Ivi jangan ceritakan sama orang.” Mukanya bingung, tapi ia mengangguk juga.

4 September 2015

Catetan: Nama Ivi ialah samaran. Bukan nama sebenarnya gadis kecil itu.

kangen…

Sendirian, perjalanan pulang terasa lebih panjang. bahkan duduk di kereta yang biasanya terasa mewah jadi sangat membosankan. Rasa tak sampai-sampai di ujung rel sana. Pejam mata ataupun musik tidak membantu. Aku rungsing seperti Bumi menjelang waktu tidurnya.

Di hari-hari biasa, perjalanan kita bermuara di stasiun. Bisa Tebet, Cawang, atau Manggarai. Kita berbagi strategi dan semangat, dalam letih bertarung melawan pekerja-pekerja malam lain, untuk mendapatkan kursi. Tak kemaruk seperti di parlemen, cukup satu saja. Kita biasa duduk bergantian. Aku mendapat giliran lebih dulu.

Pada satu setengah jam itu, perjalanan punya kita berdua. Bertukar cerita tentang kejadian sepanjang hari, saling bercanda, bermain gim, atau mengagumi perkembangan Bumi lewat foto dan video yang kita simpan. Lalu tersenyum dan tertawa haru berdua.

Kadang kita hanya bisa berdialog lewat pandang dan seulas senyum kalau kereta terlalu penuh. Bisa juga tertidur pulas kalau sedang kelewat lelah dan kurang istirahat. Aku paling suka terlelap telungkup di pangkuanmu. menghindar senggol tangan penumpang laki-laki di kanan atau kiri. sekaligus mengistirahtkan tulang punggung yang makin rapuh.

Malam ini, tak ada teman seperjalanan berbagi cerita, pelindung yang memberi rasa aman, dan meredakan letih. Tidak bisa bermanja-manja setelah hari panjang yang penat.

Jalan raya di sebelah rel memamerkan kerlap-kerlip lampu kendaraan yang tertahan kemacetan. Kereta terus melaju. Mata dan pikiran masih menghitung stasiun yang dilewati. Perjalanan lambat, gerbong-gerbong masih penuh. Kenapa mereka belum turun juga? Tunggu aku di Stasiun Bogor.

21:53
Bubu sembilan bulan

Saat Waktu Banyak Terbuang di Perjalanan (KRL Commuter Line)

SAMBIL mengoperasikan gadget di genggaman tangannya, wanita berkemeja biru muda itu tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Sesekali ia menerima telepon dan berkomunikasi dengan rekan kerjanya untuk meminimalkan rasa bersalahnya karena akan datang terlambat di kantor. “Aduh… ini kereta mau datang jam berapa, sih?! Sudah terlambat naik (kereta) yang depan, ini malah lama banget,” kata Lidya, wanita itu, dengan gusar.

Tidak hanya warga Jombang, Ciputat, itu saja, kala itu ratusan calon penumpang lain sudah mulai menumpuk di peron. Mereka menunggu KRL commuter line menuju Stasiun Tanah Abang. Kereta seharusnya datang 27 menit yang lalu.

Lidya mengeluhkan KRL sering terlambat. Keberangkatan kereta bisa sangat jauh dari prediksi dan jadwal di atas kertas. Untuk menuju lokasi tempat kerjanya di Cideng, Jakpus, ibu dua anak itu menghabiskan waktu 20 menit. Belum lagi, perjalanan mesti disambung dengan kendaraan angkutan umum dari stasiun tujuan. “Ini padahal saya sudah janji dengan klien untuk bertemu di kantor.”

Masalah serupa juga dialami Iwan, 43. Ia terpaksa berangkat beberapa jam lebih awal karena sudah terlalu sering ditegur atasan. Ia mengeluhkan waktunya yang habis di perjalanan karena jadwal kereta penuh ketidakpastian. “Kan malu kalau alasan keretanya telat terus. Takut kena pecat karena perusahaan juga punya aturan,” kata dia.

Iwan mengatakan ketakutan yang menghantui di setiap perjalanan KRL ialah kena sial akibat ada gangguan teknis. Gangguan itu menghambat perjalanan kereta bukan dalam hitungan menit lagi, melainkan sampai beberapa jam. Pernah sekali waktu kereta baru beroperasi setelah hampir 7 jam akibat kerusakan jaringan listrik aliran atas (LAA). “Pernah pemberangkatan ditunda dari pukul 10.30 sampai 17.00. Katanya gara-gara ada gardu yang meledak.”

Lain halnya bagi Yana, 29. Gara-gara kereta sering datang terlambat, ia justru jadi mendapat teman seperjalanan. Rasa jenuh menunggu kereta kerap melahirkan perbincangan antarpenumpang. “Naik kereta itu enak. Jadi banyak teman, soalnya (kedatangan kereta) sering terlambat. Karena sama-sama senasib, jadi gampang akrab,” selorohnya. (DA/J-4)

Tidak hanya bagi penumpang, kereta yang datang terlambat membuat para petugas di stasiun ikut pegal hati karena mereka kerap jadi sasaran pertama kekesalan para penumpang.

Pelayanan masih Terkendala Faktor Alam (KRL Commuter Line)

WAKIL Kepala Stasiun Bogor Herry Susanto mengatakan faktor alam masih menjadi penyebab gangguan di beberapa lintasan KRL commuter line, termasuk di Stasiun Bogor. “Di Bogor, sebagian besar karena alam seperti banjir, air menggenang, dan longsor layaknya kejadian di Cilebut,” paparnya saat berbincang dengan Media Indonesia, akhir pekan lalu.

Genangan air atau banjir, kata dia, menyebabkan persinyalan tidak berfungsi normal, tapi tidak sampai menyebabkan tertahannya kereta hingga sekian waktu dan membatalkan perjalanan.

Soal gangguan sinyal yang kerap menjadi alasan keterlambatan kereta, menurut dia, hampir tidak pernah terjadi di Bogor. Namun, ia tidak menampik keterlambatan jadwal tetap sering terjadi di Stasiun Bogor. “Kalaupun ada gangguan, kita bisa merespons dan menanganinya. Tidak ada yang sampai menahan kereta. Di Bogor itu hanya terlambat dan itu pun tidak lama,” ungkapnya.

Untuk menjaga kondisi kereta agar tetap prima, perawatan terus dilakukan secara berkala. Di Stasiun Bogor ada tiga unit yang selalu merawat dan memelihara semua peralatan. “Jadwal pemeliharaan ada di setiap unit. Kapan harus ada pergantian dan pemeliharaan.”

Unit-unit tersebut yakni UPT Persinyalan, UPT Listrik Aliran Atas (LAA), dan UPT Jalan dan Jembatan. “Semua itu ada kaitannya dengan sinyal di unit persinyalan. LAA semua mengenai jaringan listrik di atas KA, pembangkit listrik sesuai dengan jalan. UPT Jalan dan Jembatan di antaranya menangani soal pergeseran rel,” paparnya.

Meski satu sama lain saling terkait dan terintegrasi, masing-masing memiliki jadwal perawatan sendiri. Kepala UPT Persinyalan Warisman mengungkapkan ada mekanisme sendiri-sendiri. Ada perawatan yang dilakukan harian, ada pula yang dilakukan per minggu atau bulanan. “Tidak bisa secara detail karena terlalu teknis dan penyakit dari gangguan itu berbeda-beda.”

Herry menambahkan terdapat beberapa kegiatan atau program yang sudah, tengah, dan akan dilakukan di Stasiun Bogor. Dia menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan ialah pengalihan lahan parkir, pembangunan area publik, pengadaan ruang terbuka hijau (RTH) seluas 100 x 20 meter, serta pembangunan double decker dan fasilitas penumpang. Adapun kegiatan yang akan dilakukan ialah pemindahan loket. “Loket akan direlokasi untuk memperlancar penumpang. Kalau tidak direkayasa, arus penumpang semerawut,” pungkasnya. (DD/J-4)

Tidak Cukup Menambah Jadwal (KRL Commuter Line)

POHON yang tumbang di Stasiun Universitas Indonesia, Sabtu (31/1), bukan menjadi satu-satunya peristiwa yang menyebabkan kedatangan kereta rel listrik (KRL) terlambat. Masalah ketepatan waktu masih menjadi persoalan utama bagi transportasi tersebut. Penambahan jadwal perjalanan KRL yang dilakukan awal Desember lalu nyatanya tidak berbanding lurus dengan perbaikan akurasi jadwal keberangkatan KRL.

Kamis (29/1), misalnya, hujan deras yang mengguyur Bogor hingga sebagian wilayah Jakarta yang dilalui KRL menyebabkan gangguan sinyal. Akibatnya, perjalanan kereta Bogor-Jakarta tertahan hampir 1 jam. Penumpukan penumpang pun terjadi.Tidak hanya itu, setiap hari para pelaju kereta kerap dipaksa memaklumi jadwal keberangkatan kereta yang banyak meleset.

“Yang paling banyak dikeluhkan penumpang ialah keterlambatan kereta. Itu bisa saja macam-macam alasannya. Bisa karena kereta mogok, gangguan sinyal, atau entah apa lagi,” ujar koordinator Komunitas Pecinta Kereta Api Jabodetabek KRL Mania, Nurcahyo, di Jakarta, Jumat (30/1).

Cahyo, yang saban hari memakai jasa kereta api rute Depok-Cawang, mengeluhkan jadwal KRL yang kerap meleset membuat waktu para pengguna kereta banyak terbuang untuk menunggu kereta. Dari data yang mereka pelajari, di Stasiun Jatinegara, misalnya, kemacetan terjadi karena ada pertemuan antara kereta yang keluar atau masuk dari dan ke Jawa. “Nah biasanya kalau sudah begini KRL mengalah dan harus menunggu bisa sampai 20 menit. Kan repot kalau pas berangkat kerja harus macet seperti ini.”

Masalah gangguan sinyal atau kereta mogok, lanjut dia, sering terjadi di Stasiun Manggarai, UI, Jatinegara, Kampung Bandan, Depok, dan Citayam. Ia menegaskan pihak KAI harus mencari solusi agar masalah-masalah seperti itu bisa segera diatasi. Perjalanan dengan menggunakan KRL, kata dia, seharusnya bisa lebih efektif.

Infrastruktur rel

Mulai kemarin, KRL commuter line kembali menambah jadwal keberangkatan untuk memperbaiki layanan penumpang. Rute yang baru ditambahkan ialah Depok-Jakarta Kota, Bogor-Jakarta Kota, Bogor-Jatinegara, Jatinegara-Depok, dan sisanya rute Jakarta Kota-Bogor. Namun, penambahan jadwal kereta tersebut seharusnya diiringi dengan pembenahan infrastruktur rel.

Manajer Komunikasi PT KAI Commuter Jabodetabek Eva Chairunnisa mengakui persoalan keterlambatan kereta itu terjadi karena tidak seimbangnya infrastruktur rel dengan jumlah perjalanan kereta selama ini. “Masyarakat lupa bagaimana rel-rel kita itu tidak hanya dilalui KRL saja, tetapi juga kereta barang sampai kereta penumpang ke luar Jabodetabek,” ujarnya.

Menurut dia, dengan lalu lintas kereta yang banyak, ditambah dengan pelintasan yang sama untuk kereta barang dan kereta luar dan itu sering terjadi saat ‘peak hour’, antrean perjalanan kereta tidak bisa dihindarkan lagi. Ia menjelaskan, untuk KRL Jabodetabek saja, jumlah perjalanan awal 2014 sebanyak 560. Hal itu bertambah sepanjang 2014 di saat KRL Jabodetabek menambah jumlah perjalanannya sebanyak 751. “Padahal, jumlah rel tidak bertambah,” jelas Eva.

Ia menambahkan pihaknya bukan tidak memikirkan jalan keluar dari keterbatasan infrastruktur tersebut. Saat ini pemerintah sudah mulai memikirkan pembangunan rel ganda.

Sementara itu, Senior Manager Corporate Communication of PT KAI Daop 1 Jakarta Bambang Prayitno menambahkan, selain masalah infrastruktur, adanya gangguan sinyal menjadi masalah yang juga dihadapi. “Kalau soal sinyal itu temporer saja, sangat tergantung cuaca. Intinya, kalau ada masalah, segera kita atasi dan sekarang relatif lebih baik,” jelas Bambang. (Ths/J-4)

Melengkapi Dagangan, Menadah dari Pemilik

BUKU murah yang dijual di basement Blok M Plaza ini di antaranya merupakan buku bekas, termasuk buku-buku langka. Pedagang sendiri memiliki pemasok tetap yang menjual buku jenis ini. Salah satu pedagang buku bekas, Andika, mengaku mengkhususkan menjual buku bekas untuk kalangan mahasiswa dengan harga pas kisaran Rp10 ribu. Buku-buku bekas jenis ini menurutnya didapatkan dari para pemilik buku yang segaja menjual kepadanya. “Kalau buku bekas ini, ada pemilik buku yang sudah langganan ke saya. Mereka jual dan saya beli,” ungkapnya.

Dia menerangkan, meskipun buku tersebut bekas, kondisinya masih layak pakai dan sangat dicari mahasiswa-mahasiswa untuk kepentingan kuliah. “Karena untuk mahasiswa kan yang penting isinya bisa dibaca sesuai kebutuhan dan harganya murah.”

Meski buku yang dijajakannya bukan buku baru, Andika memiliki standar untuk kualitas buku-buku yang dijualnya. Karena, kata dia, pembeli juga enggan membeli buku yang halamannya tidak lengkap atau kertasnya sudah dimakan tikus. “Kita lihat kondisinya dulu, kalau masih bagus ada cover yang masih utuh, kondisi kertasnya masih baik, dan tidak banyak coretan, baru kita beli,” jelas Andika.

Selain buku pelajaran, Andika juga menyediakan beberapa buku langka. Hanya saja buku langka yang dipajang tidak selengkap buku-buku pelajaran. Untuk buku-buku langka tertentu, para pembeli harus memesan terlebih dahulu buku yang mereka inginkan. Para penjual biasanya mencari dulu buku yang dipesan tersebut. “Kalau ada yang pesan baru deh kita carikan bukunya. Dan, biasanya buku itu dijual sama pemiliknya,” terangnya.

Untuk harga beli buku langka sendiri, tergantung dari judul dan seberapa langka buku tersebut. Adapun, untuk harga jualnya tentunya tidak bisa disamakan dengan buku bekas yang paling rendah dijualnya Rp10 ribu. Semakin langka, semakin mahal bukunya. Terutama untuk buku-buku yang penulisnya sempat dilarang menulis di Indonesia. Buku langka ini dijual dengan harga ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Ia mencontohkan buku 30 Tahun Indonesia Merdeka yang dipajangnya. Andika menjual dengan harga Rp350 ribu. “Kalau buku langka tergantung jenis bukunya apa dulu. Harga bisa disesuaikan,” tandasnya.

Untuk buku-buku bajakan, Sony, pedagang lainnya, mengaku mendapatkan buku dari daerah Bandung. “Kalau yang begini, kami langsung dapat dari Ban-dung. Mereka yang antar ke kami,” kata Sony. (Nel/J-4)

Banyak Peminat, Novel Populer Jadi Sasaran para Pembajak

BUKU dengan harga yang murah menjadi nilai tersendiri tidak hanya bagi para pecinta buku, melainkan juga bagi para pelajar dan mahasiswa yang membutuhkan buku-buku untuk menunjang pembelajaran yang diikuti mereka. Tidak semua orang menyukai buku-buku bekas yang kondisinya sudah tidak sempurna. Ada pula yang menginginkan buku-buku masih mulus, licin, tetapi dengan harga semurah-murahnya. Bagi para pembeli buku tipe ini, harus berhati-hati, karena mungkin saja buku yang dibeli adalah buku bajakan.

Salah satu pedagang buku di Blok M Square Sony mengaku, di samping menjual buku-buku asli dirinya juga menjual buku bajakan. Buku bajakan yang dijual ini biasanya novel-novel populer, dan buku-buku materi kuliah yang banyak dicari mahasiswa. Karena peminatnya banyak, Soni selalu memenuhi stok barang dagangannya dengan buku-buku bajakan ini. “Ada yang bajakan, seperti buku kuliah buat mahasiswa. Itu banyak dicari mahasiswa,” ujarnya.

Misalnya saja buku mengenai pengantar ekonomi dan manajemen terbitan indeks dijual dengan harga Rp40 ribu. Padahal harga buku asli tersebut sekitar Rp75 ribu. Meski sudah dijual murah, para pembeli bisa menawar dengan harga yang lebih murah lagi. “Masih bisa ditawar sampai harga paling rendah Rp25 ribu,” terangnya.

Contoh lainnya, untuk rangkaian novel karya Harlequin dijualnya di kisaran Rp15 ribu-Rp20 ribu dari harga novel aslinya, Rp40 ribu. Sementara untuk seri Twilight dijual di kisaran Rp60 ribu-Rp75 ribu dari harga aslinya, Rp110 ribu.

Pandasurya, seorang pelanggan buku di BMS mengatakan para pembeli memang harus berhati-hati dan jeli melihat buku bajakan. Kebanyakan penjual tidak mengungkapkan asli tidaknya buku kepada para pembelinya. “Pembeli yang harus jeli. Sebab, penjual tidak akan mengaku kalau mereka jual buku bajakan,” ungkapnya.

Sebagai penggemar buku, ia memiliki kiat khusus untuk membedakan buku asli dan bajakan. Yang harus dilihat pertama kali, kata dia, adalah sampul dan kemasan buku yang akan dibeli. “Biasanya sampul buku bajakan warnanya jauh lebih pudar dibandingkan sampul asli yang sangat jelas dan terang,” jelasnya.

Perbedaan lain yang bisa dilihat adalah jenis kertas dan kualitas jilid buku. Halaman dari buku bajakan biasanya lebih mudah terlepas karena dijilid seadanya. “Pilihannya ada di pembeli, dia harus cek langsung pas dia beli. Setelah itu dia yang tentukan tetap beli buku bajakan atau beli yang asli,” tutupnya. (Nel/J-4)

Berburu yang Murah di BMS

PULUHAN lapak penjual buku yang ada di Blok M Square (BMS), Jakarta Selatan, menjadi muara pertemuan para penggemar buku. Tempat itu menjadi alternatif untuk berburu beragam buku yang dibutuhkan. Karena dijual dengan harga lebih murah jika dibandingkan dengan harga di toko buku, kebanyakan buku tersebut ialah buku-buku bekas. Winson, seorang mahasiswa universitas swasta di Jakarta, menjadi salah satu pelanggan yang kerap berbelanja buku di sana. Penggemar komik itu sering mencari buku-buku komik bekas untuk melengkapi koleksinya.

“Kalau lagi belanja, saya bisa beli sepuluhan buku ataupun komik karena di sini murah,” ujarnya kepada Media Indonesia, saat sedang memilih buku di sebuah kios, kemarin. Puluhan pedagang buku bekas itu menempati kios di area blok A, basement BMS.

Para pedagang tersebut merupakan pedagang yang dulu berjualan buku murah di daerah Kwitang. Pada 2008, mereka digusur dari Kwitang. “Setelah digusur, kami sempat berjualan di Thamrin City selama setahun, kemudian 2009 baru menempati kios di sini,” kata Putra, salah seorang pemilik kios buku.

Kios-kios para pedagang itu relatif nyaman bagi para penjelajah buku. Karena letaknya yang berada di basement membuat mereka tidak khawatir akan panas dan hujan. Ruangan itu juga dilengkapi pendingin ruangan yang mengusir pengap. Namun, berbeda dengan di toko buku yang memiliki rak-rak rapi, para pedagang buku di BMS hanya memajang buku sekadarnya. Buku-buku lebih banyak diletakkan di atas sebuah meja dan ditumpuk-tumpuk seadanya. Karena kebanyakan buku yang dijual ialah buku bekas, para pemburu buku harus teliti memilih buku yang diinginkan dengan mengecek kondisi buku.

Tempat itu bisa dikata surga bagi para pemburu dan penggemar buku karena hampir semua jenis buku ada di situ, mulai buku-buku pelajaran, buku cerita anak-anak, novel remaja, dewasa, pop, sejarah, sastra, filsafat, sosial, budaya, hukum, ekonomi , politik, hingga kedokteran. Majalah dan buku-buku berbahasa inggris dan bahasa asing lainnya juga ada di sini.

Harga buku pun bervariasi, mulai buku-buku lama dengan harga Rp5.000, Rp10 ribu, Rp20 ribu, bahkan hingga Rp700 ribu untuk buku berseri seperti ensiklopedia. Ada pula buku-buku yang harganya bisa sampai setengah dari harga buku di toko-toko buku besar.

Lokasi strategis

Lokasi kios buku di BMS yang dekat dengan Terminal Blok M terbilang strategis. Kios buku yang kebanyakan buka sejak siang itu beroperasi hingga pukul 19.00 WIB. Kios buku BMS kerap menjadi tempat singgah para pengguna kendaraan umum di Terminal Blok M. Ada yang membeli satu dua buku, ada pula yang hanya cuci mata melihat buku-buku yang dijajakan. “Karena adanya terminal jadi orang-orang yang turun dan naik bus di terminal sering ke sini, dan memang ini lokasi strategis,” kata Putra.

Dalam sehari, para pedagang tersebut bisa mendapat omzet Rp500 ribu hingga Rp700 ribu. Pedagang lainnya, Rahmat, menuturkan berbeda dengan di toko buku, para penjual di BMS tidak memberi harga pas terhadap buku-buku yang mereka jual. Para pembeli harus pintar-pintar menawar harga dengan para pedagang. “Kita buka harga terendah Rp35 ribu sampai Rp50 ribu ke atas, tapi masih bisa ditawar sampai harga paling rendah,” terangnya.

Tidak mau kalah dengan toko buku terkenal, para penjual buku di BMS juga memberi diskon untuk buku-buku tertentu. Mereka berharap diskon yang mereka tawarkan bisa lebih menarik minat pembeli. “Di sini ada diskon untuk buku asli seperti buku-buku pelajaran. Makanya kalau pelajar lebih suka beli di sini,” kata Rahmat. (Nel/J-4)

Pelajaran untuk Anak Kemarin Sore (catatan bekal dari kak Shanty Sibarani)

Catatan Oktober 2008

Anak kemarin sore itu masih gagap melihat ibu kota. Semua serba baru untuknya. Kota ini berlipat-lipat lebih luas dari kota tempatnya tinggal di Palembang. Padat minta ampun, serba semerawut, macet, gedung-gedung menjulang bersusulan, dan manusia yang serba apatis dan minim toleransi.

Dan dia, anak kampung yang punya mimpi menjadi penulis, tengah mencemplungkan diri pada kota mengerikan ini. Dia belum pernah mendapat pelajaran, bagaimana caranya menjadi wartawan. Apa yang harus dilakukan di kota ini? Sedang menjalankan tugas-tugasnya sebagai koresponden pun masih jauh dari sempurna.

Yang dia punya hanyalah semangat. Keyakinan kalau langkahnya sejauh ini adalah jalan untuk mewujudkan mimpinya. Ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyerah sesulit apapun pekerjaan barunya ini. Dia akan belajar dari para wartawan senior di tempatnya bekerja.
***
Jauh sebelum sampai ke Jakarta, ia sudah mencatat satu nama yang ingin ia temui. Shanty Sibarani. Niat kuat yang bermula dari rasa kesal, gondok dan kagum yang tumbuh sekaligus.

Suatu ketika, di Palembang sana, ia meliput penangkapan teroris. Saat itu wartawan yang berada di tempat kejadian, memiliki keterbatasan akses ke sebuah rumah yang menjadi lokasi penangkapan. Ia dan wartawan lainnya hanya bisa bergerombol duduk di atap salah satu rumah warga. Memantau para petugas mengangkut karung-karung entah berisi apa dari dalam rumah. Semua polisi dan petugas gegana kunci mulut, membuatnya frustasi. Sementara redakturnya di kantor, menagih features dari liputannya.

“Bagaimana cara menulisnya? Kita tidak mendapat cukup informasi untuk diceritakan.” Ia bertanya kepada seorang wartawan senior yang ia temui di lapangan.

“Ya mau bagaimana lagi, tulis saja apa adanya. Jawab si wartawan senior.

Jawaban itu mengecewakannya. Mematahkan api semangatnya. Ia berpikir tentu ada cara untuk meliput lebih baik. Ibu redaktur tidak mungkin menugaskan hal-hal yang tidak masuk akal.

Besok harinya, terbelalaklah ia melihat berita utama koran. Penangkapan teroris di Palembang ditulis lengkap dengan deksripsi yang nyata. Jumlah bahan pembuat bom rakitan yang diamankan polisi. Letak penggeledahan di dalam rumah dan lainnya. Di berita itu tidak tertulis namanya sebagai penulis utama. Yang ada adalah nama Shanty Sibarani.

Dalam hati ia malu, merasa gagal. Hebat sekali orang ini, pikirnya. Si anak kemarin sore mencatatkan niat untuk menemui Shanty Sibarani saat ada kesempatan untuk ke Jakarta. Ia ingin belajar dari si wartawan senior…
***
Dan sampailah kesempatan itu. Ibu redaktur mengenalkannya pada si wartawan senior.

“Katanya kamu mau belajar sama kak Shanty. Itu temui dia.”

Si anak kemarin sore geragapan. Nyalinya belum cukup. Ada rasa minder juga malu bertemu wartawan hebat. Pertemuan pertama itu di ruang redaksi kantornya. Penampilan Kak Shanty jauh dari bayangannya tentang wartawan yang ia temui selama ini. Kumel dengan tas ransel di punggung, sandal gunung atau sepatu seadanya. Kak Shanty cantik dan wangi. Rambutnya yang hitam sebahu digerai rapi. Bibirnya diwarna merah terang. Seragamnya rapi dengan setelan celana panjang. Sepatunya hitam dengan hak tinggi. Tasnya seperti tas perempuan kantoran yang disandang di bahu.

“Aku mau belajar dari Kak Shanty.” Kata  si anak kemarin sore  mengenalkan diri dengan penuh keragu-raguan.

Tapi ternyata nyalinya langsung ditantang.

“Ya udah, besok elu ikut gue ke Polda. Lu wawancara si Yati itu, pelaku mutilasi.” Kata Kak Shanty. Senyum rekah di bibirnya yang merah terang.

Yati adalah tersangka mutilasi yang baru ditangkap petugas kepolisian dari Polda Metro Jaya. Ia telah membunuh suaminya sendiri dan memutilasi tubuh sang suami menjadi 13 potong. Potongan-potongan tubuh suaminya itu dikumpulkan di plastik dan karung, kemudian dibuang di tempat-tempat terpisah. Di antaranya di bus Mayasari Bhakti dan di sebuah taksi yang ditumpanginya. Yati murka karena tak habis-habisnya disiksa lahir batin oleh laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.

Glek! Si anak kemarin sore ciut nyali. Mau mundur tapi malu hati, tadi sudah lancang memberanikan diri minta diajari.

“Kenapa lu? Takut?!” cetus Kak Shanty.

Ia menggeleng. Ah, sudah kepalang tanggung! “Aku mau belajar sama Kak Shanty,” katanya mantap.
***
Dan besoknya, berangkatlah ia ke Polda Metro Jaya. Si anak kemarin sore, yang masih anak bawang mendapat kemudahan akses masuk ke segala ruangan dengan mengekor Kak Shanty. Ketika wartawan-wartawan lain duduk seharian di luar ruangan menunggu pejabat kepolisian bersedia keluar ruangan untuk diwawancara, Kak Shanty melenggang keluar masuk menemui pejabat yang ingin ia temui.

Hari itu ia belajar dari Kak Shanty. Melihatnya mengobrol lepas dengan berbagai pejabat di kepolisian. Makan siang bersama di ruangan si pejabat. Dan mendapat banyak informasi yang belum didapat wartawan lain. Bahkan si petinggi kepolisian yang hendak diwawancarai langsung di radio, sempat minta diajari dulu sama Kak Shanti, bagaimana menyampaikan informasi yang tepat saat diwawancarai.

Hari pertama belum berhasil. Petugas yang mengawal Yati menyarankan agar besok datang lagi. Emosi Yati sangat tidak stabil. Dan ia sangat membenci wartawan. Si anak kemarin sore ini melihat Yati yang menatap ke arah wartawan penuh marah saat ia selesai diperiksa. Mungkin ia tak suka ditanya-tanya bagaimana dan mengapa ia membunuh suaminya.

Jantung si anak kemarin sore berdegup kencang tak karuan saat berpapasan dengan si tersangka. Yati berperawakan kecil. Kulitnya gelap. Rambutnya pendek di atas bahu.
*
Dan hari kedua, ia kembali melanjutkan misi mewawancarai si pelaku mutilasi. Dalam hati ia setengah berharap kak Shanty membatalkan rencana. Tapi  setengah perasaannya yg lain, juga berharap dirinya berhasil melaksanakan tugas. Hari itu ia  dilepaskan sendiri. Ia masih mendapat kemudahan akses untuk menemui Yati, karena Kak Shanty sudah menitipkannya pada petugas pemeriksa Yati dan pengacaranya, Haposan Hutagalung.

Yati diperiksa di salah satu ruang pejabat kelas bawah di kantor kepolisian itu. Ruangan disekat kaca yang hanya transparan di bagian bawah dan atasnya. Di tengah-tengah kaca diburamkan. Persis seperti ruang ATM. Sehingga yang nampak dari luar hanyalah kaki-kaki orang yang berada di dalam ruangan. Ia harus menunggu. Yati baru bisa ditemui setelah selesai menjalani pemeriksaan.

Pengacara Yati memintanya menyamar sebagai istri salah seorang petugas kepolisian yang bersimpati kepadanya. Jangan mengatakan identitas sebagai wartawan kalau tak ingin Yati meledak marah.

Si anak baru mencuri  lihat petugas membawa karung berat ke ruangan itu.  Dan kemudian dijejerkanlah segala benda tajam itu. Parang, celurit dan lain-lain. Yati sedang menuturkan kepada petugas parang digunakan untuk memotong bagian tubuh suaminya yang mana, juga benda tajam lainnya.

Seorang laki-laki paruh baya berpakaian lusuh duduk di dekat si anak kemarin sore. Air mukanya kolaborasi ketakutan dan mau muntah. Sama seperti si anak kemarin sore, fokus laki-laki itu pada Yati yang tengah diperiksa.

“Bapak kenal Yati?” Tanya si anak kemarin sore membuka percakapan.

“Gila itu orang! Dia bunuh suaminya sendiri. Mayatnya dicincang, dibuang ke mana-mana.”

Si anak kemarin sore terperanjat mendengarkan laki-laki paruh baya yang bicara berapi-api penuh marah. Laki-laki itu rupanya kenek bus Mayasari Bhakti. Bus tempat Yati meninggalkan beberapa potongan tubuh suaminya.

Si kenek menuturkan kisahnya. Beberapa hari jelang Idul Fitri, ia resah. Tak punya cukup uang untuk membeli daging. Jelang berbuka puasa, ia melihat plastik gemuk hitam milik penumpang tertinggal di salah satu kursi. Dipegang-pegangnya plastik itu. Dirasakannya tekstur daging mentah yang kenyal dan empuk.

Si kenek girang kepalang. Ia pikir ada orang belanja daging untuk memasak rendang sajian lebaran, dan tertinggal di bus. Ia anggap itu rejekinya. Ditentengnya plastik hitam gemuk itu pulang ke rumah. Sempat dibawanya ke rumah makan, tempat ia berbuka puasa sebelum pulang.

Dan kagetlah ia ketika membuka plastik hitam gemuk itu berdua istrinya di rumah. Sepasang kaki yang dipotong dari pergelangan kaki mencuat dari plastik, sudah bau, menggembung dan busuk. Suami istri itu muntah-muntah, jijik dan ketakutan.

“Itu dia tu mbak orangnya. Orang sintiiing! Gilaaa!!” Kata laki-laki itu frustasi sambil menahankan mual di ujung kerongkongan.

“Mbak nemu potongan mayat suaminya juga ya?” Si kenek mencari teman senasib.

Belum sempat si anak kemarin sore menyahut. Pintu ruang pemeriksaan terbuka. Para penyidik sudah selesai meminta keterangan Yati. Sekarang gilirannya masuk. Alih-alih sempat menguatkan mental, dialognya dengan si kenek bus malah membuat kecemasannya jungpalitan. Tapi ia harus maju. Ia tidak boleh mengecewakan dan membuat malu kak Shanty.

Diketuknya pintu, dilihatnya Yati masih merokok dengan raut muka waspada. Pelan-pelan ia masuk, hanya berbekal sebungkus roti dan minuman sari kacang hijau yang tadi sempat dibelinya untuk Yati. Petugas menutup pintu ruangan itu. Meski petugas menunggu di luar, dan bisa memantau gerak orang di dalam ruangan lewat gerak kaki, tetap saja hati si anak baru ini cemas. Sekali saja emosi Yati tersulut, mudah saja kalau Yati mau menyambar asbak di depannya dan menghantamkan ke kepala pengganggunya ini.

Tak ada buku catatan atau alat perekam. Ia harus tenang, karena hanya mengandalkan ingatan. Yati bisa menerima ‘kunjungan simpati’ itu dengan terbuka. Lancar ia bercerita kisah sampai membunuh suaminya.

Yati menuturkan rasa bersalahnya pada anak-anak dari suaminya terdahulu. Karena itu ia menolak dikunjungi anak-anaknya. Biar dosa dan malu putus pada dirinya sendiri. Tak usah menyambung pada anak-anaknya yang tak tahu apa-apa. Yati pilu oleh dosanya sendiri. Sudah meninggalkan anak-anak dan suaminya yang setia karena mabuk cinta pada laki-laki cinta pertamanya, kini menjadi pembunuh pula. “Sekarang anggap saja saya sudah tak ada. Tak punya hubungan apa-apa lagi dengan mereka,” tuturnya getir.

Yati malah mengingatkan si pembesuknya ini untuk berhati-hati mencari pasangan kelak. Agar jangan bernasib malang sepertinya. Badan habis disiksa suami. “Jangan hanya karena cinta saja neng, kita jadi buta. Lalu akhirnya kita menderita. Seperti saya ini.”

Yati memeluk si anak kemarin sore dengan tulus sebagai tanda perpisahan. Yati berjanji, jika tamunya datang lagi akan diajarkannya membuat kue-kue jajanan pasar. Perempuan sadis yang murkanya meletup itu ternyata masih punya perasaan dan naluri kasih sayang. Wawancaranya selesai dengan manis. Segala kekhawatiran di kepalanya tidak terjadi.

Si anak kemarin sore pulang dengan langkah ringan. Senyumnya rekah sendiri seperti perempuan sedang jatuh cinta. Perasaan senangnya meledak-ledak. Apalagi ketika di luar gedung, para pewarta masih duduk bosan menunggu Yati keluar bisa diwawancarai. Si anak kemarin sore berjalan dengan kepala tegak, ia terlalu riang untuk menghiraukan tatapan-tatapan tak suka dari rekan seprofesinya. Di halaman Polda Metro Jaya itu ia melompat kegirangan dan tertawa sendiri. Ia ingin segera pulang dan merampungkan tulisannya.

Dari kak Shanty ia mencatat. Pelajaran pertama menjadi seorang wartawan adalah soal keberanian. Dengan berbekal rasa berani, yang lain-lain bisa menyusul dipelajari. Namun ketika tidak bisa menaklukan ketakutan diri sendiri, maka segala hal yang dipelajari akan sia-sia.