kata wartawan senior

“Kamu yang bikin tulisan soal penyeludupan kemarin?”

“Iya.. Kenapa bang?”

“Si X (nama narasumber) kaget loh. Dia nggak ngerasa ngomong begitu. Kok tulisannya begitu.”

“Begitu gimana? Iya itu aku yang tulis. Aku masih simpan transkripnya, nggak ada yang salah.”

“Tapi angle mu beda sama yang lain.”

“Setiap orang kan boleh pilih angle, asal tulisannya sesuai dengan yang disampaikan narasumber.”

“Tapi dia nggak suka. Dia ngerasa dipojokkan.”

“Dipojokkan gimana? Itu kan wawancaranya bareng-bareng, semua dengar dia bilang apa.”

“Sudahlah, aku tahu pasti kamu nggak nulis begitu. Aku bilang begitu sama dia, yah… jaga nama baikmu juga.”

“Maksudnya?”

“Kamu kan wartawan baru, nggak mungkin berani menulis begitu. Aku sebagai wartawan senior tahu lah.”

“Itu aku yang tulis…”

Tapi pria itu keburu melengos pergi sebelum aku menamatkan kalimatku.

Lain waktu, lama sesudahnya, tak sengaja kami bertemu lagi. Ketika itu, akupun sebenarnya sudah lupa percakapan yang lalu itu.

Tapi kali ini, sebenarnya aku tidak melibatkan dia dalam percakapan. Aku sedang bertukar pikiran dengan seorang rekan. Angle tulisan apa yang menarik setelah mendengarkan pidato tiga tokoh penting. BJ Habibie, Megawati Soekarno Putri dan Susilo Bambang Yudhoyono.

“Memangnya benar ya, tadi bu Mega tidak salaman lagi dengan pak SBY?” tanyaku. Aku memang hanya mendengar dari mulut ke mulut, karena posisiku saat itu di luar ruangan tempat acara berlangsung.

“Iya benar,” kata temanku. Ia lalu mereka ulang kejadiannya dengan detil.

Aku bersungut-sungut, “Gimana mau menularkan nilai-nilai pancasila, kalau salaman saja masih nggak mau.”

Pria ini kemudian ikut campur.

“Ah tapi angle yang kayak gitu nggak bagus ditulis. Menulis itu substansi pidatonya saja. Menurutku menarik tadi apa yang disampaikan masing-masing tokoh.”

Aku memotong, “Setiap orang bebas memilih angle untuk tulisannya.”

“Yah itu masukanku saja. Sebagai wartawan senior, menurutku lebih baik substansinya.”

Temanku hanya tertawa mendengar petuah itu. Kali ini aku yang melengos pergi. Lebih baik berguru pada wartawan senior yang lain saja.

ku parkir motor dengan bismillah

Mendekati Bundaran Hotel Indonesia (HI), aku mengendurkan kecepatan sepeda motor. Dengan The Corrs masih bernyanyi di telinga, sesekali aku mendongak, menyusuri gedung-gedung tinggi menjulang di kiri jalan. Mencari hotel Hyatt.

Tak terlalu sulit menemukannya, hotel itu menyatu dengan Plaza Indonesia. Yang sulit itu adalah mencari tempat parkir motor. Moodku  tak pernah bagus kalau harus meliput ke hotel-hotel di sekitaran Bundaran HI. Ya, termasuk juga Hyatt.

Aku menepi di gerbang masuk, menghampiri seorang satpam yang berjaga. “Mau ke Hyatt parkir motor di mana ya pak?”

Dijawab dengan telunjuk yang mengarah ke bagian samping gedung, ke arah gerobak-gerobak penjualan makanan yang berjejeran di tepi jalan. “Di luar?” dengusku.

“Iya di sana,” ujarnya singkat. Lalu meninggalkanku, kembali sibuk mengatur mobil-mobil berkilap yang tak putus-putus datang.

Kupacu gas pelan-pelan ke arah yang dimaksud. Di deretan kiri gerobak-gerobak makanan, gorengan, ketoprak, cimol dan entah apalagi. Di depanku, deretan motor-motor tukang ojek. Mana??? Manaaa tempat parkir yang dimaksud si satpam sibuk itu?????

Beberapa laki-laki berkaus kumal yang duduk di motor berlabel ojek, memanggil-manggil menunjuk tempat kosong di sebelah motor-motor mereka. “Saya mau cari tempat parkir pak, bukan mau ikutan ngojek heuheuheu,” gerutuan itu hanya tercecap di ujung lidah. Kutarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosi agar tidak mendidih.

“Parkir kan mbak? Di sini aja nggak apa-apa kita jagain. Stangnya jangan dikunci ya,” ujar salah seorang di antara mereka, laki-laki dengan peluit butut terkalung di leher.

Aku melongok ke belakang jejeran ojek-ojek itu. Ada sepetak tanah yang dipakai untuk parkir motor. Tapi yaaa astaga, motor-motor dijejer seperti ikan sarden dalam kaleng, tak ada sela bahkan untuk berjalan kaki di antaranya.

Aku memang tak apik merawat dan menjaga motorku. Tapi kalau harus ditumpuk-tumpuk begitu rasanya tak tega juga :(. Bisa gores di sana-sini. Lalu kalau aku ceroboh sedikit saja memarkir atau mengeluarkan motornya nanti, bisa-bisa menggabrukkan puluhan (eh atau seratusan ya?) motor-motor lainnya.

Sambil mengecam dalam hati, akhirnya aku memarkirkan motor di sebelah motor-motor tukang ojek. Laki-laki dengan peluit terkalung di leher tadi berseri-seri, rejekinya datang. Sekali lagi dia mengingatkan, “Jangan kunci stangnya ya.”

Hatiku tak tenang memarkir motor di sini. Tak boleh kunci stang, tak boleh menggembok jeruji roda. Dan ini di pinggir jalan raya. Tanpa sekat atau pembatas sekadarnya. Benar-benar di pinggir jalan. Aku masih punya kunci rahasia di bawah jok motor, kedua helm ku selipkan di bawah jok untuk mencegah pencuri tergoda. Tapi hal itu tidak bisa menggeser rasa gusarku meninggalkan si motor. Dengan berat hati aku melangkah menuju hotel mewah itu, sembari berucap bismillah, dan membisikkan permohonan pada Tuhan agar motor itu masih bisa kulihat selepas tugas rampung nanti.

Aku masih tak percaya hotel semewah ini sama sekali tidak menyediakan tempat parkir untuk motor. Sampai di gerbang pemeriksaan sebelum masuk ke dalam hotel, kutanyakan lagi kepada petugas. “Apa hotel ini tidak punya tempat parkir di dalam gedung?”

“Nggak ada mbak, biasanya juga parkir motor di luar,” kata petugas sambil memeriksa tasku.

“Jadi kalau mau ke hotel ini parkirnya di luar? Di jalanan itu?” suaraku meninggi.

“Iya mbak.” Hadeuh, Cuma bisa geleng-geleng deh.

Lebih baik parkir komersil, biar dihitung per jam seribu perak, tapi liputan berjam-jam tak risau begini. Penjaga motor jalanan tadi pun menarik lebih, kalau parkir-parkir liar biasa menarik bayaran Rp2.000, mereka menagih Rp3.000 untuk setiap motor yang diparkir. Cuma bisa berdoa, supaya jangan sering-sering ada acara di hotel-hotel seputaran Bundaran HI, jangan sering-sering juga disuruh liputan ke sana.

-NJ-

21.18 waktu Sarinah. Sembari menanti Guru Di yang masih berjuang menerobos kemacetan Jakarta 🙂

Ruang Asosial

Kedai kecil di sebelah Gramedia di Jalan Padjajaran itu akhirnya kupilih menjadi tempat membenamkan diri, ke dalam buku-buku baru yang tadi kubeli. Ada waktu longgar sekitar satu jam, selama menunggu adikku menuntaskan tes kursus bahasa Inggrisnya. Pekan ini  aku beruntung, mendapat libur dua hari.

Aku terlanjur menarik sebuah kursi dari meja terdekat, ketika pandangan mataku mendarat pada kursi di seberang. Seorang laki-laki paruh baya tengah menikmati makan siang dengan seorang remaja perempuan. Percakapan mereka akrab, sepertinya mereka adalah  ayah dan anak.  

Radar ingatanku mendefinisikan sosok laki-laki itu sebagai seorang pejabat di salah satu kementerian. Tapi aku separuh ragu, karena sudah lama sekali tak bertemu dan mewawancarainya. Selain itu, dalam pertemuan-pertemuan kami, semasa aku masih bertugas di kompartemen politik hukum, laki-laki ini selalu mengenakan setelan safari warna gelap, sepatu mengilap dan kepalanya licin.

Sedangkan yang tampil di hadapanku sekarang terlihat sangat santai dengan setelan kaus lengan pendek dan celana selutut, sandal, ditambah topi yang dikenakan di kepalanya. Kolaborasi ragu dan enggan, membuatku memutuskan untuk tidak berbasa-basi menyapanya. Tidak juga bergeser pindah, tetap duduk di kursi yang terlanjur sudah ditarik. Lagipula, pelayan sudah menyodorkan menu untuk dipilih.

Kadang ada moment ketika kita ingin menjadi asosial, tak ingin berdialog dengan siapapun (kecuali untuk memesan segelas jus stroberi). Sialnya perasaan ingin menjadi asosialku mampir hari sabtu itu. Terlambat untuk mengganti tempat duduk, akan tampak kentara untuk menghindar. Akhirnya aku tetap duduk di situ, melepas kacamata, dan membenamkan diri pada novel Test Pack karangan Ninit Yunita.

Aku benar-benar tidak menyapa, sampai laki-laki itu beranjak menyudahi makan siangnya. Meskipun di akhir sesi makan siang mereka, penciumanku menyecap aroma cerutu yang tidak asing. Aroma cerutu yang manis menegaskan identitas laki-laki itu, ia memang orang yang aku maksud. Aku belum pernah melihat orang lain merokok cerutu serupa.

Keinginan menjadi asosial ini memang tak sopan. Tetapi rutinitas yang terlalu riuh, banyak basa-basi, atau  selalu menyediakan diri untuk orang lain, membuatku sekali waktu ingin menjadi diri sendiri. Menyediakan diri secara utuh untuk diri sendiri dan memanjakannya, tanpa harus berbagi ruang dengan orang lain (pada kesempatan ini, adikku menjadi pengecualian).

pak khaidir

Masih pagi sekali ketika pesan itu masuk di milis pejuhkuning (persatuan jurnalis hukum kuningan). Pesan dari mas Mandra, wartawan harian Suara Merdeka. Mengabarkan kalau pak Khaidir Ramli wafat dini hari tadi.

Obrolan yang mengalir kelewat larut dengan seorang teman pada hari sebelumnya, membuatku hanya sempat tidur kurang dari dua jam saja. Sehingga aku butuh beberapa waktu untuk mencerna, memutar ulang memori, mengenang nama yang masih tetap terasa akrab di ingatan.

Pak Khaidir, pria berperawakan kurus dan berkumis ini, mengabdikan dirinya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak 2004 lalu. Saat itu ia bertugas sebagai jaksa penuntut umum. Terakhir menjabat Kepala Biro Hukum KPK.

Pak Khaidir merupakan pengecualian, dari imej serba rahasia yang lekat pada lembaga antikorupsi ini. Ia tak pernah pelit untuk membagi informasi tentang perkembangan di KPK kepada kami. Walaupun memang, tidak semuanya bisa kami tulis dan informasikan kepada publik. Dari cerita-ceritanya lah, kami jadi tahu lebih dekat bagaimana kerja keras KPK. Pak Khaidir membuat rasa memiliki kami kepada KPK lebih kuat, dan ikut bersungguh-sungguh menjaga lembaga ini.

Laki-laki berdarah Sumatra ini lebih luwes dan akrab berteman dengan wartawan. Tak memilih wartawan senior atau yang baru terjun ke lapangan kemarin sore. Bicaranya santai, seperti sedang berbincang dengan teman sepergaulan. Gaya berpakaiannya juga sederhana, jauh dari kesan seorang pejabat penting.

Seperti penggalan percakapan ini misalnya (diposting mba Cheta-Wartawan Tempo di milis pejuhkuning)

Pak Khaidir dan Reporter baru

Suatu siang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), ada seorang reporter TV yang baru meliput di sana. Kemudian reporter baru ini bertanya ke bapak-bapak kurus ceking.

Reporter : “Pak, ruang sidang kasus damkar (maksudnya pengadaan mobil pemadam kebakaran)  di mana ya?”

Bapak : “Di atas mbak.”

Reporter : iya lantai berapa?

Si bapak merengut : “emang ruang sidang tipikor di sini berapa lantai mbak?

Reporter : “Loh saya mana tau.”

Bapak : “Oooo… baru ya?”

Reporter : “Iya, bapak siapa?”

Bapak : “Saya driver-nya KPK.”

Reporter : “Oooo sudah lama pak jadi driver di KPK?” (Reporter itu benar-benar percaya kalau pak Khaidir driver KPK)

+

Aku sendiri, tak punya moment yang benar-benar khusus dengan almarhum. Obrolan terakhir dengan beliau sudah lama sekali, ketika aku bertugas meliput di DPR. Meskipun aku tidak lagi bertugas meliput di KPK, beliau masih tetap hangat menyapa, seperti menyapa kawan lamanya.

Masih tegas di ingatan, ketika jenuh di tengah rapat kerja dengan DPR, atau tak tahan dengan kelakuan anggota dewan yang terkadang konyol, pak Khaidir mendongak ke arah balkon, tempat kami-para wartawan duduk di sana. Ia menyapa lewat senyum, terkadang juga lambaian tangan.

Hari ini, ketika ia harus menyudahi perjuangannya memberantas korupsi. Aku seperti melihatnya dengan senyum khas yang lebar, hingga garis-garis tertarik di sudut matanya. Melihatnya melambaikan tangan kepada kami. Semoga tak hanya kenangan saja yang membekas pada ingatan setiap orang yang mengenalnya. Tetapi juga keteladanannya.

Lagi-lagi, orang baik pergi terlalu cepat.