Vita Brevis-Jostein Gaarder

21

Sainganku bukanlah perempuan yang dapat kulihat dengan mata telanjang, ia adalah sebuah prinsip filsafat. Maka, agar aku dapat mengerti dirimu dengan lebih baik, paling tidak aku harus berada pada jalan yang sama dengan yang telah kau tempuh. Aku harus membaca ajaran-ajaran filsafat.

23
Aku merasa berkata-kata seperti horace : jika orang-orang bodoh ingin menghindar dari perbuatan yang salah, mereka biasanya malah melakukan hal yang sebaliknya.

30
Waktu itu, aku berbicara tentang tragedi Medea karya Seneca yang baru saja kubaca. Dalam dramanya, Seneca mengatakan bahwa pihak lain sebaiknya juga didengarkan, dan pihak lain itu adalah aku.

39
Tidakkah kau belajar di sekolah retorika tentang bahyanya memisahkan sebuah kalimat dari konteksnya?

49
Barangkali persahabatan kita yang mendalamlah yang sebenarnya membuatmu malu. Ada banyak laki-laki yang merasa lebih malu melakukan persahabatan dengan seorang perempuan ketimbang mengabdikan diri mereka kepada hubungan cinta sensual dengan perempuan itu. Kemudian mereka juga cenderung menyalahkan cinta seksual tersebut karena ketidakmampuan mereka mengembangkan persahabatan tulus dalam bentuk apa pun dengan perempuan.

52
Bagaimana mungkin sebuah ciptaan mendefinisikan penciptanya? Juga, bagaimana mungkin sebuah ciptaan dapat menentukan bahwa dirinya akan berhenti berfungsi sebagai sebuah ciptaan?

53
Kita tidak boleh berusaha untuk hidup sebagai sesuatu kecuali sebagai diri kita sendiri. Bukankah dengan demikin kita mengejek Tuhan? Kita adalah manusia, Airel. Pertam-tama kit harus hidup, kemudian-ya-kemudian kita bisa berfilsafat.

109
Kemudian kau menambahkan : “Di dalam diriku, ada dua ego yang berperang: yang satu jasmaniah dan yang lain spiritual. Dan melalui perselisihan ini, keduanya menyebabkan perpecahan dalam pikiranku.”

123
Aku hanya berkata bahwa aku tidak tahu. Aku bahkan tidak berkata bahwa aku tidak percaya dengan penghakiman Tuhan. Aku hanya berkata bahwa aku percaya pada penghakiman terhadap ketidakpedulian seseorng terhadap kegembiran, segala kehangatan dan segala kelembutan.

126
Pengakuan adalah obat bagi orang yang telah tersesat, tulis Cicero. Tetapi kau tidak berani mengakui kesalahan terburukmu! Bagaimana mungkin kau menghilangkan adegan terakhir dari tragedi? Bagaimana mungkin kita dapat mempelajari sebuah tragedi bila kita menghilangkan bagian tersebut.

128
Kadang sulit bagi seseorang untuk membuat keputusan, dan begitu anehnya kah apabila keputusan yang akhirnya diambil adalah keputusan yang salah? “Aku tahu apa yang baik bagiku, tetapi lakukanlah hal-hal yang berbahaya bagiku,” tulis Ovid.

144
Memang penting bagi kita untuk mengetahui cara terbang yang cepat, namun tidaklah kalah penting untuk mengetahui bagaimana cara agar kita tidak terjatuh.

Sarang, awal November 2012

2 thoughts on “Vita Brevis-Jostein Gaarder

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s