Nyanyi Sunyi Seorang Bisu : Permenungan dan Pengapungan-Pramoedya Ananta Toer

-Pramoedya Ananta Toer-

1
Jadi, setelah nanti sebentar kalian menikah, jangan sekali-sekali anakku dilarang atau dihalangi kalau dia mau meneruskan pelajarannya. Kedua, tidak aku ijinkan anakku dipukul atau disakiti. Ketiga, anak ini kau pinta padaku untuk diperistri secra baik-baik, kalau karena sesuatu hal kau tidak menyukainya lagi, kembalikan pula dia secara baik-baik padaku.

2
– 1969 kau tinggalkan RTC (Rumah Tahanan Chusus) Salemba, pamit untuk memulai hidup sebagai seorang istri. Beberapa kali kau masih melihat ke belakang sebelum pintu raksasa itu mengantar kau lepas ke jalan raya. Orang yang setelah pernikahan itu menjadi suamimu beberapa kali masih membungkuk memberi hormat. Dan waktu pintu raksasa itu kembali tertutup habislah sudah basa-basi itu. Kau memasuki bulan madu. Aku juga pergi. Ke pembuangan.

– Bagaimana harus dinilai? Karunia? Atau kutukan? Bila orang tak dapat membebaskan diri dari waktu yang tiga dimensi: lalu, kini dan depan?

– Dengan pimpinan sang harapan, dengan keringat sebagai lambang jerih payah sendiri, dengan masa kini sebagai titik tolak, dengan masa lalu sebagai pesangon, ia bergerak menuju ke happy land somewhere. Orang tak tahu pasti. Maka juga disusul oleh and it’s just a prayer away….

– Somewhere, anakku. Dan where to? Kau, negeri bahagia, di mana kau sesungguhnya? Orang dididik untuk percaya, negeri tujuan memang kebahagiaan itu. Dan kepercayaan yang diperoleh secara mudah bisa juga hilang dengan mudah.

– 16 Agustus 1969. Kau berbulan madu di happy land yang sudah jelas. Aku ke happy land somewhere : konon ke Pulau Buru di Maluku, sebuah pulau lebih besar dari Bali. Dan besok kalau tidak dibatalkan oleh entah siapa, 17 Agustus. Kami berangkat bersama lebih delapan ratus orng dengan kapal ADRI XV sebagi hadiah ulang tahun Republik Indonesia.

3
– Tidak akan kututup mata kepalaku, juga tidak mata batinku. Kapal ini akan membawa kami bersama masa depan dalam impian, dalam kepercayaan itu. Pulau Buru bukan the happy land somewhere. Dia hanya stasiun perantara. Juga untuk itu dibutuhkan kepercayaan.

– Kata orang, setiap di antara pulau itu adalah juga milik kami, juga setiap cangkir dari perairan antara dua samudra itu, Hindia dan Pasifik. Itu ajaran klasik di sekolah. Lebih nyata dapat dipegang adalah ucapan Peltu Marzuki di RTC Salemba: Kalian tak punya hak apa-apa selain bernafas. (Dan ternyata sudah sekian dari kami hak untuk bernafas pun dirampas). Ajaran klasik ternyata bisa bermuka dua. Bukan hanya laut, juga seluruh isinya. Seluruh bumi dan isinya, juga langit, garis lurus sampai akhir tatasurya kita. Antara kenyataan dengan janji sudah tak ada status quo.

3-4
Melihat langit pun tak ada lagi hak, jangan kan memiliki atau ikut memiliki. Seperti orang-orang Cina yang diculik dalam kapal Kapitan Bontekoe, seperti tawanan-twanan culikan Cina lain dalam kapal-kapal tokoh Michener yang diangkut ke Hawaii, seperti nasib empat juta penduduk afrika dalam kapal Inggris dan Amerika, menyeberangi Atlantik dibawa ke benua baru

5
– Namun, bergelimang dalam muntahan sendiri, semangat hidup mereka menyala. Tentu bukan karena porsi pertama di atas kapal nasi sepiring penuh dengan sepotong daging atau sepenuh telor : mereka ingin dapat saksikan akhir segala ini! Dan, karena hidup memang indah bagi mereka yang tahu menggunakannya, dan bagi mereka yang punya cita-cita. Ya, biarpun sekarang ini bangun dan tidur pun perlu dapat bantuan teman-teman yang masih sehat atau setengah sehat.

– Bila dalam hidupku pernah aku alami masa kelaparan yang panjang dan berat, wajarlah itu, biarpun makanku memang tak bisa banyak. Lapar diterima sebagai sahabat yang tidak menyenangkan.

– Dan kelaparan itu sendiri apalah bedanya antara pembunuhan sistematis dengan akibat kerakusan para pejabat? Biar yang berkepentingn yng menjawab. Setidak-tidaknya, dengan jatah penjra saja orang akan tewas. Volume makan kurang gizi? Volume dan gizi juga senjata di tangan pembunuh. Itu di jakarta. Bukan di Klaten tau sukoharjo atau Pacitan atau Kebumen yang jauh dari intipan mata internasional!

6
Waktu kami dijemur hampir sehari menunggu datangnya kapal di tanah lapang pelabuhan Sodong, sambil menyaksikan teman-teman lain dihantami para petugas karena bertukar pakaian pembagian – maklum pakaian itu tanpa mengindahkan ukuran badan yang menerima – kelapran itu sudah sampai pada titik tinggi kegarangannya. Kami yang berjongkok pada sejulur pagar bluntas beramai-ramai merengguti daun bluntas penuh debu jalanan dan mengganyangnya mentah-mentah tanpa dicuci lebih dahulu. Kalau ada air untuk mencuci pun ada, kami tak akan bisa meninggalkan barisan tanpa kena hajar. Dan jangan kau muntah melihat kami makan tikus kakus yang gemuk lagi besar itu, atau bonggol batang pepaya atau bonggol pisang – mentah-mentah – atau lintah darat yang ditusuk dengan lidi. Bahkan drs. J.P. bisa menelan cicak hidup-hidup setelah dipotesi telapak kakinya yang empat. Ia ahli menangkap cicak. Dengan ibu jari dan telunjuk ia menjepit tengkuk binatang celaka itu dan hewan perangkak itu pun disodorkan masuk ke gua tenggorokannya. Keberanian menantang kelaparan adalah kepahlawanan tersendiri.

7
Betapapun terhina dan dihina tapol RI ini, umumnya masih tahu dan ingat kebersihan yang pernah diajarkan orangtua dan sekolah dasarnya. Begitu memasuki ruangan yang ditunjuk, ruangan di mancung hidung haluan, di bawah dek, kontan balik kanan jalan, hidung disumbat. Ruangan itu penuh bukitan kotoran manusia. Kapaal ADRI XV-kapal yang masih diopersikan! Ai! Anak-cucu bangsa bahari! Tanpa diperintahkan pun langsung rombongan Jakarta mulai membersihkan ruangan keparat itu.

8
– Sekiranya kapal ini tenggelam – kami akan mati bersama, delapan ratus orang ini – dalam sekapan dengan semua pintu terkunci dari luar. Ah-ya, apa salahnya mati? Setidak-tidaknya kami masih bisa memberikan sesuatu pada dunia : cerita sensasi dan bagaimana pertanggungjawab akan kembali jadi bola volley.

– Jangan menyesal mengapa punya impian, merasa belum cukup dengan yang sudah ada. Sejak peristiwa 1965 itu aku telah kehilangan semua dan segala. Lebih tepat: semua dan segala ilusi.

– Dan seperti bayi-bayi selebihnya modal untuk berkomunikasiku hanyalah suaraku: jeritan, raungan, keluhan, rengekan. Dan bila modal komunikasi itu dirampas, ah ya, siapa yang bisa rampas hak untuk berdialog dengan diri sendiri? Dan yang dirampas itu akan berubah jadi energi lain yang akan mengguris abadi dalam kehidupan. Sentimental? Apa boleh buat, hanya batang kayu yang tak punya sentimen.

– Ya, sayang sekali aku tak dapat saksikan perayaan perkawinanmu. Hadiah-kawinmu pun hanya catatan semacam ini, dan tak akan sampai ke tanganmu pula. Empat tahun belakangan ini aku hanya mengikuti tudingan telunjuk orang untuk meninggali sel-sel beton atau kayu. Biar begitu tidak benar kalau tidak pernah ingat kepadamu.

9

–  Empat tahun tanpa tahu duduk perkara sungguh suatu kemewahan berlebihan, seperti lapisan tebal bedak pada muka buruk seorang nenek tua-renta.

– Besok 17 Agustus keberangkatan kami: hadiah ulang tahun kemerdekaan RI. Hadiah untuk mereka yang tak jemu-jemunya meyakinkan diri mereka sendiri-juga kami-bahwa kami adalah pengkhianat, pemutar-balik Pancasila. Dan selalu, tanpa pernah bisa membuktikan tuduhan mereka sudah menyemburkan tabir asap: harus tahu sendiri, merasa sendiri, (karena itu) instrospeksilah, mawas diri, beriman, beragama. Bersembahyang. Berdoa!

13
– Kebahagiaan sekecil-kecilnya perlu juga dipelajari bagaimana menikmatinya. Biarpun ke mana mata memandang memang hanya maut yang nampak: laut, kapal kakus, yang tak henti-hentinya bergerak dan terengah, peluru, bayonet, perintah, appel, tanda-pangkat, pestol, bedil, pisau komando.

– Orang bilang, bagaimana pun dan ke mana pun kau bergerak, kuburan juga tujuannya. Siapa pernah lahir, bersama dengan kelahirannya dia dijatuhi hukuman mati.

– Apa boleh buat, dalam kerangkeng, di atas kapal semacam ini, memang setiap kami merenungkan mati. Dan kroncong. Yang cengeng meliuk-liuk makin mendorong diri pada renungn itu. Kroncong sebelum kemerdekaan masih punya gairah, masih mengandung vitalitas-vitalitas bangsa yang belum merdeka. Kroncong sehabis dan selama revolusi justru tinggal jadi semacam narcisme, rangkaian kata kosong, masturbasiisme. Sejajar dengan pidatoisme dan wayangisme.

14
– Karena di dunia bebas dulu mereka mengenal nama itu, nama ayahmu. Memang keterkenalan tak lain dari produk sosial, bukan semata-mata tetesan keringat sendiri. Dan cukup menyebalkan keterkenalan dianggap senyawa dengan ke-tahu-segala-an, sebagai penguasa kebenaran. Mereka tak mau tahu, diri ini sama dengan mereka, sama-sama tapol, sama-sama tak tahu sampai kapan kami dibuang? Sampai mati atau sampai setengah pingsan saja? Kan itu semata-mata tergantung pada sudi atau tidak sudinya Barat menyimpan jatuh dan wajahnya yang demonik? Menyimpan di mana? Tentu saja dalam kopeknya.

– Yang orang paling tahu, kebebasan itu kepentingan para yang terampas dan tertindas. Banyak orang lupa, ia juga punya kepentingan yang merampas dan menindas. Hanya isi kepentingannya saja berbeda. Kepentingan tapol hanyalah kebebasannya, tidak lebih. Kebebasan murni. Kepentingan yang di seberang sana, wah, bermacam lagi. Tanyalah pada raja-raja modal yang sudah mengalami dan menyimpulkan segala dan semua, dan yang lebih penting : sudah mengatur semua.

14-15
Bagi bangsa yang sedang meremajakan nafsunya, semua saja dianggap jadi urusannya, maka patut bisa menjawab masalah-masalahnya. Namun pengarang tetap bukan sinterklas pembagi balsem dan param, dia cukup bersyukur bila bisa memberikan sejumput kesadaran.

15
Tanah ada dan air pun melimpah. Kedalaman laut Banda memberi jaminan bahwa air itu ada. Tidak percuma kau memilih jadi warganegara Indonesia, tanahnya luas dan lautnya lebih luas lagi untuk berkubur diri.

16
– Hadiah-kawin untukmu hanya permenungan dan pengapungan ini. Itu pun belum tentu akan sampai kepadamu. Tak ada harganya memang dipandang dari nilai uang yang membikin banyak orang matanya jadi hijau. Nilainya terletak pada kesaksiaan dan pembuktian sekaligus betapa jelatanya jadi warga negara Indonesia angkatan pertama. Boleh jadi untuk jadi warganegara Amerika atau Brazilia tidak akan sesulit ini. Sedang kewarganegaranmu kau peroleh cuma-cuma. mungkin juga kau tidak peduli apa kewarganegaraanmu.

– Nyaris empat tahun ditahan, memasuki tahun kelima justru berangkat ke pembuangan, tanpa tahu duduk perkara. Dan dibuang sebagai hadiah ulang tahun untuk segolong orang yang justru menghendaki kami qo-it! Mungkinkah sudah terjadi kekeliruan? Tidak, karena lebih seribu tahun lamanya wayang mengajarkan : bahkan para dewa pun bisa salah, bisa keliru, tidak kalis dari ketololan, dan : korup!

– Dan di bawah sana, di gunung-gunung karang sana, di laut dalam, ikan bandeng kesukaanmu itu bertelur. Nenernya bertebaran di pantai. Orang membawanya ke pasar bila sudah besar, dan seorang mengantarkan padamu di meja makan. Di bawah kapalku ada jutaan tongkol dan bandeng, tetapi tidak di atas piringku

17
Seorang di antara kami, memberi jaminan : ikan Maluku cukup bodoh dan tidak berpengalaman, kau umpani dengan batu pun akan kena. Dia sungguh seorang penghibur baik bagi mahluk kekurangan protein hewani.

18
Mereka mendarat di Namlea yang sedang dikalahkan garuda. Satu regu prajurit divisi Pattimura menyambut mereka dengan gagang senapan dan tinju.
Nah, pengantin baru, anakku, kau boleh ucapkan padaku : selamat untukmu, papa, tapol RI yang memasuki masa pembuangan, sebagai balasan atas hadiah-kawin semacam ini. Selamat untukmu, anakku, selamat untuk suamimu yang aku tak ingat namanya.
Sekarang giliran ayahmu menuruni kapal, naik ke LC untuk mendarat, setidak-tidaknya bukan di somewhere.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s