menjadi orang baik itu….

Hari yang penat. Siraman matahari yang menggila seharian, dikolaborasi dengan kemacetan luar biasa, membuat peluh lengket sebadan-badan. Kulit tanganku belang sampai pergelangan, saking panasnya memakai sarung tangan saat mengendarai motor pun tak nyaman.

Aku sudah di kasur, ketika kita berbincang malam itu. Dengan sisa letih yang menjalar, menikmati Kota-Kota Imajiner yang kau hadiahkan kepadaku. Bergantian, membaca buku dan membalas pesan yang kau kirim.  Berdialog denganmu, selalu membuatku menjaga api semangat, juga kewarasan di tengah kegilaan kota ini.

+ : Kadang saya punya pikiran gini : Mungkin memang lebih baik orang baik dan berani itu hidup sendiri. Sendiri tanpa punya sanak saudara, keluarga, orang terdekat dst. Bener-bener sendiri. Supaya mereka bisa berani bergerak leluasa membongkar semuanya tanpa takut kehilangan keluarga, saudara, orang-orang terdekat yang dicintainya.Tugas yang sedih memang.

– : Kalau seperti itu, orang baik akan kesepian

+ : Begitulah risikonya. Itulah pengorbanannya. Biar kalau harus mati ya hanya dia sendiri yang mati. Itulah sebabnya kenapa superhero selalu pake topeng untuk melawan kejahatan. Supaya identitasnya tidak diketahui penjahat. Supaya keluarganya, orang-orang yang dicintainya tidak terancam. Sedih memang.

– : Terlalu menyedihkan kalau ada orang baik seperti itu. Siapa yang siap jadi begitu?

+ : Mungkin dunia butuh orang-orang seperti itu. Cerita-cerita semacam ini kadang bikin kita berkaca-kaca atau susah tidur.

– : Lalu kita bisa apa?

+ : Tugas kita, mencatat kejadian. Mereka yang baik, lalu gugur, kita catat semuanya. Jadi catatan sejarah. Mereka yang busuk, bajingan, juga kita catat sampai ke liang kuburnya.

– : Seperti pak khaidir ya. Atau orang baik lainnya.

+ : Yah begitulah..

– : Tapi kita sering kali hanya mendengar cerita orang baik, ataupun mereka yang bajingan, dari orang kesekian. Semakin jauh dari sumber, semakin jauh akurasi yang kita catat.

+ : Mana ada orang maling ngaku maling. Hehehe.. kecuali kita buktikan sendiri atau ketangkep basah😀

– : Atau kita jadi temannya

+ : Hehe… ya begitulah

– : Tapi kadang kita alergi, atau mungkin (buatku) khawatir engga kuat iman deket2 mereka.

+ : Kamu mencatat obrolan kita ini?

– : Kok tumben nanya gitu?

+ : hehehe iya, saya berpikir kamu mencatat obrolan kita ini. Kamu kan suka mencatat😀

– : Kalau keberatan tak kan kucatat.

+ : Ngga lah. Saya ga keberatan.

Hari sudah nyaris berganti pagi ketika percakapan ini terputus. Semoga kau memaafkan aku yang tak sanggup menahan kantuk dan jatuh tertidur, masih dengan blackberry di genggaman…

-eNJe-

Sevel Bundaran HI

19.42 WIB

Menunggu kemacetan mereda, usai meliput (lagi) di hotel yang pelit tempat parkir motor. Kali ini Kempinsky.

PS : sayang sekali ada dua huruf yang selalu harus dicoret. Dua huruf kesukaanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s