pak khaidir

Masih pagi sekali ketika pesan itu masuk di milis pejuhkuning (persatuan jurnalis hukum kuningan). Pesan dari mas Mandra, wartawan harian Suara Merdeka. Mengabarkan kalau pak Khaidir Ramli wafat dini hari tadi.

Obrolan yang mengalir kelewat larut dengan seorang teman pada hari sebelumnya, membuatku hanya sempat tidur kurang dari dua jam saja. Sehingga aku butuh beberapa waktu untuk mencerna, memutar ulang memori, mengenang nama yang masih tetap terasa akrab di ingatan.

Pak Khaidir, pria berperawakan kurus dan berkumis ini, mengabdikan dirinya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak 2004 lalu. Saat itu ia bertugas sebagai jaksa penuntut umum. Terakhir menjabat Kepala Biro Hukum KPK.

Pak Khaidir merupakan pengecualian, dari imej serba rahasia yang lekat pada lembaga antikorupsi ini. Ia tak pernah pelit untuk membagi informasi tentang perkembangan di KPK kepada kami. Walaupun memang, tidak semuanya bisa kami tulis dan informasikan kepada publik. Dari cerita-ceritanya lah, kami jadi tahu lebih dekat bagaimana kerja keras KPK. Pak Khaidir membuat rasa memiliki kami kepada KPK lebih kuat, dan ikut bersungguh-sungguh menjaga lembaga ini.

Laki-laki berdarah Sumatra ini lebih luwes dan akrab berteman dengan wartawan. Tak memilih wartawan senior atau yang baru terjun ke lapangan kemarin sore. Bicaranya santai, seperti sedang berbincang dengan teman sepergaulan. Gaya berpakaiannya juga sederhana, jauh dari kesan seorang pejabat penting.

Seperti penggalan percakapan ini misalnya (diposting mba Cheta-Wartawan Tempo di milis pejuhkuning)

Pak Khaidir dan Reporter baru

Suatu siang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), ada seorang reporter TV yang baru meliput di sana. Kemudian reporter baru ini bertanya ke bapak-bapak kurus ceking.

Reporter : “Pak, ruang sidang kasus damkar (maksudnya pengadaan mobil pemadam kebakaran)  di mana ya?”

Bapak : “Di atas mbak.”

Reporter : iya lantai berapa?

Si bapak merengut : “emang ruang sidang tipikor di sini berapa lantai mbak?

Reporter : “Loh saya mana tau.”

Bapak : “Oooo… baru ya?”

Reporter : “Iya, bapak siapa?”

Bapak : “Saya driver-nya KPK.”

Reporter : “Oooo sudah lama pak jadi driver di KPK?” (Reporter itu benar-benar percaya kalau pak Khaidir driver KPK)

+

Aku sendiri, tak punya moment yang benar-benar khusus dengan almarhum. Obrolan terakhir dengan beliau sudah lama sekali, ketika aku bertugas meliput di DPR. Meskipun aku tidak lagi bertugas meliput di KPK, beliau masih tetap hangat menyapa, seperti menyapa kawan lamanya.

Masih tegas di ingatan, ketika jenuh di tengah rapat kerja dengan DPR, atau tak tahan dengan kelakuan anggota dewan yang terkadang konyol, pak Khaidir mendongak ke arah balkon, tempat kami-para wartawan duduk di sana. Ia menyapa lewat senyum, terkadang juga lambaian tangan.

Hari ini, ketika ia harus menyudahi perjuangannya memberantas korupsi. Aku seperti melihatnya dengan senyum khas yang lebar, hingga garis-garis tertarik di sudut matanya. Melihatnya melambaikan tangan kepada kami. Semoga tak hanya kenangan saja yang membekas pada ingatan setiap orang yang mengenalnya. Tetapi juga keteladanannya.

Lagi-lagi, orang baik pergi terlalu cepat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s