Digoda Lobi Parlemen

Telepon itu berdering pukul 10 pagi. Mencerabut diriku keluar dari peperangan bangsa Mongol, pada bab terakhir novel Genghis Khan yang tengah kubaca. Padahal ini akhir pekan, tak biasanya ada yang mengontak. Keningku berkerut saat melihat nama penelepon, salah satu calon komisioner lembaga negara, yang proses seleksinya saat ini tengah berlangsung di parlemen.

Aku masih bermalas-malasan di kasur, belum lagi mandi. Sudah sejam masih betah dan tak sabar menamatkan buku ini. Ingin segera berpindah ke buku lainnya yang sudah mengantre. Suara Adele yang kupasang sebagai nada dering, terus bernyanyi nyaring di  sebelahku. Sempat terpikir sejenak untuk mengabaikannya, dan menelepon balik 10 atau 15 menit lagi saat aku sudah lebih segar. Tapi tak enak hati, karena ia sudah meneleponku dari kemarin. Dengan suara parau, kuterima juga.

“Selamat pagi Wita, bagaimana sudah tamat baca buku Genghis Khan-nya?” suaranya renyah dan bersemangat seperti biasa. Terbayang olehku wajah seriusnya, dengan kacamata tebalnya yang hampir selalu merosot, dan rambutnya yang keperakkan.

Ia memang pengguna facebook aktif dari lama, sudah tentu ia melihat status di akun facebook-ku, yang belakangan memang menyalin cukilan novel Sam Djang itu. Lagipula terkadang kami saling menyapa lewat status-status facebook.

Aku tertawa, “Belum selesai, ini sedang dibaca. Kebetulan hari ini libur. Gimana kabarnya pak? Ada berita apa nih?” kataku sambil berusaha membuka botol air minum, butuh menegak air mineral untuk mengurangi suara yang serak.

“Enggak..enggak… nggak ada berita apa-apa. Saya cooling down dulu lah sampai proses ini beres.”

Proses yang ia maksud adalah uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) keanggotaan lembaga yang ia ikuti, dan masih digodok DPR.  Kalau tidak ada perubahan, akan digelar akhir Maret nanti. Cerita mengalir begitu saja dari sambungan telepon. Kepadaku ia mengungkapkan kekhawatirannya akan proses di DPR. Ia sempat membaca beritaku Rabu kemarin. Salah satu pesaingnya secara terbuka menyatakan membuka ruang untuk lobi dan bertransaksi dengan fraksi-fraksi di DPR.

Ia mengonfirmasi, “Itu benar begitu? Nggak salah tulis kan?” ujarnya.

Aku tersenyum paham, bukan ia tak percaya pada tulisanku. Tapi rasanya memang hampir tidak mungkin dalam kondisi di tengah sorotan publik begini, ada calon yang berani blak-blakkan soal usahanya meraih suara parlemen.

“Dia bicara di forum diskusi lho, pak. Selesai diskusi saya wawancara lagi, dan dia menegaskannya begitu. Padahal dia sadar sedang diwawancara. Saya juga belum lama ini ketemu dia di ruang salah satu fraksi, sedang lobi.”

Ia menjawab dengan gumam, aku menangkap rasa khawatirnya semakin menguat. Percaya dirinya melorot, berganti pesimistis bisa lolos dari proses seleksi ini. Apalagi waktu resmi untuk pengujian di DPR nanti hanya satu jam untuk setiap calon. Sementara banyak hal yang ingin ia jelaskan untuk menjual diri. Termasuk cap yang distempelkan DPR kepada dirinya, mengenai keterlibatan dengan asing dan anti parpol. Apalagi, sudah rahasia umum kalau uji kelayakan dan kepatutan yang digelar DPR selama ini kerap hanya formalitas saja. Pilihan yang sesungguhnya ditentukan dari proses gerilya ini.

“Kadang saya jadi terpikir juga gitu untuk datang dan menjelaskan kepada mereka. Kalau anggapan soal asing oke lah. Tapi kalau tuduhan deparpolisasi saya pikir ini serius. Saya merasa perlu untuk menjelaskan kepada mereka.”

Gelombang pesimistisnya menekuk dua kali, proses seleksi ini bukan pertama kali ia ikuti. Pada seleksi sebelum ini, lima tahun sebelumnya, dia menjadi salah satu kandidat yang dicoret di tengah proses.

“Tapi walaupun datang untuk menjelaskan dan tidak ada lobi-lobi, rasanya itu bukan karakter saya, Wit, untuk datang ke mereka. Nggak enak juga sama publik, nanti saya malah diberitakan. Lagipula walaupun memang pas ketemu nggak ada apa-apa, kita kan nggak tau kalau nanti di kemudian hari mereka minta imbal balik ke saya. Waduh saya nggak bisa begitu. Itu bukan saya,” ujarnya dengan suara tegas.

Ilmuku sendiri masih seujung kuku, bingung harus memberi saran apa padanya. Kalau mau jujur, akupun pesimistis dia bakal terpilih. Dia cerdas dan paham sampai ke detil manapun di luar kepala tentang tugas lembaga negara yang akan ia masuki ini.

Bukan cuma kepadaku dan teman-teman peliput politik hukum saat ini dia berbagi ilmu. Bahkan sejak para editorku masih menjadi reporter baru, ia juga yang membagi ilmunya dengan tulus dan kesabarannya. Ya, harus ekstra sabar, karena kami wartawan hampir semua tidak sekolah soal politik hukum.

“Fraksi-fraksi harusnya bikin diskusi terbuka ya, pak, seperti waktu seleksi KPK. Beberapa kandidat diundang untuk diadu argumentasi dan pemikirannya,” kataku.

“Iya harusnya begitu ya, terbuka saja. Ada beberapa fraksi yang kontak saya untuk ketemu, saya bilang mohon maaaaaaffff… betul saya tidak bisa begitu. Tapi saya minta untuk mereka bikin diskusi seperti yang kamu bilang, Wit. Katanya minggu depan. Yah mudah-mudahan ya.”

Ia mengaku gagasan itu sudah terpikir olehnya sejak awal. Ia mencoba merangkul para kandidat lainnya untuk menunjukkan sikap independensi. Ia menawarkan ide agar para kandidat yang pro aktif meminta untuk berdiskusi dengan fraksi-fraksi secara terbuka, untuk menjajakan diri. “Kan kalau begitu nggak bisa juga lobi-lobi, wong kita datangnya rame-rame.”

Tadinya para kandidat setuju, ia pun menyiapkan konsep dan mulai mengontak fraksi-fraksi. Tapi semakin dekat hari H, kandidat lain mundur dari ide laki-laki ini dan menyatakan akan berusaha sendiri-sendiri. Ia kecewa harapannya pupus.

“Yah mungkin mereka berpikir bahwa ini benar-benar persaingan. Ngeri, mereka mengandalkan jaringan organisasi-organisasi, jaringan mana-mana. Saya kan jadi menyesal juga dulu waktu kuliah nggak masuk organisasi begitu. Kalau bisa sekarang masuk organisasi mereka, saya ikut deh,” katanya tertawa. Getir.

Aku cuma bisa menyemangatinya, mengutip pesan seorang pakar kepada parlemen agar memilih anggota sesuai dengan komposisi dan kebutuhan lembaga ini. Ibarat sepakbola, harus ada penyerang, pemain tengah, pemain belakang dan penjaga gawang. Walaupun aku sendiri tak yakin, karena di panggung politik, setiap fraksi punya agenda  sendiri. Semua sudah berhitung calon mana yang bisa membantu mereka di masa depan. Tak cukup hanya berbekal penguasaan ilmu kelembagaan untuk bisa dipilih parlemen.

+

Catatan :

Diskusi terbuka itu tidak pernah terwujud sampai proses seleksi rampung. Dengan segala pesimistis, laki-laki ini berhasil mempertahankan keyakinan yang ia pegang. Ia terpilih, walaupun di urutan nyaris terakhir. Dan sang pesaing, justru terpilih memimpin lembaga tersebut.

-NJ-

Medio Maret 2012

(dengan editan guru di yang cukup detail. terimakasih)

2 thoughts on “Digoda Lobi Parlemen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s