french fries oh french fries…

Dengan nafas terengah-engah, pria tambun itu bergegas memasuki hotel. “Aduh maaf banget bapak terlambat, macet sekali jalannya,” ujarnya begitu melihat kami yang memandangnya dengan wajah tertekuk.

Hari itu cuaca Jakarta memang ekstrim. Awan yang menggantung dilangit terlihat seperti benda padat yang diwarnai dengan crayon abu-abu dan hitam. Hujan badai dan petir yang menyambar-nyambar, membuat belasan pohon bertumbangan. Kami yang tiba tepat waktu pun terpaksa menunggunya selama tiga jam.

Pria itu mengajak kami berbincang di kafe hotel. Tak sabaran ia menggelar setumpuk klipingan majalah di meja bundar tempat kami bertiga duduk. “Dia ini sebenarnya pernah juga ke luar negeri,” serunya sembari menunjuk foto lawan politiknya yang berkunjung ke beberapa negara Eropa di dalam klipingan majalah itu. Lawan politiknya ini belakangan terus memprotes si pria tambun, yang memimpin rombongan anggota DPR RI berangkat studi banding ke luar negeri.

“Dia itu ikut menandatangani hasil rapat yang memutuskan berangkat ke ….. (menyebut nama negara). Walaupun sebenarnya dia mau ke ….. (menyebut nama negara di Asia). Bapak nggak tahu kenapa dia tiba-tiba berubah, dan bilang kepada pers menolak perjalanan ke luar negeri,” cetusnya.

Kepada kami, pria itu menuturkan pentingnya lawatan lima hari ke negara tujuan, yang memakan anggaran miliaran rupiah. Katanya mereka mau belajar etika disana. Bagaimana parlemen disana mengatur dan memberi sanksi terhadap anggota dewan yang tertidur saat rapat, merokok, membolos atau legislator perempuan yang berpakaian mini sehingga bikin tidak konsen bersidang.

“Kalau di kita ini kan belum ada aturannya. Makanya kita belajar kesana. Janganlah kita menjadi katak dalam tempurung. DPR ini tersandera aturan sendiri,” katanya.

Aku menahan diri untuk tidak mendengus. Ini konyol, membuat aturan berpakaian, merokok atau sanksi bagi yang tertidur saat rapat saja musti menghabiskan uang miliaran rupiah. Kenapa tidak bikin sendiri saja? Mosok wakil rakyat sebanyak itu tidak bisa merumuskan aturan yang demikian sederhana.

“Gini-gini adinda, bapak ini kuliah S2 di Amerika. Di ….. (menyebut nama universitas), terkenal itu disana. Sayangnya saya kuliahnya ekonomi, bukan politik atau hukum. Jadi nanti bapak nggak perlu lah penerjemah. Bisa sendiri kok, malah kadang penerjemah itu ngaco ngomongnya. Saya berani kok bicara di depan sidang PBB,” tuturnya sambil tertawa dengan muka penuh keyakinan.

Aku lebih tertarik melihat daftar menu makanan ketimbang mendengarkannya. Selain semangkuk bakso tanpa mie tadi siang, kami belum makan apa-apa. Bekalku sudah basi, sementara sekarang sudah pukul 21.00 WIB. “Saya boleh pesan pak?” ujarku menyela.

“Oh ya, pesan dong. Pesan apa saja, silakan silakan,” sigap dia pun memanggil pelayan.

“Hot chocolate,” kataku pada pelayan itu. Temanku memesan minuman yang sama.

“Pesan makan dong. Coba dik (ke pelayan), bawakan kentang goreng, apa itu namanya? Frencais, ya frencais. Frencais-nya satu, sama pisang goreng,” serunya kepada pelayan.

Aku dan temanku beradu pandang, berusaha tidak tertawa. Astaga.. Frencais?! Mungkin yang pria ini maksud french fries bukan frencais (franchise). Kalau dia lulusan ekonomi, seharusnya tidak akan keceletot menyebut franchise. Karena dalam dunia ekonomi, franchise merupakan salah satu bentuk kerjasama dalam membuka usaha (waralaba).

Pembicaraan kembali bergulir sembari menunggu pesanan datang. Aku bertanya lugas kepadanya, “Ibu ikut?” Maksudnya istri pria itu.

“Adinda tahu berapa umur saya?”

Aku menggeleng, tak berani menerka.

“Lima puluh enam,” katanya sembari mengeluarkan wadah plastik seukuran tempat bekal makan siangku. Isinya, berbagai macam kapsul dan tablet warna-warni. Menilik warna, setidaknya ada 12 macam tablet/kapsul di dalamnya.

“Ini obat saya, hanya istri saya yang mengerti obat mana yang perlu saya minum,” tuturnya. Aku mengangguk mahfum.

“Disana nggak jalan-jalan dong pak,” celetuk teman yang sedari tadi memerhatikan salinan jadwal kegiatan plesir ke luar negeri.

“Ya kalau ada waktu kan ndak apa-apa, nanti kan bayarnya pakai uang sendiri,” jawabnya.

Arrrrggghhhhh….!!! *#@$£¤%

Senin, 25 Oktober 2010

at 9:41am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s