Pertemuan Kejutan

“So???? Kalau batal jg gpp lho wit.” Pesan dari Esthi itu dikirim jam 16.30. Jam krusial untuk wartawan cetak, mendekati garis deadline. Pesan dari blackberry messanger itu tidak langsung kujawab. Seluruh pikiranku sedang berfokus pada tulisan di depan laptop yang tengah berusaha kurampungkan selekasnya.

Waktuku lebih sempit dari Esthi, deadline kompartemen ekonomi selalu lebih cepat dari deadline kompartemen nasional. Pesan Esthi baru kujawab beberapa menit sesudahnya.

“Gimana Esthi sama Faqih ajah,” ujarku, menyerahkan pilihan kepada mereka.

Rencana pertemuan itu mengalir empat hari lalu, tepat di hari ulangtahun Esthi. Kami bertiga diikat oleh satu kesamaan, sama-sama pernah bertugas meliput di DPR. Faqih dan Esthi, keduanya wartawan Republika. Sejak bertugas di tempat baru, Esthi di Istana, Faqih di halaman pro-kontra (plus floating alias muter-muter), dan aku di ekonomi, kebersamaan yang biasanya mengalir setiap hari, menjadi semakin mahal. Hari ulangtahun Esthi, menjadi moment untuk kami bertiga berkumpul, sekedar nongkrong, ngopi, dan berbagi cerita-cerita di tempat liputan baru, atau cerita ketika meliput di DPR dulu.

Esthi cepat menjawab, “Batal aje???”

“Knp? Aku sih tinggal nulis dua lagi.”

“Um..packing mau ke Riau bsk😀. Dan ini aku masih di Halim jemput bapak (maksudnya Presiden SBY yang baru kembali dari Rusia). Walau sebenernya aq udah bawa oleh2mu.”

Posisi Faqih saat itu di KPU di jalan Imam Bonjol, aku di Kementerian Perdagangan di Tugu Tani, dekat dengan muara pertemuan di Bakoel Koffie Cikini. Sementara Esthi masih di Halim, belum rampung pula. Sedangkan stok cerita masing-masing yang ingin dibagi terlalu banyak, tak bisa dibatasi waktu. Kalau dipaksakan bertemu hari ini, bisa-bisa Esthi yang tepar atau kesiangan bangun, karena besok pagi harus terbang ke Riau, meliput pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Baiklaah… dengan penuh pengertian akhirnya acara ngopi-ngopi sore itu dibatalkan hehehe.. “Dijadwal ulang ajah abis km balik dari Riau. Oleh2nya nambah deh😀,” jawabku.

Aku dan Esthi punya ritual, saling membelikan gelang setiap berangkat liputan di satu daerah. Ritual yang terbentuk dengan sendirinya, tanpa ada kesepakatan. Karena aku dan Esthi sama-sama suka memakai gelang.

Pada janji pertemuan itu, aku membawa selingkar gelang untuk Esthi. Kubelikan sewaktu meliput acara Bank Mandiri di Macau akhir Agustus lalu. Gelang cokelat dengan manik-manik berbentuk bunga. Aku membeli dua gelang yang sama, warna ungu untuk kupakai sendiri, yang cokelat untuk Esthi.

Seperti aku, Esthi pun sudah menyiapkan dua gelang yang ingin diberikan kepadaku. Aku lupa itu dibelikan Esthi waktu liputan kemana. Yang jelas gelang itu sudah dibeli lamaaaaaa sekali, saking lamanya Esthi sempat lupa menyimpan gelang-gelang itu dimana. “Wait! Aq simpen dmn ya itu??” kata Esthi waktu aku mengingatkannya untuk membawa gelang pada pertemuan kami.

Oleh-oleh gelang itu yang kerap menjadi pengikat kami untuk mencatatkan janji bertemu. Walaupun, janji yang dibuat lebih sering gagal alias batal. Kalau bukan Esthi yang sibuk dengan liputan kegiatan Presiden, gantian aku yang harus mengurus jualan. Terkadang juga janji itu gugur karena tugas yang belum bisa kami rampungkan lebih sore. Pembatalan tanpa emosi dan ngambek-ngambek, karena sudah sama-sama maklum.

Kami justru bertemu pada kesempatan yang tidak pernah kami atur. Istimewanya pekerjaan ini, terkadang memberi kejutan yang membuat kami sendiri terperangah. Seperti pada satu pagi di akhir Januari lalu, kami terbelalak karena mendapati kami berada di ruangan yang sama. Di ballroom sebuah hotel di Palembang. Ya di Palembang, bukan di Jakarta.

Kami sama-sama meliput pertemuan Parlemen Islam se-Dunia. Esthi meliput acara pembukaan oleh Presiden SBY. Sedangkan aku meliput acara secara menyeluruh, saat itu aku masih bertugas di kompartemen politik dan hukum. Liputan yang serius, menuntut fokus lebih dari biasanya. Membuat kami hanya sempat saling bersapa sebentar.

Hal yang paling menakjubkan dari Esthi pada hari itu adalah pergi menyusulku ke Benteng Kuto Besak, dengan naik becak (hujan pula), dari hotelnya. Sendirian, malam hari, di kota yang baru sekali itu dia jejak. Nekat!

Mukaku sampai pias karena khawatir, sementara aku tak bisa menjemputnya karena harus menemani beberapa teman yang lain. Kelegaan mengalir deras begitu Esthi sampai. Sedikit basah terpercik hujan, tapi ia melompat-lompat gembira, tertawa-tawa, dan tentu sajaaa, minta difoto-foto😀. Pertemuan kami pun menjadi lebih istimewa dari biasanya.

Pertemuan kejutan lainnya terjadi pada bulan puasa yang baru saja lewat. Kami bertemu di Kementerian Perindustrian, pos peliputanku sekarang. Urusan jualan cokelat yang waktu itu sedang padat, membuatku abai kalau Esthi mungkin ada di sana. Padahal, sudah jelas-jelas yang diliput itu adalah rapat Presiden dengan para menteri bidang ekonomi. Esthi juga tak ingat kalau itu pos peliputanku sekarang (padahal sudah cerita deh Es).

Jadilah pertemuan kejutan itu membuat mata kami berbinar-binar gembira. Walaupun, dengan sedikit sesal karena tak membawa gelang-gelang untuk diberikan satu sama lain. “Makanya, jangan bikin janji deh sama wartawan ahahahaha…,” kata Esthi selalu setiap pertemuan kejutan kami.

Mungkin Es, kita harus selalu membawa gelang-gelang itu di tas ransel kita setiap liputan. Karena kita nggak pernah tahu, kapan lagi pertemuan kejutan berikutnya. Mungkin besok, atau lusa. (NJ)

-Sarang, 13 September 2012-

4 thoughts on “Pertemuan Kejutan

  1. aku suka membacanya,
    seolah aku menjadi saksi tiap pertemuan kalian,
    hihi.. tapi kalian tak menyadari kalau ada aku..

    tulisan yang keren kak
    aku pengen kayak kakak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s