Surat dari Papua (4) : Cerita tentang Kampung Fior

Terimakasih untuk surat dari Jakarta yang kau kirim kemarin, Guru Di. Surprise sekali, aku senang mendapat surat dan mendengar ceritamu. Walaupun sebenarnya, aku berharap ada cerita tentang dirimu dalam surat yang kemarin itu.

Ceritamu tentang perjalanan Sjahrir, tentu saja menarik. Sampai aku sempat ciut nyali untuk menulis surat berikutnya. Tapi perasaan itu cuma sebentar saja. Karena kau, seperti biasanya selalu menyuntikkan semangat kepadaku. Menyulutkan energi untuk melawan ketidakpercayaan diriku.

Aku akan mencatat baik-baik pesanmu itu, Guru Di. Pesanmu yang ini :
Tulislah dengan gaya dan caramu sendiri. Percayalah, saya udh bilang berkali2 bhw tulisanmu bagus. Saya tdk asal bicara ato bohong. Kamu tau kan saya udh bnyk baca macam2 jenis tulisan dari macam2 org. Jd klo saya bilang bagus, artinya tulisanmu emg bagus. Jgn terpengaruh tulisan org lain. Kamu sdh buktikan kamu bisa melakukannya dgn baik selama ini. Jd jgn berkecil hati. Tulislah apa yg ingin kamu tulisšŸ™‚
+
Kali ini aku akan bercerita tentang Kampung Fior. Kampung ini hanya bisa ditempuh lewat jalur laut yang biru itu. Kami tiba sore hari, gerimis sudah semakin rapat. Bapak-bapak petani di kampung Fior, sudah menunggui kami di dermaga. Kami menepi, mereka bersalaman dengan bapak bupati dan bapak wakil menteri.

Salah seorang dari petani itu, meminta kami untuk mampir. “Mampir sebentar saja bapak. Kami sudah siapkan makanan khas untuk bapak. Sebentar saja,” ujarnya memohon.

Bapak wakil menteri ini sungguh baik hati. Dia tidak pernah ingin mengecewakan orang. Padahal, hari sudah mulai sore. Tak baik kalau kami pulang terlalu malam. “Oke, kita mampir setengah jam ya. Makan-makan dulu di sini.”

Tiga bocah laki-laki, bertelanjang kaki, bergandengan tangan, mengawal rombongan pejabat ini dari belakang. Mereka bershalawat dengan gembira. Beberapa orang memukul rebana. Suara nyanyian dan tabuhan rebana menggema, memantul dari balik gunung. Bersahut-sahutan.

Kampung Fior kecil dan sepi sekali. Mungkin cuma butuh satu jam saja untuk berkeliling kampung. Hanya ada 50 kepala keluarga yang tinggal di sana. Ada satu sekolah dasar, hanya ada empat orang guru yang mengajar di sana. Kemudian ada juga sebuah surau. Kampung ini menggunakan listrik tenaga surya. Tak ada sinyal barang sebatang juga di sini. Agak tersiksa juga, berpisah dari dunia luar.

Sebagaian kepala keluarga di sini menjadi nelayan, sebagian lainnya bertani. Membudidayakan rumput laut. Ada juga yang menanam cabe rawit. Mereka bisa panen satu ton cabe rawit sebulan. Harganya Rp 20.000 sekilo. Produksi rumput laut mereka lebih banyak. Satu orang bisa memanen 130 kilo rumput laut dalam seminggu. Ada 30 orang kepala keluarga yang membudidayakan rumput laut.

Harga rumput laut murah sekali. Hanya Rp 3.000 per kilogram. Padahal, seharusnya bisa Rp 7.500. Bapak bupati kemudian memerintahkan kepala dinas untuk menetapkan harga jual terendah rumput laut menjadi Rp 6.000 sekilo. Wajah para petani berbinar-binar.

Kami semua kelaparan. Tak sempat makan siang. Terutama aku, Bahar dan mas Daniel (eo) yang isi perut sudah habis terkuras di Kokas tadi. Suguhan makanan sudah disiapkan di sebuah rumah kayu. Deana yang berdiri di depan berteriak gembira kepadaku, “Papeda!”

Ya, aku dan Deana sama-sama menyukai papeda dengan kuah ikan kuning. Kami mengambil banyak-banyak. Untukku tentu ditambah tumis daun dan bunga pepaya. Satu lagi kesamaan aku dan Deana, kami penyuka sambel! Sambel tomat kali ini. Asin, gurih, segar dan pedasnya luar biasa.

Aku setuju dengan bapak wakil menteri, sambel di sini juara. Sangat enak. Beliau sampai menambah sepiring lagi. Deana bahkan menambah semangkuk sambel. Aku jadi merasa jauh lebih segar karena melahap sambel dan daun pepaya. Bapak bupati juga senang, beliau membeli 20 kilo cabe rawit segar dari petani. Dia membayar Rp 1.000.000. Petani melonjak-lonjak gembira. “Jadi nanti malam kita makan cabe ini,” kata bapak bupati kepada kami.

Di kampung Fior ini, ada burung kasuari. Aku sempat mencoba menggendong seekor bayi kasuari yang baru berumur sekitar seminggu. Bulunya cokelat kehitaman. Aku agak takut dia mematuk jari-jariku, paruhnya lancip, tajam. Aku gugup, si bayi kasuari pun takut. Suaranya berkoak-koak.

Kami keluar kampung pukul 17.00 WIT. Rombongan dipecah jadi dua. Rombongan pejabat bersama wartawan, naik speed boat langsung ke Fakfak. Sisanya naik boat lain sampai ke Distrik Kokas. Lalu menempuh jalan darat yang meliuk-liuk itu.

Aku lebih segar di laut, ada angin. Aku duduk di sebelah kiri, dekat bapak bupati dan bapak wakil menteri. Beberapa teman duduk di bagian depan perahu, menyaksikan matahari tenggelam. Diam-diam aku mengalungkan kartu pers di balik kerudung. Diselipkan peniti lagi supaya lekat di baju. Just in case perahu ini digulung ombak, adalah sepercik tanda pengenal pada badanku ini. Hehehe… Semoga aku kuat ya, Guru Di. Sampai jumpa.

Fakfak, Minggu 11.11.12

2 thoughts on “Surat dari Papua (4) : Cerita tentang Kampung Fior

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s