ku parkir motor dengan bismillah

Mendekati Bundaran Hotel Indonesia (HI), aku mengendurkan kecepatan sepeda motor. Dengan The Corrs masih bernyanyi di telinga, sesekali aku mendongak, menyusuri gedung-gedung tinggi menjulang di kiri jalan. Mencari hotel Hyatt.

Tak terlalu sulit menemukannya, hotel itu menyatu dengan Plaza Indonesia. Yang sulit itu adalah mencari tempat parkir motor. Moodku  tak pernah bagus kalau harus meliput ke hotel-hotel di sekitaran Bundaran HI. Ya, termasuk juga Hyatt.

Aku menepi di gerbang masuk, menghampiri seorang satpam yang berjaga. “Mau ke Hyatt parkir motor di mana ya pak?”

Dijawab dengan telunjuk yang mengarah ke bagian samping gedung, ke arah gerobak-gerobak penjualan makanan yang berjejeran di tepi jalan. “Di luar?” dengusku.

“Iya di sana,” ujarnya singkat. Lalu meninggalkanku, kembali sibuk mengatur mobil-mobil berkilap yang tak putus-putus datang.

Kupacu gas pelan-pelan ke arah yang dimaksud. Di deretan kiri gerobak-gerobak makanan, gorengan, ketoprak, cimol dan entah apalagi. Di depanku, deretan motor-motor tukang ojek. Mana??? Manaaa tempat parkir yang dimaksud si satpam sibuk itu?????

Beberapa laki-laki berkaus kumal yang duduk di motor berlabel ojek, memanggil-manggil menunjuk tempat kosong di sebelah motor-motor mereka. “Saya mau cari tempat parkir pak, bukan mau ikutan ngojek heuheuheu,” gerutuan itu hanya tercecap di ujung lidah. Kutarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosi agar tidak mendidih.

“Parkir kan mbak? Di sini aja nggak apa-apa kita jagain. Stangnya jangan dikunci ya,” ujar salah seorang di antara mereka, laki-laki dengan peluit butut terkalung di leher.

Aku melongok ke belakang jejeran ojek-ojek itu. Ada sepetak tanah yang dipakai untuk parkir motor. Tapi yaaa astaga, motor-motor dijejer seperti ikan sarden dalam kaleng, tak ada sela bahkan untuk berjalan kaki di antaranya.

Aku memang tak apik merawat dan menjaga motorku. Tapi kalau harus ditumpuk-tumpuk begitu rasanya tak tega juga :(. Bisa gores di sana-sini. Lalu kalau aku ceroboh sedikit saja memarkir atau mengeluarkan motornya nanti, bisa-bisa menggabrukkan puluhan (eh atau seratusan ya?) motor-motor lainnya.

Sambil mengecam dalam hati, akhirnya aku memarkirkan motor di sebelah motor-motor tukang ojek. Laki-laki dengan peluit terkalung di leher tadi berseri-seri, rejekinya datang. Sekali lagi dia mengingatkan, “Jangan kunci stangnya ya.”

Hatiku tak tenang memarkir motor di sini. Tak boleh kunci stang, tak boleh menggembok jeruji roda. Dan ini di pinggir jalan raya. Tanpa sekat atau pembatas sekadarnya. Benar-benar di pinggir jalan. Aku masih punya kunci rahasia di bawah jok motor, kedua helm ku selipkan di bawah jok untuk mencegah pencuri tergoda. Tapi hal itu tidak bisa menggeser rasa gusarku meninggalkan si motor. Dengan berat hati aku melangkah menuju hotel mewah itu, sembari berucap bismillah, dan membisikkan permohonan pada Tuhan agar motor itu masih bisa kulihat selepas tugas rampung nanti.

Aku masih tak percaya hotel semewah ini sama sekali tidak menyediakan tempat parkir untuk motor. Sampai di gerbang pemeriksaan sebelum masuk ke dalam hotel, kutanyakan lagi kepada petugas. “Apa hotel ini tidak punya tempat parkir di dalam gedung?”

“Nggak ada mbak, biasanya juga parkir motor di luar,” kata petugas sambil memeriksa tasku.

“Jadi kalau mau ke hotel ini parkirnya di luar? Di jalanan itu?” suaraku meninggi.

“Iya mbak.” Hadeuh, Cuma bisa geleng-geleng deh.

Lebih baik parkir komersil, biar dihitung per jam seribu perak, tapi liputan berjam-jam tak risau begini. Penjaga motor jalanan tadi pun menarik lebih, kalau parkir-parkir liar biasa menarik bayaran Rp2.000, mereka menagih Rp3.000 untuk setiap motor yang diparkir. Cuma bisa berdoa, supaya jangan sering-sering ada acara di hotel-hotel seputaran Bundaran HI, jangan sering-sering juga disuruh liputan ke sana.

-NJ-

21.18 waktu Sarinah. Sembari menanti Guru Di yang masih berjuang menerobos kemacetan Jakarta 🙂

Ruang Asosial

Kedai kecil di sebelah Gramedia di Jalan Padjajaran itu akhirnya kupilih menjadi tempat membenamkan diri, ke dalam buku-buku baru yang tadi kubeli. Ada waktu longgar sekitar satu jam, selama menunggu adikku menuntaskan tes kursus bahasa Inggrisnya. Pekan ini  aku beruntung, mendapat libur dua hari.

Aku terlanjur menarik sebuah kursi dari meja terdekat, ketika pandangan mataku mendarat pada kursi di seberang. Seorang laki-laki paruh baya tengah menikmati makan siang dengan seorang remaja perempuan. Percakapan mereka akrab, sepertinya mereka adalah  ayah dan anak.  

Radar ingatanku mendefinisikan sosok laki-laki itu sebagai seorang pejabat di salah satu kementerian. Tapi aku separuh ragu, karena sudah lama sekali tak bertemu dan mewawancarainya. Selain itu, dalam pertemuan-pertemuan kami, semasa aku masih bertugas di kompartemen politik hukum, laki-laki ini selalu mengenakan setelan safari warna gelap, sepatu mengilap dan kepalanya licin.

Sedangkan yang tampil di hadapanku sekarang terlihat sangat santai dengan setelan kaus lengan pendek dan celana selutut, sandal, ditambah topi yang dikenakan di kepalanya. Kolaborasi ragu dan enggan, membuatku memutuskan untuk tidak berbasa-basi menyapanya. Tidak juga bergeser pindah, tetap duduk di kursi yang terlanjur sudah ditarik. Lagipula, pelayan sudah menyodorkan menu untuk dipilih.

Kadang ada moment ketika kita ingin menjadi asosial, tak ingin berdialog dengan siapapun (kecuali untuk memesan segelas jus stroberi). Sialnya perasaan ingin menjadi asosialku mampir hari sabtu itu. Terlambat untuk mengganti tempat duduk, akan tampak kentara untuk menghindar. Akhirnya aku tetap duduk di situ, melepas kacamata, dan membenamkan diri pada novel Test Pack karangan Ninit Yunita.

Aku benar-benar tidak menyapa, sampai laki-laki itu beranjak menyudahi makan siangnya. Meskipun di akhir sesi makan siang mereka, penciumanku menyecap aroma cerutu yang tidak asing. Aroma cerutu yang manis menegaskan identitas laki-laki itu, ia memang orang yang aku maksud. Aku belum pernah melihat orang lain merokok cerutu serupa.

Keinginan menjadi asosial ini memang tak sopan. Tetapi rutinitas yang terlalu riuh, banyak basa-basi, atau  selalu menyediakan diri untuk orang lain, membuatku sekali waktu ingin menjadi diri sendiri. Menyediakan diri secara utuh untuk diri sendiri dan memanjakannya, tanpa harus berbagi ruang dengan orang lain (pada kesempatan ini, adikku menjadi pengecualian).