Surat dari Papua (1) : Aku Ingin ke Arguni

Hari ini kami akan berkeliling pulau-pulau. Mengunjungi kemolekan Papua satu persatu. Kami akan berperahu, bersama bapak bupati dan bapak wakil menteri. Hatiku terkoneksi pada satu pulau yang akan kami datangi nanti. Arguni.

Aku pernah bercerita tentang Arguni padamu. Tentang temanku Maria, yang pernah menjadi ibu guru di sana. Setahun lalu, aku bersama Maria, mengantar banyak sekali buku untuk anak-anak Arguni yang suka belajar. Di sana hanya ada satu sekolah dasar, tak ada SMP, SMA, apalagi universitas.

Arguni sepertinya jauh sekali. Kata orang sini, 2,5jam berperahu. Terpencil, tak ada sinyal apapun yang sampai ke sana. Sebenarnya, bisa sampai ke Fakfak saja, aku sudah bersyukur. Mungkin ini terlalu muluk, tapi aku sungguh-sungguh ingin bisa melihat perpustakaan yang dibangun Maria di Arguni. Satu-satunya perpustakaan di sana.

Maria memberi nomorku pada Ve, penggantinya di Arguni. Katanya, Ve bersedia mengantarku ke sana. Tapi agenda hari ini terlalu padat. Tak bisa bergeser keluar dari rombongan. Ve menawarkan opsi penghibur, memberikan foto-foto perpustakaan Arguni. Kami sedang mencari waktu dan tempat untuk bisa bertemu.

Sudah pukul 11 siang di sini. Katanya suhu di sini 32 derajat. Tapi aku tak yakin, karena gerahnya sudah keterlaluan. Meskipun, tak menyengat garang seperti panas Jakarta. Udara di sini tentu masih bersih. Aku berjalan di tepi laut. Dengan kameramu terkalung di leher. Lautnya biru, tenang. Airnya berkilap-kilap tertimpa matahari. Aku bisa melihat batu-batu putih di dasar laut karena lautnya bening, hijau kebiru-biruan.

Tiga anak kecil, Farhan, Adit dan Ria tak peduli panas menyengat ini. Tak repot seperti aku yang harus mengoles sunblock karena khawatir gosong. Mereka menyebur di tepi laut. Menangkap ubur-ubur. Mungkin ini libur akhir pekan yang mewah untuk mereka.

Ria mengangkupkan gumpalan bening, si ubur-ubur, di kedua tangan mungilnya. Melompat lentur di antara batu-batu putih. Memindahkan ubur-ubur ke permukaan batu putih yang datar. Adit mencolok-colok gumpalan itu dengan pedang-pedangannya. Sementara Farhan masih menengok laut, mencari ubur-ubur yang lain. Mereka tak peduli panas, kulihat mereka bergembira. Puas bermain ubur-ubur, mereka kemudian berenang, melompat dari batu putih paling tinggi, terjun ke laut yang panas ini.

Nanti akan kubagikan foto-foto di sini kepadamu. Doakan aku, supaya bisa sampai ke perpustakaan di Arguni, Guru Di. Sudah tak sabar membagi semuanya padamu. Semoga satu hari nanti, entah kapan, kita bisa menikmati keindahan Papua bersama-sama.

-eNJe-

Minggu, 11.11.12

One thought on “Surat dari Papua (1) : Aku Ingin ke Arguni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s