menghitung lubang di kota hujan

Ia pasti mendengar bunyi derak di tangga kayu saat aku naik ke lantai dua. “Lukanya sudah mengering,” katanya cepat saat melihatku berdiri di depan pintu geser kamarnya. Mataku terarah pada lutut kirinya yang bonyok. Kulitnya mengelupas, yang terlihat di lututnya adalah daging memerah yang bentuknya tak karuan. Luka itu jelas masih basah, berdarah dan bernanah. Meski baru saja bilang lukanya mengering, ia tak dapat memanipulasi wajahnya yang meringis menahan sakit.

Aku duduk di tikar karet biru di sisi springbednya. Menyeka peluh yang menetes-netes. Bogor terasa sepanas jakarta hari ini. Padahal, adzan magrib yang baru berkumandang menunjukan matahari baru saja terjaring. Aku mengeluarkan berbungkus-bungkus biskuit burboun cokelat, redoxon, roti tawar, wafer dan oreo dari tas ransel. Oleh-oleh rutin untuknya setiap awal bulan. “Besok kita ke dokter,” ujarku tegas sembari menyusun biskuit-biskuit itu di lemari penyimpan pesediaan makannya.

“Enggak,” jawabnya tak mau kalah. Ku bilang ini perintah bukan tawaran. Dan dia diam, malas beradu argumen, tahu pasti kakaknya ini tak mau mengalah kalau berdebat.

Aku tahu, malam ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya, apa sebabnya ia terluka demikian. Hanya sepotong-sepotong informasi dari om dan tante yang baru ku dapat. “Helmnya hancur, bautnya lepas-lepas,” kata om-ku. “Kakinya terlihat bengkak, mungkin harus diurut,” kata tanteku.

Tapi aku berusaha tetap tenang, meski sepanjang malam itu dia meringis dan sesekali menggeliat menahan sakit, atau berjalan terbungkuk-bungkuk agar nyeri tidak menggelenyar. Aku tahu adikku kuat, ia akan baik-baik saja.
***
Ku pikir, dia akan malas ke dokter. Aku bersiap-siap, pasti butuh energi lebih untuk memaksanya. Tapi perkiraanku salah, dia malah menggebah-gebahku supaya bergegas mandi, dan mengantarnya ke puskesmas, karena ternyata tak ada praktek dokter yang buka akhir pekan itu.

“Mestinya luka ini dijahit,” kata ibu mantri yang memeriksa lukanya. Reflek ia melakukan gerakan protektif melindungi lututnya. Tapi karena sudah terlanjur bonyok, akhirnya mantri itu memberi antibiotik dan empat macam obat lainnya, ditambah revanol untuk mengompres lukanya.

Kata ibu mantri itu, seharusnya adikku bed rest setidaknya 2 hari untuk memulihkan kakinya. Tapi ia berkeras untuk tetap masuk kuliah Senin nanti. Perawat itu, tante dan akupun akhirnya menyerah, berhenti memaksanya libur.
***
Jalan menuju rumah kami di Jalan Raya Ciapus Bogor, rusak parah. Jalan dua arah ini sempit, hanya cukup dilewati dua angkutan umum. Setiap kami berboncengan, emosiku selalu meledak. Karena angkutan umum yang berada di depan kami kerap berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Bahkan, untuk MENUNGGU penumpang. Padahal, kalau satu kendaraan saja berhenti, maka tak ada celah jalan lagi untuk memotong. Semua kendaraan di belakangnya pun harus ikut berhenti. Menunggu sampai urusan si sopir angkot sialan itu beres.

Telinga mereka kebal oleh klakson kendaraan tak sabar dibelakangnya, bahkan makian dan sumpah serapah pun tak mempan.

Setiap kali Bogor diguyur hujan, banjir (yang terparah kualami hingga sebetis orang dewasa) selalu mampir. Karena jalannya menurun dari kaki gunung Salak ke arah kota Bogor, arusnya deras sekali.

Air dari got yang sudah lebar dan dalam itu meluap-luap, melimpah ruah. Teraduk-aduk bersama air lumpur dan hujan yang turun. Kalau sudah begini, pasti macet total. Banyak kendaraan yang terpaksa berhenti karena ngadat.

Kilat yang menyambar-nyambar saat hujan deras kerap membuat pandangan mata silau. Seakan ada kamera foto segede gaban yang mengabadikan semerawut jalanan.

Saking derasnya arus banjir, pernah suatu malam ada bocah SD yang tergelincir dan jatuh, lalu hanyut terbawa arus. Tubuhnya yang lebam dan menggembung baru ditemukan esok hari, tersangkut di antara sampah, sudah tak bernyawa.

Tidak semua orang merasa susah dalam keadaan begini. Penduduk sekitar justru memanfaatkan moment ini untuk berjualan makanan. Mereka membentangkan papan-papan diatas got lebar itu, mendirikan warung makan yang berjajar di sepanjang jalan. Mulai dari jualan gorengan, martabak, buah, ayam bakar bahkan mpek-mpek juga ada. Tak jarang limbah masakan mereka, dilempar begitu saja ke got, biar hanyut bersama arus banjir.

Aku pernah, nyata-nyata melihat seorang nenek sambil mengobrol santai dan tertawa-tawa, melemparkan sekantong besar sampah ke got, yang langsung hanyut terbawa arus. Aku spontan mendelik dan menjerit melihat kelakuannya. Tapi si nenek tak peduli.

Hampir setiap hari, pagi-siang-sore-malam, jalanan ini dihantam arus banjir yang begitu deras. Sebaik apapun kualitas aspal jalanan, akan merapuh juga. Di beberapa bagian, sisi kiri jalan tampak tergerus. Jalannya ambrol, tak kuat menahan arus. Jangankan perbaikan, tanda peringatan pun tak ada.

Adikku sempat menunjukkan tempat dimana ia terjatuh karena menabrak lubang di tengah jalan yang dalamnya hampir 3 cm. Lubang jalanan yang membuat lututnya berdarah dan bernanah. Kendaraan terpaksa merayap-rayap, karena jalan yang semakin geripis telah ditambal kerikil-kerikil tajam.

Aku sempat memarahi adikku waktu itu, “Masa tiap hari pulang pergi lewat sini kau nggak hafal letak-letak lubangnya. Kau pasti melamun, jadi lupa kalau ada lubang dan tidak sempat menghindar,”

Dia hanya tersenyum getir, “Kau nggak akan bisa menghafal letak lubang di jalanan kota Bogor mbak, jumlah lubang di sini selalu bertambah setiap harinya,” keluh adikku.

Benar-benar merepotkan mengendarai motor di kota ini. Rasanya tak bisa memacu gas lebih dari 40km/jam. Jarak terlalu dekat dengan mobil di depan bisa jadi masalah, karena kita tidak bisa melihat lekukan lubang yang menganga di depan kita.

Sampai di tengah kota Bogor, jalanan hancur masih terus berlanjut, ditambah bonus kesemerawutan lalu lintas. Banyak orang bilang, di Jakarta pengendara serba tak sabaran. Ada kesempatan sedikit saja, lampu merah langsung diterabas.

Tapi setidaknya, di Jakarta para pengendara lumayan segan dengan polisi. Masih berhitung-hitung, kalau melihat rompi hijau siaga di perempatan lampu merah.

Di Bogor,  polisi malah bikin macet jalanan. Lampu lalu lintas, bahkan polisi tidak digubris oleh para pengendara angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Mereka jalan suka-suka hati, seakan lampu lalu lintas hanya pajangan mempercantik persimpangan jalan. Yang berlaku hukum rimba, siapa yang berani maju, dia yang dapat jalan. Polisi lalu lintas, setengah putus asa mencoba mengatur lalu lintas. Walaupun hasilnya malah bikin kemacetan makin njelimet.

Segala kekacauan lalu lintas, supir angkot yang tidak beretika, jalanan yang terus tergerus setiap hari, dan kesadaran menjaga lingkungan yang rendah, membuatku jadi bertanya-tanya. Apa kerja pemerintah dan wakil rakyat disana? Berapa uang rakyat yang digelontorkan untuk mereka? Pembangunan apa yang sudah mereka beri? Andai aku salah satu pemilih wakil rakyat atau kepala daerah di sana, aku bersumpah akan menagih janji kampanye mereka.

Bogor, memang hanya cocok menjadi tempat tinggal orang-orang yang sabar. Kalau mau berlatih kesabaran, datanglah ke Bogor. Semoga bisa melewatinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s