Gadis Kecil dan Kentrungnya

Lampu lalu lintas mencegat roda menggilas aspal malam Jakarta lebih segera. Lampu menyala merah, menghitung mundur dari seratus detik. Seorang bocah perempuan, tak lebih dari lima tahun usianya, beranjak menenteng kentrung. Mendekati pengemudi sepeda motor yang paling dekat trotoar.

Terusan merah jambu yang dikenakannya lusuh, rambutnya kusut, kecokelatan terbakar matahari ibu kota. Jari-jarinya lentik memetik kentrung. Suaranya serak, letih, lagu yang dinyanyikan putus-putus.

Aku berada di sebelah pengemudi motor yang dia datangi, terkagum melihat jari-jarinya yang lincah, berpindah dari satu kunci ke kunci lainnya. Sambil terus bernyanyi. Lagunya habis tak sampai semenit.

Ia tersentak, menyadari aku menatapnya tanpa jeda. Lupa menagih upah pada pengendara motor yang baru saja dihiburnya.

Matanya mendelik, dadanya busung menantang. “Apa lu liat-liat? Biasa aja dong, anjing..!!” Semprotnya kepadaku.

Aku terlonjak, menarik napas panjang. Tangan kanan yang berniat meraup receh tertahan pada tali gas. Urung.

Hitungan mundur lampu lalu lintas sudah tuntas. Menyala hijau. Kutarik gas, mengejar agar bisa tiba tepat waktu di tempat liputan. (NJ)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s