Cukilan dari kelas menulis editorial hari ini (1)

Kelas Pak Saur Hutabarat

++++++++++++++++++++++++++

Meliput berita tidak ada urusan dengan privat. Tidak bisa kau bilang tidak suka dengan narasumber ini, lalu tidak kau tulis beritanya. Meliput berita itu urusan publik, berlaku asas jurnalisme cover both side, objektivitas.

Gegabah bersikap bukanlah kearifan. Terlambat bersikap juga tidak arif. Jadi harus tepat.

Sehebat-hebatnya kau jadi jurnalis, terhebat di dunia sekalipun. Kau tidak akan pernah menjadi pakar. Tidak boleh sok ahli di berita yang kau tulis. Cari pakarnya, pinjam perspektifnya. Jurnalis hebat itu harus tahu diri.

Ada orang berdebat pikirannya tajam, lidahnya tumpul. Ada yang pikirannya tumpul, lidahnya tajam. Jangan beradu mulut, beradulah ketajaman pikiran. Kalau mulut tajam, pikiran tumpul, gawat kita. Pandai-pandailah disetel.

Setiap teks memiliki konteks. Kalau konteks berubah, teks harus ditinjau ulang. Tidak ada teks yang tidak mengandung konteks. Yang bahaya itu ada konteks tak kau buat teksnya, kau biarkan saja. Jangankan di editorial, di ilmu pengetahuan banyak pakar yang melakukan revisi pikiran karena ada perubahan konteks.

Jurnalis itu penjaga akal sehat. Seluruh kerusakan yang terjadi di ruang publik itu, karena rusaknya akal sehat. Kalau akal sehat kita (jurnalis) rusak, ya wassalam. Kau boleh hilang apa saja, tapi jangan akal sehat. Idiologi tanpa akal sehat, ngawur. Salah satu misi editorial itu memelihara, mengawal, menjaga akal sehat.

Argumentasi dalam editorial tidak boleh ditulis dengan cara ilmuwan. Tetap berbahasa jurnalistik. Editorial tetaplah karya jurnalistik. Walaupun di belakangnya ada argumentasi yang bersifat akademik.

Bergaul dengan pemikir besar itu penting. Selain itu harus banyak membaca. Mengalami internalisasi diri, ada pengendapan, perenungan. Yang diperkaya itu interior (diri), bukan eksterior. Tidak ada urusan gaya orang mau kayak apa. Kalau sudah diinternalisasi, bukan lagi bersifat tempelan. Tempelan itu nggak laku.

Kalau konstruksi dibangun dari teoritis yang lemah, maka lemah pula pijakannya.

Tulisan itu harus bisa membangun imajinasi. Makin banyak detail, yang baca makin capek. Data teknis itu ketika ditulis harus bisa membangun imajinasi. Bukan data membenamkan imajinasi. Harus ada ruang bernapas untuk imajinasi.

Jangan membawa perkara kongkrit menjadi abstrak. Perkara abstrak menjadi lebih abstrak lagi. Hati-hati.

Jurnalisme tidak bersih dari kekeliruan, kesalahan. Teruslah melakukan perbaikan. Dalilnya : berbahagialah kita kalau terus berusaha menyempurnakan. Walaupun tidak pernah sempurna. Salah tidak apa-apa, dimaki orang tidak apa-apa. Itu bagus untuk kesehatan.

2 thoughts on “Cukilan dari kelas menulis editorial hari ini (1)

  1. hoho kereenn cukil-mencukilnya. mantaplah, suka juga cukilan2nya , bagus2 dan penting:D yang ini suka: “Sehebat-hebatnya kau jadi jurnalis, terhebat di dunia sekalipun. Kau tidak akan pernah menjadi pakar. Tidak boleh sok ahli di berita yang kau tulis. Cari pakarnya, pinjam perspektifnya. Jurnalis hebat itu harus tahu diri.” jadi inget tulisan Andreas soal pakar, ahli, di bukunya Agama Saya adalah Jurnalisme itušŸ˜€ baca juga bagian itu kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s