Warung Asap

Ember itu di kerek ke lantai tiga, adukan semen abu-abu kehitaman di dalam ember menetes-netes tumpah. Suara mesin pemotong keramik berdecit-decit, membuat debunya mengepul, berbaur dengan gerimis yang berebut menjatuhkan diri dari langit. Beberapa mahasiswi berlarian mencari tempat berteduh, buku akuntansi biaya yang tebalnya hampir lima senti, didekap erat agar tak tergelicir jatuh di genangan jalan-jalan aspal yang berlubang.

Aku terpaku menatap jajaran ruko di ujung jalan Haji Syahdan itu. Para pekerja bangunan tak peduli hujan, terus saja bergerak melaksanakan tugasnya. Seperti dikejar deadline.

Dua ruko paling pinggir yang menyatu, terlihat paling berantakan. Disitulah pekerja bangunan terus bekerja. Disebelahnya apotik tua yang selalu nampak sepi pengunjung. Seorang apoteker berwajah bosan memencet-mencet ponsel, sembari menunggu pengunjung.

Ruko itu tadinya tempat makan favorit kami. Warung makan tanpa nama, karena disewa keroyokan. Papan nama terjejer di gerobak-gerobak yang berbaris di teras. Aku tak ingat merknya, tapi kalau jenis makanannya, tentu hapal di luar kepala hehehe… Mulai sate madura dan sate padang, ayam bakar, mpek-mpek, aneka soto, siomay, nasi goreng, kwetiau, kebab, bakso, jamur kriuk dll..

Di bagian dalam ruko, berjajar kursi-kursi panjang dan meja kayu. Kipas angin di tengah ruangan yang dirajut sarang oleh laba-laba, berkarat dan tak berputar. Di salah satu pojoknya terpasang cermin berukuran kira-kira 10 x 20 cm. Bangku di depan cermin itu adalah tempat favorit Aryo. Kalau kami sedang bertukar cerita, ia akan menatap matanya sendiri dalam bayangan dibalik cermin, dengan ekspresif. Membuatku tertawa-tawa.

Kalau edy, memilih bangku manapun yang tidak terlalu ramai, dan mejanya bersih. Sementara aku dan ines lebih suka bangku di dekat pintu, agar angin malam bisa sedikit menetralkan asap yang berjejalan masuk ke pernapasan kami. Maklum, warung makan ini tak ada penyaring udara. Segala asap berkumpul, bercampur baur di dalam ruangan. Mulai dari asap nasi goreng yang bau bawang putih, asap sate yang dibakar, asap kepulan dari panci soto dan bakso yang memberi sedikit sumbangan, dan asap-asap rokok para pengunjung. Karena itulah, belakangan aku dan ines menamainya warung asap.

Tempat ini memang pas untuk kumpul-kumpul untuk para reporter (khususnya polkamers) selepas bekerja. Karena buka sampai pukul 02.00 dini hari. Harganya berdamai dengan dompet. Dan banyak pilihan, jadi tiap-tiap orang bisa memesan makanan kesukaan masing-masing. Biasanya Senin, sebelum atau sesudah rapat rutin mingguan di kantor, kami mampir ke warung asap. Kebiasaan ini paling absen kalau akhir bulan.

Aku dan ucup tentu memilih kwetiau kesukaan kami. Aryo dan Edy selalu konsisten memilih sate madura. Vini pasti kebab, kalau Anata sukanya jamur kriuk.. Nata ngga kesampean nyicipin siomay. Karena terakhir aku dan Nata kesana, warung asap sudah keburu digusur.

Gerimis turun semakin rapat…, lama-lama bertukar menjadi hujan deras. Akupun bergegas mempercepat langkah supaya cepat sampai ke kost.

“Hei kak..!” Seru suara yang familiar ditelingaku. Kepala seorang pria tanggung menyembul dari balik kios kuning di kanan jalan. Ternyata penjual teh poci di warung asap… Disebelahnya, gerobak jamur kriuk.. Rupanya mereka pindah kemari… Hanya beberapa meter diseberang warung asap.

“Kok tutup sih warungnya….,” kataku setelah memesan lemon tea kesukaanku. “Iya, mau dibangun disitu. Jadi nggak boleh ada pedagang.” katanya.
“Dibangun apa ya?” ujarku sambil masih memandangi ruko yang baru saja kulewati.
“Seven eleven katanya,” tutur si mas penjual teh poci.

Hmm.. Rupanya disulap menjadi tongkrongan yang lebih modern. Tentulah mahasiswa-mahasiswa Binus akan menyemut disana, kumpul-kumpul sampai dini hari. Mungkin juga kami, akan berkumpul disana lagi. Si mas penjual teh poci kemudian menjelaskan kepadaku, dimana teman-temannya sesama penjual menyebar. Nomor satu ia memberi tahu penjual kwetiau yang pindah tak jauh dari belokan setelah ruko. Berjajar dengan tukang sate madura dan ayam bakar… Begitu juga yang lain, masing-masing dengan gerobak sendiri di sepanjang jalan Haji Syahdan.

Mungkin kami rindu makanan favorit kami. Tetapi kami lebih rindu tempat berkumpul, berbagi lelah dan tawa. “Terimakasih lemon tea-nya ya,” kataku setelah membayar. Melempar senyum, dan kembali menerabas hujan, ingin segera sampai di kamar kost yang nyaman. (5 Maret 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s