Nyanyi Sunyi Seorang Bisu : Kalau Dewa-Dewa Turun ke Bumi

-Pramoedya Ananta Toer-

21

Kami pulang ke barak masing-masing, mengikati bodol kami, mengurus perbekalan di gudang, dan menghadap lagi untuk menyatakan siap berangkat. Pada kesempatan itu aku tanyakan pada komandan, Letnan Kusnandi, bagaimana nasib naskahku yang telah diambil itu. Nanti bapak akan bertemu dengan Wadan Tefaat (wakil komandan tempat pemanfaatan), jawabnya, naskah itu ada pada beliau, cobalah minta. Aku tak pernah bertemu dengan Wadan Tefaat, Letkol Sutarto. Pada kesempatan pertama akan kupinta kembali.

22

Setelah makan siang kami meneruskan perjalanan yang berat setelah tenaga dipergunakan mencangkul di ladang jagung. Juga bawaan itu memberati langkah, dan tak ada seorang pun di antara kami punya persediaan minum, sedang matari membakar dengan puncak teriknya, biar begitu masih ringan daripada mereka yang bersepatu bot. Kami berjalan dengan cakar ayam.

23

Duduk di tengah-tengah mereka adalah seorang jangkung, berkulit langsat, mancung, berkepala agak tipis, dan sekaligus aku menduga berdarah arab. Tentu itulah Letkol Sutarto. Segera aku ajukan permintaan untuk mendapatkan naskahku kembali. Ia nampak heran. Aku keliru. Ternyata ia tak lain dari prof dr Fuad Hassan dari fakultas psykologi UI.

+

F.H. : Bagaimana? Apakah saudara di sini masih menulis?

P.A.T. : Kalau ada kesempatan atau tidak terlalu lelah. Pada umumnya kalau toh menulis hanya bisa selama seperempat jam dalam sehari, dan tiga atau lima menit untuk membaca.

24

Belakangan ini saya menulis sebuah roman tentang Periode Kebangkitan Nasional – sebagai periode, bukan sebagai peristiwa. Sudah kira-kira 170 halaman, berpegang pada ijin yang pernah diberikan pada saya. Yang saya baca adalah bacaan yang tersedia di unit kami dan buku-buku saya sendiri.

+

F.H. : Bagaimana pendapat saudara bila keluarga saudara didatangkan kemari?

P.A.T. : Sebelum menjawab pertanyaan ini perlu saya katakan, bahwa jawaban saya bersifat pribadi, tidak mewakili pikiran atau perasaan siapa pun kecuali diri saya sendiri. Bagi saya adalah tidak mungkin menerima tawaran yang demikian. Pertama karena istri saya menderitakan suatu penyakit. Kedua, walaupun sedikit atau belum berarti, saya telah mempunyai sumbangan pada bangun peradaban indonesia, maka karena itu anak-anak saya berhak mengecap peradaban itu. Dan yang demikian tidak mungkin bila mereka ada di Buru ini.

+

Sdr Dilar Darmawan ini adalah seorang dosen sastra Inggris pada sebuah universitas. Selama delapan tahun ini semestinya dia telah menghasilkan beberapa orang sarjana sastra Inggris yang baik. Sekarang kerjanya mencangkul. Berapakah nilai kerja cangkul ini dan apalah artinya dibandingkan dengan dua orang sarjana sastra Inggris, dua orang saja, yang semestinya dihasilkan sebagai nilai kerja? Saya yakin, bahwa kenyataan ini tidak menguntungkan Indonesia.

+

Tidak perlulah pemerintah pusing-pusing memikirkannya bagaimana tapol harus membangun pulau ini dan mengeluarkan banyak biaya untuk itu. Gampang saja : bebaskan mereka. Itu adalah pembangunan manusia Indonesia yang lebih baik.

25

Selama delapan tahun ditahan yang saya ketahui hanyalah pengalaman tahanan delapan tahun itu. Dan ini yang obyektif. Saya tidak tahu apa yang terjadi di luar sana.

+

Saya merasa diperlakukan tidak menurut hukum. Belum pernah saya dijatuhi hukuman oleh sesuatu pengadilan. Saya adalah seorang pengarang. Saya menulis dengan nama jelas. Sekiranya ada kesalahan atau kekeliruan dalam tulisan saya, setiap orang boleh dan berhak menyalahkan, apalagi pemerintah yang notabene mempunyai kementerian penerangan. Maka, mengapa saya ada di sini? Sekiranya saya bersalah, saya akan rela menerima hukuman.

26

Akhirnya ia menemukannya juga : ayahnya telah menjadi tapol. Karena ia sangat mencintai ayahnya ia tak mau pulang dan ikutlah ia dengan ayahnya, jadi tapol cilik. Beberapa waktu kemudian ayahnya dibebaskan. Si tapol cilik tidak. Bukan sampai di situ saja, dia justru dibuang ke Buru, sekarang di unit III, namanya Asmuni. Pendeknya tidak menguntungkan bagi pembangunan masyarakat Indonesia yang lebih baik, di samping kerusakan-kerusakan pada anak tersebut, karena penderitaan yang menahun.

+

Lihatlah, pada waktu saya diambil dari rumah, kepada mereka yang mengambil saya, saya berpesan agar menyelamatkan perpustakaan dan dokumentasi saya, yang bagi saya sangat berharga. Pada waktu saya dibawa ke kostrad, demikian juga yang saya sampaikan pada seorang letkol, yang pada waktu itu sedang ada (bertugas) di sana. Perpustakaan dan dokumentasi sejarah ini telah saya bangun selama 20 tahun. Saya katakan juga: kalau pemerintah mau ambil, ambilah, asal diselamatkan, karena bagaimanapun dia akan berguna bagi kepentingan nasional. Tapi apa yang terjadi? Dihancur-binasakan. Apakah ini menguntungkan bagi Indonesia? Saya tidak bicara tentang kekuasaan yang sedang berlaku. Saya bicara tentang Indonesia. Maka bila kami bersalah, berilah kami hukuman yang setimpal. Kalau tidak : bebaskan. Perlakuan terhadap kami tidak mendidik ke arah pembangunan masyarakat yang baik. Apa gunanya terpelajar itu belajar tentang prinsip-prinsip kemerdekaan kalau kebebasannya tidak terjamin? Dan bagi mereka ini penderitaannya bertambah lagi bila kehilangan kebebasannya, setelah mengetahui banyak tentang prinsip-prinsip tersebut.

34

M.L. (Mochtar Lubis) : Kau sudah mulai menggarap sejarah. Mengapa bukan tentang yang sekarang?

P.A.T. : Aku sudah muak tentang hal-hal yang tidak menyenangkan sekarang ini. Lagi pula kalau aku menulis tentang yang sekarang, nanti disalah-tafsirkan.

34-35
Gayus Siagian : Bukankah justru yang memuakkan itu yang harus ditulis?
P.A.T : Saya punya hak untuk menentukan apa yang saya tulis, yang dapat memberikan kepuasan individual pada saya. Dalam hal ini saya tidak peduli orang lain suka atau tidak.

35
Team universitas : Dari mana materi saudara?
P.A.T : Dari studi sebelum ditahan. Karena berdasarkan ingatan semata tentu banyak kekurangan
T.U. : Dari mana saudara mendapat kertas?
P.A.T : Saya punya delapan ekor ayam.
T.U. : Bgaimana saudara mendapatkan uang?
P.A.T. : Kadang-kadang ada pejabat membeli telor.
Mochtar Lubis : Susunlah daftar buku-buku, kirimkan padaku, nanti aku kirim.
P.A.T. : Terima kasih

36
Aku mau katakan sesuatu padamu, Mochtar, kami ini adalah nyawa saringan. Sejak di R.T.C. Jakrta sudah beberapa kali saja di antara kami yang mati, belum di Buru ini. Waktu kami di penjara Karang Tengah, Nusa Kambangan, pada sebuah papan tulis terbaca begini : Kekuatan empat ratus sekian, mati dua ratus sekian. Kemarin di Savanajaya, aku dapati seorang pemuda, seorang nyawa saringan, menggeletak selama 2 tahun di rumah sakit karena hepatitis. Nama anak ini Isnarto. Aku tidak rela anak ini mati setelah melalui saringan-saringan selama ini. Aku minta bantuanmu menolong jiwa anak ini.
+
Pada tahun 1948, waktu saya telah dua tahun dalam tahanan, saya merasa putus asa, dan siap untuk bunuh diri. Maka saya lakukan sesuatu dengan semboyan : bunuhlah aku bila tak dibutuhkan lagi oleh kehidupan.

41
Komandan Unit III Wanayasa Panglima menyampaikan kepada kami :
…………… Saya juga membawa oleh-oleh berupa alat-alat yang saudara-saudara perlukan. Alat-alat ini dibeli dengan harga mahal, oleh karenanya supaya digunakan sebaik-baiknya. Juga kepada Pak Pram dikirimkan beberapa buku yang diperlukan. (Catatan : Aku tak pernah menerimanya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s