Surat dari Palembang : Nasib Sayu Si Tukang Perahu

Kadang aku masih tertawa, kalau mengingat-ingat persamaan kita yang istimewa. Tentang kota kelahiran kita yang tertukar. Sekarang aku masih di Palembang, kota kelahiranmu yang nyaris tak pernah kau kenal. Kota tempat aku tumbuh dan dewasa. Sebaliknya, kau sedang berlibur dua hari di kota tempatku lahir, Bandung. Kota yang begitu asing buatku itu, adalah kota tempat kau tinggal sejak kecil.

Sungguh, Guru Di, aku benar-benar berharap suatu saat nanti kita bisa menikmati Palembang berdua-dua. Berperahu menyusur Musi, dan bercerita tentang rumah-rumah rakit yang mengapung di atas sungai kecokelatan itu. Kau pasti akan membidik gambar banyak sekali.

Seperti hari ini, aku pergi ke Benteng Kuto Besak (BKB) bersama Ami, dia sahabatku. Wartawan juga. Kami dulu satu kampus, dia adik tingkatku.

Sewaktu masih kuliah, kami berdua sering sekali ke BKB ini. Hampir setiap sore, juga hari Sabtu dan Minggu, atau hari-hari libur lainnya. Kami berkeliling naik perahu getek, kadang membayar Rp3.500, tapi lebih sering gratis. Karena kakak-kakak tukang perahu getek ini hampir semuanya teman kami.

Kami suka sekali makan dan ngopi di warung kopi terapung Mang Ujuk. Mang ujuk berjualan setiap sore, dibantu istrinya dan juga Rais, anak laki-lakinya.

Warung kopi Mang Ujuk ini adalah perahu yang disulap jadi tempat tongkrongan. Meja diletakkan di tengah-tengah, membelah perut perahu yang lumayan besar. Lalu di kanan kiri diletakkan kursi-kursi plastik bulat. Di atas meja, ada piring-piring penuh makanan. Semuanya terlihat enak: tahu isi, pisang goreng yang tersaji panas-panas, pempek, bakwan dan segala macam jajanan. Kita juga bisa memesan indomie atau model atau tekwan.

Dulu, waktu belum terbiasa, makanan itu hanya kupandangi saja. Walaupun kepingin sekali, tapi tak sanggup memakannya. Karena kapal yang merapat di bibir BKB ini terus berayun mengikuti ombak. Bisa bikin mabuk. Tapi ketika sudah terbiasa, lima butir pempek pun bisa kukunyah tak berjeda. Hahaha….

Aku juga sering datang sendiri ke BKB. Kalau sedang ingin sekali asosial. Sekadar duduk-duduk di tepi sungai dan membaca buku. Angin sore yang mengacak-acak kerudung, kebisingan perahu getek dan bau mesin perahu berbahan bakar solar, menjadi teman-teman karib yang menemani sore.

Tapi hari ini kami datang terlalu siang. Perahu Mang Ujuk belum datang. Udara terik, langit biru cerah. Air sungai sedang tinggi, ombaknya memukul-mukul undakan tempat perahu-perahu ditambatkan. Kakak-kakak tukang perahu duduk merokok terkantuk-kantuk, berharap pelanggan datang.

Mereka masih tukang perahu yang sama. Waktu delapan tahun ternyata banyak menggerus umur. Kakak-kakak di hadapanku bukan lagi mereka yang gagah dan renyah candaan. Mereka tampak menua, rambut keperakan, tubuh yang letih dan garis-garis menarik-narik wajah mereka menjadi keriput. Cahaya mata mereka memamerkan harapan yang tipis.

Kak Ladi salah satunya. Senyumnya sumringah, seperti menyambut kawan lama. “Apa kabar? Lama tidak bertemu.” Ia menjabat erat tangan kami satu per satu.

Lalu ada pula Yadi, tukang perahu yang lain. Dia menyapaku akrab. “Ta… Kemano bae? Sombong sudah di Jakarta.” Ia tertawa-tawa. Kulitnya terlihat lebih gelap daripada terakhir kami bertemu dulu.

Aku tertawa, “Mana mungkin aku lupa sama kau, Yadi. Kita hampir tenggelam bersama di perahu. Gara-gara kau nyetir getek sambil lihat-lihat perempuan berkain yang mandi sore-sore. Masih suka kau lihat perempuan mandi kalau menyetir?”

“Idak lagi Ta..,” jawab Yadi terlihat malu.

*

Aku tak mungkin melupakan peristiwa itu. Aku dan Ami sedang duduk di ekor perahu, ketika Yadi menatap tak berjeda perempuan-perempuan yang mandi, saat kami menyusur Kampung Kapitan. Yadi tidak melihat perahu lain dari arah berlawanan sedang berbelok ke depan perahunya. Seharusnya Yadi memelankan kecepatan, memberi kesempatan perahu itu berbelok.

Aku dan Ami terbelalak. Karena paniknya, mulut kami tergembok. Otak memerintahkan kami memeringatkan Yadi. Tapi tak ada suara yang keluar. Hanya tangan yang mencengkram terpal penutup perahu kuat-kuat, mata terbelalak dan napas tertahan.

Penumpang di perahu seberang sudah berteriak-teriak. Tukang perahu memberi tanda. Tapi Yadi sedang mabuk perempuan, telinganya sedang tuli. Dan begitulah, “JEDERRR….!!!!!” Perahu bertabrakan. Perahu Yadi yang lebih besar bisa bertahan. Hanya sedikit oleng. Tapi perahu di depan yang lebih kecil itu nyaris terbalik. Para penumpang jatuh terjerembab mencium lantai perahu. Mereka memaki-maki Yadi yang mukanya melongo.

*

Kali ini kami memilih berperahu dengan Kak Ladi saja. Perahu Kak Ladi sudah bagus sekarang. Bisa memuat 30 penumpang. Berbeda dengan dulu, perahu geteknya kecil dan melapuk. Baunya apek. Berlumut pula. Paling muat 10 orang saja.

Dengan bangga, Kak Ladi memerkan perahu barunya ini kepadaku. Perahu getek ini dibelinya empat tahun lalu dengan harga Rp15 juta. Itu baru perahu saja, belum dengan atap dan aksesoris untuk memoles perahu. Kak Ladi harus menambah uang Rp6 juta lagi untuk menyempurnakan perahunya. Perahu berbahan kayu meranti itu dicat warna hijau dan biru.

Setiap pagi sebelum berangkat, Kak Ladi mengaku selalu melap perahunya hingga mengilap. Ia juga rajin mengecek kondisi perahunya secara berkala. “Kalau idak dirawat, wong nyeliknyo (melihatnya) jugo dak lemak. Kagek dak galak naik perahu kakak (nanti tidak mau naik perahu kakak).”

Kalau ada kayu yang mulai melapuk atau berlubang, itu tandanya Kak Ladi harus mengganti dengan kayu yang baru. Kalau kerusakan ada di dinding perahu, cuma butuh waktu sebentar saja untuk mengganti kayu. Yang merepotkan itu kalau kayu yang rusak di dasar perahu.

“Lamo itu. Butuh waktu seminggu. Biayanya tengah duo ratus (Rp150 ribu). Lamo kerno perahu harus dibalik dulu, dijungkirkan. Lalu dibalik lagi. Repot lah..”

Aku tertegun. “Lalu seminggu itu dak narik penumpang, kak?”

“Yo idak lah. Jadi dak dapet duit.” Senyumnya datar.

Perahu kebanggaan Kak Ladi itu dibeli dan dirawat dengan harapan yang menumpuk. Harapan mendapat penghasilan yang lebih baik untuk menghidupi istri dan dua anak laki-lakinya. Pariwisata kota Palembang yang mati-matian didongkrak pemerintah, membawa mimpi Kak Ladi akan memercik rejeki kepadanya, juga rekan-rekan senasib.

Tapi Kak Ladi dan tukang perahu lainnya tak bisa apa-apa selain mengigit jari, mengunyah mimpi dan harapan. Karena keberadaan mereka tidak ikut dihitung. Dermaga-dermaga kecil dibangun untuk memperpendek jarak. Orang-orang yang tadinya minta diantar ke kampung-kampung kecil di seberang sungai tak lagi memerlukan jasa tukang perahu tua seperti Kak Ladi.

Di dermaga-dermaga kecil itu banyak sekali tukang perahu baru, saling berebut rejeki. Ada juga deretan speed boat milik Dinas Perhubungan kota, yang bisa disewa untuk berkeliling Musi. Belum lagi kapal pesiar yang mewah-mewah itu. Pusing kepala kata Kak Ladi, kalau memikirkan semua itu.

Ongkos naik speed boat Dinas Perhubungan yang modern itu Rp500 ribu sekali jalan ke Pulo Kemaro. Lebih mahal dari tarif perahu getek macam Kak Ladi yang hanya Rp300 ribu, masih bisa ditawar pula. Tapi kapal getek itu kuno, jalannya pun lebih lambat. “Jadi orang-orang yang memilih gengsi, lebih suka naik speed boat itu. Lebih bagus, lebih modern dari getek,” tuturnya.

Menoleh kanan-kiri saja, sudah banyak perahu getek serupa. Kalau dulu hanya ada empat atau lima perahu saja, sekarang ada lebih dari 10 perahu di satu dermaga. Semua berdulur, rejeki harus dibagi sama. Tak boleh berebut, harus bergantian menarik penumpang.

Rejeki Kak Ladi menyusut. “Kalau dulu, setiap hari bisa bawa pulang uang sekitar Rp30 ribu. Sudah cukup itu untuk sehari-hari. Sekarang, dengan perahu besar ini, sekali angkut ke Pulau Kemaro bisa dapat Rp300 ribu. Tapi belum tentu seminggu sekali dapat uang. Malah sering aku tunggu seharian, pulang dengan dompet kosong. Tidak dapat penumpang satupun,” keluhnya.

Ada juga penumpang yang tega mengiris-iris hati Kak Ladi. Warga kampung di daerah Ulu, Palembang. Mereka kebanyakan orang susah seperti Kak Ladi. Tak mampu membayar banyak. Pernah ada 13 penumpang sekali angkut, hanya membayar Rp5.000 saja.

“Mau minta lebih nggak enak. Mereka orang susah juga. Tapi lama-lama kalau begini bisa bangkrut aku.”

Rejeki yang mengisut tak membuat Kak Ladi menarik getek dengan waktu yang lebih panjang. Ia tetap mengikuti jam kerja yang ia tetapkan sendiri. Berangkat pukul 10.00 pagi, dan pulang pukul 18.00 sore. Atau paling malam hingga pukul 20.00. Mata tuanya sudah tak sanggup menembus malam.

“Yang dipikirin itu tanggungjawabnya. Nanti orang malah mati di sungai kerno mato aku dak awas lagi. Padahal ini mau nyari duit yang bener.”

Begitulah, Guru Di. Aku melihat kemarahan yang terbakar di mata tua Kak Ladi. Kemarahan dalam ketidakberdayaan. Kemajuan pariwisata kota kelahiranmu ini, kata Kak Ladi, hanya untuk orang-orang yang dekat dengan pemerintah. Orang-orang yang punya uang. Bukan para tukang perahu yang mencintai dan merawat sungai ini sejak mereka dilahirkan.

Aku sempat bertanya pula, kabar dua anak laki-lakinya. Mungkin dulu, ketika aku dan Ami sempat menjadi relawan, mengajar di perkampungan rumah rakit, anak-anak Kak Ladi ikut belajar bersama kami.

Garis muka kecewa tak bisa ia tutupi. Suaranya parau ketika menuturkan Iman, anak sulungnya, yang berhenti sekolah di kelas 1 SMP. Anak itu merasa tak punya motivasi untuk belajar. Berpikir kalau sekolah itu tidak berguna. Sekarang anak itu kerjanya hanya makan tidur di rumah.

Kak Ladi sempat menanyai Iman, apakah ingin pindah sekolah. Dijawab geleng kepala. Kosakata laki-laki tua ini terbatas untuk menasehati anaknya. “Aku kecewa sekali. Apalagi dia anak paling besar. Laki-laki pula.”

Selapis harapan ia tumpukan pada Azwar, anak keduanya yang kelas 6 SD. Ia ingin Azwar sekolah tinggi, agar tidak bernasib jadi tukang perahu seperti bapaknya.

Detak rasa bersalah membebaniku, Guru Di. Anak-anak di perkampungan Ulu Palembang ini, memang kurang termotivasi untuk sekolah. Untuk belajar. Dulu juga aku, Ami dan teman-teman lain harus bekerja keras menarik mereka berhenti berjudi di pinggir sungai, dan belajar di rumah kayu. Anak-anak di Ulu perlu didorong, disemangati untuk belajar.

Selepas berperahu, cerita Ami menggenapkan nyeri tentang kawan-kawan lama di kampung Ulu. Gadis-gadis kecil yang dulu sempat ikut belajar, banyak yang menikah muda. Lalu Pak Ulil yang menjual bensin di atas rakit, kini sudah tua dan pikun. Juga tentang rumah rakit Kak Aziz yang sudah doyong dan akan tenggelam kalau terdorong sedikit. Kak Aziz tak punya uang untuk mengganti kayu-kayu rumahnya. Juga tentang besan Yuk Mina yang di penjara. Dan seorang teman yang dicerai suaminya, lalu menjadi pengedar narkoba. Pelanggannya adalah polisi-polisi berpangkat rendah.

Aku jadi berpikir, Guru Di. Merenung. Mungkin, seharusnya aku tidak pernah meninggalkan tempat ini. Tetap menjadi relawan dan mengajar di Ulu ini. Membagi semangat untuk mereka mewujudkan mimpi. Entahlah… Perasaan sedih dan rasa bersalah itu sekarang bergulung-gulung. Rasanya egois, karena aku mengejar mimpi diri sendiri. Sedangkan mereka tenggelam di sini.

-eNJe-

Kambang Iwak, 16 Desember 2012

catetan : yang bikin judulnya Guru Di

One thought on “Surat dari Palembang : Nasib Sayu Si Tukang Perahu

  1. mereka tak tenggelam,mereka sedang menantikan saudaranya yang tengah menjemput mimpinya datang kembali, membawa bahtera yang selama ini mereka impikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s