Ruang Asosial

Kedai kecil di sebelah Gramedia di Jalan Padjajaran itu akhirnya kupilih menjadi tempat membenamkan diri, ke dalam buku-buku baru yang tadi kubeli. Ada waktu longgar sekitar satu jam, selama menunggu adikku menuntaskan tes kursus bahasa Inggrisnya. Pekan ini  aku beruntung, mendapat libur dua hari.

Aku terlanjur menarik sebuah kursi dari meja terdekat, ketika pandangan mataku mendarat pada kursi di seberang. Seorang laki-laki paruh baya tengah menikmati makan siang dengan seorang remaja perempuan. Percakapan mereka akrab, sepertinya mereka adalah  ayah dan anak.  

Radar ingatanku mendefinisikan sosok laki-laki itu sebagai seorang pejabat di salah satu kementerian. Tapi aku separuh ragu, karena sudah lama sekali tak bertemu dan mewawancarainya. Selain itu, dalam pertemuan-pertemuan kami, semasa aku masih bertugas di kompartemen politik hukum, laki-laki ini selalu mengenakan setelan safari warna gelap, sepatu mengilap dan kepalanya licin.

Sedangkan yang tampil di hadapanku sekarang terlihat sangat santai dengan setelan kaus lengan pendek dan celana selutut, sandal, ditambah topi yang dikenakan di kepalanya. Kolaborasi ragu dan enggan, membuatku memutuskan untuk tidak berbasa-basi menyapanya. Tidak juga bergeser pindah, tetap duduk di kursi yang terlanjur sudah ditarik. Lagipula, pelayan sudah menyodorkan menu untuk dipilih.

Kadang ada moment ketika kita ingin menjadi asosial, tak ingin berdialog dengan siapapun (kecuali untuk memesan segelas jus stroberi). Sialnya perasaan ingin menjadi asosialku mampir hari sabtu itu. Terlambat untuk mengganti tempat duduk, akan tampak kentara untuk menghindar. Akhirnya aku tetap duduk di situ, melepas kacamata, dan membenamkan diri pada novel Test Pack karangan Ninit Yunita.

Aku benar-benar tidak menyapa, sampai laki-laki itu beranjak menyudahi makan siangnya. Meskipun di akhir sesi makan siang mereka, penciumanku menyecap aroma cerutu yang tidak asing. Aroma cerutu yang manis menegaskan identitas laki-laki itu, ia memang orang yang aku maksud. Aku belum pernah melihat orang lain merokok cerutu serupa.

Keinginan menjadi asosial ini memang tak sopan. Tetapi rutinitas yang terlalu riuh, banyak basa-basi, atau  selalu menyediakan diri untuk orang lain, membuatku sekali waktu ingin menjadi diri sendiri. Menyediakan diri secara utuh untuk diri sendiri dan memanjakannya, tanpa harus berbagi ruang dengan orang lain (pada kesempatan ini, adikku menjadi pengecualian).

2 thoughts on “Ruang Asosial

  1. Terkadang ada ruang di saat kita merasa ingin diam yang paling diam
    hening tanpa kata
    hanya ditemani pikiran. tidak lain tidak bukan..
    orang-orang boleh bicara tapi kita tak selalu butuh suara
    sunyi itu kaya

    semoga yang bikin tulisan ini selalu nyaman di ruang asosialnya:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s