Surat dari Papua (5) : Teraduk di Tanjung Fatagar dan Tanjung Faila

Perahu melaju lebih cepat, mengejar waktu yang semakin tipis menuju senja. Pengemudi perahu kami bernama Harun. Badannya gelap, kekar. Matanya besar, nyaris tak pernah berkedip mengawasi laut di hadapan. Harun tak banyak bicara.

Bapak Sekda, menjadi nahkoda kami. “Bapak Sekda ini dulunya angkatan laut. Laut itu temannya,” kata bapak bupati sambil tertawa. Dibilang begitu, bapak Sekda menyunggingkan senyum dari balik kumisnya. Ia menjadi lebih percaya diri.

Meskipun badannya lebar sekali, tapi bapak Sekda ini lincah. Dia bisa memanjat tepian perahu dengan cepat. Sepanjang perjalanan dia menolak duduk. Selalu berdiri, lehernya terjulur ke depan, mengawasi laut. Dengan insting lautnya, dia terus memberi perintah kepada Harun. “Hey Harun, belok kiri Harun! Harun, kau dengar saya? Belok kiri!” Teriaknya melawan bisingnya mesin perahu dan angin laut yang menampar-nampar telinga. Harun tak menyahut, tapi memutar setirnya ke kiri.

Aku belum pernah melihat langit yang seindah ini, Guru Di. Aku takjub, sekaligus takut. Warna merah, oranye, jingga, emas, dan biru muda, bercampur baur di langit. Membuat gradasi dengan caranya sendiri. Ketidakteraturan warna itu justru menambah ketakjuban. Indah sekali. Di sisi kanan, lebih ke bawah sedikit dari langit dengan gradasi warna itu, ada bergumpal-gumpal awan pekat, hitam.

Awan yang tampak mengancam itu rendah sekali. Sepertinya bisa diraup dengan sekali genggaman tangan. Aku sangat takut awan-awan itu memuntahkan hujan lebat kalau dia tersedak.

Aku merinding ngeri, ketika mengalihkan pandangan dari langit maha cantik itu ke lautan di bawahnya. Di kanan, di kiri, semua air. Sejauh mata memandang, hanya ada air. Bergejolak. Bergelombang.

Selepas magrib, langit sudah tertutup selimut hitam, pekat, padat. Perahu kami tak berlampu. Semua orang hanya tampak seperti siluet. Membuat mata sakit, karena dipaksa menembus gelap. Ku buang pandangan ke laut, gelap, hitam, pekat. Perasaan tak nyaman menggelenyar, rasanya seperti terkepung. Tak berdaya.

Aku sudah berpindah tempat ke sisi kanan, masih di bagian luar. Teman-teman perempuan sudah masuk ke bagian dalam. Aku tak berminat bergabung dengan mereka, terlalu sesak di dalam. Tap di luar ini, Angin menampar semakin kuat. Angin malam laut yang ganas.

Bapak Sekda memerintahkan Harun melaju dengan kecepatan penuh. Membuat angin semakin terasa bertambah jahat. Bukan lagi nyeri di kulit, tapi ngilu sampai menembus tulang. Setiap hembusan mengirimkan ngilu yang semakin menusuk ke tulang. Memukul dada, membuat nyeri merayap ke paru-paru. Sesak. Kaki, tangan, dan seluruh tubuhku rasanya terlanjur kaku. Beku. Dingin. Tapi aku juga tak yakin, berada di bagian dalam perahu akan lebih baik.

Bapak bupati dan bapak wakil menteri di sebelahku sudah berhenti bernyanyi. Bapak bupati memerhatikan tamu-tamunya, semua melawan ketakutan dan beradaptasi dengan daya tahan tubuh masing-masing. “Bapak wakil menteri tidak apa-apa?”

“Oh tidak.. saya tidak apa-apa,” ujar pak Wamen, menenangkan sang tuan rumah.

Aku menekuk badan, memeluk lutut. Agak lebih baik rasanya, karena angin tidak langsung memukul dada. Tidak ada satupun di perahu ini yang menggunakan pelampung, bahkan jaket. Sekelebat film Titanic berputar di ingatan. Pada adegan semua penumpang tercebur di tengah laut, lalu Jack Dawson mati kedinginan. Seperti ini rupanya rasa dingin udara laut malam hari. Apa kabar air laut? Tentu berlipat-lipat lebih dingin.

Aku nelangsa, menyesal setengah mati tidak membawa jaket parasut. Persiapanku kurang baik. Menyakitkan rasanya, membayangkan jaket itu ada di lemari di kamar hotel. Ingin berlari, menyambar, dan mengenakannya rapat-rapat.

Mengurangi gelombang dingin, aku memejamkan mata, mengalihkan pikiran. Memasukkan diri pada bab terakhir novel Saman-Ayu Utami. Novel yang kubaca tadi pagi. Memaksa diri mengalihkan rasa dingin dan ketakutan. Saman, sedang apa Saman? Bagaimana Sihar juga Laila? Aku mendongeng untuk diri sendiri.

Aku mendongeng sampai tertidur sendiri, lalu bermimpi. Dalam mimpi, aku sedang ada di kasur yang luas dan empuk. Kelelahan membaca Saman lalu tertidur. Kemudian kau datang, Guru Di. Menggeleng dan berdecak melihat aku yang tertidur, dengan buku yang terlipat di sebelahku. “Kau terlalu lelah,” katamu. Lalu mengambil buku, memperbaiki lembar-lembar yang terlipat dan meletakkannya di meja sebelah tempat tidur yang luas itu. Lalu kau mengambil selimut yang tebal, menyelimutiku sampai ke leher. Sayangnya, aku tak sempat merasakan kehangatan selimut yang membungkusku itu. Karena lamat-lamat, suara-suara masuk ke alam bawah sadarku.

“Nurul… Bangun Nurul!” Suara bapak Wakil Menteri.

“Nurul… Bangun! Pindah lu ke dalem. Di sini dingin,” kata bapak Bupati.

Nada suara mereka lebih ke arah perintah, ketimbang saran. Aku menegakkan punggung yang kaku. Jari-jari tanganku kram dan dingin. Setiap jari lekat satu sama lain. Aku mencoba menggerakkan jari, tak bisa. Mereka tak merespon perintah otak. Mereka beku, kaku. Terhuyung-huyung aku berjalan pindah ke dalam.

Kesadaran sudah penuh ketika aku di dalam perahu. Gelap, pengap. Teman-teman perempuan bernyanyi bersama. Mengusir bosan karena jarak yang tak juga selesai. “Berapa menit lagi bapak?” Kata ibu Jenny kepada salah seorang pegawai kabupaten.

“Dua puluh menit lagi ibu.”

“Tadi sudah dua kali saya tanya, bapak bilang 20 menit lagi. Sekarang juga bapak bilang begitu. Berapa kali 20 menit lagi ini sebenarnya?” gerutu ibu Jenny yang mulai tak sabar.

Bapak Sekda masih berdiri tegak, memandang laut yang hitam. Dia mengumumkan, kalau posisi kami sedang berada di Tanjung Fatagar. Ombak di sini memang liar, berlapis-lapis. Perahu kami terangkat, terhempas, terguncang, kadang juga meluncur mengikuti ombak. Kalau sudah begini, perempuan-perempuan mulai menjerit-jerit.

Aku mencoba tidur, mengabaikan sekitar. Tapi tak bisa. Karena ombak mengocok isi kapal semakin kuat. Kami terguncang-guncang. Terangkat dari tempat duduk, dihempas lagi, terantuk dinding perahu. Teriakan semakin histeris. Bahkan ibu Merry yang sudah biasa melaut pun ikut ketakutan. Ditambah lagi, perahu kami memang kelebihan muatan. Harusnya maksimal 15 penumpang. Tapi ini isinya 25 orang.

“Melewati Tanjung ini memang tantangan. Gelombangnya memang kuat. Ini kampung saya. Setelah ini ada Tanjung Faila, sama kuat gelombangnya,” kata pak Sekda mengumumkan.

Terguncang-guncang begitu, membuatku pusing dan mual lagi. Aku minta izin bapak Sekda untuk pindah duduk di luar, karena badannya yang lebar menghalangi pintu. “Saran saya jangan dulu. Nanti saja setelah lewat dua tanjung ini.”

Aku menggeleng, aku tak bisa. Ini sudah pusing dan mual sekali. Kutabrak badan besarnya, dengan limbung menuju celah kosong di sebelah bapak bupati. Aku sadar posisi duduk ini rentan. Karena tepat di pinggir perahu dan di bagian belakang dengan guncangan lebih kuat. Karena gagal menemukan pegangan, diam-diam aku memegang ujung kemeja bapak bupati. Karena khawatir jatuh ke laut, kalau ombak mengangkat dan menghempas kami lagi.

Suasana mencekam, semua orang diam. Hanya suara bapak Sekda yang berteriak kepada Harun, memberikan instruksi. Hujan turun agak lebat, pakaianku basah. Kerudung sudah acak-acakan tak berbentuk karena ditiup angin. Sesekali, perempuan-perempuan masih berteriak ketakutan. Kecuali Evi. Dia juga berteriak, tapi berteriak, “Horee!” setiap kapal berguncang. Mengganggap kondisi gawat ini di tempat hiburan seperti Ancol, mungkin juga bisa meredakan ketegangan.

Lebih dari setengah jam kami dikocok laut. Selewat Tanjung Faila, barulah gelombang ombak mulai jinak. “Nurul lu kenapa? Lu mabuk ya? Jangan muntah ya! Kalau muntah tandanya lu nggak siap,” kata bapak Bupati tegas. Aku cuma mengangguk, masih pucat.

Aku tengadah ke langit. Mengekor Evi yang mencari bintang. Banyak sekali bintang, Guru Di. Berkelap-kelip, pada jarak yang berdekatan di langit luas yang hitam. “Indah ya Nurul. Tapi ada yang lebih indah, coba lihat ke depan.” Kata bapak Bupati.

Dan… WOW! Kami menyaksikan kabupaten Fakfak dari laut. Fakfak yang berbentuk bukit, menanjak, melingkar, tampak terang benderang dilihat dari laut. Mirip pohon natal raksasa, yang digantungi lentera-lentera kuning. Rumah-rumah penduduk serupa hiasan pohon natal yang dikaitkan di sekelilingnya.

“Bagus kan Nurul? Ini sebabnya kenapa gua mau lu lewat laut. Supaya bisa lihat ini.”

Aku mendengarkan bapak bupati, sambil masih berdecak kagum. “Kok bisa ya pak, cantik sekali Fakfak.”

Ia tersenyum padaku, “Itu Tuhan yang kasih.”
+
Alhamdulillah, kami tiba juga di darat pada pukul 19.00 WIT. Dengan rasa lega yang luar biasa. Semua orang sudah bisa tertawa-tawa. Bapak Wamen yang tidak banyak bicara, akhirnya buka suara begitu tiba di darat.

“Teman-teman khawatir karena belum biasa di laut. Bisa dibayangkan, speed boat tanpa lampu berkecepatan tinggi terguncang-guncang di laut. Tapi kita punya intuisi laut . Saya tidak khawatir, walau doa sih ada juga tadi,” katanya.

Fakfak, Minggu 11.11.12

4 thoughts on “Surat dari Papua (5) : Teraduk di Tanjung Fatagar dan Tanjung Faila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s