Dari Kolong Jembatan Kandara

Pakaian-pakaian lusuh terlihat digantung pada tali, di sepanjang tembok kolong jembatan Kandara, Jeddah, Arab Saudi. Tenda-tenda kecil yang sudah kusam, bahkan beberapa robek, berbagi tempat di kolong itu. Namun lebih banyak kardus-kardus bekas dan tikar atau kain tipis yang dihampar untuk alas tidur. Di hadapan tempat tidur nan panjang itu, wadah-wadah plastik bekas kemasan makanan dan minuman, bertebaran menunggu disapu bersih. Di salah satu sudut, tercagak bendera merah putih, yang dipasang sebagai identitas, sekaligus pengobat rindu para tenaga kerja Indonesia (TKI) akan kampung halaman.

Di kolong jembatan yang menjadi penghubung untuk masuk ke kota Mekkah itulah, para pahlawan devisa kita tinggal selama berbulan-bulan. Terkatung-katung nasibnya, mengunggu giliran diangkut pulang ke tanah air.

Direktur Migrant Care Anis Hidayah menuturkan, para TKI yang terlantar di kolong Jembatan Kandara ini, kebanyakan adalah mereka yang kabur dari rumah majikannya. “Rata-rata mereka lari dari rumah majikan karena bermasalah. Mereka tidak berdokumen karena ditahan majikan,” tutur Anis.

Tidak hanya tenaga kerja asal Indonesia saja sebenarnya, tetapi juga ada yang berasal dari Bangladesh dan Bangali. Jumlah yang tinggal di kolong itu mencapai sekitar 400 orang. “Tetapi yang banyak memang dari Indonesia, laki-laki dan perempuan bahkan ada anak-anak yang terpaksa lahir disana,” tutur Siswanto, Ketua Dewan Kehormatan Indonesia Bersatu, dalam perbincangan pada Rabu (8/12) malam. Kelompok yang dipimpin Siswanto ini, konsen pada nasib dan masalah-masalah sosial yang menimpa para TKI.

Kolong jembatan yang hampir selalu macet setiap waktu ini, tidak terlalu ramai oleh para TKI di siang hari. Karena mereka harus mencari makan untuk mengganjal rasa lapar. Mereka kerap menggelandang, mencari kaleng-kaleng bekas makanan yang terdapat sisa-sisa makanan untuk dinikmati. Sisanya memilih duduk diam di kolong, menunggu belas kasihan orang-orang yang lewat.

Tak jarang, tutur Siswanto, mereka yang kelewat lapar memilih untuk mengambil jalan pintas, menjual diri. Walaupun dibayar murah, hanya 50 riyal. Uang itu cukup untuk delapan orang sekali makan. “Bahkan yang laki-laki menjadi makelar untuk perempuan-perempuan disitu, supaya mereka bisa makan. 50 riyal itu kecil.., tapi mereka tak punya alternatif lain,” tuturnya lirih.

Pinggiran kolong itu baru ramai selepas waktu Isya. Para TKI yang luntang-lantung menunggu dipulangkan itu berkumpul, membentuk kelompok-kelompok kecil di kanan jalan. Di sepanjang jalan itu, berdiri kokoh gedung-gedung dan toko-toko. Mereka kadang terpaksa harus berbagi tempat dengan kendaraan, karena bagian tengah kolong jembatan digunakan sebagai tempat parkir. “Mereka malam selalu berkelompok dan mengobrol tidak peduli kendaraan yang lalu lintas.”

Masih menurut Siswanto, keadaan bertambah miris ketika para TKI ini terserang penyakit. Tak ada dokter, apalagi obat-obatan, meskipun hanya obat penahan rasa sakit. Para TKI yang kabur dari rumah majikan meninggalkan segala identitas, hanya membawa baju lekat di badan. “Walaupun jalur resmi berobat itu free, tapi mereka tidak bisa dapat karena tak punya id card. Uang darimana mereka beli obat. Bahkan ada dua orang yang terkena AIDS. Ada juga yang sakit hingga sekarat, Minggu lalu meninggal dia disitu,” kata Siswanto dengan suara tercekat.

Salah satu yang kini keadaannya memprihatinkan adalah Mariati binti Kardiman, TKI asal Pasuruan. Tujuh bulan sudah dia menjadi warga kolong jembatan. Digerogoti penyakit kanker payudara dan nyeri lambung akut, Mariati tergeletak tidak berdaya di atas sepotong kasur tipis. Tubuhnya amat kurus, tinggal tulang dan kulit. Ditambah lagi ia sulit berkomunikasi, karena mulutnya terluka parah dan mengalami infeksi. Pada Selasa (7/12), akhirnya ia dilarikan ke rumah sakit King Fahd Jeddah.

Menurut Siswanto, para TKI ini sengaja bertahan di kolong jembatan, berharap dapat dipulangkan ke tanah air dengan gratis. Ia berharap bahwa pemerintah Indonesia dapat segera menyelesaikan masalah yang menimpa para TKI ini.

“Kalau tetap seperti ini, moral dan harga diri kita rendah. Bayangkan kalau musim haji, orang di seluruh dunia melihat. Pemerintah Indonesia mungkin sibuk, melakukan banyak hal. Tetapi masalah ini harus segera dibereskan. Apapun itu, baik atau buruk mereka bangsa Indonesia,” tegasnya.

Cerita Jaka, seorang TKI alumni kolong jembatan yang kini bermukim di Jambi tidak jauh berbeda. Ia sempat menjadi penghuni kolong pada Juni hingga Agustus 2009. Selama tinggal disana, Jaka menyaksikan sendiri tiga teman merenggang nyawa, tanpa bisa berbuat banyak.

Salah satu yang paling membekas di ingatan Jaka adalah ketika sahabat terdekatnya, Halimah wafat. Halimah kabur dari majikannya karena tidak tahan. Dipekerjakan berlebihan hingga penyakit sesak nafas yang dideritanya kian parah.

“Dia meninggal di depan saya. Sebenarnya kami berusaha untuk selalu memberi perawatan, tetapi yang maha kuasa berkata lain, dia harus meninggal juga di kolong jembatan. Padahal dia pernah berpesan ingin kembali ke tanah air dan tidak mau meninggal di kolong jembatan.”

Kala itu, Jaka tak lelah berupaya agar bisa kembali ke tanah air. Ia dan beberapa teman mengadakan aksi protes di depan kantor KJRI. Walaupun ditanggapi dingin, dan diusir dengan tindak kekerasan oleh polisi diplomatik. “Tak jarang kami dipukul dan ditendang,” imbuhnya.

Setelah menggelar aksi protes berulang kali, akhinya polisi diplomatik meminta mereka masuk karantina sebagai proses deportasi. Dengan bus, Jaka dan TKI lainnya diangkut menuju ke tempat karantina pemerintah Arab Saudi yang disebut tarhil.

Rasa kegembiraan dan bayangan segera kembali ke tanah air merosot drastis, ketika bus akhirnya sampai di tarhil. Setelah melalui tiga pintu gerbang tinggi nan kokoh yang dijaga ketat, mereka baru tersadar, tempat ini tak ubahnya seperti penjara.

Petugas mendata mereka, lalu memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Kemudian ditempatkan dalam satu ruangan serupa penjara, berdesakkan dengan tenaga kerja lainnya seperti dari Bangladesh, India dan Nepal.

Penempatan Jaka di karantina kala itu, bertepatan dengan ramadhan. Ia bergidik ngeri ketika mengingat sesi makan sahur kerap diawali dengan perkelahian. “Siapa yang kuat, dia yang dapat (makanan). Bahkan setiap hari selalu ada yang terluka karena berebut makanan,” ujarnya.

Perlakuan penjaga tarhil pun sering tak beradab. Setiap hari para TKI ini dibariskan, dan dicambuk. Berani bikin kesalahan kecil saja, maka siap-siap menerima hadiah tendangan dan pukulan dari para petugas.

Jaka termasuk beruntung, setelah 17 hari remuk redam mengecap siksaan, akhirnya tiba kabar baik. Ia mendapat giliran untuk dipulangkan. Yang lain tak seberuntung Jaka, ada yang harus menanti tiga bulan, bahkan satu tahun tapi belum mendapat kepastian. Ia menyambut hari itu dengan senyum sumringah, dan rasa senang yang meledak-ledak karena gembira.

“Kami tetap di kawal petugas sampai pintu pesawat. Wah rasanya lega sekali perasaan ini, bisa lepas dari nerakanya dunia. Pahlawan Devisa itu hanya sebutan untuk pahlawan yang sangat tidak berharga, padahal kami penghasil devisa negara terbesar kedua setelah migas,” tutup Jaka. (NJ)

One thought on “Dari Kolong Jembatan Kandara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s