Si Penyumbang Keberanian

Kami berdua duduk bersila, berhadapan. Tanganku menopang dagu, pada meja kayu rendah yang memisahkan kami. Roti bakar keju dihadapan tak tersentuh. Kami memesannya hanya agar bisa duduk di sini, salah satu warung tenda di pelataran Gedung Olahraga (GOR) Sriwijaya. Belum genap jam tiga sore, sinar matahari masih berusaha menyusup diantara daun-daun pohon yang rindang dan rapat. Masih sepi, karena cagak tenda-tenda ini pun baru saja didirikan.

Ia mematik api, menyesap rokoknya. Diam. Kekecewaan itu tegas di wajahnya. Tak perlu ia ucapkan apa-apa. Aku sudah paham. Sementara aku pun tak berselera untuk bicara lagi, gusar yang melilit-lilit membuatku kaku. Cerita itu sudah kututurkan kepadanya, seperlunya. Dan yang sedikit itu, sudah cukup membunuh kebanggaannya kepada kami.

“Menurut kakak pilihanku ini gimana?” Menjadi sendirian membuatku ragu. Pilihanku berbeda.

“Kok kau tanya lagi sih. Kenapa kau jadi ragu. Kalau kau yakin itu pilihanmu ya sudah! Sebenarnya kau paham nggak sih dengan keputusan yang kau ambil?!” Aku menipiskan stok kesabaran yang dia punya.

“Iya aku paham dengan pilihanku. Tapi kenapa semua temanku berbeda kak.. Aku nggak punya teman…”

Tatapannya melunak. Ia paham kerisauanku. Setiap hari kami menghabiskan waktu dalam sekolah pendewasaan diri ini bersama. Sekolah ini lebih menjadi rumah daripada rumah-rumah kami. Tidak hanya untuk urusan serius seperti berdiskusi, pelatihan, atau menggelar acara musik hingga kompetisi olahraga.

Kadang kami hanya duduk di teras sekolah untuk bernyanyi, berpura-pura menjadi penyiar radio dan pendengar, bermain teater, bertukar gelisah dan saling menguatkan, menghabiskan sore di Tanggabuntung atau di Sungai Gerong. Kalau sedang tak punya uang banyak, kami mengumpulkan uang seadanya dan makan nasi sebungkus untuk berdua-berdua. Nasi dengan lauk perkedel yang harus dibagi dua itu mungkin tak cukup untuk mengganjal lapar. Tapi bersama-sama dalam sekolah itu membuat kami gembira meski dengan segala keterbatasan.

Kakak yang satu ini sudah bertualang di luar sekolah, wajar saja ketika kabar perpecahan kami kulontarkan, membuatnya kecewa berlapis-lapis. Pandangannya sayu menatapku, “Kau harus  berani dengan pilihanmu Lek. Kalau kau yakin pilihanmu benar, jalani. Jangan pernah takut nggak punya teman. Kan masih ada aku dan kakak yang lain.”

“Beda lah. Kakak-kakak sudah di luar sekarang,” potongku.

“Pasti ada teman yang sepemikiran denganmu.”

“Nggak ada kak. Nggak ada.”

“Jangan pernah takut sendirian. Kau harus belajar berani, idak tergantung samo kawan-kawan. Lebih baik mana, ikut kawan dan melawan hatimu. Atau ikuti hatimu tapi dak bekawan.”

“Pengen ikuti hati dan bekawan.” Aku nyengir.

Ia mengusap-usap kepalaku. “Makan gih, rotinya dingin.”

+

Kami mampir sebentar  ke sekolah itu. Dia menemaniku, menyumbang keberanian kepadaku untuk menghadapi ketidaknyamanan di depan mata. Dia kaku, menyaksikan sendiri kegelisahan yang baru saja kututurkan. Lebih dari yang dia bayangkan. Karena aku tak berani mendeskripsikan apa-apa saat bercerita tadi.

Tak ada kesederhanaan yang biasanya akrab di sekolah ini. Kaos-kaos yang masih cemerlang dikenakan hampir setiap orang, berbau toko, sepatu bermerk yang masih mengilap, ponsel penuh pulsa sampai di ruangan pun saling bertelepon. Makanan berlimpahan. Berbungkus-bungkus rokok berbagai merk bergeletakan. Teman-teman sedang gegap gempita menikmati jerih payahnya.

Salah satu dari mereka menyodorkan dua batang cokelat silverqueen. Aku menggeleng, menolaknya. Si pemberi tersinggung. Aku paham maksudnya baik. Cokelat itu mahal untuk kami, dan ia ingin berbagi kebahagiaannya denganku, saudaranya. Kalau saja suasananya berbeda, tentulah cokelat itu kusambut dengan mata berbinar dan suka cita.

Aku mencangking helm, mengisyaratkan padanya untuk bersama meninggalkan sekolah kami. Tak betah dan memang tak bisa membaur dalam suka cita itu. Helm itu belum mendarat di kepalaku, dua kartu kecil jatuh dari bagian dalam helm. Vocher pulsa mentari, sengaja diselipkan disana. Setiap voucher bernilai Rp50.000. Aku pucat, ia menggeleng sedih.

Kuambil keduanya, kukembalikan seperti juga cokelat. Si pemberi memaksa, aku berkukuh menolak. Lupa pada kerekatan yang kemarin, setiap orang berpijak pada pendirian yang diyakini.

+

Kemarahan itu akhirnya meletus. Setiap orang tidak bisa berpura-pura lagi. Kami duduk dalam lingkaran. Setiap orang bersiap melontarkan kemarahan. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya yang gembira, ketika makanan berlimpah  ruah di atas meja, dan amplop berisi uang diedarkan. Kemarahan itu mereka lontarkan pada satu orang. Aku.

Kekecewaan mereka tak mampu kucerna. Karena aku merasa kecewaku justru lebih kuat. Kutatap wajah mereka satu-satu, asing. Keberanianku belum utuh untuk menerjemahkan pilihanku ke dalam argumentasi. Aku diam, pergi.

Berlari sekencangnya ke rumah kayu, melihatnya masih bergelung tidur di ruang tamu. Beberapa temannya tengah menikmati game dari playstation tidak menggubrisku. Kuguncang tubuhnya kuat-kuat, tangisku pecah, sesegukkan dibahunya. Kuceritakan semuanya secara acak. Aku kacau.

Dia mengucek mata, mengabaikan tangisku, malah tersenyum dengan mata yang masih menyipit. Bahkan tertawa. Membuat tangisku diinterupsi.

“Kenapa nangis?” Ia tertawa lagi. “Kan sudah kubilang, nggak usah takut dengan pilihanmu. Santai saja sih.”

“Mereka semua marah padaku. Katanya aku pengkhianat.” Aku jadi kesal, dia seperti tak paham gejolak yang baru saja kualami.

“Ya sudah, biarkan saja. Tak usah takut tak punya teman. Kau masih yakin dengan pilihanmu Lek?”

“Iya yakin. Kalaupun waktu diulangi lagi, aku akan tetap melakukan hal yang sama.”

“Bagus. Itu baru adik aku. Ya sudah, nggak usah cengeng. Setiap pilihan itu ada risiko. Termasuk jadi sendirian. Daripada sedih-sedih mending cari teman baru, cari aktivitas baru.”

Aku paham. Dia sedang mengajariku untuk berani menegakkan pilihan yang kupercaya.

+

Selamat ulangtahun kak. Sampai bertemu lagi nanti. Kami merindukanmu.

+

At night of Sept 24 2005

Keraguan..
Kekecewaan..
Membutakanku akan moral manusia

Kebencian..
Kemurkaan..
Tenggelam dalam diam! (Suck)

Tapi..
Ada mutiara
Yang seharusnya membuat perubahan

Keyakinan..
Keberanian..
Mungkin itu suatu jawaban!

*seperti pepatah lama, engga ada yang tak mungkin!

-inoy-

2 thoughts on “Si Penyumbang Keberanian

  1. Kenangan yang tak terlupakan yaa mb.

    Kisah yang menarik dengan gaya penulisan yang renyah.
    Kalimat yang ini lucu mb : “Kau harus belajar berani, idak tergantung samo kawan-kawan. Lebih baik mana, ikut kawan dan melawan hatimu. Atau ikuti hatimu tapi dak bekawan.”

    karena ada bahaso palembang di tengah2 bahasa indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s