Menyapa Kuil A-Ma dan Aroma Dupanya (Catatan Perjalanan di Hongkong & Macau bagian I)

Saya tidak pernah mengira bisa begitu beruntung, memiliki kesempatan dua kali datang ke tempat yang nyaris mustahil ditempuh atas biaya sendiri. Keberangkatan saya kedua kalinya ke Macau, karena penugasan kantor meliput kegiatan sebuah bank terkemuka di Indonesia yang menerima penghargaan. Perjalanan ke Macau ditempuh dengan penerbangan tiga jam, dari Jakarta ke Hongkong. Lalu dari Hongkong, menyebrang dengan kapal feri selama satu jam. Kami tiba di Macau pada 23 Agustus 2012, tiga hari setelah perayaan Idul Fitri.

Saya menjadi satu-satunya wartawan tulis dalam rombongan ini. Ada seorang fotografer senior, lainnya adalah orang-orang bank, dan para nasabah besar yang ikut diundang. Hanya ada tiga perempuan dalam rombongan ini. Saya, seorang ibu manajer perusahaan terkemuka, dan seorang lagi pemilik gerai penukaran uang (money changer). Mereka berdua adalah nasabah yang diundang. Saya menjadi yang termuda dalam rombongan ini.

Pesta glamour penyerahan penghargaan baru digelar malam hari, pada 24 Agustus. Sehingga kami punya waktu seharian untuk berwisata di Macau. Tujuan pertama kami adalah Kuil A-Ma atau A-Ma Temple yang sangat terkenal di Macau.

Hanya butuh naik bus beberapa menit saja, dari Hotel Four Season di kawasan City of Dreams tempat kami menginap, menuju Kuil A-Ma. Belum genap pukul 10.00 pagi waktu setempat ketika kami tiba di kuil yang dibangun sejak abad ke-16 itu. Keheningan jalanan Macau, tak sampai menyusup ke kuil ini. Sepagian ini kuil sudah padat, banyak orang berdoa, dan wisatawan yang berkunjung. Tak ada biaya yang dipungut untuk masuk dan berdoa di kuil.

Kedatangan kami disambut sepotong tembok tua yang muram, dicoret gambar turis dengan warna-warni yang sudah mengusam dan ucapan selamat datang : Welcome to MACAU. Di kanan jalan, pedagang dari kios-kios kecil menawarkan air mineral dan payung untuk dibeli.

“Payong, payong, sapuluh,” ujar ibu-ibu tua penjual sambil melambaikan payung-payung lipat. Lidah kantonnya bersemangat menjajakan dagangan dalam bahasa Indonesia. Sekuncup payung dijual dengan harga 10 dollar Macau (sekitar Rp12.000). Kalau kita coba menawar dengan bahasa Indonesia, si penjual akan menggeleng-geleng, hanya sepotong kalimat berbahasa Indonesia tadi yang mereka paham.

Hampir tak ada payung dengan warna semarak atau motif yang ramai. Kebanyakan warnanya gelap, biru dongker, hitam, cokelat, merah tua, hijau gelap. Kalaupun bermotif, paling kotak-kotak, juga dengan warna yang gelap. Tak ada huruf Mandarin atau tulisan made in Macau yang tercetak pada payung itu. Bukan payung istimewa, namun cukup efektif menghalau siraman matahari atau hujan, selama berkeliling kuil.

Kepada kami, sang tour guide-pria berwajah bundar yang ramah (maaf tak ingat namanya) menjelaskan, kalau usia Kuil A-Ma lebih tua dari Kota Macau sendiri. Asal-usul nama Macau pun berasal dari nama kuil ini : A-Ma-Gau yang berarti tempat A-Ma.

Ada secarik legenda yang melekat pada kuil ini. Ia bertutur, A-Ma adalah nama seorang gadis miskin yang sangat ingin pergi ke Kanton. Gadis ini meminta belas kasihan kepada seorang pedagang kaya, agar diizinkan menumpang kapalnya. Namun keinginannya itu ditolak. A-Ma kemudian bisa menyebrang, dengan menumpang kapal nelayan miskin.

Di tengah laut, badai mengacak-acak dan memorakmorandakan segalanya. Kecuali kapal nelayan miskin. Kapal berlabuh di tanah yang kemudian menjadi kota Macau. Si gadis menghilang, berganti wujud menjadi dewi pelaut, menetap di tempat para nelayan membangun kuilnya. Kuil A-Ma.

+

Aroma dupa yang baru dibakar terhirup tajam, mengepung rapat indra penciuman. Melekat pada baju, mengalahkan wangi parfum mahal ibu-ibu nasabah yang disemprotkan tadi pagi.

Ada enam anak tangga yang mengantar kami masuk. Gerbang kuil A-Ma dibingkai pepohonan tinggi menjulang, rindang kehijauan yang memang tumbuh melingkari kuil. Gerbang kuil ini menjadi sasaran pertama untuk mengawetkan foto bersama hehehe…😉

Seorang petugas yang mengenakan masker, bolak-balik membawa segenggam dupa yang baru dibakar, meletakkannya pada permukaan sebuah guci besar warna keemasan. Ukuran dupa ini beragam, ada yang diameternya setipis lidi, ada juga yang diameternya lebih lebar dari sumpit. Setiap pengunjung yang baru datang, bisa langsung memillih dupa yang diinginkan dan dibutuhkan untuk sembahyang.

Kuil ini terdiri dari empat paviliun. Tiga di antaranya dipersembahkan untuk sang Dewi Pelaut. Semua paviliun terbuat dari batu, dan dihubungkan dengan gerbang bulan yang melingkar, dan taman-taman kecil.

+

Pada paviliun kedua, terlihat antrian kecil pengunjung yang ingin menebak nasib pada baskom tembaga. Baskom yang sudah berkarat itu direkatkan kuat pada sebuah meja batu, tak kan bisa dipindah, atau digeser walau cuma satu senti. Peruntungan diketahui dengan meletakkan kedua telapak tangan pada pegangan baskom, dan menggesek-gesekkannya. Kalau air di dalam baskom memercik ke atas, tandanya orang itu akan segera mendapat keberuntungan. Pengunjung yang ingin menguji keberuntungannya, terlebih dahulu harus melempar sekeping koin ke dasar baskom.

Seorang perempuan paruh baya berkalung mutiara, dengan kacamata hitam bertengger di atas kepala, tak ingin bergeser dari depan baskom. Meski antrian di belakangnya bertambah panjang. Ia mencoba sekali lagi, dan lagi, dan lagi, menggesekkan tangannya sekuat tenaga pada pegangan baskom. Tapi tak sedikit pun riak air yang muncul. Permukaan baskom tetap datar dan tenang. Setelah beberapa kali akhirnya ia menyerah, menepi dan mempersilahkan pengunjung lainnya.

Ia kemudian bersungut-sungut, ketika gadis kecil di antrian berikutnya berhasil memercikkan air pada dua kali gesekkan tangan. Semua pengunjung di antrian bertepuk tangan. Si gadis kecil pun berseri-seri.

Untuk sampai ke paviliun berikutnya, pengunjung harus berjalan menanjak, menapaki tangga-tangga batu. Puluhan anak tangga yang dipijak, cukup membuat pengunjung harus menyeka peluh. Di salah satu kelokkan, nampak batu-batu besar menjulang yang dicoret dengan huruf-huruf mandarin berwarna merah darah.

Ruang yang agak lega itu kerap menjadi perhentian pengunjung sebelum melanjutkan langkah ke anak tangga berikutnya, menuju paviliun teratas. Ada yang sekadar minum atau menarik napas sebentar, ada juga yang ingin berfoto. Ibu-ibu dalam rombongan kami pun tak melewatkannya, meskipun sempat ragu karena tak ada penjelasan atas tulisan-tulisan yang digores pada batu-batu itu. “Ini artinya apa? Nanti maknanya jelek atau apa. Kan kita nggak tau,” ujar salah seorang dari mereka, namun kemudian berpose dan minta dijepret juga😀.

Kelelahan kaki menyusuri tangga yang terus menanjak akan terbayar, ketika sampai pada paviliun keempat di puncak kuil. Pemandangan alam yang hijau memanjakan mata. Pepohonan yang hijau, laut, dan jembatan yang menghubungkan Macau dengan daratan China terhampar di depan mata. Sayangnya, aroma alam yang bersih sulit diresapi, karena kalah oleh bau dupa yang dibakar.

Pengunjung yang ingin membawa pulang kenang-kenangan, bisa membeli kartu pos bergambar kuil A-Ma dan pemandangan lain di Macau, atau gantungan kecil dengan berbagai tulisan mandarin yang dijual pada kios di luar kuil. Sayangnya, agak repot kalau harus menanyakan makna tulisan di setiap gantungan warna merah keemasan yang ingin dibeli. Karena para penjual hanya bisa berbahasa kanton.

*Sampai jumpa lagi Macau🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-eNJe-

Sarang, 11 Oktober 2012

12.18 WIB

Terimakasih untuk kelonggaran waktu hari ini.

5 thoughts on “Menyapa Kuil A-Ma dan Aroma Dupanya (Catatan Perjalanan di Hongkong & Macau bagian I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s