Hadiah Buku

Buku itu disodorkan kepadaku. Bersampul merah. Kota-kota Imaginer karangan Italo Calvino.

“Buat wita…,” tuturnya.

Semangat membacaku memang tengah menandak-nandak di puncak kepala. Tapi buku antologi cerpen Hassan Al Banna (Sampan Zulaiha) yang ia pinjamkan pun belum lagi aku rampungkan. Jujur saja, aku tak terbiasa meminjam buku.

Kalau aku ingin membaca sebuah buku, maka buku itu harus kumiliki. Entah isinya bagus entah tidak. Yang penting buku itu punyaku. Ego dari jejak masa kecil yang kerap meletup-letup itu masih terus kupelihara.

Sehari sebelumnya, dalam obrol-obrol sesudah kepenatan liputan, ia menunjukkan buku Kota-Kota Imaginer yang tengah dibaca. “Suka cerita yang begini?” tanyanya sembari menunjukkan satu penggal cerita.  Aku tak ingat halamannya, tapi tulisan Calvino dituangkan bertutur, deskriptif. Model tulisan kesukaanku. Tapi kalau harus meminjam lagi, rasanya aku rikuh, apalagi buku itu sedang dibacanya.

“Nanti saja ya. Kalau Sampan Zulaiha sudah selesai. Memangnya kakak sudah selesai membaca buku ini?” tanyaku tanpa menyentuh buku yang ia sodorkan.

Ia tersenyum, “Buku itu buat kamu. Lihat dulu.”

Aku terhenyak ketika meraih buku itu ke dalam genggamanku. Ternyata masih bersegel sampul plastik. Dibungkus ketat.

“Buatku?” ulangku tak percaya.

“Iya. Punyaku ada,” dia lalu mengeluarkan buku yang sama dari tasnya.

Mataku berbinar, susah payah menyembunyikan kegembiraan atas hadiah buku yang tak disangka-sangka. Speechles.

“Selamat ulangtahuuun,” serunya dengan muka jahil, merusak jeda hening beberapa detik. Kami tertawa.

+

Berbincang dengannya seperti membuka jendela, dan memandang hamparan pemandangan yang luas. Ia bertutur tetang sastra, tentang buku-buku yang pantas dibaca (atau ‘bukan buku sampah’ dalam bahasanya). Tentang kota kelahiranku yang nyaris tak pernah kujejak. Rasanya seperti menemukan guru, atas mimpi-mimpi yang selama ini tercegat. Mohon petunjuk guru hehehe…..

(NJ)

2 thoughts on “Hadiah Buku

  1. ‘imajiner’ bukan imaginer, ‘speechless’ bukan ‘speechles’ , Hasan Al Banna bukan ‘Hassan’ haha😀
    wah sepertinya menarik ya bukunya😀
    seperti biasa, tulisannya baguuss
    coba klo poto bukunya juga dipajang, supaya ada gambarnya, lebih menarik😀
    siapa tuh gurunya? kynya hebat betul tuh gurunya, pengen kenalan :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s