pelajaran jurnalisme sastrawi

Dirangkum dari tulisan Andreas Harsono, pada pengantar buku Jurnalisme Sastrawi (Yayasan Pantau-Mei 2008)

Jurnalisme sastrawi berbeda dari reportase sehari-hari karena dalam bertutur ia menggunakan adegan demi adegan (scene by scene construction), reportase yang menyeluruh (immersion reporting, menggunakan sudut pandang orang ketiga (third person poin of view), serta penuh dengan detail.

Wawancara bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan lebih sering ratusan narasumber. Risetinya tidak main-main. Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua, tapi bisa berbulan-bulan. Ceritanya juga kebanyakan tentang orang biasa. Bukan orang terkenal.

Genre ini menukik sangat dalam. Lebih dalam daripada apa yang disebut in-depth reporting. Ia bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa. Tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal itu. Ada karakter, ada drama, ada babak, ada adegan, ada konflik. Laporan panjang dan utuh-tidak dipecah-pecah ke dalam beberapa laporan.

Roy Peter Clark, seorang guru menulis dari Poynter Institute, Florida mengembangkan pedoman standar 5W 1H menjadi pendekatan baru yang naratif.

Who : berubah menjadi karakter

What : berubah menjadi plot

Where : menjadi setting

When : menjadi kronologi

Why : menjadi motif

How : menjadi narasi

Robert Vare menjabarkan, ada beberapa pertimbangan untuk menulis narasi

1. Fakta

Jurnalisme menyucikan fakta. Setiap detail harus berupa fakta. Nama-nama orang adalah nama sebenarnya. Tempat juga memang nyata. Kejadian benar-benar kejadian. Merah disebut merah. Hitam hitam. Biru biru.

2. Konflik

Suatu tulisan panjang lebih mudah dipertahankan daya pikatnya bila ada konflik. Sebaiknya berpikir tentang sengketa. Sengketa bisa berupa pertikaian satu orang dengan orang lain. Ia juga bisa berupa pertikaian antarkelompok. Bisa juga pertentangan seseorang dengan hati nuraninya. Seseorang dengan nilai-nilai di masyarakatnya.

3. Karakter

Narasi minta ada karakter-karakter. Karakter membantu mengikat cerita. Ada karakter utama. Karakter pembantu. Karakter utama seyogyanya orang yang terlibat dalam pertikaian. Ia harus punya kepribadian menarik. Tak datar dan tak menyerah dengan mudah.

4. Akses

Anda seyogyanya punya akses kepada para karakter. Akses bisa berupa wawancara, dokumen, korespondensi, foto, buku harian, gambar, kawan, musuh, dan sebagainya.

5. Emosi

Ia bisa rasa cinta. Bisa pengkhianatan. Bisa kebencian. Sikap menjilat dan sebagainya. Emosi menjadikan cerita anda hidup. Emosi juga bisa bolak-balik. Mungkin ada pergulatan batin, perdebatan pemikiran.

6. Perjalanan waktu

Laporan panjang adalah suatu film yang berputar. Video. Ranah waktu jadi penting. Ini juga yang membedakan narasi dan feature. Narasi semacam video. Feature semacam potret. Sekali jepret.

7. Unsur kebaruan

Tak ada gunanya mengulang-ulang lagu lama. Mungkin lebih mudah mengungkap kebaruan itu dari kacamata orang biasa yang jadi saksi mata peristiwa besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s