Silaturahmi dan Teh Poci Istimewa

Kebiasaannya masih sama, menyuguhkan teh poci kepada kami dengan tangannya sendiri. Di bawah meja tamu, teh dalam berbagai kotak kemasan dengan tulisan-tulisan berbahasa asing ditumpuk rapi. Ia memilih kotak kaleng abu-abu yang ukurannya lebih kecil sedikit dari telapak tangan, mengeluarkan segumpal bubuk teh yang dibebat kain putih, menuangkan dan menyeduhnya di poci merah yang diletakkan rapi di meja pada sudut ruangan.

Aroma teh yang wangi menguar. Aroma yang asing, tak kan ditemukan saat menyeduh teh merk apapun yang dijual di toko atau supermarket. Biasanya, ia tak akan membiarkan gelas teh poci tamu-tamunya mengering. Setiap habis direguk, ia akan mengisi ulang. Bahkan kalau obrolan hangat dan menggulung waktu berjam-jam, ia bisa sampai menyeduh teh baru sepoci lagi.

Tapi kali ini ia tak sempat mengisi ulang gelas-gelas kami, agak sibuk. Beberapa kolega satu partainya masih betah duduk di ruang kerjanya, usai rapat yang digelar menjelang magrib. Jangankan mengisi ulang gelas teh, percakapan kami pun hanya sepenggal lalu. Karena ia harus mondar-mandir, sibuk menjawab telepon atau membalas pesan dari dua ponsel di genggaman. Padahal, kata temanku, keistimewaan moment di ruangan ini bukanlah pada teh impor yang disuguhkan, tapi ketika dia menuangkan teh dan menyediakan diri untuk berbincang hangat dengan tamu-tamunya.

“Tombol escape nih dimana????” tulis teman disebelahku melalui bbm. Kami berdua mendadak merasa terkepung di tempat dan waktu yang salah. Padahal niat awal hanya ingin bersilaturahmi, karena semenjak kami berpindah tugas, sudah jarang kemari. Mau undur diri tak enak hati.  Akhirnya kami menjadi penonton, seperti bagian asing yang direkatkan sekenanya dalam aktivitas di ruangan ini.

Pemilu masih dua tahun lagi, tapi bagi mereka yang ingin menyalonkan diri kelak, waktu dua tahun sudah cukup menegangkan urat leher. Persiapan harus mulai digelar. Di tahap awal tentu semua harus menentukan pilihan, di daerah pemilihan (dapil) mana kaki dijejak. Soal ini tak mudah rupanya, karena banyak hal yang harus dikalkulasikan. Dan harus cakap menyambung lobi.

Perbincangan itu menghangat di ruangan ini. Salah seorang dari mereka bertutur, kolega di salah satu dapil, meminta dipindahkan ke dapil Bogor. Ia sudah mulai bergerilya, merayu para petinggi partai. Mungkin, orang ini sudah menghitung peluang. Jika tetap bertahan di dapil semula, peluangnya sudah menciut. Entah karena ketokohannya yang pudar, biaya kampanye yang tinggi, atau pesaing yang terlalu kuat.  Pokoknya dia minta pindah.

Lain lagi dengan kader-kader muda partai, yang mulai ingin mencecap kursi parlemen. Mereka masih malu-malu secara gamblang menyebut dapil yang diidam-idamkan. Hanya saling menunjuk temannya. Si A kepingin di dapil ini. Si B cocoknya di dapil sana. Tapi untuk mencetus keinginan diri sendiri, terlalu sungkan menyebut.

Mereka juga harus sadar diri, kalau dijejer, maka berada dalam posisi mana. Nomor urut teratas, tentu sudah dikapling oleh politisi yang lebih senior. Semakin besar nomor urut mereka, maka semakin menyusutkan peluang. Apapun sistem penghitungan suara yang digunakan, secara psikologis orang akan melihat pilihan di urutan teratas lebih dulu.

Belum lagi soal biaya yang harus digelontorkan. Bukan sekedar untuk mencetak baliho, bendera, banner, kaos dan atribut lainnya bergambar wajah mereka untuk membuat pamor naik. Tetapi juga dana untuk diedarkan kepada para pemilih. Salah seorang dari mereka mengeluhkan, kelakuan pemilih yang dianggap materialistis.

“Waktu pemilu kemarin, ada tokoh masyarakat di satu dapil bertanya ke saya : memangnya bapak mau ngasih uang berapa, supaya dipilih?”

Kami menyimak ceritanya, masih terasa bekas emosi dalam nada bicaranya. Maklum.. ia tak lolos dalam pemilu.

“Saya balik tanya, kalau saya kasih sekian bapak bisa jamin nggak orang yang ke TPS milih saya. Kalau nggak milih bakal saya tagih pertanggungjawabannya,” tuturnya. Melihat sang politisi bersikap tegas, si bapak pun urung memeras.

Untuk satu dusun saja, kata dia, seorang caleg kerap ditagih Rp50.000 per kepala. Ini sebagai barter untuk menyumbang satu suara kepada si caleg. Lain dusun lain nominal. Biaya transaksi suara termahal yang harus dikucur berada di Papua, bisa Rp500.000 per suara. Sebenarnya, kata dia, dana yang disiapkan untuk setiap daerah hampir sama. Hanya saja, karena di Papua jumlah masyarakatnya lebih sedikit, maka nominal uang transaksi bisa digeser naik.  “Rakyat itu kejam mbak..” keluhnya.

Aku dan temanku bertukar pandang. “Kalau belum tentu memilih, kenapa dikasih juga?” tanyaku. “Wah susah kita kalau nggak ngasih. Percaya sama saya, di pilkada DKI ini semua kandidat itu pakai uang. Di sini materialistis semua.”

Tak perlu lah ia bicara begitu, semua pun sudah tahu. Kepalaku pusing berdenyut-denyut, aroma teh impor bertukar dengan aroma pemilu yang mengerikan. Akan kami percayakan pada siapa, sebatang suara nanti? Semoga masih banyak orang baik, yang memilih orang baik. (NJ)

4 thoughts on “Silaturahmi dan Teh Poci Istimewa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s