wajah

Sudah lewat tengah malam, ketika aku kembali menyeduh kopi. Akhirnya televisi kumatikan juga, tak ada acara yang menarik. Kini, tinggal aku dan hujan. Lamat-lamat ku dengar suara kuali pak’e, penjual nasi goreng langganan di pinggir jalan besar dekat lorong kostku. Pesanan nasi gorengnya sedang banyak malam ini.

Ku seruput kopi sedikit-sedikit, sembari menikmati majalah Cita-Cinta edisi teranyar. Ingin lebih nyaman, aku memutuskan menggunakan lampu baca di meja, sebelah kasurku. Sebelum mencapai lampu, mataku beradu pada cermin kecil di meja itu. Cermin berbentuk hati dengan warna merah, yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dari telapak tangan.

Aku meneliti wajah yang dipantulkan oleh cermin. Mengamati setiap detil garis di wajah itu. Aku tersenyum, lalu tertawa, kemudian memasang tampang sedih, bertukar raut marah, diganti mimik ketakutan, bayang di balik cermin mengikuti. Ada rasa tercubit melihat wajah itu.

Aku tak melihat aku.  Yang ku lihat adalah seraut wajah lain, yang di tahun-tahun kemarin berbagi tawa dan air mata denganku. Bukan, bukan kembaranku, karena aku memang tak terlahir kembar. Bayangan wajah yang memantul itu adalah wajah seorang sahabat lama.

Aku jadi bertanya-tanya, apakah ikatan batin yang membuat aku seolah melihat wajahnya dalam bayangan diri sendiri? Malam ini bukanlah kali pertama aku merasa begini. Setiap kali aku membidik diri sendiri menggunakan kamera ponsel, hasilnya adalah wajah si sahabat. Garis senyumku begitu persis. Berpuluh, bahkan beratus kali aku membidik wajah ini dengan berbagai ekspresi, tapi aku tetap melihat pantulan dia dalam wajahku.
***
Suasana menjadi tidak enak, kami baru saja berdebat lagi. Kami memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan berdua ke Ramayana, lalu mampir ke Gramedia di Kolonel Atmo. Sebelum berangkat mood kami berdua masih oke.

Sampai dia merengek meminta aku yang mengendarai sepeda motor, dan dia dibonceng saja. “Aku lupa meletakan kacamataku,” katanya melontarkan alasan favoritnya. Selalu begitu setiap kali akan pergi berdua. Seperti biasanya juga, perdebatan itu berakhir dengan aku yang mengalah, dan menyetir sambil menggerutu. Padahal, alasan dia selalu patah.

Karena saat kami menonton di bioskop Hero, sambil nyengir dia mengeluarkan kacamata yang ternyata diselipkan di balik kemeja, atau disimpan rapi dalam kotak di tas jinjingnya.

Gerutuanku sebentar saja, karena begitu tiba di Ramayana, kami berdua sudah ceria lagi. Memilih-milih baju diskon, makan ice cream cone di KFC, mampir ke toko kaset di sebelah supermarket, serta membeli beberapa kebutuhan di Hero. Dan kadang, sesekali membeli Wiskas untuk anak kucing yang ia piara diam-diam.

Sayangnya Ramayana tak punya toko buku. Dulu ada Gunung Agung, tapi sudah lama tutup. Kami terpaksa berpindah ke Gramedia di jalan Kolonel Atmo. Setiap kali melewati lampu merah di simpang empat JM Plaza, kami tertawa-tawa. Teringat pernah menipu polisi saat tertangkap menerabas lampu merah.

Di Gramedia, kami menjelajah buku kesukaan masing-masing. Aliran kami berbeda, kalau aku lebih suka membenamkan diri di rak-rak novel atau buku-buku pergerakan mahasiswa dan politik, dia lebih senang menjajal buku-buku komputer atau buku agama.

Dulu sekali, sewaktu masih puber, kami masih bertemu di rak majalah. Membeli majalah apa saja yang memuat Westlife atau A1, walau hanya berita kilas. Tapi setelah lebih dewasa, kami bertemu di kasir. Dia akan membeli PC Media, atau komik Detektif Conan. Sedang aku, membeli buku-buku erakan mahasiswa, atau sebuah novel baru.

Petugas kasir meneliti wajah kami, “Kembar ya?” tanya dia pada kami berdua. Kami bertukar pandang, lalu tertawa. Serempak menggeleng dan mengatakan kami bukan kembar. Petugas itu tak percaya. Lalu, orang-orang yang mengantri di belakang kami ikut-ikut berbisik, mengatakan kami kembar. Kami tertawa saja, karena situasi demikian bukan kali pertama kami alami. Orang-orang selalu menyebut kami kembar.

Kebiasaan berjalan-jalan bersama, terus kami lakukan sampai setelah lulus kuliah, dan bekerja di tempat yang sama. Intensitasnya justru makin sering. Sepulang bekerja, kami berboncengan ke Kantin Hasanah untuk makan siomay, atau nasi dengan sosis.

Yang berbeda, kami tak lagi disebut anak kembar. Orang-orang yang melihat kami, selalu mengatakan wajahnya terlihat lebih tua.  Padahal sebaliknya, usiaku dua tahun di atasnya. Dia tetap tertawa, tak pernah menggerutu. Hatinya memang selalu lebih luas daripada hatiku. Hampir tak pernah merasa iri kepadaku.

***
Gelegar petir membelah udara, membuatku berpisah dari lamunan. Hari sudah hampir subuh rupanya. Aku memandang papan hitam di dinding sebelah kasur. Diantara kertas warna-warni dan sejumlah foto yang kurekatkan, mataku tertambat pada satu foto di sudut kanan.

Dua gadis kecil berfoto di dekat pohon asoka. Gadis pertama berwajah bulat, dan sedang cemberut. Dia memakai kaus putih dan baju kodok merah jambu. Rambutnya diikat dengan pita kotak-kotak merah putih. Gadis kedua berambut ikal, wajahnya tersenyum. Dia lebih ceria dengan setelan baju dan rok kotak-kotak putih hijau. Keterangan tahun di bawahnya tertulis, Mei 88…

Selembar foto itu saja yang aku sisakan. Selebihnya sudah masuk kotak. Yang sempat ter-upload di facebook pun terakhir ku buka sebelum Agustus 2009, selewat dua puluh tahun setelah foto di dekat pohon asoka.

Aku rindu tertawa-tawa bersamanya di atas sepeda motor, masih terngiang saat dia berteriak menirukan tukang martabak. Atau kami mengucap vokal “aaaaaa…” panjang-panjang saat melewati deretan polisi tidur kecil-kecil di benteng kuto besak.

Aku rindu menonton film bersamanya di bioskop, mampir ke toko roti Braserie (aku membeli roti cokelat kulit nangka, dia membeli roti sosis), rindu mengaduk-aduk baju diskon di Ramayana. Rindu icip-icip makanan di restoran cepat saji yang baru buka, atau makan pempek dan martabak har (yang tak pernah dia suka).

Kerekatan itu kini sudah memudar. Masa itu sudah lewat. Biarlah kenang-kenangan itu kusisakan lewat selembar foto dua gadis kecil di dekat pohon asoka. Karena sekarang, semuanya tidak akan pernah sama lagi. Tidak akan pernah.

One thought on “wajah

  1. Asik…ternyata “Bisa Menulis” itu saaangat menyenagkan, aku iri yang karena prioritasku bisa d katakatan sudah berlari dr konsep demi untuk menggali koin demi koin yang perlu di kumpulkan dari tempat yang berbeda, jempol Ta’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s