Surat dari Papua (3) : Jejak Merah Telapak Tangan


Setiap hari di sini aku makan papeda, gumpalan sagu alot berwarna abu-abu. Papeda ini pengganti nasi. Kalau tidak papeda, pilihannya adalah ubi atau keladi yang direbus. Aku lebih suka papeda, karena ubi atau keladi lebih manis. Kurang cocok dipadu dengan ikan bakar, sambal pala dan sayur.

Teman makan papeda ini adalah tumis daun dan bunga pepaya yang pahit itu, atau lamo-lamo (rumput laut hijau) dimasak dengan parutan kelapa. Aku makan sayur daun pepaya banyak sekali. Aku jadi senyum-senyum sendiri, membayangkanmu yang selalu menertawakanku, setiap aku makan pare atau daun pepaya. “Cerita hidup sudah pahit. Masih suka juga makan yang pahit-pahit,” ujarmu sambil menertawakanku.

Sekarang aku di perahu, bersama bapak Wakil Menteri dan bapak Bupati. Kami menyusuri distrik-distrik di Fakfak melalui laut. Seharusnya, ini kesempatanku untuk bisa berakrab-akrab dengan dua pejabat itu. Tapi aku masih terlalu lemas, muka masih pias, karena perut kosong dan pengaruh antimo yang terlalu banyak kutelan.

Lautnya kehijauan, kadang juga biru. Di kanan-kiri secumpuk pulau kecil, masih dengan pohon-pohon yang rapat, rimbun dan liar. Satu-dua ada rumah kayu milik penduduk. Sesekali bapak bupati menjelaskan kepada kami, nama-nama pulau yang kami lewati. Tapi ingatanku sedang pendek untuk merekam nama-nama pulau itu di kepalaku.

Lalu perahu berhenti, di bawah tebing dari batu kapur. Airnya biru jernih Guru Di. Kau pasti suka di sini, kau selalu suka biru. Di tengah tebing, yang tak bisa terjangkau tangan manusia itu, ada cap-cap telapak tangan manusia. Banyak sekali. Ada cetakan tangan anak-anak, juga ada yang lebih lebar. Cetakan tangan itu berwarna merah. Kalau melihat dari bentuknya, cara mencetaknya dilakukan dengan meletakkan telapak tangan di atas batu. Lalu kemudian disiram dengan sesuatu yang berwarna merah. Karena terlihat bekas tetesan-tetesan merah mengalir di bawah cetakkan telapak tangan itu.

Katanya, jeplakan itu tidak bisa dihapus. Seorang warga membisiki aku, katanya itu dicetak dari darah manusia. Selain telapak tangan, ada pula bentuk matahari, orang, segitiga, dan macam-macam gambar. Semuanya berwarna merah.

Bapak bupati tidak dapat bercerita banyak juga tentang asal muasal tangan-tangan itu. Karenanya bapak Wakil Menteri berencana mengirim sejarawan, antropolog, dan semacamnya untuk meneliti jeplakan tangan-tangan merah manusia itu.

Belakangan aku mendengar cerita dari Udin, sopir yang mengantar kami berkeliling, kalau cetakan tangan itu dijeplak oleh nenek moyang mereka yang atheis. Kata Udin, leluhur mereka dulu atheis. Lalu datang orang-orang dari Ambon, Maluku dan China. Membawa agama mereka, lalu menikah dan tinggal di Gunung Baham. Cetakan-cetakan di tebing itu, menurut Udin, adalah penanda mereka pernah tinggal di sana.

Cetakan tangan itu ada di beberapa tebing. Kami melihat semuanya. Perahu berhenti agar kami bisa memotret. Sayangnya tak ada daratan yang bisa dipijak untuk mendekat. Kami hanya bisa memotret dari atas perahu.

Oh ya Guru Di, aku mendapat saudara baru di Fakfak. Namanya kakak Alex. Dia kontributor Metro TV di sini. Kakak Alex asli Fakfak, badannya besar, kulitnya gelap, rambutnya keriting panjang sepinggang, selalu diikat. Dia pendiam, tapi selalu menjagaku sepanjang perjalanan. Apalagi setelah aku muntah-muntah di perjalanan menuju Distrik Kokas sebelum ini.

Selama perjalanan laut ini, kakak Alex baik sekali. Dia juga menawarkan diri memotretku. Nanti akan kutunjukkan salah satu foto yang paling kusuka. Aku difoto di perahu, dengan latar air berwarna hijau. Indah sekali. Tapi kalau pergi denganmu, tentu fotoku akan lebih banyak ya, Guru Di. Kau tahu pasti aku sangat suka difoto.😀

Gerimis mulai turun ketika perahu melaju lagi. Katanya, kami akan mampir ke kampung Fior. Tebing dengan cap-cap telapak tangan itu mulai menjauh. Airnya yang biru tenang juga kami tinggalkan. Aku tak sabar, lalu kutanya pada bapak Sekda (Sekretaris Daerah) yang bermuka bundar.

“Arguni di sebelah mana? Kita mampir ke Arguni kan bapak?”

Bapak Sekda lalu menujuk tebing yang baru kami tinggalkan. “Itu Arguni tadi. Kita tidak mampir ke darat, hanya liat cap-cap tangan itu saja tadi,” kata bapak Sekda ringan.

Tentu saja dia tidak mengerti perasaan kecewa yang menekan-nekan ini, Guru Di. Aku ingin ke Arguni.😦

Aku ke Kampung Fior dulu ya. Nanti kuceritakan padamu tentang kampung itu. Jangan bosan dengan ceritaku ya.

*

Fakfak, Minggu 11.11.12

2 thoughts on “Surat dari Papua (3) : Jejak Merah Telapak Tangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s