Martin Minar Wijaya, Terobsesi Menjadikan Buah Lokal Naik Kelas

Berangkat dari kegelisahannya melihat pasar buah di Indonesia yang banjir buah impor, membuat CEO PT Sewu Segar Nusantara (Sunpride), Martin Minar Widjaja tidak pernah menyerah melakukan eksplorasi. Ia ingin buah-buahan tropis asli Indonesia, memiliki kualitas nomor satu dan menjadi ratu di pasar dalam negeri. Tidak tenggelam oleh pesona buah impor. Pria yang pernah bercita-cita menjadi insinyur pesawat ini kini justru terobsesi membuat buah lokal naik kelas.

“Menariknya bekerja di Sunpride, tidak pernah merasa bosan. Karena hampir setiap hari ada tantangan baru. Karena buah bertambah terus. Ketertarikan di dunia ini membuat saya tidak mudah menyerah. Kegagalan justru memicu apinya lebih besar, lebih giat lagi,” ujarnya membuka perbincangan dengan Media Indonesia beberapa pekan lalu.

Ia bergabung dengan PT Sewu Segar Nusantara 12 tahun yang lalu. Seorang teman memintanya untuk mengisi posisi General Manager di perusahaan tersebut. Tertarik dengan tantangan di pasar buah-buahan, ia memutuskan hengkang dari perusahaan tekstil tempat ia bekerja selama lima tahun.

“Setelah ikut bergabung, ternyata menarik sekali. Sebelumnya tidak terbayang kalau akan semenarik ini. Setelah itu saya jatuh cinta sama pekerjaan ini dan saya teruskan sampai sekarang. Saya penasaran, kenapa sih Indonesia yang segede ini tapi buah impornya lebih banyak dari buah lokal. Lama-lama saya jadi terobsesi untuk memenuhi kebutuhan buah lokal di pasar dalam negeri,” ungkapnya.

Ketika bergabung pada tahun 2000 silam, PT Sewu Segar Nusantara hanya memproduksi satu jenis buah, yakni pisang cavendish. Berkantor kecil di Jakarta, perusahaan ini hanya memenuhi pasar untuk Jakarta saja. “Buah cuma satu macam, produksi kami hanya 1/20 dari yang ada sekarang. Mainnya hanya di Jakarta, mobil tidak pakai pendingin. Ya perusahaan rumah tangga awalnya,” ujarnya mengenang.

Berjalannya waktu, pasar mulai diperluas. Ia mulai berani menjajal kerjasama dengan petani untuk menambah beberapa jenis buah lokal. Pada tahun 2005, mulai masuk juga buah impor untuk melengkapi kebutuhan pasar.

“Kami tambahin mobilnya, orangnya, kerjasama dengan beberapa petani. Mulai menanam buah yang lain di grup sendiri. Perlahan-lahan mulai tumbuh lah.”

Karena sejak awal sudah membuka pasar dengan pisang Cavendish untuk konsumsi ekspor. Membuat Martin dan timnya menerapkan standar tinggi kepada buah-buahan yang dilepas ke pasar. Semua buah lokal yang diproduksi, harus berstandar dan berkualitas ekspor.

“Ini yang disukai pasar. Di Indonesia yang bisa konsisten itu jarang. Konsisten itu misalnya di kadar kemanisannya. Kalau melon standar manisnya 12, maka dia akan tetap 12. Tidak mungkin di bawah itu. Kalau di bawah itu, pasti sudah ditolak di lapangan.”

Brand Sunpride kerap mengecoh pasar. Banyak konsumen mengira sunpride merupakan buah impor. Nama ini dipilih, karena saat memproduksi pisang cavendis ditargetkan menyasar pasar ekspor. “Sehingga kami pakai bahasa Inggris, jadi keterlanjuran dikira buah impor. Waktu itu ada yang bilang pisang kami dari Singapura, Filipina. Waktu itu imej buah impor sangat baik, sehingga kami teruskan saja. Memang visi kami menjadi pemain regional.”

Memproduksi buah dengan kualitas ekspor dan mempertahankan konsistensi mutunya, ternyata bukan hal yang mudah. Diperlukan ketelatenan dan kesabaran untuk melakukan eksperimen hingga mendapatkan hasil yang maksimal.

“Banyakan gagalnya daripada yang berhasil. Rasionya itu kalau kami bereksperimen lima macam buah, itu lima banding satu. Kami cari lima bibit unggul, lalu kami coba tanam di berbagai tempat di Indonesia. Nanti yang akan nongol itu cuma satu. Yang empat gagal karena kurang manis, daya simpan rendah, produktivitas rendah. Kasihan petani. Jadi untuk dapat bibit unggul itu dari  lima Cuma bisa satu, hanya 20% peluangnya.”

Setiap kali eksperimen, lanjut dia, lahan yang dibutuhkan antara lima sampai 10 hektare. Lahan itu berada di tempat yang berbeda, untuk ditanami dengan jenis bibit buah yang sama. Eksperimen paling singkat membutuhkan waktu satu tahun. Tetapi kebanyakan lebih lama, antara lima sampai tujuh tahun. Misalnya saja nanas honi yang belum lama ini diluncurkan, risetnya dilakukan mulai tahun 2007.

“Kita coba di beberapa tempat, dilihat mana yang cocok dengan tanahnya. Hasilnya bagus nggak. Kalau gagal ya risiko investasi. Karena kami ingin mendapatkan sesuatu yang unggul. Bagaimana kami mau mengembangkan pasar kalau semua orang bisa tanam dengan hasil yang sama.”

Saat ini, ada sekitar 20 produk yang diproduksi Sunpride. Sebanyak 80 persen merupakan buah lokal. Selain pisang yang menjadi primadona, di antaranya ada pepaya, pear, apel, pomelo, melon jambu dan nanas. Untuk pisang sendiri terbagi ke berbagai jenis. Untuk pisang saat ini produksinya mencapai 2 juta box setahun. Satu box memuat 13 kilogram buah. Sementara untuk buah lain sekitar seribu ton per tahun, dengan sebaran pasar dari Medan hingga Bali.

Martin menuturkan, setiap buah memiliki cerita eksplorasi yang berbeda hingga berhasil mendapatkan kualitas terbaik. Misalnya untuk pisang mas, Sunpride memulai dari menemukan sekelompok petani yang menanam pisang mas di daerah Jawa Timur. Para petani ini hanya menyasar pasar hingga ke Surabaya.

“Kami lihat buahnya bisa bagus, mulus. Kami datangi, kami bina. Pak, kita besarin sama-sama yuk. Itu yang mulai kan dari petani, bukan dari kami bibitnya.”

Lain lagi cerita melon golden. Pihaknya mencermati harga jual melon dari petani yang sangat rendah. Hanya Rp 3.000 perkilogram. “Kalau begini hitungannya nggak masuk buat petani, pas-pasan hidupnya. Jadi kami berikan bibit melon yang bisa kami beli dengan harga di atas Rp 7.000. Jadi lebih dua kali lipat sehingga petani antusias.”

Saat memulai produksi melon golden, ia sangat optimistis melon mereka akan diterima baik di pasar. “Karena rasanya lebih bagus, melonnya juga mulus dan garing. Kami memilih jenis buah yang value addednya tinggi.”

Semangat eksperimen Martin tak putus-putus, karena ingin buah lokal bisa naik kelas. Untuk itu, ia tak segan turun langsung ke lapangan, menemui para petani yang bekerjasama untuk mendengarkan keluhan mereka. Hal ini dilakukan agar jika ada kesulitan, bisa dengan cepat diatasi.

“Kami menanam sendiri buah-buahan yang kami jual. Kami bisa membandingkan kesulitan masing-masing petani, mendengarkan dan mencari solusi. Dari dulu dibilang di Indonesia menanam apa saja gampang, kok buah-buahan tidak bisa. Ini yang kami jalani, toh kami tahu segala macam kesulitannya. Pasti bisa diatasi.”

Namun ia tidak bisa bekerja sendiri, masih membutuhkan peran pemerintah untuk beberapa kendala. Seperti masalah irigasi yang dihadapi petani dan keterbatasan infrastruktur yang menghambat distribusi dan perluasan pasar.

“Indonesia itu ada 17ribu pulau, yang besar hanya beberapa saja. Letaknya terpencar-pencar. Sementara jalanan masih rusak, penyebrangan buah dari pulau ke pulau kan harus berpendingin. Kalau tidak bisa rusak. Kami belum punya angkutan kapal yang berpendingin. Ini tantangan terbesar kami,” imbuhnya.

Padahal, untuk menjaga standar kualitas buah-buahan, mulai dari panen si buah tidak boleh terkena panas, kemudian didinginkan lagi. “Dari panen dia harus langsung ditaruh di suhu tidur. Suhunya harus selalu sama,” kata Martin.

Untuk ke depan, Sunpride menargetkan ekspansi ke Kalimantan, Sulawesi, serta beberapa kota yang berada di dekat Jawa. “Untuk daerah timur, kami masih mencari partner yang mendistribusikan produk kami di sana. Kalau ekspor kami belum. Pasar Indonesia masih terlalu besar, untuk penduduk sendiri saja belum cukup kami kasih makan, kenapa harus jual-jual ke luar. Jadi banjiri buah di dalam negeri dulu, baru kemudian ekspor,” tutupnya. (Wta)

One thought on “Martin Minar Wijaya, Terobsesi Menjadikan Buah Lokal Naik Kelas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s