Sabana Prawirawidjaja : Menangkap Peluang dari Susu yang Terbuang

Mencari manajemen yang baik lebih sulit daripada mencari uang. Kesuksesan perusahaan amat bergantung pada kerja tim.

Satu pagi di medio 1968, Sabana Prawirawidjaja gelisah mendapati fakta begitu banyak susu sapi segar yang terbuang. Di Pengalengan, Bandung, sebanyak 2.500-5.000 liter susu sapi segar meamng berakhir mubazir setiap hari. Para peternak terpaksa membuangnya lantaran tidak terjual. Mereka pun tidak memiliki fasilitas pendingin sehingga susu akan cepat basi jika dibiarkan.

“Saban hari banyak susu yang dibuang,” tutur Sabana membuka cerita, pada perayaan 40 tahun Ultrajaya di Padalarang, Jawa Barat, pekan lalu.

Ketika itu, Sabana sudah berkecimpung dalam bisnis susu. Sejak 1958, keluarganya memang menjalankan industri rumah tangga yang berfokus pada produk susu kental manis-jenis terpopuler saat itu. Usaha yang merupakan cikal bakal Ultrajaya tersebut dikendalikan orangtua Sabana dan bermitra dengan koperasi di Bandung Selatan sebagai penyuplai susu segar.

“Mereka (koperasi) mengeluh, bagaimana menolong peternak. Kami pun melihat opportunity dari susu yang terbuang setiap harinya,” kenangnya dengan senyum mengembang.

Sabana kemudian berpikir keras mencari cara bagaimana agar susu segar yang tidak terjual bisa diolah dan tidak tersia-sia. Ia memburu informasi dari berbagai belahan dunia hingga akhirnya tertumbuk pada satu merek susu keluaran Prancis berkemasan karton yang tahan lama.

“Itu pertama kali saya lihat ada susu yang bisa tahan di suhu ruangan tanpa perlu disimpan di lemari es. Kami pikir itu ide luar biasa. Belakangan kami lihat pembuat kemasannya adalah Tetra Pak.”

Sabana lantas mengejar keberadaan Tetra Pak hingga ke Eropa. “Dengan susah payah, saya menghabiskan waktu 1,5 tahun mencari Tetra Pak. Saya putar-putar di Eropa, ternyata kantornya di Malaysia, di sebuah rumah. Tetra Pak masih relatif kecil waktu itu.”

Dengan membawa perasaan lega yang menggembung, ia pulang ke Indonesia. Studi kelayakan singkat pun digegasnya. Dengan penuh keyakinan, ia berencana beralih bisnis dari susu kental manis ke susu cair segar.

Hitung-hitungan Sabana, satu kemasan susu dengan model kuncup tiga berisi 1 liter bisa dijual dengan harga Rp50 per kemasan. “Kami hitung tiga tahun itu sudah bisa balik modal.”

Bersamaan dengan rampungnya studi kelayakan, orangtua Sabana tengah bersiap mengajukan permohonan fasilitas ekspansi  usaha susu kental manis ke pemerintah. “Saya putuskan untuk bicara kepada orangtua, agar mengganti aplikasi pengajuan. Kami ubah ke susu cair segar,” tuturnya bersemangat.

Kelahiran Ultra Milk

Rekomendasi Sabana disepakati. Pada 1972, pabrik susu cair dengan teknologi ultra-high-temprature (UHT) pertama di Indonesia, dan bahkan di Asia Tenggara, resmi diluncurkan Ultrajaya. Publik pun berkenalan dengan produk susu cair Ultra Milk.

Sabana menjelaskan kombinasi teknologi UHT dan kemasan Tetra Pak membuat usia susu lebih panjang. Itu memungkinkan produk Ultra Milk bertahan hingga berbulan-bulan kendati tidak masuk lemari pendingin.

“Kita tahu susu ditaruh 1-2 jam di luar sudah rusak. Waktu itu disebut long life milk. Kami ingin konsumen minum susu kurang dari enam bulan, walaupun kadaluarsanya sampai 10 bulan,” kata jebolan Universitas Nanyang, Singapura, itu.

Memasarkan produk susu cair pertama di tengah kepopuleran susu kental manis bukanlah hal mudah. Apalagi, belakangan masuk susu bubuk (tepung susu) yang ternyata lebih disukai pasar. Namun, Sabana tetap optimistis. Pikirnya, dengan promosi yang tepat, susu cair segar yang lebih unggul akan dilirik dan lebih disukai.

Mengapa lebih unggul? Sabana menjelaskan, dalam proses produksi, susu bubuk mengalami empat kali pemanasan. Alhasil, vitamin yang ada di dalamnya rusak. Karena itu, susu bubuk perlu dibubuhi bermacam zat tambahan atau vitamin imitasi sebagai pengganti.

Lain halnya dengan susu cair segar yang diproduksinya, ujar Sabana, tidak perlu penambahan beraneka vitamin. Proses UHT dan kemasan enam lapis karton dari Tetra Pak menjaga keutuhan alam yang terkandung pada susu.

“Walaupun (pasarnya) di dalam negeri waktu itu sedikit, tapi kami bisa menolong para peternak. Secara teknologi pun, itu yang paling maju, paling mempunyai harapan,” imbuhnya.

Keyakinan dan insting bisnis Sabana ternyata berbuah manis. Pada tahun pertama, Ultrajaya memang hanya mendapat omzet Rp900 juta. Namun hari-hari ini, omzet telah melampaui Rp 40 triliun dengan rata-rata pertumbuhan per tahun di level dua digit.

Adapun kapasitas produksi Ultrajaya mencapai 300 juta liter per tahun. Sebanyak 90% total produksi ditujukan bagi kebutuhan pasar domestik yang menjangkau semua area Indonesia. Sisanya, diekspor ke mancanegara, termasuk ke Timur Tengah dan Afrika.

Dalam perjalanan waktu, Ultrajaya memperluas cakupan bisnis. Pada 1978, misalnya, mereka merilis sari buah Buavita. Setahun setelah itu, hadir Teh Kotak siap minum. The Bunga, Ultra Butter dan Sari Kacang Hijau, Sari Asem Asli, Ultra Low Fat, serta Susu Sehat dengan kemasan menyerupai bantal menyusul di tahun-tahun berikutnya. Teraktual, pada 2012, perusahaan yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia itu merilis Ultra Mimi untuk segmen growing up milk.

Ultrajaya pun bekerja sama dengan Kraft pada 1994 melalui PT Kraft Ultrajaya dan ditunjuk sebagai distributor produsen makanan multinasional asal Amerika Serikat itu.

Serap teknologi

Ultrajaya saat ini telah menjadi pemimpin di industri mereka melalui penggunaan teknologi otomatis, untuk menjaga kualitas dan kehigienisan keseluruhan proses produksi. Fasilitas pabrik di Padalarang didukung oleh peralatan dan teknologi canggih. Peralatan produksi pengolahan susu, pengisian, pengemasan, palet hingga gudang penyimpanan, seluruhnya beroperasi secara otomatis menggunakan bantuan robot. Penerapan sistem robotic dimulai pada tahun 1995, di gudang penyimpanan.

“Ultrajaya bisa terus berkembang dan tumbuh karena konsisten untuk selalu fokus di bidangnya. Kami menyerap teknologi yang termutakhir. Kami berhasil melewati berbagai krisis ekonomi, moneter, gejolak pollitik maupun sosial,” lanjut Sabana.

Ke depan, ujarnya, prospek produk susu masih amat positif. Sebab, mungkin meningkat dalam empat dekade terakhir, konsumsi susu segar di Tanah Air masih terbilang rendah.

Pada 1970-an, konsumsi per kapita kurang dari 1 liter. Harga susu segar dari peternak saat itu di bawah Rp10. Sedangkan saat ini, konsumsi susu mencapai 12 liter per kapita. Harga susu dari peternak Rp 4.500 per liter, sedangkan konsumsi per kapita ialah 12 liter. “Itu masih sedikit, jadi peluang pasar besar.”

Untuk menjaga ketersediaan pasokan susu segar, sejak 2009 Ultrajaya mendirikan PT UPBS (Ultra Peternakan Bandung Selatan). UPBS ialah peternakan sapi perah dengan fasilitas dan operasional berstandar internasional. Sekitar 2.900 sapi produktif berkualitas dari Australia dibesarkan di areal UPBS dengan bantuan para peternak lokal.

Menurut Sabana, pihaknya senantiasa menjaga soliditas kerja sama mereka dengan para peternak dan pemasok susu segar. Dalam kemitraan itu, mereka dilibatkan dan dilatih di peternakan Ultrajaya.

“Pembentukan UPBS merupakan bagian dari misi dan tanggungjawab Ultrajaya dalam menghasilkan kualitas sapi perah yang lebih baik,” tegas penyuka olahraga lari dan berenang itu.

Sabana pun menyebut kegigihannya bukan faktor tunggal kesuksesan Ultrajaya. Ada kontribusi besar dari manajemen yang kukuh dan para karyawan yang berdedikasi. “Mencari manajemen yang baik lebih sulit daripada mencari uang. Kesuksesan itu bergantung pada tim,” kata Sabana. (Wta/E-2)

Dimuat di Media Indonesia edisi Senin 10 Desember 2012 (Halaman 18)

5 thoughts on “Sabana Prawirawidjaja : Menangkap Peluang dari Susu yang Terbuang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s