Mencari Dana Untuk Bumi dan Manusia

Biaya yang dibutuhkan untuk mengerjakan film Bumi Manusia sekitar Rp25 miliar. Dana itu untuk membangun cerita semirip mungkin dengan era 1900-an.

*

Penggemar setia karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer harus lebih bersabar menunggu kisah roman sejarah Bumi Manusia hadir di layar lebar.  Proyek garapan Riri Riza dan Mira Lesmana ini masih tersendat pada pengumpulan dana. Film Bumi Manusia, kata Riri, harus digarap dengan penggambaran setegas mungkin, agar dekat dengan tulisan Pramoedya dalam novelnya.

“Sekarang ini kalau ditanya tentang Bumi Manusia, saya masih sangat sulit menjawab. Karena sudah sekitar delapan bulan mencoba menyelesaikan pembiayaan produksi. Saya dan mbak Mira terus terang mencoba kuat bertahan untuk bisa memproduksinya,” tutur Riri ditemui di Studio Metro TV, Jakarta, Minggu (30/9).

Bumi Manusia merupakan buku pertama dari Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer. Buku yang mengisahkan periode kebangkitan nasional melalui sepak terjang tokoh pers nasional Tirto Adhi Soerjo ini pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980. Pram menulis buku ini ketika masih mendekam sebagai tahanan politik di Pulau Buru. Sebelum ditulis pada tahun 1975, sejak tahun 1973 Pram terlebih dahulu telah menceritakan kisah yang sudah terbentuk di kepalanya itu kepada teman-temannya sesama tahanan.

Novel yang ditulis berdasarkan riset sejarah itulah, yang membuat Riri berhati-hati dan berupaya mewujudkannya ke dalam film sedetail mungkin. Riri menyebut pengerjaan film Bumi Manusia sangat kompleks, semua desain dan penataan artistik harus digarap satu-persatu.

“Novel ini dibuat berdasarkan riset sejarah yang luar biasa. Maka film ini adalah film periodik, dibikin setia pada periode waktu tertentu. Jadi harus valid betul. Harus bagus betul biar meyakinkan. Kalau tidak meyakinkan nanti orang tidak percaya, tidak tersentuh dengan ceritanya.”

Ia mengungkapkan, biaya yang dibutuhkan untuk mengerjakan film ini sekitar Rp 25 miliar. Sebagian besar biaya dibutuhkan untuk membangun setting semirip mungkin dengan kondisi di tahun 1900. Karena cerita dalam Bumi Manusia mengambil periode antara tahun 1889 sampai 1905. Untuk mewujudkan hal tersebut, Riri berencana mengambil lokasi di Jawa Tengah atau Jawa Timur.

“Waktu itu jalanan masih dari tanah yang dipadatkan, masih ada trem di Surabaya, kereta berkuda, kereta api uap. Kita juga harus melihat perkebunan tebu, peternakan sapi. Semua itu harus dibikin dan diciptakan,” paparnya.

Ia mengaku belum menentukan aktor-aktor yang nantinya akan memerankan tokoh-tokoh fenomenal di novel itu seperti Nyai Ontosoroh, Minke, dan Annelies. “Saya rasa itu bagian yang mestinya lebih sederhana. Kita sudah berproses cukup panjang. Di bayangan kepala saya sudah banyak siapa saja yang bisa bermain di film ini, tapi ini dulu yang dibereskan (pendanaan).”

Ditanya soal target, Riri mengaku enggan mematok waktu kapan syuting film ini akan dimulai. “Mendingan nggak punya target dulu. Saya biasanya kalau dana sudah ada, tunggu enam bulan sudah bisa syuting, habis itu tiga bulan kemudian sudah bisa ada film. Jadi kurang lebih dalam satu tahun sudah bisa (jadi) filmnya,” kata Riri. (NJ/Guru Di)

2 thoughts on “Mencari Dana Untuk Bumi dan Manusia

  1. kirain judulnya itu maksudnya ke Bumi Resources-nya Bakrie yg skarang ini katanya memang lagi ada masalah keuangan😀 #ekonomibanged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s