Ditampar Guru

Ditampar Guru

Dulu sekali, empat kubikel di pojok kiri ruangan itu lebih sering aku hindari. Bahkan aku pernah mengendap, melarikan diri bersama tiga orang rekan karena rapat yang digelar kelewat larut. Tapi ketika aku mampir semalam, ada magnet rasa kangen yang menyeretku. Ingin sekali kembali menjadi bagian dari tim super sibuk, bekerja nyaris tak berjeda.

Rasa kangen itu terutama bergulung-gulung pada liputan penggarapan Rancangan Undang-Undang (RUU). Ini liputan kesukaanku, RUU apapun. Walaupun bagi beberapa teman, menyimak kerja legislasi DPR itu membosankan, membutuhkan kerja keras dan kesabaran karena terkadang penuh kerumitan. Tapi aku sangat suka. Aku rela datang pagi, meliput hingga dini hari. Mengejar rapat mereka yang meloncat hingga ke luar Jakarta. Rasanya aku tidak ingin melewatkan sejengkal pun proses lahirnya undang-undang yang tengah kukawal.

Kuhampiri kubikel paling pojok, menemui salah satu guruku. Perbedaan ruang membuat diskusi-diskusi renyah kami nyaris tidak pernah ada lagi. Dengan cemberut aku curhat padanya. Tentang aku yang belum bisa membaur dengan tempat baruku. Aku tak bisa bilang tidak menyukai tempat baru ini karena kerumitan dan kekhasan polanya.

Alasan itu patah oleh diriku sendiri. Karena dalam peliputan legislasi, semakin rumit aku bisa semakin gila mengejarnya. Mencari guru supaya bisa paham hingga ke tulang. Membaca buku apapun yang bisa membuatku menaklukan kerumitan di depan mata. Mendatangi diskusi apapun bahkan yang tak perlu kuliput. Artinya saat ini aku hanya belum sepenuhnya menjejak tempat baru. Aku belum bisa mencintainya secara utuh.

Aku membaca ketidaksabaran pada wajah guru. Bukan jengah pekerjaannya ku interupsi. Tapi telinganya pegal mendengar curhatku yang nyaris tak bergerak dari pertemuan kami terakhir kira-kira sebulan lalu.

“Selama kamu belum bisa melawan rasa malas dan ketidaksukaan, artinya kamu belum bisa memimpin diri sendiri. Jangan ceritakan keluhanmu, tapi ceritakan apa yang masih bisa kamu lakukan,” ujarnya tajam. Membuatku tergagap, huruf-huruf di kepala buyar tak mampu merangkai argumentasi. Merasa ditampar bolak-balik.

Iya guru.. aku belajar… belajar memimpin diri sendiri. (NJ)

Top of Form

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s