Kepada Gadis Cemerlang

Aku tak ingat waktu persisnya. Sudah terlalu lama, beberapa tahun lalu. Ketika dorongan untuk pulang ke Palembang begitu kuatnya. Hanya untuk satu orang, kamu. Masa itu, memutuskan pulang adalah hal yang rumit. Gajiku masih kecil sekali, sehingga aku harus menabung lama supaya bisa pulang.

Kau tahu, saat itu aku gelisah sekali. Dorongan itu berlipat semakin kuat setiap harinya, karena aku tahu kau sangat-sangat rapuh. Kau masih sangat muda, dik. Tuhan menganugerahkanmu begitu banyak hal. Otak yang cemerlang, kemampuan menulis, berpuisi, berteater dan banyak hal lainnya. Aku harus pulang, menemuimu (juga Delima adik kita itu), membangunkanmu dari mimpi buruk yang mendekapmu erat.

Kadang aku cemburu pada kecemerlangan otakmu. Segala hal yang diajarkan, selalu membuatmu jauh melesat pandai, bahkan ilmu yang kau kuasai kemudian melebihi aku, gurumu. Karena kau selalu penasaran, haus pengetahuan, tak pernah puas pada apapun yang sudah disodorkan. Setiap guru hanya perlu memberi sedikit saja ilmu kepadamu, sisanya diselesaikan oleh daya jelajahmu yang luar biasa itu.

+

Kalau tak salah, waktu itu kau belum punya ponsel sendiri. Kita berkomunikasi dengan saling berkirim pesan lewat facebook. Sekali dua aku meneleponmu lewat ponsel mamak atau bibimu. Ceritamu yang makin hari makin pedih itu membuatku ngilu.

Aku ingin sekali marah, pada orang-orang di asrama yang menipumu. Mereka yang menginjak padam semangat dan mimpi-mimpimu. Kau diperlakukan tidak adil, dikucil, tidak berteman. Aku sedih sekali ketika mendengar ceritamu yang patah-patah, terutama ketika kau dicegah pulang satu lebaran haji.

Seharusnya aku ada di dekatmu, mengajarimu cara melawan mereka. Memelukmu erat untuk menjaga nyala semangat dan mimpi-mimpimu. Kamu terlalu cemerlang, dik. Tidak pantas diperlakukan demikian.

Tapi aku tak bisa datang cepat.  Ketika tabunganku cukup untuk pulang, kau sudah terlanjur memutuskan untuk keluar dari asrama itu. Artinya, berpisah dengan mimpi dan cita-citamu. Aku nelangsa, cemas luar biasa. Aku takut datang terlambat untuk menyelamatkan semangatmu.

+

Benar lah, bahkan keadaanmu saat itu lebih buruk. Kau sangat layu. Matamu padam. Bicaramu datar. Kau begitu berbeda dari yang kuingat ketika terakhir kita bertemu, sebelum aku berangkat bertualang ke Jakarta.

Tapi aku tahu yang kau butuhkan bukanlah sumbangan air mata yang menambah pedih. Karena  itu aku bersikap galak, tegas, bahkan memarahimu, menekan rasa sedih yang sebenarnya sudah menekuk-nekuk. Kau harus menjadi perempuan tangguh. Walaupun, segala kesusahan itu memaksamu untuk menjadi perempuan dewasa lebih cepat.

“Aku tunggu dilamar saja, biar menikah,” katamu.

Aku retak, mendengar satu-satunya kalimat yang kau lontarkan saat itu. Apimu sudah padam sepenuhnya. Itu bukan kau, Dik. Kau tak kan bicara seperti itu. Aku tahu, semua orang yang mengenalmu juga tahu, kau bercita-cita menjadi dokter. Cita-cita yang sepadan dengan otak yang cemerlang itu.

Dulu, segala kesusahan kau lawan kuat-kuat. Kau cari berbagai macam jalan, tak putus-putus, untuk mendekati cita-cita yang kau dekap erat sejak kanak-kanak. Jalan itu kau temukan sendiri. Seharusnya kau masih belajar baik-baik di sana. Sungguh, aku ingin memaki-maki orang-orang di asrama itu, yang membuatmu sepadam waktu itu. Bahkan aku pun mendendam pada mereka.

Kau tahu, Dik, sebenarnya aku tak tega memarahimu waktu itu. Tapi ini menjadi keharusan karena kondisimu sudah teramat payah. Aku percaya, dengan segala kepintaran itu, kau akan jadi orang hebat di masa depan.

Yang kulakukan (dengan sangat terpaksa), membujukmu untuk menggeser mimpi. Merancang cita-cita yang lain. Memohon agar kau mau sekolah lagi, memilih jurusan lain yang biayanya bisa terjangkau. Membantu mencarikan jalan agar kau dapat pekerjaan yang lebih baik. Pekerjaan dengan menggunakan pikiranmu yang cemerlang itu. Aku tak tega, kalau kau harus terus-terusan bekerja mencuci piring dan membantu masak di katering.

Susah sekali membujukmu saat itu. Semangatmu padam hingga tandas sampai ke kerak. Tapi aku tidak menyerah. Tidak akan. Aku akan menyesal seumur hidup, kalau tidak bisa mematik kembali semangatmu yang dulu meletup-letup.

Jawabanmu baru tercetus, ketika waktu kebersamaan kita sudah sangat tipis. Pelan-pelan semangatmu tumbuh. Kau memutuskan sekolah komputer. Kau juga mendapat pekerjaan, jadi bisa membayar biaya sekolahmu sendiri tanpa harus membuat pusing mamak. Aku lega. Aku pamit, berangkat bertualang lagi.

+

Tapi aku tak benar-benar pergi jauh. Aku mengikuti perkembanganmu. Selalu menanyakan kabarmu pada orang-orang terdekat kita. Melihat facebook dan blogmu. Aku senang, segalanya berkembang baik. Sampai beberapa bulan belakangan, aku mulai agak heran karena kau semakin jarang menyapa di facebook.

Awal November, aku menemukan jawabannya. Dari facebook, aku tahu kalau kau mengumumkan pada dunia, kau telah bertunangan. Aku bertanya, meminta penjelasanmu. Tapi tak sekalimat pun dijawab. Kau mengabaikanku. Sampai aku menagih penjelasan sore tadi.

Penuh rasa bersalah, kau mengaku juga kalau akan menikah. Dengan seorang laki-laki pengawas buruh. Kau bilang takut bercerita padaku. Aku diaduk kecewa dan sedih. Dulu, kau selalu lari menubrukku, menemuiku di ruang praktikum komputer yang pengap itu untuk menangis, mengadu. Tapi kali ini, kau yang membuat aku meleleh.

Kau membuatku tampak bodoh, Dik. Menjadi orang terakhir yang mengetahui segalanya. Sampai kau takut begitu, tentu karena kau sudah amat sangat paham apa yang akan kusampaikan kepadamu. Mungkin aku terlalu protektif, terlalu mengaturmu. Tapi itu kulakukuan untuk menjagamu agar tetap dekat dengan mimpimu. Semakin dekat dengan cita-citamu (meski dirombak ulang). Karena kau gadis yang cemerlang.

Dulu itu, kau dipaksa menjauh dari cita-citamu. Sekarang, kau sendiri yang punya keputusan untuk menjauh dari semua keinginan itu. Aku tak bisa apa-apa. Semuanya terserah padamu. Kau sudah berkembang menjadi perempuan dewasa, mungkin ini saatnya melepas pegangan tanganku (yang mungkin agak terlalu ketat) kepadamu. Mungkin ini pesan terakhirku sebelum melepasmu jadi perempuan dewasa : semua ada risiko yang harus ditimbang. Kalau kau tak pernah siap dengan risiko terburuk, jangan melangkah.

Mungkin juga, kesedihan ini untukku sendiri, Dik. Karena aku merasa gagal. Tak bisa menyelamatkan Delima, adik kita itu. Adik yang kutitipkan kepadamu. Lalu sekarang kau juga demikian.

Aku selalu menyayangimu, gadis yang cemerlang.

Peluk sayang, kakak

+++

-eNJe-

Kantor, piket yang dingin dan tenang

00.30 WIB

3 thoughts on “Kepada Gadis Cemerlang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s