Kepada Gadis Cemerlang (2)

Kaki ini lekat di bumi, jalanan tanah di hadapanku terputus. Berganti dengan hamparan rawa hijau yang lunak. Di tengah-tengah, ada sebentuk jalan yang hanya muat dilalui satu orang. Tak bisa dibilang jalan juga, karena sebenarnya itu lumpur yang disiram bubuk dan serutan kayu. Aku menelan ludah, mana jalannya? Aku berpikir gadis cemerlang ini sedang mengerjaiku.

Ia berjingkat lincah di depanku. Sudah setengah jalan melewati setapak rawa itu. Aku membaca langkahnya, jalan itu tidak bisa diinjak terlalu lama karena lunaknya. Badan akan melesak terbenam lumpur kalau kaki diam tidak bergerak.

“Ayo kakak,” katanya bersemangat. Ia tertawa-tawa melihatku terbelalak.

“Nggak ada jalan lain apa?”

Dijawab gelengan kepala, anak itu masih cengar-cengir.

“Memangnya rumahmu di mana?” teriakku lagi. Ia sudah semakin jauh.

“Itu..!” DIa menunjuk ke tengah rawa. Aku melihat ada sepetak rumah panggung kayu. Dari jauh bentuknya samar, membaur di antara rawa-rawa hijau dan lumpur cokelat yang mengancam. Anak ini bersungguh-sungguh rupanya. Aku tak punya pilihan, sudah terlanjur berjanji akan berkunjung ke rumahnya. Aku menggulung pipa celana setinggi lutut.

“Tunggu…!”

Satu persatu tapak dijejak, kakiku melesak, berat. Perlu tenaga untuk mengangkat kaki dan bergerak maju. Mataku menghindar, tak ingin melihat lumpur-lumpur yang kupijak. Tapi rasa gatal dan jijik itu membuatku tak nyaman. Aku merasakan setiap serutan kayu yang menempel hingga ke betis. Lunaknya lumpur bergeranjul di telapak kakiku. Apakah ada lintah di bawah sana? Aku bergidik membayangkan penghisap darah itu menggendut, menempel di kakiku. Hiiiiii……

Susah payah, rasanya lama sekali, akhirnya aku sampai di tangga rumah kayu yang doyong itu. Rumahnya. Kalau tak salah, ada dua rumah di situ. Saling menempel. Aku duduk di tangga, kakiku kotor sekali. Aku masih tak berani melihat detil, khawatir menjerit kalau menemukan lintah yang menempel. Si gadis cemerlang sudah muncul, membawa seember air untuk membersihkan kakiku.

“Setiap hari kalau sekolah kau begini?” kataku sembari membasuh kaki yang kecokelatan dibalur lumpur.

“Iya. Ini masih mending kak. Kalau habis hujan lebih parah lagi.”

“Gimana sepatunya?”

“Ya kalau dari rumah dicopot dulu. Dijinjing. Roknya diangkat. Nanti kalau sudah di seberang numpang cuci kaki di wartel. Kalau udah bersih baru pake sepatu, berangkat deh.”

Aku menghela napas berat. Kagum sekaligus malu pada Gadis Cemerlang. Di sekolah ia tak pernah memperlihatkan kepayahan dan perjuangannya menuju sekolah. Dia selalu bersih, rapi sampai pelajaran terakhir selesai. Mata cerdasnya itu selalu haus ilmu pengetahuan, menagih setiap guru untuk mengajar lebih banyak lagi. Tak pernah merasa cukup. Mungkin ia tak ingin upaya susahnya menuju sekolah setiap hari, tidak membawa hasil apa-apa. Ia tak ingin kembali ke rumah dengan isi kepala yang tidak bertambah.

+

Dia tak hanya punya pikiran yang cemerlang, tetapi juga nyali yang lebih tajam. Pernah satu kali, aku mengajaknya pergi ke rumah rakit. Pemukiman rumah rakit itu berada di seberang Benteng Kuto Besak. Dipisah oleh sungai Musi.

Rumah-rumah didirikan di atas air. Ada yang mengapung seperti perahu, ada juga yang lebih kokoh karena cagak ditancap ke dasar Musi. Semua rumah terbuat dari kayu khusus, yang tahan lama di air. Sesekali aku mengajar juga di rumah-rumah itu. Mengajar anak-anak dan remaja yang sebagian putus sekolah untuk membaca, berpuisi atau berteater.

Rumah rakit hanya bisa dicapai dengan berperahu ketek. Membayar Rp7.000 sekali jalan. Menyebrang sekitar 15 menit. Aku mengajak gadis cemerlang kemari (juga beberapa temannya), untuk belajar. Sekolah itu tak hanya di ruang kelas, aku ingin Gadis Cemerlang ini juga belajar dari alam. Melatih kepekaan dan sensitivitas, bukan hanya rumus-rumus matematika, fisika dan kimia. Atau teori-teori pada pelajaran biologi kesukaannya.

Rumah yang kami tuju itu sulit dicapai. Tidak bisa menyebrang sampai ke rumah yang dituju. Karena kalau siang hari, air sungai surut. Jadi kami hanya bisa berperahu sampai rumah yang bisa terjangkau perahu. Sisa perjalanan, kami harus melewati papan-papan meliuk yang direkatkan menjadi jalan setapak.

Kadang ada papan yang pakunya sudah tak kuat lagi, sehingga agak oleng kalau dipijak. Ada juga papan yang benar-benar tanggal. Sehingga menyisakan bolong di antara jalan setapak itu. Mata mesti awas betul melihat ke mana kaki memijak. Kalau tidak, bisa-bisa tergelincir mencebur sungai.

Perjalanan ini selalu membuatku berkeringat dingin. Melihat air sungai yang bergolak di bawah sana membuat nyali mengisut. Apalagi papan-papan ini tak ada pegangan. Kaki harus melangkah setapak-setapak. Jarak berjalan dengan teman, tak boleh terlalu dekat. Tak boleh terlalu banyak orang juga di sepanjang papan itu. Bisa-bisa oleng atau patah karena keberatan atau tidak seimbang.

Aku menyeringai, ketika melihat si gadis cemerlang terpaku. Hahahaha… gantian dong. Kataku dalam hati. Semacam pembalasan setelah setapak lumpur yang ia perkenalkan padaku waktu itu. Memang, baru sekali ini ia melihat jalan yang demikian, ia terbelalak.

“Kak, gimana ini?” katanya cemas.

Aku tertawa-tawa. “Jalan sendiri. Cari tahu gimana caranya. Ayo harus bisa!” Kataku sambil berjalan tertatih-tatih meninggalkannya.

Ini pelajaran hidup, dik. Satu saat nanti, ketika kau sudah menjadi orang dewasa, kau akan menemui masalah rumit. Tidak selalu ada orang yang bisa memegang tanganmu, menuntun langkahmu untuk mencari jalan keluar, mencapai tujuan. Kau harus belajar mengatasi kesulitan sendiri, harus melangkah sendiri. Tidak terus bergantung pada orang lain.

Mata gadis cemerlang menjelajah, menelusur papan-papan itu hingga ke tempat tujuan. Berusaha mengenali medan yang akan dilaluinya. Kulihat senyum cerdasnya mulai merekah. Senyum keberanian dan percaya diri.

“AKU BISA KAK!” teriaknya.

Entah apa yang ada di pikiran anak itu. Lalu dia mulai menjejak kayu-kayu itu. Dan… berlari! Astaga, dia berlari!. Langkahnya cepat-cepat. Bahkan dia berhasil menyusulku! Siyal! Lagi-lagi, anak ini memperlihatkan kecemerlangannya. Padahal keberanianku jalan tertatih ini butuh adaptasi berbulan-bulan. Perlu mengenal medan dan mensugesti diri lama sekali. Sementara dia hanya memerlukan waktu semenit. Heuheuheu…

Dia sampai sepuluh menit lebih dulu dari aku. Terbahak-bahak menertawakanku. Mungkin kalau dia tak ingat aku ini gurunya, dia sudah tertawa hingga berguling-guling menyaksikan kepayahanku. Kau lulus, dik. Dapat nilai sempurna. Semoga kelak ketika menghadapi masalah sungguhan, kau tetap menjadi pemberani dan bisa melaluinya dengan baik.

+

P.S

Iya dik, aku tahu rasanya. Aku tahu sulitnya peperangan perasaan dan logika. Kau tahu kalau aku tahu itu. Amat sangat memahami apa yang kau rasakan. Tapi kabar baiknya, aku bisa melaluinya loh. Sudah bebas merdeka. Bisa bergembira, bisa menulis banyak, dan bikin prestasi.

Kau sudah belajar dari perjalanan ke rumah rakit bukan? Kalau kemarin kau bisa lebih cepat menyusulku. Kali ini pun kau pasti bisa pulih lebih cepat dariku. Kau selalu lebih hebat dariku, dik. Selalu.

-eNJe-

Ha es ef Kopitiam, Kemanggisan yang kering dan tidak macet.

21.00 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s