Surat dari Papua (6) : Yang Tak Mampir ke Fakfak

Aku belum banyak membaca Pram, baru tahu darimu tentang Irian itu. Parah ya? Tapi nanti aku pasti membacanya. Boleh pinjam bukumu, Guru Di?

Pemerataan memang sepertinya tidak mampir lewat Papua. Fakfak, memiliki banyak potensi, tapi alamnya masih begitu mentah. Mereka punya buah pala yang enak. Tidak sepat seperti manisan pala yang biasa dijajakan di bus kota di Jakarta ini.

Buah, bunga dan biji pala mereka jual mentah ke Surabaya, untuk kemudian diekspor. “Yang penting kami tanam, panen, lalu dapat uang,” ujar seorang tetua adat ketika aku bertanya, kenapa mereka tidak mengolah pala menjadi manisan atau apapun sebelum menjual ke Surabaya. Mereka punya banyak ikan yang segar-segar juga. Alam yang cantik. Tuhan sayang sekali pada tanah Papua. Sentuhannya sempurna.

Kita bisa maklum, dengan keinginan mereka. Punya cita-cita sendiri. Karena pemerataan, memang tidak mampir ke sana ya, Guru Di. Menyakitkan memang.

Tapi aku belajar banyak di sana. Tentang keramahan dan ketulusan yang semakin langka. Mereka punya prinsip persaudaraan yang dipegang kuat-kuat, satu tungku tiga batu namanya. Tetua adat di sana menjelaskan, kalau falsafah itu bermakna persaudaraan yang diikat erat, meski terdapat perbedaan. Tiga batu itu melambangkan tiga agama yang ada di sana : Islam, Katolik dan Protestan.

Ketika ada perayaan keagamaan Islam, maka warga lain akan membantu, meskipun berbeda keyakinan. Begitu pula sebaliknya. Mereka sangat rukun. Indah sekali ya. Seperti cerita-cerita di buku PMP yang pernah ku baca sewaktu SD. Bukankah Indonesia seharusnya seperti itu? Tapi di Jakarta ini, toleransi untuk hal-hal sederhana saja mahal sekali rasanya.

Pernah satu kali, ketika kami menikmati pantai yang begitu eksotis, aku asyik sendiri memotret-motret keindahan laut. Sementara teman-temanku berenang. Seorang bapak pendayung perahu, marah kepadaku.

“Ibu salah! Jangan cuma potret-potret lautnya saja!”

Kemarahannya membuatku gugup. Kupikir bapak nelayan ini marah karena alamnya yang cantik dijepret, lalu dipublikasikan, hingga kemudian akan banyak orang yang datang ke sana. Aku buru-buru berhenti memotret, dan meminta maaf. Ternyata aku salah, Guru Di. Bukan itu maksudnya.

“Ibu salah kalau hanya potret lautnya. Harus potret kami juga. Motret itu dengan orangnya juga,” kata bapak nelayan masih dengan muka serius. Akhirnya kami berpose bersama dengan latar laut yang bening itu. Kemudian dia tersenyum dan mengucapkan terimakasih karena sudah diajak berfoto. Aduh, aku malu sekali, Guru Di. Permintaan itu tulus dan sederhana…

Lain lagi pengalaman saat bersama bapak Sadrakh. Dia pegawai dari Dinas Pariwisata. Bapak Sadrakh selalu memakai tomang, tas anyaman yang biasa dipakai laki-laki di sini. Bapak Sadrakh khawatir, melihat aku terus berjalan-jalan di pantai reklamasi, tanpa peduli panas menyengat.

“Panas ibu. Nanti ibu hitam seperti orang Papua,” katanya padaku.

Aku tersenyum mendengarnya, “Tidak apa-apa bapak. Hitam tapi manis.”

“Ah ya! Orang Papua memang hitam. Tapi hatinya tidak pahit. Hatinya manis,” kata bapak Sadrakh sebelum kami berfoto.

Malam sebelum kami kembali ke Jakarta, bapak Sadrakh datang ke hotel. Dia membawakan kami masing-masing satu kotak ikan asin. Matanya berkaca-kaca. “Saya tidak bisa kasih apa-apa. Hanya bisa kasih ini untuk oleh-oleh.”

Aku terharu sekali, Guru Di. Mereka semua begitu baik.

+

Aku kembali ke Jakarta, Guru Di. Sudah tak sabar. Rindu pada rutinitas, rindu pada cerita-cerita yang biasa kita bagi berdua selepas kerja. Aku selalu senang mendengar ceritamu. Tentang buku yang sedang kau baca, atau berita yang kau buat hari itu.

Senang juga ada warung makan baru di dekat kantor ya. Kapan aku ditraktir makan di sana?

Yakin mau dengar cerita dari suaraku langsung? Aku pasti akan berlipat-lipat lebih cerewet. Semoga kau tahan dan selalu bersabar seperti biasanya ya, Guru Di.😀

Dalam perjalanan ke bandara kemarin, aku tidak menemukan toko oleh-oleh. Hanya ada penjual manisan pala. Itu pun hasil produksi rumah tangga. Kemasannya sederhana sekali. Aku mencatat baik-baik titipan si Fai, teman kita itu. Dia minta dibawakan syal dan madu. Keduanya tak kutemukan. Aku mengecewakan Fai.

Hanya ada satu toko oleh-oleh di bandara. Tokonya pun kecil sekali, barang-barang yang dijual semuanya berdebu. Beberapa gantungan kunci sudah rusak dan berkarat. Tak banyak juga pilihan. Bahkan toko ini tidak menjual kopi baham yang enak itu. Kami mesti mengaduk-aduk untuk mencari sesuatu yang berbeda dan khas. Ibu penjual pun menentukan harga sesukanya. Dan menolak tegas ketika kami menawar harga.

Yugi membeli kain untuk ibunya. Kain berwarna ungu dengan motif burung cendrawasih dan tifa. Dia senang sekali akhirnya menemukan kain pesanan ibunya. Karena selama empat hari di sini, kami tidak menemukan toko yang menjual kain. Bli Cokorda bilang ada di pasar tempat kami membeli manisan pala. Tapi harganya mahal sekali.

Aku membeli beberapa oleh-oleh untukmu juga. Semoga kau suka ya. Sudah tak sabar untuk bertemu.

Sebenarnya masih banyak yang ingin kuceritakan padamu. Lima serial ini baru cerita perjalanan dalam sehari. Masih ada cerita tentang Maya, ikan duyung di kampung Kiat. Tentang kehidupan para petani pala. Tentang memancing ikan di laut dekat pulau Burung dan tari-tarian Fakfak dengan ‘kandas’nya. Tapi aku keburu kembali ke Jakarta. Semoga nanti ada waktu untuk menuliskan cerita-cerita itu.

Sarang Ungu, 16 November 2012

P.S. Maaf pertemuan harus ditunda sebentar, perjalanan di sana ditambah penerbangan estafet membuatku kelelahan rupanya. (Fakfak-Kaimana 40 menit, Kaimana-Ambon 1,5 jam, Ambon-Surabaya 2jam, Surabaya-Jakarta 1,5 jam).

 

 

2 thoughts on “Surat dari Papua (6) : Yang Tak Mampir ke Fakfak

  1. halo enje!!! salam kenal. sya winnie. sya ingin ke fak fak taon dpn. boleh g tanya” ttg fak fak ke enje? kalo boleh, tlg hubungi sya via email. trima kasih byk ya…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s