Segelas Beras untuk Berdua-Sindhunata

5
Orang miskin itu harus selalu berjaga-jaga dengan hemat Nak, bahkan dari hasil yang sedikit sekalipun.

6
Saya akan berdosa kalau saya mengeluh pada Gusti. Diberi begini, ya saya terima begini. Kalau saya tidak menerima, barangkali mungkin saya akan susah.

11
Gusti itu adil. Kalau dia tidak adil yang diciptakannya itu hanya satu, orang baik-baik saja. Namun, karena dia adil, dia menciptakan bermacam-macam. Ada yang pincang, ada yang buta, ada yang menderita. Mereka-mereka ini buat pepak-pepak jagat, di samping yang baik dan bahagia,” kata mbok Tukinem

12
Sejauh orang bisa meraba, mbok Tukinem seakan mau mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil kalau Ia hanya mencintai yang baik dan bahagia. Keadilan-nya bukan karena menciptakan yang baik dan yang menderita, tetapi karena menyayangi baik orang baik dan bahagia, maupun orang yang malang dan menderita.

13
Suami saya pesan, kalau saya punya uang, ia minta dibelikan sagon. Ia juga bilang, kalau saya ada sangu, saya disuruh mengunjunginya. Kalau tidak punya, saya juga tidak boleh sedih, karena dia tidak apa-apa, hanya minta didoakan saja.

16
Saya orang miskin, terhina, tunanetra seperti kata orang. Namun, saya pernah nglakoni semuanya. Cuma maling, ngemis, kaya dan mati saja yang belum

16
Bikin pengki tak saban hari makan. Kalau lagi macet belum laku-laku, bisa tiga hari kagak makan. Bahkan pernah, 80 hari kagak makan,” kata Pak Raidi menuturkan kisah silamnya. Ketika itu sekitar tahun 1947. Boro-boro nasi! Pakaian pun cukup dengan karung goni.

20
Orang miskin dan terpencil seperti Pak Gacuk memang mudah berkesan, Jakarta ini seakan bukan miliknya, malah mendepaknya keluar dari wilayahnya.

21
Orang barangkali tidak pernah membayangkan bahwa kalangan seperti Pak Gancuk sering menjalankan kehidupan ekonomi sebagai rutin belaka tanpa asumsi apa pun, termasuk perhitungan untung rugi. Rutin itu seakan sudah menjadi sebagian nasib hidupnya. Padahal, tidakkah usah ekonomis sebenarnya adalah salah satu usaha untuk keluar dari jeratan nasib yang mengurung orang?

21
“Yang penting orang hidup ini bisa merasakan keenakannya. Jadi orang kaya belum tentu enak kan? Orang kaya malah capeknya nggak ketahuan. Jam 01.00 malam ia masih bereken. Ia masih belum tidur di pagi hari, sementara kita sudah mendusin,” kata Pak Gacuk.

22
Kemiskinan menjadi kawan hidupnya. Ia bahkan tak mempersoalkan lagi kemiskinan itu. Orang boleh terbelalak, kenapa bagi Pak Gacuk bahwa kemiskinan pun bisa membuat rasa keenakan? Maklum karena Pak Gacuk belum melihat realitas lain, kecuali kemiskinannya.

24
Berbagai jenis mainan datang berbondong-bondong dari Hongkong, China, Taiwan, Jepang, dan Singapura. Negara yang dari dulu terkenal pandai merongrong nafsu anak kecil terhadap mainan. Akan tetapi, ingatlah semuanya itu made-in luar negeri, seakan tak adalah orang di negeri ini yang juga bisa dan pandai memenuhi kebutuhan anak-anak untuk memiliki mainan yang sepadan. Sepadan dalam harga, sepadan dalam mutu maupun sepadan dalam kepribadian.

26
Percumalah menganjurkan menghormati barang produksi dalam negeri, sementara barang luar negeri masuk menggebu-gebu melanda negeri ini.

27
Hakikat dunia ini adalah perebutan. Setiap orang, kaya atau miskin, melek atau buta, dipaksa untuk mengambil bagian dalam perebutan itu. Kalau ia tak mau ikut, ia akan ditinggalkan kehidupan.

29-30
Pak Sa’i seharusnya sudah menyerah dalam persaingan mencari nafkah. Bukan hanya karena matanya buta, tetapi juga karena penghasilannya yang sedikit sekali. Namun, lelaki tua itu tak kenal lelah berusaha. Seakan ia tahu belas kasih itu sulit mendapat tempat dalam dunia yang pada hakikatnya lebih berisi perebutan ini.
Pak Sa’i tidak hidup di luar dunia ini. Maka meski meraba-raba dalam kegelapan, ia harus mengikuti irama sifat dunia. Pak Sa’i memang tak kenal putus asa.

32
Seperti manusia, nasib kuda pun ternyata tidak sama. Ada yang boleh gagah dan indah, seperti kuda milik kaum berada. Ada yang bersolek pun tak pernah seperti kuda pekerja, walaupun mereka sudah membantu pemiliknya.

38
Maut seperti punya perasaan. Terhadap orang yang sok-sokan, maut seperti tak kenal kasihan. Lihat saja berapa korban jiwa akibat kebut-kebutan. Namun, terhadap orang seperti Ateng, maut seperti punya rasa sayang. Tak banyak terdengar kabar pekerja bangunan jatuh dari ketinggian, walaupun ratusan di antara mereka bekerja seperti Ateng, menuruti keinginan zaman ini yang suka akan bangunan tinggi-tinggi. Barangkali maut pun tahu bahwa Ateng tidak mencandanya dengan sengaja, tetapi karena terpaksa.

49
Johana punya pandangan agar kita jangaan mau kalah dengan Belanda. Johana ingin agar murid-muridny duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan Belanda. Satu-satunya cara membekali mereka dengn pendidikan yang tak kalah dengan pendidikan Belanda,” kata Dick Hartoko.

62
Murni mungkin merasa, betapa pun cacat dan jelek, Pak Dadi adalah ayahnya. Dan lebih dari semuanya-justru dalam keadaan yang tidak sempurna-Pak Dadi telah memberikan segala usahanya untuk anaknya.

64
Dadi bisa sedikit baca tulis. Tentu saja ia menulis dengan kakinya, karena tangannya tak mungkin digunakan. Ini saja membuktikan bahwa ia tak pernah menyia-nyiakan hidup ini. Barangkali usahanya yang tak kenal lelah ini membuat ia dianggap sebagai manusia biasa, sampai Mbok Mintuk mau kawin dengan dia.

69
Buat saya kaya dan miskin itu sama, Nak. Ada yang kaya, tetpi tidak merasa puas akan apa yang dimilikinya. Lihat saja, orang kaya-kaya itu. Sudah punya mobil dua, ingin tiga. Sudah punya rumah, ingin bungalow. Sudah ada sport tenis, ingin golf. Orang kaya itu tak pernah tidak sambat. Memang kemewahan itu tak pernah berhenti untuk puas,” katanya.

Teori hidup adalah menghemat sebisa-bisanya untuk anak cucu. Orang-orang kita yang terkenal dan kaya raya serta jadi tokoh pembesar sekarang ini berkat keprihatinan sesepuhnya dulu. Maka salah kita orang-orang tua sekarang inilah, kalau anak-anaknya kemudian tidak bisa hidup sederhana dan menjadi tidak karu-karuan.

79
Orang berjalan akan berhenti karena lelah; orang makan akan berhenti karena kenyang; tapi orang yang mencari kesenangan, tidak akan ada habis dan berhentinya, karena kesenangan memang tidak ada batasnya.

116
Menurut Ibu Teresa, mati tak lain tak bukan adalah pulang ke Tuhan. Karena itu mati dalam kedamaian Tuhan seharusnya menjadi tujuan terakhir hidup manusia. Maka Ibu Teresa memberikan cintanya, agar mereka yang menghadapi ajal dapat pulang dalam kedamaian itu.

117
Musik memang mudah memancing rasa haru justru bila ia menuturkan keadaan yang sebenarnya tanpa sentimen atau kebencian terhadap apa pun.

118
Saya ingin membantu siapa pun untuk menunjukkan cinta kepada sesaama. Jika mereka membantu saya, mereka membantu yang miskin. Saya tak pernah menerima bantuan uang di bawah syarat apa pun kecuali cinta kasih.

119
Kematian Ibu Teresa maupun Putri Diana telah menyentakkan orang, seakan ada sesuatu yang lebih besar di luar waktu tetapi menguasai waktu, yakni cinta. Kematian mereka seakan mengatakan, cintalah yang harus menjadi isi dari waktu dan tujuan perjalanan waktu

123
“Ada banyak manusia mati karena sepotong roti, tetapi juga banyak manusia yang mati karena cinta yang tak dimilikinya,” kata wanita tua dan miskin dari Calcuta itu. Diana menderita karena tak memeroleh cinta. Di luarnya Diana kelihatan kaya, tetapi di dalamnya ia sebenarnya miskin. Dalam bahasa Ibu Teresa, ia menderita a poverty of loneliness.

124
Hidup itu berjalan dalam petualangan dan bukan bertahan dalam ketentraman. Jika ia tidak siap untuk menderita karena petualangan itu, dan belajar dari penderitaan itu, ia akan kehilangan kesempatan untuk tumbuh mengatasi dirinya. Diana mulai meninggalkan impian kanak-kanaknya dan terjun menghadapi realita.

151
Sudah tentu, di tengah jalan Mbah Setro juga dilanda rasa haus dan lapar. Namun, tak pernah ia mengalah untuk memuaskan rasa haus dan lapar itu, misalnya dengan jajan. “Saya khawatir, sekali saya jajan, saya jadi wanuh (terbiasa). Lalu lain kali saya ingin jajan lagi. Uang saya sedikit. Buat jajan, bisa cepat habis,” kata Mbah Setro.

175
Ia tak membenci kekayaan walaupun ia mencintai kemiskinan. Ia hanya mengharapkan “tepo seliro” dari si kaya terhadap si miskin. Sementara ia sendiri yakin kemiskinan pun mempunyai kebesaran, yang tak perlu mengharapkan tetesan dari kekayaan.

181
Guntur mencoba mengolah sapu yang sederhana itu menjadi sarana yang bisa menghasilkan makna. Memang, kata Guntur, makna itu tidak usah dicari di langit nun jauh di sana. Makna dapat ditemukan dengan mudah di madypada, di Bumi tempat kehidupan rakyat biasa.

Makna itu tidak usah dicari di langit nun jauh di sana. Makna dapat ditemukan dengan mudah di madyapada, di bumi tempat kehidupan rakyat biasa.

182
Uang itu hanyalah akibat bukan tujuan dari apa yang saya buat. Saya tak pernah susah karena tidak punya uang. Senang itu tak tergantung pada materi, tetapi pada rasa. Orang yang beruang bisa saja susah, kalau memang rasanya susah. Sebaliknya, orang bisa senang, walau tak punya uang, kalau rasanya memang senang, kata Guntur.

4 thoughts on “Segelas Beras untuk Berdua-Sindhunata

  1. “Ada banyak manusia mati karena sepotong roti, tetapi juga banyak manusia yang mati karena cinta yang tak dimiliki..” (h. 123) hadeeuhh😀 sayah malah belon baca buku inih😀

  2. Selamat dini hari Mbak🙂
    Salam kenal dari saya, Priit Apikecil. Saya tinggal di Jember.
    Saya ingin sekali membaca buku ini. Bagaimana saya bisa membelinya ya Mbak?
    di beberapa btoko buku online, buku ini sudah habis. Mohon konfirmasinya ya Mbak. Terima kasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s