Keyakinan Polisi Fanatik Itu Terpatahkan (Hasil wawancara kesukaan selama meliput di KPK)

Pengantar :

Koesparmono Irsan dipercaya menjadi Wakil Ketua Tim Independen verifikasi fakta dan proses hukum, atas kasus dua Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah. Tim yang populer disebut sebagai Tim 8 ini dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden Nomor 31 tahun 2009. Delapan orang dengan berbagai latar belakang dan disiplin ilmu ini diberi waktu 14 hari kerja untuk melakukan verifikasi fakta, apakah terjadi kriminalisasi dalam kasus dua pimpinan KPK jilid dua tersebut.

Bagaimana pandangan Koesparmono Irsan, sebagai unsur tim yang berlatarbelakang polisi, sekaligus pengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK)? Seperti apa pergolakan batinnya sebagai polisi fanatik, ketika fakta yang harus dicari berasal dari institusi asalnya? Berikut petikan wawancara bersama Koesparmono Irsan.

Siapa yang merekomendasikan anda untuk bergabung dengan Tim 8?

Saya nggak tahu. Waktu itu saya lagi mengajar di Universitas Bhayangkara, tiba-tiba saya dipanggil diminta untuk ke Istana oleh pak Djoko Suyanto (Menko Polhukam). Saya tanyakan kenapa saya sampai dipanggil. Lalu dijelaskan sama pak Djoko tentang pembentukan Tim 8 ini.

Apa yang diminta Presiden kepada anda?
Saya diminta agar bisa membantu Presiden untuk menyelesaikan kemelut di antara Kepolisian, Kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sebelumnya anda sudah tahu persoalan di tiga lembaga penegak hukum ini?
Saya dengar saja kalau Bibit diginikan, digitukan. Tapi saya nggak mengerti. Saya sama sekali tidak mengira kalau ada rekayasa. Apalagi, penyidik itu kan bukan penyidik ditingkat Polsek, sudah tingkat tinggi.

Anda langsung menerima permintaan bergabung dalam Tim 8?
Saya ikut saja. Tetapi sebelum pertemuan saya mohon izin menghadap Kapolri. Kami berdiskusi agak lama, ada Wakapolri juga waktu itu. Saya katakan, mungkin yang akan dibicarakan (Tim 8) ini dan itu. Misalnya kenapa yang disuap ditangkap, yang menyuap nggak. Tolong direview lagi berita acara Bibit dan Chandra. Mungkin ada hal-hal yang lemah. Saya ceritakan semuanya kepada beliau. Bukan apa-apa, baik buruknya Polri saya ikut menanggung.

Mengapa demikian?
Saya orang yang paling berdosa. Saya ini polisi yang fanatik, tetapi tidak buta. Dosa saya bertambah karena sebagian dari penyidik-penyidik (yang menangani kasus Bibit dan Chandra) adalah murid-murid saya. Melihat ini saya rasanya meledak. Apa benar murid-murid saya yang salah.

Jadi anda membela kepolisian?
Sebagai anggota tim saya harus loyal. Semua unek-unek saya katakan pada tim. Saya ngebelain polisi, tapi lama-lama kendor juga setelah tahu. Saya bilang ke teman-teman di tim, saya bersalah. Mereka bilang, ‘ngapain lu ngaku salah?!’.

Apa yang membuat anda merasa begitu bersalah?
Saya juga bingung. Awalnya saya pikir, ini melawan asas praduga tak bersalah. Sampai RI 1 disebut-sebut. Saya terkejut masa sih begini? Saya di Reserse (dulu Koesparmono pernah menjadi Direktur Reserse), hampir seumur hidup, sampai setua ini tidak pernah melihat polisi yang seperti itu. Apalagi setelah saya melihat gelar perkara. Masa orang bisa dituding karena petunjuk, mana buktinya. Ari Muladi bilang uangnya diserahkan pakai amplop, liat nggak? Katanya (penyidik) nggak. Lho, gimana kalau di dalam amplop isinya kertas. Yulianto nggak ada, kami disuruh telepon haji Labib, orangnya ternyata sudah meninggal.

Jadi anda merasa kecewa dengan murid-murid anda?
Seorang guru itu senang kalau melihat muridnya maju. Murid saya ada yang Jendral bintang empat. Saya bangga dengan polisi. Tapi saya harus bisa menunjukkan kelemahan adik-adik saya. Saya bilang, anda sudah mengerti kan seluk beluk penyidikan. Mesti hati-hati, karena ini case negara bukan case lokal.

Sebagai seorang polisi dan seorang guru, anda merasa pergolakan perasaan saat bekerja dalam Tim 8?
Iya, pergolakan hebat. Saya diskusi agak keras di Tim 8. Saya keukeuh (membela polisi). Saya berada dalam situasi ragu di tengah-tengah jalan. Diskusinya sangat keras, sampai Hikmahanto mengancam akan mengundurkan diri. Tapi ini bukan soal nyerah-nyerahan. Setelah dilakukan gelar perkara, teman-teman bilang, ‘gimana ini pak Koes?’ Saya mulai surut, keyakinan saya terpatahkan.

Jadi menurut anda polisi bersalah?
Polisi sampai di titik tertentu benar. Saya mulai ragu ketika gelar perkara tentang pemerasan. Apa buktinya waktu uang diserahkan? Karcis parkir? Lalu soal prosedur pimpinan yang menyalahi aturan. Sementara prosedur di KPK itu kan sudah lama dijalankan, sampai Erry Riyana (mantan pimpinan KPK) minta ditangkap juga. Saya mulai ragu. Wah, kok polisi begini.
Waktu jaman saya dulu, saya panggil Jaksa Penyidik sehingga berkas itu tidak bolak-balik seperti sekarang. Jadi saya ikut bertanggung jawab. Jangan salah anak buah menanggung, tapi kalau benar dan berprestasi lalu pimpinan yang di depan. Harus ada pembenahan di kepolisian.

Jadi pembenahan bagaimana yang harus dilakukan?
Tanpa menuding siapa yang salah, siapa yang benar. Polisi, Jaksa dan KPK harus duduk bersama. Make a good agreement. Kalau memaksakan kasus ini maju, tentu akan ada resiko-resiko yang akan tumbuh. Ada prediksi yang perlu diperhatikan.
Ada tiga komponen yang harus dipegang oleh penegak hukum, yuridis, filosofis dan psikologis. Contohnya kita masih ingat kasus Ambon, kalau diadili kan malah tambah rame. Untuk itu kelanjutannya ada upaya-upaya mempertimbangkan psikologis.
Sekarang apa kita mau diam saja kalau terjadi pertempuran. Sekarang ada dua kelompok kuat, satu dukung KPK, satu dukung polisi. Ini kalau bertempur gimana? Saya berdoa siang malam supaya jangan ada bentrok. Jadi masing-masing jangan keukeuh.

Bagaimana pembenahan di kepolisian?
Perlu ada pembenahan budaya di dalam kepolisian. Reformasi has no ending. Polisi juga manusia yang bisa berbuat salah. Maka harus dibentuk budaya polisi yang benar. Kalau sudah dari awal, maka lahir perilaku polisi yang benar. Polisi harus jujur menilai. Katakan yang salah itu salah, yang benar jalan terus. Mengertilah, anda dibentuk untuk kepentingan rakyat. Hamba masyarakat.
Pesan saya, hukum harus ditegakkan secara benar. Percayalah, kebenaran tidak bisa dihapus oleh apapun. Tapi kesalahan bisa dibesar-besarkan sehingga akibatnya fatal. Walaupun bukan yang terbaik tapi berbuatlah yang baik.

Apa hal yang paling berkesan selama anda bekerja dalam tim?
Diskusinya hebat. Setiap hari dari pagi sampai tengah malam. Kami semua menyadari, temuan Tim 8 bukan temuan emosional ,tapi intelektual. Saking hebatnya, kadang-kadang saya ngeri. Tapi saya menikmati pencerahan dari diskusi bersama rekan satu tim.
Karena tidak ada yang benar atau salah, tapi mencari solusi. Misalnya yang dibahas apakah penerapan pasal-pasalnya benar, mulai dari penyuapan, pemerasan hingga penyalahgunaan wewenang. Bukan menyalahkan jaksa, tidak juga menyalahkan polisi. Kita berdiskusi tentang masalah, bukan siapa yang benar, siapa yang salah.

Dalam Raker dengan DPR, Jaksa Agung mengatakan hasil Tim 8 inkonsistensi, karena deponering itu kan buktinya harus kuat?
Kami hanya menyarankan, kalau tidak diterima ya boleh-boleh saja. Kami tidak menyarankan kepada Jaksa, tapi rekomendasi itu diserahkan kepada Presiden. Jadi terserah Presiden. Deponering ini kan lebih kepada asas oportunitas, di mana Jaksa boleh mengenyampingkan kalau dilanjutkan ternyata menimbulkan situasi lebih buruk. Jaksa berhak untuk itu.

Setelah kerja Tim 8 selesai, apakah sempat bertemu Kapolri atau yang lainnya dari kepolisian?
Tidak. Karena begitu selesai, saya langsung kembali ke kampus. Mengajar lagi.

Bagaimana dengan operasional Tim 8 selama bekerja, siapa yang membayar?
Saya nggak tahu. Saya tidak dikasih honor, tapi tidak tahu juga entah belum entah tidak. Tapi saya harus jujur,  sampai saat ini saya tidak terima honor apapun. Yang jelas, selama dua minggu itu makan terus, makannya enak-enak. Saya cuma kasihan supir saya yang harus menunggu tiap hari sampai tengah malam.

Sekarang anda kembali mengajar, apakah merasa punya tanggung jawab lebih besar setelah bekerja di Tim 8?
Iya, tentunya begitu. Saya bilang kepada mahasiswa-mahasiswa saya, tanpa harus menyalahkan siapa-siapa, ini harus dibenahi.  Agar tumbuh satu budaya perilaku yang baik. Saya katakan, menjadi polisi itu tidak jelek. Tapi ini pengabdian. Istilahnya itu, punya dosa tak berampun, jasa tak terhimpun. Karena jasa sebanyak apapun orang tidak pernah berterima kasih, karena memang sudah tugas polisi. Jadi jangan pernah menuntut jasa sekecil apapun. (NJ)
———-
Saat ini Koesparmono Irsan mengajar di beberapa universitas, yakni :
– Universitas Indonesia (S2 jurusan Kajian Ilmu Kepolisian)
– Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK)
– Universitas Bhayangkara (S1 dan S2 fakultas Hukum dan fakultas Ekonomi)
– Universitas Borobudur (S2 Hukum)
– Universitas Pembangunan Nasional Veteran
————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s