Tunggal

Keramaian itu sekarang mengusik

Menjejerkan fakta yang tak dipunya

Komposisi yang kerap menjentikkan gelombang mual dan pusing kepala

Rindu menjadi tunggal, tanpa terseret apa-apa, gembira.

Mana ruangan itu?

Tolong, berhentilah mengekor walau cuma di dalam kepalaku

(NJ)

Ditampar Guru

Ditampar Guru

Dulu sekali, empat kubikel di pojok kiri ruangan itu lebih sering aku hindari. Bahkan aku pernah mengendap, melarikan diri bersama tiga orang rekan karena rapat yang digelar kelewat larut. Tapi ketika aku mampir semalam, ada magnet rasa kangen yang menyeretku. Ingin sekali kembali menjadi bagian dari tim super sibuk, bekerja nyaris tak berjeda.

Rasa kangen itu terutama bergulung-gulung pada liputan penggarapan Rancangan Undang-Undang (RUU). Ini liputan kesukaanku, RUU apapun. Walaupun bagi beberapa teman, menyimak kerja legislasi DPR itu membosankan, membutuhkan kerja keras dan kesabaran karena terkadang penuh kerumitan. Tapi aku sangat suka. Aku rela datang pagi, meliput hingga dini hari. Mengejar rapat mereka yang meloncat hingga ke luar Jakarta. Rasanya aku tidak ingin melewatkan sejengkal pun proses lahirnya undang-undang yang tengah kukawal.

Kuhampiri kubikel paling pojok, menemui salah satu guruku. Perbedaan ruang membuat diskusi-diskusi renyah kami nyaris tidak pernah ada lagi. Dengan cemberut aku curhat padanya. Tentang aku yang belum bisa membaur dengan tempat baruku. Aku tak bisa bilang tidak menyukai tempat baru ini karena kerumitan dan kekhasan polanya.

Alasan itu patah oleh diriku sendiri. Karena dalam peliputan legislasi, semakin rumit aku bisa semakin gila mengejarnya. Mencari guru supaya bisa paham hingga ke tulang. Membaca buku apapun yang bisa membuatku menaklukan kerumitan di depan mata. Mendatangi diskusi apapun bahkan yang tak perlu kuliput. Artinya saat ini aku hanya belum sepenuhnya menjejak tempat baru. Aku belum bisa mencintainya secara utuh.

Aku membaca ketidaksabaran pada wajah guru. Bukan jengah pekerjaannya ku interupsi. Tapi telinganya pegal mendengar curhatku yang nyaris tak bergerak dari pertemuan kami terakhir kira-kira sebulan lalu.

“Selama kamu belum bisa melawan rasa malas dan ketidaksukaan, artinya kamu belum bisa memimpin diri sendiri. Jangan ceritakan keluhanmu, tapi ceritakan apa yang masih bisa kamu lakukan,” ujarnya tajam. Membuatku tergagap, huruf-huruf di kepala buyar tak mampu merangkai argumentasi. Merasa ditampar bolak-balik.

Iya guru.. aku belajar… belajar memimpin diri sendiri. (NJ)

Top of Form

Sambutan Jakarta

Bus melaju lancar nyaris tanpa hambatan di jalur tol. Melipir keluar di gerbang tol senayan. Tercegat kemacetan pagi hari yang biasa. Supir bus masih nyaman menyetir tanpa hambatan, enggan membaur di barisan kemacetan, berbelok pada jalur bus way. Yahuuu…. Meluncur lancar.

Girang hatinya mendadak berubah gerutuan, ketika melihat dua polantas dengan rompi hijau menyala menghadang laju kemudinya. Melambaikan tangan memintanya menepi.

“Aduh ada polisi euy, kumaha atuh?” Seru kernet yang berjaga di pintu depan.

“Sep.. Asep.. Kasih Rp20.000 sep…” teriak supir kepada kernet yang berjaga di pintu belakang.

Asep yang dipanggil masih melamun. Tumpukan uang kertas menggendut digenggaman. Ongkos bus Bogor-Kalideres ditarik lebih. Asep meminta penumpang membayar Rp15.000 dari ongkos yang biasa Rp12.000. Senin ini masih tuslah lebaran katanya.

“ASEEEEEEP…… ITU PULISI KASIH Rp20.000!” teriak supir lebih kencang.

Asep terlonjak, berlari turun dari pintu belakang, melaksanakan perintah si supir. Urusan selesai. Dari spion si supir tersenyum. Berbelok keluar dari jalur busway. Melaju lagi, membaur di kemacetan jalan Gatot Subroto. (NJ)