Ruang Hening

Tersekap di sini. Mendengarkan orang-orang bernyanyi. Dengan lampu berkelip aneh yang temaram. Tak nyaman. Ruang pelepas penat tak mesti seragam. Kenyamanan tak bisa dibentuk-bentuk. Suka ya suka. Tidak ya tidak. Dan tak mesti harus selalu ada kompromi. Karena setiap kita punya caranya sendiri untuk merasa tenang, nyaman. Ruangku bernama hening. Tak pernah kupaksa siapapun untuk ikut menikmatinya.

(NJ)

-Sarang, 21 September 2012-

Advertisements

Tumpukan Buku

Kasur pegas tua itu nyaris tak pernah rapi. Sang empu sarang tak ingin berjauhan dengan barang-barang kesukaannya. Buku tulis yang tebalnya lebih dari seratus halaman, pulpen, lembar-lembar surat dari sahabat di seberang pulau, dan buku atau majalah yang akan dibaca sebelum tidur.

Penataan paling maksimal, paling sempurna adalah menumpuk kesemuanya itu di sudut, di sebelah bantal-bantal. Buku-buku bacaan itu tak pernah terlalu lama meringkuk di pojok kasur. Hampir setiap pekan berganti buku baru. Bahkan pergantiannya lebih cepat jika bukunya lebih tipis.

Tak semua buku-buku itu punya si pemilik sarang. Kadang buku itu dipinjam dari sana-sini. Buku-buku yang disuka, dibeli dari hasil menabung agak lama. Kalaupun belum ada buku baru yang bisa dibaca, ia akan membaca ulang buku-buku yang ada.

Pada lompatan tahun-tahun sesudahnya,ketika sarang tua sudah diganti. Buku tulis seratus halaman dan pulpen, ditukar dengan blackberry. Buku-buku tebal bersampul mengilap, bertumpukkan di sisi tempat tidur. Tak lagi muat ditumpuk pada pojok di atas kasur. Ia bisa membeli buku yang dimau, yang disuka, kapan pun ia mau. Namun sebulan, belum tentu satu buku rampung dibaca. Tumpukan itu bertambah tinggi.

(NJ)

-Sarang, 21 September 2012-

Image