Catatan buku yang dibaca Januari

  1. In Her Shoes (chicklit) – Jennifer Winer
  2. Lelaki Tua dan Laut – Ernest Hemingway
  3. Bukan Pasar Malam – Pramoedya Ananta Toer
  4. Daughter of Fortune – Isabel Allende
  5. Buku saku Paman Gober nomor 140 (tahun 18)
  6. Buku saku Paman Gober nomor 142 (tahun 18)
  7. Blur – Bill Kovac dan Tom Rosenstiel
  8. Genghis Khan, Badai di Tengah Padang (buku II) – Sam Djang
  9. Cause Celeb (chicklit) – Helen Fielding
  10. Gadis Pantai – Pramoedya Ananta Toer
  11. Jurnalisme Sastrawi, Antologi Liputan Mendalam dan Memikat – Andreas Harsono dkk

*ini catatan untuk diri sendiri, menjaga semangat membaca

Saripati Buku : Gadis Pantai – Pramoedya Ananta Toer

(12) Ia tak tahu apa yang di hadapannya. Ia hanya tahu: ia kehilangan seluruh hidupnya. Kadang dalam ketakutan ia bertanya: mengapa tak boleh tinggal di mana ia suka, di antara orang-orang tersayang dan tercinta, di bumi dengan pantai dan ombaknya yang amis.

(83) Kalau kau kuat sekalipun, jangan kau tantang maut kalau tak perlu.

(87) Betapa mahalnya pengetahuan di sini. Aku harus belajar segala, dari membatik, menyulam, sampai membaca dan mengaji. Terkecuali belajar tentang suami sendiri, bahkan juga pendapat suami tentang istrinya.

(88) Ia tahu dengan tepat pula: ia hanyalah hak milik Bendoro. Yang ia tak habis mengerti mengapa ia harus berlaku sedemikian rupa sehingga sama nilainya dengan meja, dengan kursi dan lemari, dengan kasur tempat ia dan Bendoro pada malam-malam tertentu bercengkrama.

(98) Mas Nganten, tambah tinggi tempatnya tambah sakit jatuhnya. Tambah tinggi, tambah mematikan jatuhnya. Orang rendahan ini, setiap hari boleh jatuh seribu kali, tapi ia selalu berdiri lagi. Dia ditakdirkan untuk sekian kali berdiri setiap hari.

(105) Sahaya pernah dengar orang bilang, Bendoro, orang bawahan selalu lapar, karena itu matanya melihat segala-galanya, kupingnya dengar segala-galanya dan hatinya seakan segala-galanya, sedang jantungnya deburkan darah buat segala-galanya.

(119) Mbok, kau mau lawan kejahatan ini dengan tanganmu, tapi kau tak mampu. Maka itu kau lawan dengan lidahmu. Kau pun tak mampu. Kemudian kau cuma melawan dengan hatimu. Setidak-tidaknya kau melawan.

(120) Kau tidak mengabdi kepadaku, man, tidak, man! Kalau kau cuma mengabdi kepadaku, kalau aku tewas dan kau tinggal hidup, kau mengabdi kepada siapa lagi? Kau cari Bendoro baru, kalau dia juga tewas? Tidak, man, tidak. Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air.

(133) Ia tersedan-sedan di sini. Semua pada banting-membanting. Buat apa? Buat apa? Ia merintih buat kehormatan dan nasi. Di sana di kampung nelayan tetesan deras keringat membuat orang tak sempat mendapatkan nasi dalam hidupnya terkecuali jagung tumbuk yang kuning. Betapa mahalnya kehormatan dan nasi!

(138) Besok kau mulai tinggal di kota, nduk, jadi bini seorang pembesar. Kau cuma buka mulut, dan semua kau maui akan berbaris datang kepadamu. Kau tinggal pilih. Ah bapak. Bapak. Itulah dunia yang kau tawarkan padaku, dunia serba gampang, cuma hati juga yang berat buat dibuka, mesti tinggal memilih dan tinggal meminta. Ah, bapak. Bapak. Aku tak butuhkan sesuatu dari dunia kita ini. Aku cuma butuh orang-orang tercinta, hati-hati yang terbuka, senyum tawa dan dunia tanpa duka, tanpa takut. Ah, bapak. Bapak. Sia-sia kau kirimkan anakmu ke kota, jadi bini percobaan seorang pembesar.

(156) Lebih dua tahun aku tinggal di kota, sampai akhirnya kau datang. Dan baru sekarang ini aku tahu, orang-orang kita, orang-orang berbangsa itu, begitu takutnya kalau orang tidak lagi menghormatinya. Dan mereka begitu takutnya kalau terpaksa menghormati orang-orang kampung.

(159) Apa yang oh? Kau ini aku tertawa tak boleh, begini salah, begitu salah, apa yang oh? Kami memang orang miskin, dan di mata orang kota kemiskinan pun kesalahan. Aku masih ingat pada hari-hari pertama. Bendoro bilang kami orang-orang jorok, tak tahu iman, itu miskin, kau mengerti agama?

(174) Ternyata cuma segumpil kecil saja kelegaan yang diperoleh Gadis Pantai. Pasang-pasang mata yang menyinarkan pandangan tak wajar padanya, kesopanan yang dibuat-buat, kekakuan yang menjengkelkan. Terutama orangtuanya yang begitu jauj terhadapnya, menyebabkan ia merasa seperti batu karang tunggal, tak punya suatu hubungan dengan dirinya, terkecuali laut yang mengandung kesepian.

(177-178) dia bilang, kita ini tak sempat apa-apa. Kaya tidak, cukup tidak, surga tidak, mati pun cuma dapat neraka. Habis segala-galanya tak sampai.

(179) Ah, bapak. Aku cuma ingin diperlakukan seperti dulu. Pukullah aku kalau aku bersalah. Tapi jangan cabarkan hatiku semacam ini. Apa tak cukup penanggunganku di kota? Apa kurang banyak yang kuberikan buat penuhi keinginan orangtua jadi bini priyayi? Mengapa sesudah seumur ini bapak sendiri bersikap begitu? Dan emak hampir-hampir tak mau bicara padaku. Apa dosaku?

(180) Gadis Pantai berhenti, meneleng ke belakang. Mengawasi bapak yang berjalan menunduk dengan pandang menggaruk pasir. Pemberani itu yang menentang laut melawan badai, mengaduk laut, menangkap ikan setiap hari… Betapa jadi kecil hatinya kini hanya karena berada di dekat anaknya sendiri, dan anak yang jadi bini kecil priyayi.

(183) Kotor! Miskin! Kurang beriman! Neraka! Ia tak pernah dengar kata-kata itu sebelum ke kota. Dan kata-kata baru itu banyak mengacaukan otaknya. Bagaimana ikan asin bisa dibuat kalau orang tak berani tarik ludes isi perut setiap ikan yang menggeletak di atas nampan? Binatang-binatang itu akan busuk dan sia-sia saja kerja kepahlawanan bapak dan abang-abang. Dan bau amis jala. Dan seluruh laut! Minyak wangi? Memang menyenangkan, tapi dia tak kuasa panggil ikan datang ke rumah manusia dengan sukarela.

(184) Di kota setiap orang baru selalu ditetak dengan tanya: siapa nama? Dari mana? Di sini, orang tak peduli Mak Pin datang dari mana. Tak peduli Mak Pin gagu. Tak peduli sekalipun dia kelahiran neraka.

(185) Orang-orang tertawa bergegar-gegaran. Gadis Pantai menghela nafas, itu tertawa manusia kampungnya: lepas, bebas, bukan tertawa budak di depan Bendoro.

(198) Tapi nenek-nenek pun tiada sudi jadi bini lelaki malas.

(208) Ah, sebodoh-bodoh orang kampung, dalam kepepet akal mereka selalu jalan.

(238-239) sekarang setiap Bendoro pulang dari bepergian, hampir tak pernah bawa oleh-oleh lagi. Ia pun tak mengharapkannya. Gedung ini lambat-laun membikin ia belajar tak mengharapkan sesuatu apa. Dari mengontrol dapur ke pekerjaan batik, dari berbelanja di emper dapur sampai melayani Bendoro, dari malam-malam Jumat yang lowong sampai pada malam-malam lainnya, semua itu terhampar di hadapan dan di belakangnya, laksana jalan-jalan sunyi-senyap. Hanya seorang saja yang menempuh jalan itu, dia sendiri.

 

BLUR-Epilog (Bill Kovac dan Tom Rosenstiel)

(207) Ketika semua berita datang dari sumber lingkaran kedua, orang berhenti merespon kebenaran, dan hanya merespon pendapat. Lingkungan tempat mereka beraksi bukanlah realitas, melainkan lingkungan semua berisi laporan, rumor dan tebakan. Seluruh referensi pemikiran berasal dari pernyataan orang, bukan dari fakta.

(209) Pers yang bisa menyentuh lebih banyak orang secara lebih penuh tak akan menjadi pers bodoh dengan menjadi kian populis. Ia justru akan jadi pers yang mampu, dengan lebih banyak sumber daya, lebih banyak orang untuk mengumpulkan berita, dan lebih banyak kecakapan. Pers yang hanya menyasar kaum elit, karena lebih muda, adalah pers yang tak hanya menjatuhkan tugas dan tanggung jawab konstitusionalnya yang lebih luas. Ia bisa dikatakan mencari jalan pintas. Ia berhenti mencita-citakan jurnalisme yang lebih baik.

(210) Prose situ kini menjadi milik publik. Meja makannya adalah web. Dan wartawan harus berada di tengah orang-orang, membedah pekerjaan yang dulu tak bisa diakses warga, kadang panen pujian dan kadang kecurigaan.

(211) Jurang informasi abad ke-21 bukanlah antara siapa yang punya akses internet dan yang tidak, melainkan antara yang bisa menciptakan pengetahuan dan mereka yang sekadar menjalankan proses mengiyakan prasangka, tanpa mau berkembang dan belajar. Ia adalah jurang pemisah antara alasan dan takhayul.

++++

OKEEEEIII saripati Blur sudah selesai. Setelah serapan dan internalisasi dalam diri, semoga bisa diimplementasikan. Harus bisa liputan dan menulis lebih baik. Semangattttt…!!!!!

BLUR-Apa yang kita butuhkan dari “jurnalisme era baru” (Bill Kovac dan Tom Rosenstiel)

(178) Berita hari ini yang dikabarkan koran tak lain adalah campuran fakta, propaganda, rumor, kecurigaan, gelagat, harapan dan ketakutan. Dan tugas memilah serta mengurutkan berita adalah salah satu tugas suci dan mulia dalam demokrasi. Mengingat koran adalah kitab suci demokrasi secara harfiah, yang menjadi acuan orag memutuskan tingkah lakunya.

(180) Kami menggarisbawahi norma yang dicita-citakan jurnalisme professional. Nilai itu meliputi independensi, verifikasi, kesetiaan utama pada warga ketimbang pada kepentingan politik atau korporasi, berdedikasi untuk menimbang kejadian ketimbang komitmen untuk memaksakan hasil spesifik atau solusi kebijakan.

(181) Dua perubahan ini, ketergantungan pada sumber beragam dan konsumsi berita berkelanjutan, merepresentasikan pergeseran drastis yang berimplikasi besar terhadap pembelajaran publik. Alih-alih mendapat satu berita menyeluruh dalam sekali waktu dan berurutan, memindai koran atau menonton siaran berita, kita kini memperoleh satu berita satu waktu, subyek demi subyek, pada waktu berbeda dan dalam bentuk pecahan.

(182) Bergesernya ketergantungan pada satu perusahaan media sebagai penyedia berita utama adalah makna penting berubahnya peran pers sebagai penjaga pintu.

(183) Jurnalisme mesti berubah dari sekadar sebuah produk –berita atau agenda perusahaan media- menjadi pelayanan yang lebih bisa menjawab pertanyaan konsumen, menawarkan sumber daya, menyediakan alat. Pada tingkat ini, jurnalisme harus berubah dari sekadar menggurui –mengatakan publik apa yang ia perlu tahu- menjadi dialog publik, dengan wartawan menginformasikan dan memfasilitasi diskusi.

Namun, bukan berarti profesionalisme dalam berita kini usang, atau bahwa berita bertutur tak lagi relevan. Mereka, dengan sendirinya, bagaimanapun juga, tak lagi cukup.

Ide pentingnya adalah: pers ke depan akan memperoleh integritas berdasarkan jenis konten yang disampaikan dan kualitas pekerjaan, bukan dari fungsi eksklusifnya sebagai penyedia informasi tunggal atau perantara antara sumber berita dan publik.

Pekerja pers harus mengganti ide tunggal dari pers sebagai penjaga pintu satu-satunya, menjadi ide variatif yang lebih baik berdasarkan keperluan konsumen akan berita –khususnya berita mendalam, ketimbang sekadar komentar atau diskusi.

(184) Kita akan membutuhkan pers untuk membantu mensahihkan fakta yang benar dan dapat dipercaya.

Kita perlu beberapa cara untuk memilah antara yang bisa dipercaya dan akurat (di tengah belantara argumen yang kian lebat), antara pokok pembicaraan dan plintiran, realitas alternatif sumber partisan yang kini bicara terlalu bebas melalui jurnalisme pernyataan dan pengukuhan, dan dari media korporasi dan partisan yang terus bertambah.

Untuk menjalankan peran penyahih ini, tetap diperlukan tingkat keahlian lebih tinggi di ruang redaksi, khususnya di cabang wilayah subyek mereka. Ia juga akan memerlukan wartawan yang menyediakan informasi dengan dokumentasi dan transparansi ekstra mengenai sumber dan metode.

(185) Jurnalisme juga sangat cocok memainkan peran penuntun akal –untuk meletakkan informasi pada konteks dan mencari kaitannya hingga konsumen bisa memutuskan apa makna berita itu bagi kita.

Wartawan verifikasi mesti membantu kita melakukan ini. Mereka harus mencari informasi bernilai, tak hanya baru, dan menyajikan dengan cara yang bisa dipahami sendiri oleh membaca.

Membangun makna tidaklah sama dengan menginterpretasi berita.

Upaya membangun makna mensyaratkan pencarian keterkaitan antar fakta untuk membantu menjawab pertanyaan kita. Termasuk, mencari informasi yang menjelaskan kenapa dan bagaimana sesuatu terjadi. Perlu penjelasan tentang implikasi berita dan mengenali pertanyaan yang tak terjawab.

Peran penuntun akal, dengan kata lain, bukanlah sekadar peran komentator. Ia bersifat mendalam, dengan pencarian fakta dan informasi yang, sebagaimana tujuan penuntun akal, menjadikan semua saling terkait.

(186) Pers berposisi sebagai jaksa independen yang menyortir, dan dengan kekuatan lampu senternya, ia membentuk, tak sekadar mengikuti, agenda baik dalam konteks membongkar pelanggaran hak publik atau mengubah paradigma.

Di sini, pers memainkan peran penting hanya dengan muncul, mengada di sana. Keberadaannya menjadi cahaya yang memastikan demokrasi tetap hidup. Di era baru sekarang, pers yang lemah tak boleh merajalela. Langkah penting di sini, minimal, adalah mengenali tempat yang mesti diawasi dalam komunitas demi keutuhan dasar masyarakat sipil, dan hadir yang dengan kehadirannya itu mengisyaratkan pesan kepada penguasa bahwa mereka diawasi.

(187) Di titik ini potensi dibentuknya kemitraan baru dengan warga, ikatan baru yang bisa memperkuat komunitas.

Jurnalisme lebih mudah menggarap berita yang sudah dibicarakan banyak orang, ketimbang fokus pada persoalan yang terlupakan. Lebih mudah menambahi percakapan yang ada ketimbang menciptakan yang baru. Namun untuk menghadirkan saksi, kita perlu jurnalisme untuk melakukan upaya khusus mengumpulkan berita yang tak dihiraukan orang lain, dan tak cuma meramaikan koor yang sudah ada demi menggenjot lalu lintas web berita. Di titik ini, media baru sangatlah kuat.

(187-188) Dan ini semua diawali dengan kesadaran bahwa konsumen atau warga adalah mitra penting, yang didengar dan dibantu, bukan diceramahi. Proses kemitraan ini juga membantu jurnalisme jadi lebih baik dengan memaksa mereka berpikir lebih keras meletakkan informasi dalam konteks berguna, lengkap dengan cara menyikapinya, dan memberitahu bagaimana mereka bisa melakukan itu, dan ke mana mereka bisa dapat informasi lebih, bahkan ketika peristiwa masih berlangsung, tak hanya setelah selesai. Hasil akhir dari semua itu adalah dialog berkesinambungan.

(189) Para wartawan, khususnya yang lokal, juga musti membantu terbentuknya diskusi dan wacana yang melibatkan warga secara aktif.

(190) Dan pada satu titik yang tak mungkin dipahami konsultan pemasaran dan merek, publik telah menangkap sinisme dan keburukan di balik slogam “memihak anda,” untuk “mengabdi pada anda,” dan sebagainya.

Jika tak menyajikan pelayanan apapun, ia hanya menyia-nyiakan waktu dan sumber daya konsumen berita yang kian proaktif dan penuntut. Berita dengan nilai terbatas atau sepotong-potong adalah tanda bahwa sebuah media tak memberi cukup pelayanan.

Jurnalisme, dengan kata lain, tak menjadi usang. Ia hanya menjadi lebih rumit.

(191) Teknologi secara drastis memberi tanggung jawab dan kapasitas lebih bagi pencari berita. Internet tak hanya menciptakan jurnalisme baru; tapi membuat jurnalisme lebih baik, yang menggali dan bersinggungan dengan publik lebih dalam.

(191-192) Daftar elemen web :

  1. Grafik yang bisa diatur atau diubah pengguna.
  2. Galeri foto (yang dibuat oleh staf ataupun warga).
  3. Tautan yang menempel di kata kunci berita yang mengarahkan pembaca ke definisi atau elaborasi.
  4. Tautan menuju pembuat berita dan organisasi yang disebut dalam berita dengan biografi dan detil lain.
  5. Tautan yang mendukung fakta kunci dalam berita, termasuk dokumen atau materi utama.
  6. Transkrip lengkap wawancara.
  7. Wawancara video atau audio.
  8. Biografi penulis berita.
  9. Jadwal interaktif berisi peristiwa kunci yang menjadi latar belakang kejadian berita sekarang.
  10. Basis data yang relevan dengan berita dan bisa dilayari, beberapa ada di situs media tersebut.
  11. Daftar pertanyaan yang sering diajukan soal isu terkait dengan berita.
  12. Tautan menuju blog yang juga mengupas atau bereaksi terhadap berita tersebut.
  13. Undangan masuk ke materi “sumber khalayak” di berita atau pertanyaan yang muncul dari berita itu –saat media meminta informasi pada pengunjung tentang elemen berita yang belum lengkap.
  14. Kesempatan bagi warga untuk memberi tahu media tentang informasi yang ingin mereka ketahui.
  15. Latar belakang tentang apa yang bisa dikerjakan pembaca terkait dengan isu yang diberitakan.
  16. Tombol untuk “membagi berita ini” ke situs sosial media seperti Digg dan reddit.
  17. Koreksi dan update berita, dengan crossout dan ad-denda yang dimasukkan langsung ke teks asli.

Dibandingkan dengan kondisi yang melingkupi media cetak, data yang melingkupi jejaring informasi di web kian padat, luas dan dalam. Web menyajikan potensi liputan lebih kaya dan karenanya pehamaman yang lebih baik.

(193) Di situasi ini, wartawan yang dulu ibaratnya membangun rumah dengan hanya bermodal palu, gergaji, obeng, dan tangga, kini bisa memanfaatkan semua alat yang dijual di toko bangunan.

(194) Pers harus lebih transparan tentang bagaimana dia memverifikasi berita, sehingga publik bisa tahu mengapa pers mesti dipercaya dan mereka bisa membangun proses verifikasinya sendiri.

Transparansi adalah alat ukur kepercayaan terbaik di dalam informasi yang disediakan perusahaan pers. Transparansi adalah cara mereka menciptakan kredibilitas.

Ide dasar transparansi cukup sederhana: jangan pernah menipu audien. Katakan pada mereka apa yang anda tahu dan apa yang anda tidak tahu. Katakan pada mereka siapa sumber anda, dan jika anda tak bisa menyebut sumber, katakan pada mereka di posisi seperti apa sumber tersebut sehingga dia bisa tahu dan bias apa yang mungkin dia miliki. Dengan kata lain, sediakan informasi itu sehingga orang bisa melihat bagaimana ia dibangun dan bisa membentuk sikap tentang apa yang dipikirkan.

(195) Para wartawan perlu tetap berpikiran terbuka –tak hanya terhadap apa yang mereka dengar tapi juga tentang kemampuan mereka memahami. Wartawan tak boleh berasumsi. Mereka mesti menghindari sikap arogansi terkait dengan pengetahuan dan harus memastikan telah memasukkan asumsi mereka ke dalam proses verifikasi.

Jaringan itu berisikan orang yang setuju menyediakan beberapa latar belakang detil dan informasi personal. Mereka dikelompokkan berdasarkan profesi, lokasi, umur, agama, etnis dan minat. Perusahaan pers mengirim pertanyaan seputar berita, memindai dan memilih respon yang mengandung perspektif atau wawasan khusus atas subjek berita.

(196) Jaringan Public Insight Journalism memilih menyuruh reporternya mengejar fakta bahwa kenaikan harga bensin membuat penyedia layanan kesehatan pedesaan sulit mendatangi pasien mereka, sehingga melahirkan berita tentang kesehatan publik yang jauh lebih penting dikupas.

Jurnalisme seharusnya bisa berbuat lebih dari sekadar bertutur. Informasi mesti hadir dalam lebih banyak bentuk –statistik, grafik, suara, video, gambar. Teknologi yang memungkinkan interaksi antara konsumen dan wartawan, untuk bersama-sama menganalisis usulan bujet, misalnya, harus menjadi bagian lebih besar dari jurnalisme.

(197) Ruang redaksi modern bahkan bisa jadi perlu staf metodologis, seseorang yang mencari data dan membantu reporter tahu statistik seperti apa yang masuk akal dan yang tidak, analisis data macam apa yang logis dan yang cacat. Ruang redaksi modern mungkin perlu akses khusus ke beberapa sejarawan lokal yang bisa dilibatkan dalam rapat atau perencanaan berita yang diliput.

(198) Jika perusahaan pers terus mendefinisikan diri mereka sendiri secara tradisional, dengan cara terbatas –sebagai deskripsi produk yang dihasilkan ketimbang fungsi melayani kehidupan publik- peluang jurnalisme dan nilai yang dikandungnya untuk bertahan pun kian terbatas.

Editor tak bisa lagi cuma mengedit naskah. Mereka harus memahami mana di antara daftar piranti baru jurnalisme yang mesti digunakan untuk berkomunikasi. Dan yang terpenting, mungkin, mereka harus mengakurasi dialog yang berkembang dengan audiens, demikian juga dengan materi di web.

Rosen menyarankan, miliki beberapa elemen mulai dari kebijakan pribadi pengguna, mempermudah verifikasi sebuah bagian web, dan menjadikan verifikasi sebagai bagian kritis dari kerja editor.

(199) Verifikasi menjadi tugas lebih besar bagi editor, dan bukannya lebih kecil. “Kita berada di era volume,” tulis wartawan Gary kamiya dari Slate.com.

Pers harus jauh lebih sadar mengenai fungsi yang dijalankan masing-masing artikel atau konten berita kilas yang diproduksi. Pers harus bertanya, bagaimana orang memakai konten ini? Bagaimana ini membantu mereka? Apa nilainya? Apalagi yang bisa dikerjakan selain itu? Perusahaan pers yang bisa bertahan adalah mereka yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Yang tak bisa, bersiap-siaplah binasa.

(200) Organisasi pemberitaan adalah tempat yang mengakumulasi dan menyintesis pengetahuan seputar komunitas, baik komunitas secara geopolitik maupun komunitas yang dialasdasari kesamaan topik atau minat, dan lantas menyodorkan pengetahuan secara interaktif melalui berbagai cara.

(200-201) Mereka hanya dituntut membuat produk yang sama seperti sebelumnya, memolesnya di beberapa tempat, menemukan cara baru membuat berita atau topik untuk diliput. Hasilnya, kebanyakan pengetahuan yang selama ini ada di ruang redaksi tak sampai ke publik. Mereka tertinggal di file, atau di kepala reporter dan editor. Perusahaan media umumnya tak berpikir tentang produk baru atau cara baru menyebarkan pengetahuan. Dan cara pandang sempit nan saklek dalam menyampaikan pengetahuan ke publik menjadi salah satu alasan industri ini kehilangan kesempatan bisnis baru, baik itu kegagalan untuk beralih menjalankan fungsi pencarian dan agregasi, atau berpangku tangan ketika pihak lain membangun media online superior yang memenuhi klasifikasi di atas.

Satu-satunya cara organisasi pemberitaan bisa menyongsong masa depan adalah dengan memahami fungsi yang dimainkan dalam kehidupan.

(202) Di era internet, ide mengenai berita yang tahan lama, atau berita harus segar tiap hari adalah using. Berita kini bisa menjadi hidup, tumbuh, tiap hari.

(206) Dalam kompetisi baru ini, teknologi komunikasi yang tengah berkembang perlu dimanfaatkan untuk menciptakan jurnalisme yang menyatukan wartawan dan warga, secara saling menguntungkan.

Jurnalisme era baru, yang kami usulkan di sini, membutuhkan itu untuk memastikan prinsip jurnalisme tradisional tak lenyap, wartawan harus menyesuaikan prinsip yang tak lagi bisa diubah oleh teknologi dalam pendisitribusian dan organisasi pemberitaan. Distribusi baru tersebut ditentukan oleh portabilitas teknologi dan pengguna akhir: pengaturan materinya disesuaikan untuk melayani audien yang beragam; dan interaktivitasnya dipakai untuk menciptakan hubungan baru dengan publik untuk membawa mereka pada proses yang bisa membantu menciptakan komunitas kepentingan.

BLUR-Bagaimana menemukan hal yang terpenting (Bill Kovac dan Tom Rosenstiel)

(155) Ketika mendapat informasi, kita musti tak hanya mempertanyakan kebenarannya, tapi juga sebesar apa persoalannya. Dari berita-berita itu, kita musti bertanya apakah kita sudah mempelajari apa yang diperlukan untuk mengetahui subyek tersebut.

(159) Karya wartawan terbaik cenderung memiliki tanda yang halus. Ia adalah produk kesadaran, plus metode atau pendekatan personal tingkat tinggi yang diterapkan wartawan jempolan dalam meliput. Para wartawan luar biasa ini membangun metode tersebut sebagai cara mendisiplinkan keingintahuan mereka.

(160) Itu menjadi cara mereka menggali semua pertanyaan yang ada secara lebih dalam, mengasah penyelidikan, dan memastikan tak ada fakta yang terlewat. Hasilnya, mereka melihat lebih banyak fakta, mengajukan pertanyaan lain, mencari pola, dan lebih unggul dalam menulis sebuah kejadian ketimbang wartawan lain. Mereka cenderung tak cuma jadi tukang ketik super cepat yang hanya mereproduksi fakta yang ada. Berkat metode tersebut, tingkat verifikasi mereka cenderung lebih dalam. Mereka lebih ingin melihat konteks dan memahami penyebab yang pada giliriannya menghasilkan kisah yang sungguh-sungguh masuk akal, yang mempertontonkan pengetahuan riil berdasarkan bukti, tak cuma berdasarkan kesimpulan atau peralihan kesan-mirip-firasat yang banyak muncul pada apa yang kami sebut sebagai jurnalisme interpretative. Semua itu adalah buah skeptical knowing.

(161) Identifikasi tujuan yang dinyatakan lembaga yang anda liput.

Kenali informasi yang akan membantu anda menunjukkan lembaga tersebut mencapai tujuan tadi (misalnya program-programnya).

Ikuti apa kata data, yang merupakan produk lembaga tersebut kepada anda.

Ukur apakah hasilnya menunjukkan bahwa lembaga tersebut telah melaksanakan tugasnya, dan jika tidak, tanyakan kenapa dan apa yang selama ini mereka lakukan.

Tanyai pihak yang terlibat untuk tahu tanggapan mereka terhadap apa ayng ditunjukkan bukti.

“Seseorang, salah satu sumber, menyebut istilah itu padamu. Dan awalnya kamu Cuma mengangguk, agar terlihat mengerti, seperti orang yang sudah tahu. Ungkapan itu adalah “coping.” Namun kamu lantas mengakui. Jangan pura-pura sok tahu. Itu bisa membuatmu kelewatan sesuatu,” tutur Burnham.

“Apa itu ‘the coop’?” Burnham bertanya pada Curran.

“Itu lho.. ketika seseorang tidur saat tugas, dari tengah malah hingga jam delapan pagi.” Setelah bertanya lebih jauh, Burnham mendengar bahwa setiap hari ribuan di antara ribuan polisi New York yang mustinya bekerja di sift malam malah asyik molor.

(163) Cooping adalah efek alami dan contoh dramatis tentang lembaga pemerintah yang salah memanfaatkan sumber dayanya.

(164) Liputannya unggul karena dikerjakan bukan berdasarkan pada kejadian, melainkan pada pertanyaan.

Diana K. Sugg, dalam penilaian kami, adalah satu di antara wartawan ngepos terbaik di negeri ini. Pertama, Sug coba memastikan dia tak terpengaruh oleh semua berita breaking news reporter lain. “saya bertanya-tanya apakah sudah adil dalam meliput pos saya,” tulisnya. Maksudnya, meliput subyek secara layak. Untuk melakukannya, dia mencatat “perlu mengartikulasikan visi untuk pos anda” –ide pertanyaan yang lebih besar terkait dengan subyek, suatu penjelasan yang anda kejar sehingga membuat berita kecil itu tak  berarti.”

(165) Sugg berkata bahwa dia berjuang untuk melampaui batas antara meliput dan mengeksploitasi orang.

(167) Kenali siapa yang menurut anda bisa membantu menguak (jawabannya). Keluar, kejar apa yang ingin anda ketahui.

Saya pun mencari orang lain, menemui orang paling pas bicara soal itu pertama kali, menghabiskan waktu bersamanya, selalu bertanya di akhir wawancara, “Siapa lagi yang musti saya temui? Apa lagi yang musti saya lihat? Siapa lagi yang pakar soal ini? Siapa lagi yang tahu?”

Selalu bangun fondasi informasi. Narasumber berkata, “Sepertinya dia bimbang.” Anda, reporter bilang, “apa yang anda maksud, ‘bimbang’?” Jelaskan itu. Masukkan dalam cerita. Buat mereka menjelaskan tiap ungkapan. Buat mereka mengungkapkan cerita.

Ada bahaya di diri seorang reporter yang ingin tampil pintar, yang ingin orang lain menilai anda pintar. Namun tugas anda adalah membuat orang bicara. Buat mereka mengingat. Buat mereka menjelaskan. Tak masalah jika berjalan sangat lambat.

(169) Namun yang membuat pekerjaan Kifner begitu istimewa adalah keinginan besarnya untuk menemukan konteks dan makna, bahkan ketika dia dikirim untuk meliput kejadian secara mendadak. “Tak masuk akal, dalam pengertian sebenarnya, jika anda tak bisa melaporkan sebuah peristiwa dalam konteks lebih besar dari yang ada. Konteks adalah sesuatu yang selalu saya cari,” katanya.

(170) Untuk menemukan konteks dan mendasari tema tersembunyi di balik kejadian –yang seringkali belum pernah dia liput, Kifner mengembangkan metode untuk menyiapkan diri. Dia melahap koran, buku, dan majalah, mengumpulkan informasi terbaru dari peristiewa yang ada. Dia membuat perpustakaan pribadi berisi buku sejarah dan kejadian terkini dari wilayah-wilayah konflik, seperti Timur Tengah, di mana ia bisa dikirim sewaktu-waktu. Dia selalu siap karena sudah menyimpan pertanyaan di benaknya. Ketika naik pesawat secara mendadak pada tugas liputan ke Iran, misalnya, dia membawa sejarah negara itu di tangan dan buku-buku lain di tas punggung. Saat mendarat, dia siap bertemu pakar lokal dan otoritas yang bisa membantu menempatkan kejadian yang tengah berlangsung dalam konteks budaya dan sejarah.

Dia mencari pola, membaca sejarah, mencari pelajaran.

(173) Mereka yang belajar bagaimana menjelaskan sesuatu, akan menjadi penulis yang lebih baik.

BLUR-Pernyataan, Pengukuhan: Mana Buktinya? (Bill Kovac dan Tom Rosenstiel)

(130-131) Yang paling parah, jurnalisme pernyataan terjadi dalam format panggung, seperti segmen talk show di mana para tamu dipesan untuk sekadar berpendapat tentang sesuatu. Apa yang mungkin menjadi segmen analitis diberi porsi sedikit lebih oleh moderator atau pembawa acara, kalah banyak dari segmen tamu yang mengoceh ngalor-ngidul, dengan upaya minim untuk memeriksa apa yang mereka katakan atau meminta bukti atau banyak hal lain, selain hanya membiarkan sesuatu berjalan.

(131) Masalahnya, perbincangan demikian kian banyak terjadi tanpa pemeriksaan fakta (fact-checking). Percakapan itu membangun fondasi pemahaman publik yang mungkin dibangun dari beberapa pengetahuan tentang yang benar dan yang tidak. Fakta, oleh struktur budaya ini, kehilangan nilai. Mereka tak berposisi sebagai fondasi, tapi kejadian sesaat. Ketika semuanya tak diperiksa, semua pendapat jadi sama –baik yang akurat maupun yang tidak. Berita, dan jurnalisme, menjadi sekadar argumen dan bukan gambaran kejadian akurat yang menjadi dasar argumen, debat dan kompromi.

Dengan melepaskan kemampuan mengedit, organisasi berita tak mampu memeriksa akurasi dan konteks fakta yang disampaikan –setidaknya selama dalam wawancara.

(132) Wawancara langsung, seperti konferensi pers langsung, adalah cara termudah seorang politisi mengontrol.

Kebanyakan wawancara langsung di era televisi 24/7 diatur buru-buru, dengan sedikitnya keterlibatan wartawan dalam persiapan.

Memperparah faktor persiapan minim itu, pembawa acara program ini sering melakukan siaran berjam-jam dan loncat dari satu wawancara ke wawancara lain, topik ke topik, sepanjang program. Mereka berperan laiknya reporter aneka rupa, meliput semua topik plus membawakan berita. Tamu yang mereka wawancarai, sebaliknya, kebanyakan adalah ahli di bidangnya, memiliki kesiapan lebih baik untuk pertemuan singkat itu ketimbang pewawancara, dan seringkali lulus pelatihan kehumasan.

(134) Ada banyak media sekarang yang wartawannya sering barter dan bernegosiasi dengan para pembuat berita. Banyak subjek wawancara mempunyai pengacara yang mewakili mereka, menegosiasikan parameter apa yang bisa ditanyakan dan apa yang tidak.

(135) Operasi berita modern kadang tak berdaya di hadapan pembuat berita dan secara eksplisit menawarkan wawancara langsung sebagai umpan.

Mungkin yang terpenting, ada batasan ketat di wawancara langsung yang tak bisa seenaknya dilanggar wartawan dan mempersulit penggalian lebih dalam.

(136) Aturan paling mendasar adalah menjaga pemirsa tetap mengenali anda. Identitas pengenal itu bisa hilang dengan mudah ketika anda melepas kendali wawancara, atau menjadi terlalu agresif atau kasar atau tak mengajukan tipe pertanyaan yang benar.

Meski ini dipraktikan dalam wawancara langsung, pewawancara harus punya pengetahuan seputar subjek dan kemampuan mengedit wawancara di pikiran mereka di tengah wawancara, tak sekadar membiarkan wawancara menggelinding begitu saja menjadi poin pengarahan sang narasumber. “Inti jurnalisme adalah editing,” kata Koppel. “Dan mengedit saat siaran langsung sangatlah sulit. Ia berarti menyaring ucapan tambahan dari yang relevan, yang baru dari yang lama –di kepala anda, sewaktu mendengarkan orang bicara, dan secara bersamaan memikirkan pertanyaan selanjutnya.

(137) Dengan batasan besar ini –kesulitan dalam penyuntingan, keterbatasan mengontrol narasumber, kurangnya persiapan, minimnya jam siaran, kebanyakan wawancara langsung cenderung jadi sejenis upacara ritual ketimbang temuan informasi baru, menyulitkan wartawan mengumpulkan berita dan mempermudah pembuat berita menampilkan diri dan menyampaikan pesan.

(138) Di dunia jurnalisme pengukuhan yang kian berkembang, bukti diperlukan lebih hati-hati: Ia cenderung dipilah untuk membuktikan sebuah titik. Bukannya memilah sesuatu melalui penyidikan pikiran terbuka, ia menjadi satu senjata, satu cara, dalam sebuah argument persuasi.

(141) Anekdot itu penting. Mereka adalah kisah yang jadi daging, tulang dan penghubung pemahaman kita terhadap realitas. Mereka membuat angka jadi hidup. Namun ketika mereka muncul sendirian sebagai fondasi argument, mereka harus dilihat sebagai sinyal peringatan, tanda bahwa sebuah rumah dibangun di atas satu tembok pendukung. Hati-hati dengan anekdot yang terkungkung dalam isolasi atau bahkan tampak sebagai analisis rumit dari satu angka statistik.

(142) Wartawan terbaik berhati-hati untuk tak memakai anekdot sebagai bukti tunggal.

Anekdot mengggambarkan; tapi tak membuktikan. Statistik tunggal menunjukkan, tapi tak membangun fakta. Contoh atau angka tunggal yang disuguhkan sebagai bukti adalah bendera merah. Ketika melihat mereka, berhati-hatilah. Itu adalah penjumputan fakta, tanda jurnalisme pengukuhan.

(143) Jurnalisme pengukuhan dipenuhi falasi (sesat pikir) orang jahat. Dalam menegaskan dan mengonfirmasi prasangka audien yang biasa emosional, pembawa acara talk show sering menyelaraskan sikap ini dalam kerjanya hingga kami menemukan praktik itu di hampir semua transkrip yang kami tinjau.

(143-144) Pendapat yang berasal dari motif buruk itu, dan kurangnya dialog terhormat yang hendak dituju, menyajikan tujuan yang lagi-lagi tak terkait dengan pemahaman atau bahkan analisis kancah politik. Ini tak terkait dengan fakta. Ia lebih terkait pada penegasan keyakinan prasangka audiens.

Waspadailah falasi orang jahat. Saat anda menemukannya, ia menjadi tanda bahwa ia bukan jurnalisme investigasi, melainkan media persuasi yang dibangun dari prasangka dan ketidakpercayaan.

(145) Melontarkan hinaan personal di tengah persaingan pembawa acara talk show juga merupakan bahan pokok jurnalisme pengukuhan.

Ingatlah bahwa hinaan itu adalah bentuk pengalihan, bukan sebuah argumen.

(147) Problem penentuan peraba realitas itu adalah bahwa ia dimulai dengan pandangan dunia sudah ditentukan sebelumnya, lantas mencomot bukti untuk mendukung pandangan itu. Ia pada dasarnya tak tertarik pada bukti, kecuali yang bisa dipakai sebagai tembok atau alat pembangun pandangan dunia, dan ia kebal dari bukti sebaliknya.

Jurnalisme pernyataan adalah bentuk persuasi, atau tampil pada audien berdasarkan loyalitas ideologis dan bukannya penyelidikan jurnalistik.

(150) Kebanyakan media yang terkategori jurnalisme kaum kepentingan ini beroperasi online, dan banyak di antaranya di ibukota. Mereka abru muncul, dan jujur saja, terdiri atas beberapa pendekatan. Beberapa di antaranya meliput subyek secara komprehensif dan dengan pendekatan straight news.

Para pelaku jurnalisme pengukuhan biasanya membangun audien untuk mengeruk uang. Situs jurnalisme kaum kepentingan yang jelas bersifat politis umumnya tak menjadikan untung sebagai motif utama.

(151) Situs berita yang jelas menunjukkan kepentingan politik kelompoknya cenderung memakai satu bukti seperti yang terjadi di jurnalisme pengukuhan. Mereka menjumput kisah dan sumber yang mendukung tujuan politik mereka. Kebanyakan isi cenderung menyampaikan pesan konsisten.