Bukan Soal Tiga Ribu Rupiah

Saya belum lagi turun dari motor, ketika laki-laki berseragam satpam itu menagih uang parkir Rp 3.000. Padahal, baru di gerbang Senayan tadi saya sudah membayar ongkos parkir Rp 2.000 kepada petugas yang berjaga di sana.

Memang, dari dulu juga preman berseragam, tukang parkir di Senayan ini selalu meminta uang Rp 3.000 bahkan pernah lebih. Padahal, aturan resmi Pemda DKI ongkos parkir motor itu Rp1.000. Kadang, karena uang pecahan Rp1.000 semakin sulit, pengendara sepeda motor membayar Rp2.000 kepada tukang parkir pinggir jalan.

Dia salah menagih uang lebih kepada saya hari ini. Saya sedang kelelahan, sedang rentan kalau emosi tersenggol. Setelah liputan dua hari kunjungan ke pabrik susu tiga hari sebelum ini (yang begitu padat agenda), penugasan sesudahnya memang agak padat juga. Hari ini, saya sudah keluar kost jam 6 lewat. Meninggalkan kamar yang berantakan, packing yang belum lagi selesai. Sementara jam tiga sore nanti, saya harus berangkat ke Purwakarta untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan kantor.

“Uang parkirnya mbak, tiga ribu,” ia menyodorkan tangan kanannya, meminta uang.

Saya menghela napas. Kekesalan yang mencari tempat, terledakkan pada laki-laki bernama chandra ini (saya melihat nama dari seragamnya).

Saya : Kenapa harus bayar Rp 3.000?

Satpam : Sudah peraturannya mbak.

Saya : Peraturan siapa? Tarif parkir di Jakarta itu seribu dua ribu. Nggak ada tiga ribu.

Satpam : Sudah peraturan di sini mbak

Saya : Oke. Mana kertas parkirnya?

Satpam : Nggak ada mbak. Bayar saja.

Saya : Mana kertas parkirnya, kalau saya harus bayar tiga ribu?

Satpam : Saya kan ngejagain motor mbak. Supaya aman.

Saya : Ya mana kertas parkirnya? Aturan siapa?

Satpam : Aturan bos saya. Bayar saja mbak.

Saya : Ini bukan soal tiga ribunya. Saya punya uang segitu. Tapi aturannya ga segitu. Saya merasa dipalakin ini. Dipajakin sama masnya karena harus bayar lebih.

Satpam : Bayar saja mbak.

Saya : (menyodorkan uang kertas 3ribu). Ini. Tapi catat ya. Saya tidak ikhlas karena harus membayar lebih.

Satpam : Kalau gitu nggak usah aja mbak.

Saya : Ambil saja. Katanya tadi mau tiga ribu

Satpam : Nggak usah aja mendingan

Saya : Ambil. Saya mau cepat. Ini harus liputan. Nanti saya terlambat.

Satpam : (mengambil uang tiga ribu). Saya jagain motor mbak di sini. Kalau yang di luar itu bayar parkirnya lain.

Saya tidak peduli lagi dengan penjelasan apapun. Selama ini, saya, juga sebagian pengendara motor yang lain tak pernah ikhlas juga memberi uang tiga ribu (sementara di depan gerbang sudah bayar dua ribu juga). Bedanya, yang lain memilih mengecam, menyumpah di belakang. Sementara saya (kali ini) memilih bicara. Saya tidak pernah ikhlas membayar di luar peraturan. Dipalakin namanya.

-eNJe-

Ruang kelas latihan menulis editorial MI, sebelum kelas pak saur dimulai.

One thought on “Bukan Soal Tiga Ribu Rupiah

  1. Hihi… Klo q justru lebih ga iklas bayar 2000 yg d depan. Soalnta yg di bayar di depan itu ga berguna. Sama sekali ga jagain motor. Pas keluar aja tiketnya gak diminta dibalikin. Apa apaan ituh. Hehe… Tp ya gmn dumz klo ga bayar di depan gak bisa masuk je motornya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s