Sepah Dibuang Bayarannya Mutilasi

Penulis: (Nurulia Juwita Sari/J-1) Halaman: 0302
Rubrik: MEGAPOLITAN

Asbak penuh abu rokok bersih kembali. Yati baru saja membuang isinya ke tempat sampah. Perempuan itu kembali ke tempat duduk pemeriksaan dan sesekali tertawa saat penyidik dan tim pengacaranya melempar guyonan, Kamis (30/10) sore. Walau sering tersenyum, wajahnya jelas menunjukkan keletihan setelah menjalani pemeriksaan lebih dari tujuh jam dan berakhir saat magrib tiba. Sepintas kurang meyakinkan jika Sri Rumiyati alias Yati alias Atik, 48, yang memutilasi Hendra alias Burung alias Tjo Yung Fa, suaminya sendiri, menjadi 13 bagian.

Penampilan ibu lima anak itu lembut dan keibuan. Yati sendiri mengaku tidak percaya dirinya telah berbuat sejauh itu. “Rasanya seperti mimpi. Tapi ini kenyataan yang harus dihadapi, ini murni menjadi tanggung jawab saya sendiri,” ujarnya tegar.

Pembunuhan keji itu adalah puncak dari akumulasi kekesalan Yati atas kelakuan Hendra yang mematah-matahkan hatinya. Meski potongan tubuh dibuang terpisah di tiga angkutan umum, Satuan Kejahatan Keras Polda Metro Jaya dapat mengungkapnya.Yati mengenal Hendra sekitar delapan tahun lalu. Keduanya saling suka. Namun, cinta mereka cuma semusim. Perjalanan waktu mempertemukan kembali sekitar tiga tahun lalu.Yati yang telah berstatus istri Andi bertemu Hendra di pasar sedang berjualan kue. Kenangan manis masa lalu membuat pertemuan itu menjadi magnet. Maka cinta pun menemukan jalannya sendiri.

Setelah enam bulan pendekatan, Hendra meminta izin Andi, suami Yati, untuk menikahi sang pujaan. Entah kenapa, Andi menyetujuinya. Sebelum istrinya meninggalkan rumah, Andi berpesan agar Hendra menjaga Yati baik-baik.”Jika terjadi sesuatu dalam rumah tangga kalian, kembalikan Yati ke rumah ini. Walaupun bukan istri saya lagi, saya akan menerimanya sebagai keluarga,” begitulah Andi mengungkapkan rasa kehilangannya.

Istri Hendra juga rela suaminya menikah lagi dengan Yati. “Biar ada yang ngurus,” cetus istri Hendra seperti ditirukan Yati.

Pasangan setengah baya itu pun mengontrak rumah di Kampung Teriti RT 04/04 Desa Karet, Sepatan, Kabupaten Tangerang, Banten. Rumah sederhana, yang kelak menyisakan bercak darah di dinding kamar sempit, tempat keduanya biasa menghabiskan malam.

Awalnya Yati bahagia. Ia dimanja dan disayang. Karena itulah, pembuat kue itu rela berhenti berjualan demi rumah tangga. Ternyata manisnya tebu terus berkurang. Beberapa bulan kemudian, habis manis sepah dibuang.Yati mulai merasakan gelagat tidak baik saat putri kandungnya dari hasil pernikahan dengan Andi, enggan berkunjung. “Mama saja yang ke rumah, jangan kami ke rumah mama,” ucap putrinya menyiratkan ada perlakuan kurang baik dari Hendra terhadap putrinya.

Hendra juga tidak pernah lagi memberinya uang belanja. Hari berikutnya, mulai marah-marah tanpa sebab. Pernah ia mempertanyakan alasan Hendra marah-marah, tapi dijawab dengan tangan dan kaki.

Suatu hari paha kanan dan payudara Yati disundut rokok. Pernah pula ia disiram bensin dan diancam akan dibakar hidup-hidup. Hendra makin bertingkah dan jarang pulang. “Dia lupa janjinya bersikap adil, dia lebih sayang istri yang lain,” desahnya.

Yati masih bersabar dan tetap melayani kebutuhan Hendra sepenuh hati. Ia berharap kesabaran akan meluluhkan kekerasan sang suami. “Kalau manusia itu seharusnya mengerti, sudah dibaikin ya berubah, dia mah enggak, apa namanya kalau bukan binatang,” umpatnya.

Pada 28 September, amarah Hendra kembali meledak. Muka Yati ditampar. Setelah marah-marah, ia minta dipijat. Saat suaminya telungkup, Yati mengambil batu dan menghajar kepala. “Badannya gede, bingung mau dibuang ke mana, ya sudah saya potong-potong saja,” kenangnya datar.

Kini Yati menghabiskan waktu di dalam kamar tahanan dengan beribadah. Ia rajin salat lima waktu, salat dhuha dan tahajud serta berzikir. “Saya minta maaf sama Tuhan, saya mohon ampun,” katanya.

Suatu kali ia bermimpi didatangi Hendra yang penyayang. “Dalam mimpi itu dia baik banget, dia telanjang, baring di sebelah saya. Saya dipeluk mesra. Saya heran kok di mimpi bandannya utuh, padahal kan sudah saya potong-potong,” ungkapnya. (NJ)

*tulisan serius pertama, waktu mulei liputan di Jakarta. atas bimbingan dua guru di kompartemen megapolitan :  kak Shanty Sibarani (sansibar) dan bang mathias brahmana. terimakasih guru🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s