Cukilan dari Bukan Pasarmalam – Pramoedya Ananta Toer

(9) Presiden memang orang praktis – tidak seperti mereka yang memperjuangkan hidupnya di pinggir jalan berhari-harian. Kalau engkau bukan presiden, dan juga bukan menteri, dan engkau ingin mendapatkan tambahan listrik tigapuluh atau limapuluh watt, engkau harus berani menyogok dua atau tigaratus rupiah. Ini sungguh tidak praktis. Dan kalau isi istana itu mau berangkat dari A atau ke B, semua sudah sedia-pesawat udaranya, mobilnya, rokoknya, dan uangnya. Dan untuk ke Blora ini, aku harus pergi mengelilingi Jakarta dulu dan mendapatkan hutang. Sungguh tidak praktis kehidupan seperti itu.

(10) Ini semua merupakan kekesalan hatiku semata. Demokrasi sungguh suatu sistem yang indah. Engkau boleh jadi presiden. Engkau boleh memilih pekerjaan yang engkau sukai. Engkau mempunyai hak sama dengan orang-orang lainnya. Dan demokrasi itu membuat aku tak perlu menyembah dan menundukkan kepala pada presiden atau menteri atau paduka-paduka lainnya. Sungguh-ini pun suatu kemenangan demokrasi. Dan engkau boleh berbuat sekehendak hatimu bila saja masih berada dalam lingkungan batas hukum. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau akan lumpuh tak bisa bergerak. Di negara demokrasi, engkau boleh membeli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau hanya boleh menonton barang yang engkau ingini itu. Ini juga semacam kemenangan demokrasi.

(54) Semua mau meneruskan ke sekolah menengah. Alangkah sedihku waktu itu. Dan berkata aku pada mereka. Kalau di antara limapuluh orang cuma tiga orang yang ingin jadi guru, siapakah yang akan mengajar anak-anakmu nanti? Kalau sekiranya engkau kelak jadi jenderal, adakah akan senang hatimu kalau anakmu diajar oleh anak tukang sate? Tak ada yang menjawab di antara mereka.

(55) Kemudian kunasihati mereka yang ingin jadi guru. Kalau engkau tidak yakin betul, lepaskan cita-citamu untuk jadi guru itu, kataku. Seorang guru adalah kurban-kurban untuk selama-lamanya. Dan kewajibannya terlampau berat-membuka sumber kebajikan yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa. Dan mereka yang tiga orang itu bilang dengan sungguh-sungguh, Kami bercita-cita jadi guru walau bagaimanapun sukarnya. Dan aku mengangguk-anggukkan kepalaku kepada tiga orang itu.

(60) “Ya, perang memang kutukan untuk manusia, Adikku,” kataku menasihati. “Perang ini menyuruh manusia mendekati dirinya sendiri. Karena, Adikku, dalam diri sendiri itu terletak segala-galanya yang ada di dunia, yang dirasakan juga oleh tiap orang.”

(61) “Dunia ini memang aneh, Adikku,” kataku lagi, “kalau suatu keluarga itu bisa timbul mengatasi keluarga-keluarga yang lain, orang-orang menjadi dengki. Ada saja mereka punya bahan untuk memaki dan menghina-hinakan di belakang layar. Tapi ada sebuah keluarga yang runtuh, ramai-ramai orang menyoraki dan turut meruntuhkannya. Aku tahu, Adikku, inilah adat di kota kecil. Karena, Adikku, penduduk kota kecil ini tak mempunyai perhatian apa-apa selain dirinya sendiri, keluarga dan lingkungannya. Lain dengan di kota besar. Banyak yang masuk ke dalam perhatian mereka. Karena itu, Adikku, lebih baik engkau jangan turut campur dalam kepentingan-kepentingan mereka. Engkau mengerti,bukan?”

(62) Tak ada yang bisa kita harapkan dari mereka itu. Kalau kita toh harus mengharap, kita harus mengharap diri kita sendiri.

(64) “Ya, Adikku, kemanusiaan kadang-kadang menghubungkan seorang dari kutub utara dan seorang dari kutub selatan. Dan dalam hal ini, kemanusiaan itu telah menghubungkan seorang dari kerajaan langit dengan kita.”

(65) “Ya, Mas, ayah sendiri pernah mendapat tawaran jadi anggota perwakilan daerah. Dan ayah menolak angkatan itu.”

“Menolak? Bukankah itu suatu kesempatan baik untuk memperbaiki keadaan masyarakat?” aku bertanya.

“Aku tidak tahu. Hanya saja ayah bilang begini, perwakilan rakyat? Perwakilan rakyat hanya panggung sandiwara. Dan aku tidak suka menjadi badut-sekalipun badut besar. Dan ayah tetap menolak. Ayah pun pernah mendapat tawaran jadi koordinator pengajaran untuk mengatur pengajaran untuk seluruh daerah Pati. Tapi ayah menolak juga dan bilang, tempatku bukan di kantor. Tempatku ada di sekolahan. Ya, barangkali pendiriannya yang seperti itu juga yang menyebabkan ayah tak mau meneruskan jadi pengawas sekolah, dan kembali menjadi guru. Dan ayah bilang juga, kita guru-guru di tanahair kita ini jangan sampai kurang seorang pun juga.”

(66) Detik demi detik lenyap ditelan malam. Dan dengan tiada terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan malam dan siang. Tapi masalah-masalah manusia tetap muda seperti waktu. Di mana pun juga dia menampakkan dirinya. Di mana pun juga dia menyerbu ke dalam kepala dan dada manusia, dan kadang-kadang ia pergi lagi dan ditinggalkannya kepala dan dada itu kosong seperti langit.

(67) Kadang-kadang orang terlalu dekat, terlalu cinta pada gumpal tanah yang sudah berpuluh tahun didiaminya, yang selama itu memberi tempat padanya, yang selama itu memberi hasil yang boleh dimakannya. Dan kadang-kadang orang itu ingin mati di pangkuan gumpal tanah yang sekian lamanya ditumpanginya itu.

(80) Dan terasa betul oleh kami betapa bahagia rasanya tidak tidur untuk kepentingan seorang ayah-ayahnya sendiri-yang sedang tergeletak sakit. Dan terasalah olehku betapa gampangnya orang yang hidup dalam kesengsaraan itu kadang-kadang-dengan diam-diam-menikmati kebahagiaan.

(102) Ayah Tuan jatuh sakit oleh kekecewaan-kekecewaan oleh keadaan yang terjadi sesudah kemerdekaan tercapai. Rasa-rasanya tak sanggup lagi ia melihat dunia kelilingnya yang jadi bobrok itu-bobrok dengan segala akibatnya.

(103) Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s