Dewi Kawi – Arswendo Atmowiloto

44

Realitas itu ternyata tidak satu. Realitas selalu berubah. Bukan hanya maknanya, melainkan realitas itu sendiri. Realitas terbangun dari peristiwa, dan sesuai dengan perjalanan waktu, peristiwa itu diubah. Menjadi lebih cantik, atau menjadi lebih seram. Penyempurnaan terjadi terus, ketika seseorang itu meninggal. Upacara kematian, dengan pidato atau tulisan karenanya menjadi sangat diperlukan, agar lebih resmi.

68

Ketika cucu saya bermain dengan boneka, ia menciptakan dunianya. Nilai-nilai, yang sesuai dengan kehendaknya. Itulah rumusan kebebasan. Inilah yang kemudian, pada kita menjadi profesi. Seorang penari, seorang penyanyi… seorang artis… suni ini…

68

“Mode pun begitu, kan? Menciptakan kelangsingan, menciptakan kemontokan, menciptakan sensualitas dengan garis, dengan warna, dengan jahitan, dengan apa saja. Pokoknya menciptakan sesuatu yang baru, yang berbeda dengan sebelumnya.

“Kalau kita semua sepakat bahwa garis vertical membuat pemakainya lebih kurus, ya terjadilah itu. Kesepakatan itu menjadi wakta utuh.

75

Kadang begitulah, kita bisa dipersaudarakan oleh satu hal, tapi juga menjadi tidak dipersaudarakan dalam hal yang sama. Jalan terbaiknya ya kompromi.

76

Dalam hidup, kita selalu berusaha berkompromi. Dengan istri, dengan suami, dengan orangtua, dengan mertua, sesame besan. Satu-satunya yang utuh dan terus kita bentuk adalah kebebasan kita dalam melamun, dalam berimajinasi, dalam bermimpi.

81

Seharusnya aku bangga bisa merasakan lelehan timah ini, sebagaimana bangga dan melambung-lambung ketika jatuh cinta. Dua-duanya sangat terbuka untuk direkonstruksi, untuk direkayasa. Sebagaimana lelehan timah panas yang bisa dibentuk menjadi apa saja.

103

Kawi juga menangis, karena merasa terburu-buru. “Ling, bahkan dalam menangis pun kita sebenarnya tertawa. Bisa mensyukuri waktu…”

116

Semua bisa, karena Kawi hidup seperti yang lain. Dari satu peristiwa ke peristiwa. Dari peristiwa yang diciptakan sendiri atau bersama-sama, dari kenyataan yang terjadi atau dibuat sendiri, dari kebenaran yang selalu bukan satu.

118

Adalah suatu kesia-siaan ketika mencoba menghadang dengan pengertian dosa, atau salah, dan kemudian memberi hukuman atau marah.

Karena kebenaran sebenarnya hanya sebuah peristiwa.

Sebuah peristiwa yang tak selesai, walau untuk sementara.

127

Apa pun yang sudah ada, akan diubah. Karena ini kebebasan yang dimiliki. Kebebasan untuk lepas dari keterbatasan yang terlanjur diterima.

130-131

Ia ragu bukan karena takut kecewa, atau takut tidak bertemu atau harus mengubah apa yang selama ini diterima. Ia ragu kalau misalnya ada pertemuan, malah membuat Kawi merasa sesuatu yang salah, atau kalah, atau rendah. Karena bukan itu yang dimaui. Ia ragu karena sebenarnya ia hanya ingin mengatakan bahwa ia pernah mencintai, pernah bercinta dengan kawi, dan ingatan itu ternyata masih bisa ada dan membuatnya bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s