Surat dari Papua (2) : Perjalanan Menuju Distrik Kokas

Akhirnya bapak bupati dan bapak wakil menteri sampai juga ke Pantai Reklamasi Tambaruni. Adit, Farhan dan Ria sudah berhenti bermain. Mereka dan anak-anak lainnya antusias menunggu parade perahu dari setiap distrik. Tidak seperti bapak pejabat yang duduk di bawah tenda, minum jus pala dan makan pisang goreng, mereka duduk di batu-batu putih, tersengat matahari.

Parade itu cuma setengah jam. Tapi meriah. Kami harus bergegas menuju distrik Kokas. Dua jam perjalanan dengan mobil. Aku bersama Bahar (reporter Trans TV) dan Evi (Majalah Detik). Kami tertawa-tawa, meledek Yugi (kameramen Trans TV) yang memilih naik mobil bak terbuka bersama polisi-polisi yang mengawal. Yugi ingin mengambil banyak gambar.

“Gila dia, dua jam loh. Bisa gosong dia di luar,” kata Evi.

Tapi tawa kami bertiga cuma sebentar saja. Nyaris tak ada jalan yang datar di Fakfak ini. Sebentar curam 80 derajat, lalu meliuk dan menikung. Jalannya sempit hanya cukup untuk satu mobil lewat. Kanan kiri hanya hutan, jurang, tebing.  Ini bukan rombongan wisata yang bisa bersantai. Ini rombongan pejabat dengan pengawalan ketat. Artinya, setiap pengemudi menyetir dengan kecepatan tinggi, dan banyak rem kejut untuk menjaga jarak.

Aku menelan sepotong antimo, menutup telinga dengan earphone dan menyetel musik keras-keras untuk melawan gelombang mabuk dalam perut. “Maaf ya teman-teman, saya asosial dulu. Pusing,” kataku pada Bahar dan Evi. Mereka berdua juga pusing, tapi menolak antimo yang kutawarkan.

Bahar, mengusir pusing dengan caranya sendiri. Matanya mencari rumah kayu yang tersembul di antara hutan-hutan, sepanjang perjalanan kami. Hutan di sini tidak rapi seperti hutan pinus yang pernah kita datangi bersama, Guru Di. Pohon-pohon tumbuh menjulang sekenanya. Rapat nyaris tak berjarak. Rantingnya bercabang banyak, daunnya hijau dan lebat. Jenis pohonnya pun bermacam-macam. Rumput liar juga tumbuh tinggi-tinggi.

Bahar bergidik ngeri. Ia membayangkan orang-orang yang mendiami sepetak rumah di tengah hutan liar itu. Tanpa listrik, didekap alam yang masih liar.

Sebelah antimo itu hanya mampu membuatku bertahan separuh perjalanan. Gelombang mual itu naik ke kerongkongan, dan terdorong keluar tanpa bisa dicegat. Untunglah aku sempat membuka jendela mobil. Evi menggosok-gosok punggungku yang banjir keringat dingin. Berulang-ulang aku meminta maaf kepada mereka semua. Bahar menjawab dengan simpati dan maklum.

Aku menelan antimo sebutir lagi. Tapi jalanan aspal yang berganti bebatuan, mengocok perut tak berjeda. Sekuat tenaga dan pikiran, bertahan untuk tidak muntah lagi. Tapi usahaku gagal.
+
Aku sudah lemas sekali ketika tiba di Distrik Kokas, Guru Di. Perutku sudah kosong. Bahar bergegas turun lebih dulu, menepi ke hutan, memuntahkan segala isi perutnya. Evi hebat, dia bertahan dan masih ceria.

Ibu Merry, pejabat kementerian tergopoh-gopoh menghampiriku. Mukanya panik, cemas. “Nurul gimana, kau tak apa-apa?. Seharusnya kau duduk di depan, orang mabuk tidak boleh duduk di belakang,” ujarnya. Ia mengamit tanganku dan mengajakku masuk ke ruang yang sudah disiapkan warga untuk menerima rombongan bapak bupati.

Deana, wartawan Jakarta Post, masih segar. Dia bule dari Amerika, bahasa Indonesianya lumayan. Deana menyodorkan fresh care untukku. “Semoga bisa membantu ya,” katanya sambil tersenyum.

Kami istirahat sebentar saja, makan pisang goreng dan minum teh jahe hangat. Sesudah ini, kami akan berjalan kaki melihat goa peninggalan Jepang. Lalu naik perahu bermesin, berkeliling laut Papua. Kami akan ke Arguni, Guru Di. Ke Arguni.🙂🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s