Cukilan dari Antologi Cerpen Hasan Al Banna-Sampan Zulaiha

  • Memanjangkan galah tekad uwak Bandi
  • Menunggang panggung
  • Tur opera kembali berdebur, mengedar lakon
  • Menangkis tangis
  • Sibuk memompa napas ke dada
  • Terperanjat suara debum air. Ia kumpulkan kesadaran, berlari ke ufuk suara
  • Ia banting langkah ke pintu air. Ampun, pintu air jebol didongkel pasang
  • Ia sedang mendapat giliran jaga ketiga gudang perusahaan ditelikung maling
  • Suara yang gederubum tak ubah letupan meriam
  • Maka dengan airmuka yang berkeciak, Marihot membeberkan liuk-lekuk rencananya
  • Darah Ompu Gabe kerap bergeriap setiap melawat kemeriahan opera
  • Tak pernah kisah kesah menghambur dari mulut Mak Odah
  • Termasuk jarang Mak Odah menabuh-menabuh keluh ke telinga orang banyak
  • Kalaupun ia sesekali bertandang, hanya untuk memulih-mulihkan badan yang penat, atau bersilang gurau dengan tetangga
  • Mendengar daun nangka disiut angin
  • Bergegas ke dagu rumah
  • Nasibnya lebih baik dibanding tukang ojek yang mati kontan
  • Itulah kalam terakhir suaminya sebelum pamit menyimpuh pada ilahi
  • Tak tanggung petihnya hati Mak Odah melepaskan kepergian suaminya dengan kaki kanan yang hampir rangkum ayun langkahnya
  • Tangisnya mengasuh derit
  • Sembari mengepit rasa malu, Mak Odah tak kan membiarkan dirinya kalah dalam pertaruhan seloroh
  • Garis bibirnya yang tipis dibubuhi gincu, tapi kental betul
  • Ia lalu mengokang kerutan dahi
  • Kewalahan juga ia menampung angguk-pikuk gelisah diri
  • Adalah bersebab ia mendengar tangkup langkah menabur derap di tangga rumah
  • Bahkan kelak menjadi penabuh lumbung ekonomi keluarga
  • Jangankan berkirim ringgit, segeliat surat pun tak pernah menyelip di ketiak pintu
  • Ada sebening kebahagiaan mendenting
  • Saipe telah membanting pintu keinginan Sarma sekaligus Tunggul dengan jwaban yang cukup memedaskan telinga
  • Tak jarang cibiran memulas telinga Tunggul
  • Kacau-lengking suaraku tak mampu mencehag pisau melintang di leherku
  • Dunia jungkal-balik di mataku
  • Sepitam kegelapan menyergap pandangan
  • Bisalah menyumpal liang utang yang menganga oleh persiapan hari raya
  • Apa enaknya hidup di bawah todongan kesusahan
  • Cuma dua hari Giling memencilkan Kurik
  • Dengan beragt hati meski menyampingkan raung Giling yang bakal tergasing
  • Azan Zuhur akan berkesiur
  • Ia sampai tak sadar, sejak tadi masa zuhur sudah tersungkur
  • Harapan Deslima menggelinding kencang
  • Janjinya pada Giling berbuah serongsok mimpi
  • Perlahan aku menyimak bisikan yang timpa-menimpa
  • Kenapa peluit eksekusi belum juga menunjukkan tanda-tanda berbunyi. Aku tidak sabar hendak disunting mau. Dipeluk, dan dipagut maut.
  • Ia pergi dengan menggendong hasil yang kosong
  • Cermin itu ku tanam di lambungnya. Ia menggelepar. Darah berpencar-pencar
  • Rasa cemas tak sampai menikung jantung
  •  Mengunyah sisa hari di dalam jeruji
  • Pasar Jongjong akan dijungkal. Digusur.
  • Menyulam ketabahan lebih bermanfaat ketimbang meletupkan kekecewaan
  • Derik jangkrik mendaki kegelapan, juga menuang kelengangan
  • Bagi Lamrina, seperti sedang merayakan kepedihan yang lain di lumbung ingatannya
  • Amangtua pula yang berhasil menekuk hati ibu
  • Di dadanya gelombang rusuh terus bertabuh
  • Suara ibunya menjurus ketus. Menyeret Lamrina ke pojok serba salah
  • Ia tahu betul mengapa ibunya sekilat itu menyemburkan api amarah
  • Tatkala seleranya sedang sulit disetir
  • Kalaupun ada penyesalan, itu karena tak bisa membantu Daulat menggalah nafkah
  • Ia biarkan Daulat menembus lapar setelah seharian bekerja
  • Dagunya yang rompal
  • Ia biarkan julur ombak menggeli-geli kakinya
  • Duduk sebatang diri disitu
  • Ia songsong geriap laut
  • Dua matanya bak laut menanggal cahaya
  • Lain kadang matanya menyaru mata hiu. Mata yang mati. Namun, di ngarai dadanya, dendam senantiasa sepitam arang, bergulung dan bersipompa. Bernama dendam apa? Alamat kemana?
  • Zulaiha pun lalai ingatannya, bila ia terakhir kali mengulum senyum atau menyedak durja?
  • Bukan ucapan terima kasih upah jasanya, melainkan terjang makian. Hardikan berkarat membikin Dempol terpelongo
  • Dendam tak penat-penat menggeliat, menghasut gedebar lahar yang siap meletus.
  • Tidak sekali dua kali kelebat tangan bapaknya menggempur pipi, dada, dan kepala Zulaiha
  • Demi menghalau kepedasar Zulaiha menggegaskan langkah pincangnya ke dermaga
  •  Begitu lekat ia menghadap raut laut. Mengadu tanpa sedak-sendu
  • Bapaknya menyulut rokok, lalu memutungkan ke daun telinga Zulaiha
  • Lalu berduyun tempeleng mengena Zulaiha, menerbitkan lemak luka
  • Selingkar dua bulan lalu, Lukman luput dari tudingan tugas ke Kalimantan

Dari Kolong Jembatan Kandara

Pakaian-pakaian lusuh terlihat digantung pada tali, di sepanjang tembok kolong jembatan Kandara, Jeddah, Arab Saudi. Tenda-tenda kecil yang sudah kusam, bahkan beberapa robek, berbagi tempat di kolong itu. Namun lebih banyak kardus-kardus bekas dan tikar atau kain tipis yang dihampar untuk alas tidur. Di hadapan tempat tidur nan panjang itu, wadah-wadah plastik bekas kemasan makanan dan minuman, bertebaran menunggu disapu bersih. Di salah satu sudut, tercagak bendera merah putih, yang dipasang sebagai identitas, sekaligus pengobat rindu para tenaga kerja Indonesia (TKI) akan kampung halaman.

Di kolong jembatan yang menjadi penghubung untuk masuk ke kota Mekkah itulah, para pahlawan devisa kita tinggal selama berbulan-bulan. Terkatung-katung nasibnya, mengunggu giliran diangkut pulang ke tanah air.

Direktur Migrant Care Anis Hidayah menuturkan, para TKI yang terlantar di kolong Jembatan Kandara ini, kebanyakan adalah mereka yang kabur dari rumah majikannya. “Rata-rata mereka lari dari rumah majikan karena bermasalah. Mereka tidak berdokumen karena ditahan majikan,” tutur Anis.

Tidak hanya tenaga kerja asal Indonesia saja sebenarnya, tetapi juga ada yang berasal dari Bangladesh dan Bangali. Jumlah yang tinggal di kolong itu mencapai sekitar 400 orang. “Tetapi yang banyak memang dari Indonesia, laki-laki dan perempuan bahkan ada anak-anak yang terpaksa lahir disana,” tutur Siswanto, Ketua Dewan Kehormatan Indonesia Bersatu, dalam perbincangan pada Rabu (8/12) malam. Kelompok yang dipimpin Siswanto ini, konsen pada nasib dan masalah-masalah sosial yang menimpa para TKI.

Kolong jembatan yang hampir selalu macet setiap waktu ini, tidak terlalu ramai oleh para TKI di siang hari. Karena mereka harus mencari makan untuk mengganjal rasa lapar. Mereka kerap menggelandang, mencari kaleng-kaleng bekas makanan yang terdapat sisa-sisa makanan untuk dinikmati. Sisanya memilih duduk diam di kolong, menunggu belas kasihan orang-orang yang lewat.

Tak jarang, tutur Siswanto, mereka yang kelewat lapar memilih untuk mengambil jalan pintas, menjual diri. Walaupun dibayar murah, hanya 50 riyal. Uang itu cukup untuk delapan orang sekali makan. “Bahkan yang laki-laki menjadi makelar untuk perempuan-perempuan disitu, supaya mereka bisa makan. 50 riyal itu kecil.., tapi mereka tak punya alternatif lain,” tuturnya lirih.

Pinggiran kolong itu baru ramai selepas waktu Isya. Para TKI yang luntang-lantung menunggu dipulangkan itu berkumpul, membentuk kelompok-kelompok kecil di kanan jalan. Di sepanjang jalan itu, berdiri kokoh gedung-gedung dan toko-toko. Mereka kadang terpaksa harus berbagi tempat dengan kendaraan, karena bagian tengah kolong jembatan digunakan sebagai tempat parkir. “Mereka malam selalu berkelompok dan mengobrol tidak peduli kendaraan yang lalu lintas.”

Masih menurut Siswanto, keadaan bertambah miris ketika para TKI ini terserang penyakit. Tak ada dokter, apalagi obat-obatan, meskipun hanya obat penahan rasa sakit. Para TKI yang kabur dari rumah majikan meninggalkan segala identitas, hanya membawa baju lekat di badan. “Walaupun jalur resmi berobat itu free, tapi mereka tidak bisa dapat karena tak punya id card. Uang darimana mereka beli obat. Bahkan ada dua orang yang terkena AIDS. Ada juga yang sakit hingga sekarat, Minggu lalu meninggal dia disitu,” kata Siswanto dengan suara tercekat.

Salah satu yang kini keadaannya memprihatinkan adalah Mariati binti Kardiman, TKI asal Pasuruan. Tujuh bulan sudah dia menjadi warga kolong jembatan. Digerogoti penyakit kanker payudara dan nyeri lambung akut, Mariati tergeletak tidak berdaya di atas sepotong kasur tipis. Tubuhnya amat kurus, tinggal tulang dan kulit. Ditambah lagi ia sulit berkomunikasi, karena mulutnya terluka parah dan mengalami infeksi. Pada Selasa (7/12), akhirnya ia dilarikan ke rumah sakit King Fahd Jeddah.

Menurut Siswanto, para TKI ini sengaja bertahan di kolong jembatan, berharap dapat dipulangkan ke tanah air dengan gratis. Ia berharap bahwa pemerintah Indonesia dapat segera menyelesaikan masalah yang menimpa para TKI ini.

“Kalau tetap seperti ini, moral dan harga diri kita rendah. Bayangkan kalau musim haji, orang di seluruh dunia melihat. Pemerintah Indonesia mungkin sibuk, melakukan banyak hal. Tetapi masalah ini harus segera dibereskan. Apapun itu, baik atau buruk mereka bangsa Indonesia,” tegasnya.

Cerita Jaka, seorang TKI alumni kolong jembatan yang kini bermukim di Jambi tidak jauh berbeda. Ia sempat menjadi penghuni kolong pada Juni hingga Agustus 2009. Selama tinggal disana, Jaka menyaksikan sendiri tiga teman merenggang nyawa, tanpa bisa berbuat banyak.

Salah satu yang paling membekas di ingatan Jaka adalah ketika sahabat terdekatnya, Halimah wafat. Halimah kabur dari majikannya karena tidak tahan. Dipekerjakan berlebihan hingga penyakit sesak nafas yang dideritanya kian parah.

“Dia meninggal di depan saya. Sebenarnya kami berusaha untuk selalu memberi perawatan, tetapi yang maha kuasa berkata lain, dia harus meninggal juga di kolong jembatan. Padahal dia pernah berpesan ingin kembali ke tanah air dan tidak mau meninggal di kolong jembatan.”

Kala itu, Jaka tak lelah berupaya agar bisa kembali ke tanah air. Ia dan beberapa teman mengadakan aksi protes di depan kantor KJRI. Walaupun ditanggapi dingin, dan diusir dengan tindak kekerasan oleh polisi diplomatik. “Tak jarang kami dipukul dan ditendang,” imbuhnya.

Setelah menggelar aksi protes berulang kali, akhinya polisi diplomatik meminta mereka masuk karantina sebagai proses deportasi. Dengan bus, Jaka dan TKI lainnya diangkut menuju ke tempat karantina pemerintah Arab Saudi yang disebut tarhil.

Rasa kegembiraan dan bayangan segera kembali ke tanah air merosot drastis, ketika bus akhirnya sampai di tarhil. Setelah melalui tiga pintu gerbang tinggi nan kokoh yang dijaga ketat, mereka baru tersadar, tempat ini tak ubahnya seperti penjara.

Petugas mendata mereka, lalu memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Kemudian ditempatkan dalam satu ruangan serupa penjara, berdesakkan dengan tenaga kerja lainnya seperti dari Bangladesh, India dan Nepal.

Penempatan Jaka di karantina kala itu, bertepatan dengan ramadhan. Ia bergidik ngeri ketika mengingat sesi makan sahur kerap diawali dengan perkelahian. “Siapa yang kuat, dia yang dapat (makanan). Bahkan setiap hari selalu ada yang terluka karena berebut makanan,” ujarnya.

Perlakuan penjaga tarhil pun sering tak beradab. Setiap hari para TKI ini dibariskan, dan dicambuk. Berani bikin kesalahan kecil saja, maka siap-siap menerima hadiah tendangan dan pukulan dari para petugas.

Jaka termasuk beruntung, setelah 17 hari remuk redam mengecap siksaan, akhirnya tiba kabar baik. Ia mendapat giliran untuk dipulangkan. Yang lain tak seberuntung Jaka, ada yang harus menanti tiga bulan, bahkan satu tahun tapi belum mendapat kepastian. Ia menyambut hari itu dengan senyum sumringah, dan rasa senang yang meledak-ledak karena gembira.

“Kami tetap di kawal petugas sampai pintu pesawat. Wah rasanya lega sekali perasaan ini, bisa lepas dari nerakanya dunia. Pahlawan Devisa itu hanya sebutan untuk pahlawan yang sangat tidak berharga, padahal kami penghasil devisa negara terbesar kedua setelah migas,” tutup Jaka. (NJ)