SAMAN-AYU UTAMI

IMG08294-20121110-0047

2

Apakah keindahan perlu dinamai?

3

Saya selalu ingat dan berulangkali menghitung tanggal. Sebab siang itu menyisakan kegetiran, seperti biji duku yang tergigit lalu tertelan, juga kerinduan akan kesempatan lain yang mungkin. Yang barangkali juga tidak mungkin. (Semoga hari ini menjadi mungkin)

26

Hubungan kami tentu bukan hal yang indah bagi orang-orang terdekat kami. Istri dan anaknya. Orang tua saya. Tak ada surat menyurat, karena itu hanya akan meninggalkan jejak bagi orang lain. (Kadang, sebetulnya, saya menginginkan satu atau dua jejak untuk dikenang ketika sendiri). Kami bertemu, makan atau minum, menonton di tempat yang jauh dari istrinya, atau keluarga saya. Tapi kami juga sering batal berkencan, sebab tiba-tiba istrinya minta diantar belanja, atau anaknya mengambil rapor sekolah. Dan saya harus menunggu. Sebab saya yang datang belakangan.

27

Lalu cinta menjadi sesuatu yang salah. Karena hubungan ini tidak tercakup dalam konsep yang dinamakan perkawinan. Ia sering merasa berdosa pada istrinya. Beberapa kali ia membatalkan janji karena rasa bersalahnya, dan saya berkata, “Sihar, apakah kamu tidak memikirkan bahwa aku juga punya rasa bersalah pada orang tua? Tapi aku tak pernah membatalkan janji karenanya.”

27

Setelah hari itu, saya merasa sedikit demi sedikit ia menjauhi saya. Hingga akhirnya, dia pikir lebih baik kami tidak ketemu. Dan kami tak lagi akrab. Itu, anehnya, bukan menimbulkan kebencian melainkan kehilangan yang makin minta ditebus.

29

Capek dengan nilai-nilai yang kadang terasa seperti teror. Saya ingin pergi dari semua itu, dan membiarkan hal-hal yang kami inginkan terjadi. Mendobrak yang selama ini menyekat hubungan saya dengan Sihar. Barangkali.

30

Kalau Sihar datang, akan saya katakan, “Kita juga bisa beristirahat di sini.” Marilah kita beristirahat dari rasa takut dan salah, seperti seorang musafir yang boleh berhenti berpuasa. Saya ingin istirahat sejenak.

34

Dunia ini penuh dengan orang jahat yang tidak dihukum. Mereka berkeliaran. Sebagian karena tidak tertangkap, sebagian lagi memang dilindungi, tak tersentuh hukum atau aparat. Begitu Saman pernah dengan yakin menulis dalam sebuah surat balasannya kepada saya.

63

Doa itu, jika dikabulkan, tak membawa kebaikan bagi orang banyak, hanya memberi kelegaan untuk diri sendiri. Apakah permintaan semacam itu pantas disebut doa? Layakkah meminta Tuhan memuaskan penasaran pribadi?

75

Di Bantargebang manusia hidup bersama sampah-sampah Jakarta yang kaya dan rakus, dan orang-orang gila bisa berjalan-jalan di Taman Suropati yang rapih dan teduh. Tetapi hanya tujuh puluh kilometer dari kota minyak Prabumulih, seorang gadis teraniaya, bukan sebagai ekses keserakahan melainkan karena orang-orang tak mampu mencapai kemodernan.

dalam diam

dalam diammu

memukul gelisah di sini

meracau cemas

berpikir

mencerna

mengurai

menerka

mereka-reka

tak terselami

beraduk gelisah

saling-silang pikiran batin

membuncah rindu

kata tanya bergumpal, tertelan

dalam diammu yang tak terjemahkan

-eNJe-

Sarang, 26 November 2012

Masih terbatuk-batuk

Saksi Mata-Seno Gumira Ajidarma (kumpulan cerpen)

Manuel

+

21

Di depan rumah aku melihat orang-orang berlarian kian kemari dengan panic. ‘Kapal-kapal perang menembak,’ kudengar seseorang berteriak sambil berlari. Suasana ini tak akan pernah kulupakan selama hidupku, karena sejak itu terenggutlah kedamaian hidup kami. Aku tak tahu lagi kapan kedamaian yang sebenarnya akan datang lagi ke kota kami.

27

Kami adalah orang-orang yang sudah tak bisa lagi merasa kehilangan, karena kehilangan telah menjadi kekayaan hidup kami. Kami tak punya lagi airmata untuk menangisi kehilangan kami, karena bahkan airmata darah kami telah terkuras dalam kehilangan yang hanya menyalakan semangat perlawanan kami.

27

Tak seorang pun menolong bayi-bayi yang merangkak sendiri-sendiri sambil menangis itu karena pemboman yang bertubi-tubi telah mematikan jiwa orang-orang yang masih hidup. Seolah-olah tak ada jarak antara hidup dan mati. Sebagian dari bayi-bayi itu mati, sebagian lagi hidup dan ikut mengungsi bersama kami. Bisakah kau bayangkan akan jadi manusia macam apa mereka setelah dewasa nanti?

29

Perjuangan, begitulah, toh tetap harus dilakukan dalam kesendirian

+

Maria

38

Mereka telah merusak tubuhku, tapi mereka tidak bisa menghancurkan jiwaku! Mereka mempermak aku setiap hari karena aku tidak mau mengaku, tapi itu hanya membuat aku semakin hari semakin kuat! Aku memang bukan Antonio yang dulu lagi Evangelista! Tapi aku tetap Antonio keponakanmu, Antonio anak Gregorio dan Maria, aku Antonio adik Ricardo!

+

Salvador

48

Mereka pulang dan tidur dengan harapan yang sangat tipis bahwa masa depan akan selalu lebih baik. Penderitaan, begitulah, seringkali memberikan segi-segi kenikmatannya sendiri.

+

Rosario

55

Bentakan-bentakan yang sangat menghina, bentakan-bentakan yang hanya bisa diucapkan oleh seseorang yang merasa dirinya mempunyai kekuasaan mutlak atas nasib orang-orang yang dibentaknya. Betapa bencinya Fernando jika mengingat ia tak akan pernah bisa menghapus semua itu, sekaligus ia berterima kasih karena kebencian itu telah membuatnya bertahan hidup.

+

Pelajaran Sejarah

76

Sejarah itu bukan hanya catatan tunggal dan nama-nama, Florencio, sejarah itu sering juga masih tersisa di rerumputan, terpendam dalam angin, menghempas dari balik ombak. Sejarah itu Florencio, merayap di luar kelas, kini kalian harus mempelajarinya.

80

Sebenarnya, seluruh cerita Guru Alfonso itu sudah pernah mereka dengar, bahkan sebenarnya mereka sudah hafal di luar kepala. Tapi kini mereka mengerti, itulah sejarah, yang tidak tertulis dalam buku-buku pelajaran sejarah.

+

Misteri Kota Ningi (The Invisible Christmas)

86

Sejarah tak terhapuskan, tapi catatan sejarah bisa saja dimusnahkan

+

Klandestin

98

Bukan korban itu benar my friend, yang jadi piutang, tapi keangkuhannya itu Bung, keangkuhan merasa diri paling benar itulah penghinaan besar pada kemanusiaan. Itu yang harus dibantai!

Sarang, November 2012

Vita Brevis-Jostein Gaarder

21

Sainganku bukanlah perempuan yang dapat kulihat dengan mata telanjang, ia adalah sebuah prinsip filsafat. Maka, agar aku dapat mengerti dirimu dengan lebih baik, paling tidak aku harus berada pada jalan yang sama dengan yang telah kau tempuh. Aku harus membaca ajaran-ajaran filsafat.

23
Aku merasa berkata-kata seperti horace : jika orang-orang bodoh ingin menghindar dari perbuatan yang salah, mereka biasanya malah melakukan hal yang sebaliknya.

30
Waktu itu, aku berbicara tentang tragedi Medea karya Seneca yang baru saja kubaca. Dalam dramanya, Seneca mengatakan bahwa pihak lain sebaiknya juga didengarkan, dan pihak lain itu adalah aku.

39
Tidakkah kau belajar di sekolah retorika tentang bahyanya memisahkan sebuah kalimat dari konteksnya?

49
Barangkali persahabatan kita yang mendalamlah yang sebenarnya membuatmu malu. Ada banyak laki-laki yang merasa lebih malu melakukan persahabatan dengan seorang perempuan ketimbang mengabdikan diri mereka kepada hubungan cinta sensual dengan perempuan itu. Kemudian mereka juga cenderung menyalahkan cinta seksual tersebut karena ketidakmampuan mereka mengembangkan persahabatan tulus dalam bentuk apa pun dengan perempuan.

52
Bagaimana mungkin sebuah ciptaan mendefinisikan penciptanya? Juga, bagaimana mungkin sebuah ciptaan dapat menentukan bahwa dirinya akan berhenti berfungsi sebagai sebuah ciptaan?

53
Kita tidak boleh berusaha untuk hidup sebagai sesuatu kecuali sebagai diri kita sendiri. Bukankah dengan demikin kita mengejek Tuhan? Kita adalah manusia, Airel. Pertam-tama kit harus hidup, kemudian-ya-kemudian kita bisa berfilsafat.

109
Kemudian kau menambahkan : “Di dalam diriku, ada dua ego yang berperang: yang satu jasmaniah dan yang lain spiritual. Dan melalui perselisihan ini, keduanya menyebabkan perpecahan dalam pikiranku.”

123
Aku hanya berkata bahwa aku tidak tahu. Aku bahkan tidak berkata bahwa aku tidak percaya dengan penghakiman Tuhan. Aku hanya berkata bahwa aku percaya pada penghakiman terhadap ketidakpedulian seseorng terhadap kegembiran, segala kehangatan dan segala kelembutan.

126
Pengakuan adalah obat bagi orang yang telah tersesat, tulis Cicero. Tetapi kau tidak berani mengakui kesalahan terburukmu! Bagaimana mungkin kau menghilangkan adegan terakhir dari tragedi? Bagaimana mungkin kita dapat mempelajari sebuah tragedi bila kita menghilangkan bagian tersebut.

128
Kadang sulit bagi seseorang untuk membuat keputusan, dan begitu anehnya kah apabila keputusan yang akhirnya diambil adalah keputusan yang salah? “Aku tahu apa yang baik bagiku, tetapi lakukanlah hal-hal yang berbahaya bagiku,” tulis Ovid.

144
Memang penting bagi kita untuk mengetahui cara terbang yang cepat, namun tidaklah kalah penting untuk mengetahui bagaimana cara agar kita tidak terjatuh.

Sarang, awal November 2012

The Unknown Errors of Our Lives-Chitra Banerjee Divakaruni (kumpulan cerpen)

Nyonya Dutta Menulis Surat

38

Dalam surat khayalannya dia menulis, Wanita harus kuat, tidak bereaksi seperti ini terhadap segala macam hal kecil. Kau dan aku, Roma, banyak hal yang jauh lebih parah yang perlu kita tangisi, tapi toh kita mengucurkan air mata tanpa terlihat orang. Kita istri dan anak-menantu yang baik. Patuh dan tidak pernah mengeluh. Tidak pernah mendahulukan kepentingan diri sendiri.

44-45

Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu tentang apakah aku bahagia, karena aku sudah tidak yakin apa sebenarnya kebahagiaan. Yang kutahu hanya bahwa kebahagiaan bukan seperti yang kusangka. Bukan tentang rasa yang dibutuhkan. Bukan juga tentang berkumpul bersama keluarga. Kebahagaiaan itu letaknya dalam memikirkannya.

+

Cinta Seorang Pria Baik

100

Mungkin saja kebahagiaan, yang sudah tidak kuharapkan adalah kemungkinan yang tidak terpetakan, geografi yang belum dijinakkan, yang patut memperoleh jerih payah penjelajahan.

103

Amarah adalah penghancur paling dahsyat. Dalam tahun terakhir itu, ketika dia tahu dia sekarat, sedangkan aku tidak, Ibu punya banyak alasan untuk sering mengatakan hal itu kepadaku. Mungkin dia benar tentang amarah. Aku tidak menyangkalnya.

+

Kesalahan-Kesalahan yang Tidak Diketahui Dalam Hidup Kita

212

Gagasan untuk menemukan kesalahan-kesalahan mempunyai nilai berharga, hanya saja kesalahan Ruchira begitu sepele dan kekanak-kanakan, seperti gadis pada umumnya. Waktu dia menceritakan kepada Matra bahwa menurutnya Kevin sangat menarik, namun kemudian mendapati informasi itu akhirnya kembali lagi padanya, dengan dilebih-lebihkan dan dengan detail anatomis yang kasar, dari dinding-dinding kamar mandi permepuan.

212-213

Ruchira sudah berdamai dengan kekeliruan penilaian dan keterlanjuran, dia sudah menerima kenyataan hal-hal itu akan selalu menjadi bagian hidupnya. Seandainya ada orang-orang tanpa kesalahan di dunia ini, dia tidak ingin mengenal mereka. Dia yakin mereka pasti bersikap sangat tidak ramah. Itu faktor yang disukainya pada Biren-semua kesalahan diakuinya.

Sarang, 26 November 2012

Kepada Gadis Cemerlang (2)

Kaki ini lekat di bumi, jalanan tanah di hadapanku terputus. Berganti dengan hamparan rawa hijau yang lunak. Di tengah-tengah, ada sebentuk jalan yang hanya muat dilalui satu orang. Tak bisa dibilang jalan juga, karena sebenarnya itu lumpur yang disiram bubuk dan serutan kayu. Aku menelan ludah, mana jalannya? Aku berpikir gadis cemerlang ini sedang mengerjaiku.

Ia berjingkat lincah di depanku. Sudah setengah jalan melewati setapak rawa itu. Aku membaca langkahnya, jalan itu tidak bisa diinjak terlalu lama karena lunaknya. Badan akan melesak terbenam lumpur kalau kaki diam tidak bergerak.

“Ayo kakak,” katanya bersemangat. Ia tertawa-tawa melihatku terbelalak.

“Nggak ada jalan lain apa?”

Dijawab gelengan kepala, anak itu masih cengar-cengir.

“Memangnya rumahmu di mana?” teriakku lagi. Ia sudah semakin jauh.

“Itu..!” DIa menunjuk ke tengah rawa. Aku melihat ada sepetak rumah panggung kayu. Dari jauh bentuknya samar, membaur di antara rawa-rawa hijau dan lumpur cokelat yang mengancam. Anak ini bersungguh-sungguh rupanya. Aku tak punya pilihan, sudah terlanjur berjanji akan berkunjung ke rumahnya. Aku menggulung pipa celana setinggi lutut.

“Tunggu…!”

Satu persatu tapak dijejak, kakiku melesak, berat. Perlu tenaga untuk mengangkat kaki dan bergerak maju. Mataku menghindar, tak ingin melihat lumpur-lumpur yang kupijak. Tapi rasa gatal dan jijik itu membuatku tak nyaman. Aku merasakan setiap serutan kayu yang menempel hingga ke betis. Lunaknya lumpur bergeranjul di telapak kakiku. Apakah ada lintah di bawah sana? Aku bergidik membayangkan penghisap darah itu menggendut, menempel di kakiku. Hiiiiii……

Susah payah, rasanya lama sekali, akhirnya aku sampai di tangga rumah kayu yang doyong itu. Rumahnya. Kalau tak salah, ada dua rumah di situ. Saling menempel. Aku duduk di tangga, kakiku kotor sekali. Aku masih tak berani melihat detil, khawatir menjerit kalau menemukan lintah yang menempel. Si gadis cemerlang sudah muncul, membawa seember air untuk membersihkan kakiku.

“Setiap hari kalau sekolah kau begini?” kataku sembari membasuh kaki yang kecokelatan dibalur lumpur.

“Iya. Ini masih mending kak. Kalau habis hujan lebih parah lagi.”

“Gimana sepatunya?”

“Ya kalau dari rumah dicopot dulu. Dijinjing. Roknya diangkat. Nanti kalau sudah di seberang numpang cuci kaki di wartel. Kalau udah bersih baru pake sepatu, berangkat deh.”

Aku menghela napas berat. Kagum sekaligus malu pada Gadis Cemerlang. Di sekolah ia tak pernah memperlihatkan kepayahan dan perjuangannya menuju sekolah. Dia selalu bersih, rapi sampai pelajaran terakhir selesai. Mata cerdasnya itu selalu haus ilmu pengetahuan, menagih setiap guru untuk mengajar lebih banyak lagi. Tak pernah merasa cukup. Mungkin ia tak ingin upaya susahnya menuju sekolah setiap hari, tidak membawa hasil apa-apa. Ia tak ingin kembali ke rumah dengan isi kepala yang tidak bertambah.

+

Dia tak hanya punya pikiran yang cemerlang, tetapi juga nyali yang lebih tajam. Pernah satu kali, aku mengajaknya pergi ke rumah rakit. Pemukiman rumah rakit itu berada di seberang Benteng Kuto Besak. Dipisah oleh sungai Musi.

Rumah-rumah didirikan di atas air. Ada yang mengapung seperti perahu, ada juga yang lebih kokoh karena cagak ditancap ke dasar Musi. Semua rumah terbuat dari kayu khusus, yang tahan lama di air. Sesekali aku mengajar juga di rumah-rumah itu. Mengajar anak-anak dan remaja yang sebagian putus sekolah untuk membaca, berpuisi atau berteater.

Rumah rakit hanya bisa dicapai dengan berperahu ketek. Membayar Rp7.000 sekali jalan. Menyebrang sekitar 15 menit. Aku mengajak gadis cemerlang kemari (juga beberapa temannya), untuk belajar. Sekolah itu tak hanya di ruang kelas, aku ingin Gadis Cemerlang ini juga belajar dari alam. Melatih kepekaan dan sensitivitas, bukan hanya rumus-rumus matematika, fisika dan kimia. Atau teori-teori pada pelajaran biologi kesukaannya.

Rumah yang kami tuju itu sulit dicapai. Tidak bisa menyebrang sampai ke rumah yang dituju. Karena kalau siang hari, air sungai surut. Jadi kami hanya bisa berperahu sampai rumah yang bisa terjangkau perahu. Sisa perjalanan, kami harus melewati papan-papan meliuk yang direkatkan menjadi jalan setapak.

Kadang ada papan yang pakunya sudah tak kuat lagi, sehingga agak oleng kalau dipijak. Ada juga papan yang benar-benar tanggal. Sehingga menyisakan bolong di antara jalan setapak itu. Mata mesti awas betul melihat ke mana kaki memijak. Kalau tidak, bisa-bisa tergelincir mencebur sungai.

Perjalanan ini selalu membuatku berkeringat dingin. Melihat air sungai yang bergolak di bawah sana membuat nyali mengisut. Apalagi papan-papan ini tak ada pegangan. Kaki harus melangkah setapak-setapak. Jarak berjalan dengan teman, tak boleh terlalu dekat. Tak boleh terlalu banyak orang juga di sepanjang papan itu. Bisa-bisa oleng atau patah karena keberatan atau tidak seimbang.

Aku menyeringai, ketika melihat si gadis cemerlang terpaku. Hahahaha… gantian dong. Kataku dalam hati. Semacam pembalasan setelah setapak lumpur yang ia perkenalkan padaku waktu itu. Memang, baru sekali ini ia melihat jalan yang demikian, ia terbelalak.

“Kak, gimana ini?” katanya cemas.

Aku tertawa-tawa. “Jalan sendiri. Cari tahu gimana caranya. Ayo harus bisa!” Kataku sambil berjalan tertatih-tatih meninggalkannya.

Ini pelajaran hidup, dik. Satu saat nanti, ketika kau sudah menjadi orang dewasa, kau akan menemui masalah rumit. Tidak selalu ada orang yang bisa memegang tanganmu, menuntun langkahmu untuk mencari jalan keluar, mencapai tujuan. Kau harus belajar mengatasi kesulitan sendiri, harus melangkah sendiri. Tidak terus bergantung pada orang lain.

Mata gadis cemerlang menjelajah, menelusur papan-papan itu hingga ke tempat tujuan. Berusaha mengenali medan yang akan dilaluinya. Kulihat senyum cerdasnya mulai merekah. Senyum keberanian dan percaya diri.

“AKU BISA KAK!” teriaknya.

Entah apa yang ada di pikiran anak itu. Lalu dia mulai menjejak kayu-kayu itu. Dan… berlari! Astaga, dia berlari!. Langkahnya cepat-cepat. Bahkan dia berhasil menyusulku! Siyal! Lagi-lagi, anak ini memperlihatkan kecemerlangannya. Padahal keberanianku jalan tertatih ini butuh adaptasi berbulan-bulan. Perlu mengenal medan dan mensugesti diri lama sekali. Sementara dia hanya memerlukan waktu semenit. Heuheuheu…

Dia sampai sepuluh menit lebih dulu dari aku. Terbahak-bahak menertawakanku. Mungkin kalau dia tak ingat aku ini gurunya, dia sudah tertawa hingga berguling-guling menyaksikan kepayahanku. Kau lulus, dik. Dapat nilai sempurna. Semoga kelak ketika menghadapi masalah sungguhan, kau tetap menjadi pemberani dan bisa melaluinya dengan baik.

+

P.S

Iya dik, aku tahu rasanya. Aku tahu sulitnya peperangan perasaan dan logika. Kau tahu kalau aku tahu itu. Amat sangat memahami apa yang kau rasakan. Tapi kabar baiknya, aku bisa melaluinya loh. Sudah bebas merdeka. Bisa bergembira, bisa menulis banyak, dan bikin prestasi.

Kau sudah belajar dari perjalanan ke rumah rakit bukan? Kalau kemarin kau bisa lebih cepat menyusulku. Kali ini pun kau pasti bisa pulih lebih cepat dariku. Kau selalu lebih hebat dariku, dik. Selalu.

-eNJe-

Ha es ef Kopitiam, Kemanggisan yang kering dan tidak macet.

21.00 WIB