Anggodo yang Rewel di Persidangan

Ruang tunggu terdakwa itu berkabut oleh asap rokok. Anggodo Widjojo, mengenakan batik merah muda duduk di salah satu kursi, berhadap-hadapan dengan salah satu kuasa hukumnya, Tompson Situmeang. Ia duduk tegak, fokus menyimak arahan yang dijelaskan Tompson. Kemudian kembali menyulut sebatang rokok, menghisap dalam-dalam. Pengusaha asal Surabaya itu mengangguk-angguk, wajahnya membentuk segaris senyum.

Sepuluh menit sesudahnya, Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (tipikor) memanggil Anggodo masuk ke ruang sidang. Ketua Majelis Hakim Tjokorda Rai baru saja mengetuk palu tiga kali, Anggodo langsung menyatakan keberatan sidang perdananya diteruskan. Pria kelahiran 55 tahun silam itu menutup mulutnya dengan tisu yang dipegang sejak tadi, lalu terbatuk-batuk.

“Saya kira ndak kuat pak, ndak bisa konsentrasi. Kepala agak pusing, kemarin juga baru diinjeksi,” ujarnya terbata-bata.

Sidang pembacaan dakwaan tersebut sebetulnya sudah tertunda sepekan karena Anggodo mangkir dengan alasan sakit. Meskipun dokter rutan Cipinang saat itu menyatakan Anggodo sanggup mengikuti persidangan.

Ketua tim Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi, Suwarji tidak percaya begitu saja. Ia meminta agar Anggodo diperiksa ulang oleh dr Kunto Wiharto dari KPK. “Untuk membenarkan pernyataan terdakwa, dapat dilakukan pemeriksaan oleh dokter KPK,” ujar Suwarji.

Tim kuasa hukum Anggodo sempat keberatan dan menilai tindakan memeriksa ulang kesehatan Anggodo sebagai pelanggaran HAM. Namun hakim Tjokorda Rai, tetap memerintahkan dokter memeriksa Anggodo. “Kita hanya meminta pendapat dokter,” imbuhnya, kemudian menskors sidang selama 15 menit.

Kepada dokter , Anggodo mengeluh pusing dan perutnya kembung. Kunto kemudian memberikan obat penghilang rasa sakit (pain killer) agar Anggodo lebih segar menjalani persidangan. Namun tim pengacara melarang Anggodo menerima obat tersebut. “Jangan mau, jangan mau dikasih obat,” ujar mereka bersahut-sahutan. Anggodo akhirnya tidak meminum obat sampai sidang dilanjutkan kembali.

Kunto memaparkan kepada Majelis Hakim jika Anggodo masih kuat mengikuti sidang hingga selesai. Apalagi, sidang sebenarnya hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mendengarkan dakwaan tim jaksa. “Tensinya bagus, secara umum bagus. Saya kira dia masih kuat mengikuti sidang selama 15 menit. Apalagi waktu sebelum berangkat kesini bilangnya masih kuat. Sepanjang perjalanan kesini juga masih kuat,” paparnya.

Pria yang hanya mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar ini tetap menolak sidangnya dilanjutkan. “Yang mulia saya ndak kuat, terus terang kalau tidak dihadapan yang mulia saya sudah tersungkur,” katanya memelas.

Ketua Majelis Hakim Tjokorda Rai terlihat mulai kesal, “Masa tidak kuat? Walaupun cuma mendengarkan dakwaan?” Cetusnya. “Tidak kuat yang mulia,” jawab Anggodo sambil terbatuk-batuk.

Dengan alasan kemanusiaan, semula Majelis Hakim memutuskan menunda sidang hingga Rabu (12/5) besok agar Anggodo bisa beristirahat dan memulihkan kondisi kesehatannya. Palu belum diketuk, Anggodo mengacung-acungkan jari minta diberi waktu semenit untuk berbicara.

Setelah dipersilahkan, Anggodo memaparkan kronologis pengobatannya, dan kekecewaannya kepada KPK yang tidak mengizinkannya berobat, “Padahal saya harusnya di opname”. Alih-alih dengan suara terbata dan terus-terusan disela batuk seperti sebelumnya, ia justru memaparkan kronologis sakit dan pengobatannya nyaris tanpa jeda hampir 10 menit.

Melihat Anggodo yang lancar berbicara, Jaksa Suwarji langsung menyela, “Setelah melihat perkembangan terdakwa yang berbicara dengan lancar, kami mohon kepada Majelis Hakim untuk tetap diperkenankan membaca surat dakwaan pada hari ini,” tegas Suwarji. Menoleh Suwarji, Anggodo terbatuk-batuk lagi.

Giliran tim kuasa hukum Anggodo yang terus mendesak hakim untuk tetap membatalkan sidang. “Ini tidak mengada-ada, kami minta sidangnya ditunda untuk alasan kesehatan,” kata Pengacara senior OC Kaligis.

Hakim Tjokorda Rai mengubah keputusan yang hampir diketuk tadi. Dengan tegas dia menyatakan sidang tetap dilanjutkan, dan pengadilan akan mengeluarkan perintah pembantaran untuk adik buronan KPK, Anggoro Widjojo ini supaya dapat melanjutkan pengobatan atas sakit yang dideritanya. “Kami minta penuntut umum untuk membacakan dakwaan,” tegasnya.

Para Jaksa kemudian membacakan dakwaan secara bergantian, tak peduli Anggodo yang sesekali menyela dengan suara serupa dengkuran, “arggrrr…arggrrr…arggrrr…”. Sidang berikutnya akan dilanjutkan pada Selasa 18 Mei mendatang. (nurulia juwita 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s