Cukilan : Imipramine – Nova Riyanti Yusuf

(3) Hanya inginku, kau di sana, bahagia. Bahkan tanpa namaku terngiang dalam hatimu lagi. Walau bibir ini terkecup oleh bibir yang lain dan bukan milikmu… Tapi kuyakin hujan ini akan menitikki bibirmu.. Sama seperti saat ini kupikirkan dirimu, kurindukanmu lebih dari sebuah atap melindungi kepalaku dari titik hujan ini…

(11)  Ia buyarkan putihnya kanvas dengan guratan telapak tangannya. Ia luapkan ketidakjelasan rasa. Bahagia yang berkecamuk dengan kutukan. Keindahan yang berbaur dengan siksa. Ia sesalkan waktu yang mempertemukan. Seandainya ia tidak berada di lorong itu. Seandainya sosok itu tidak tergesa-gesa dan menemukan kedua matanya yang saat itu masih hidup.

(14) Bagi Imi, dicintai sudah cukup. Ia tidak punya tenaga untuk mencintai.

(15) Nay mengangguk dan tak berdaya saat memandang wajah Imi dalam rengkuhan kedua telapak tangannya. Seperti bertanya, kenapa kedua matamu harus memancarkan sedih lagi, seperti remuk redam di titik awal kita bertemu.

(21) Gardina merangkulnya dan menuntunnya ke meja. Langkahnya terseok-seok. Imi tersenyum. “Tidak usah takut untuk menjadi takut.”

(24) “Dok, saya sangat tidak peduli siapa di antara gubernur-gubernur sinting dan maruk itu yang sebenar-benarnya akan memperkosa teluk, yang penting kesejahteraan kami sebagai nelayan tidak dirampas. Kami bosan menjadi pekerja keras yang ditindas.”

“Kau susuri jalan ini menuju pantai. Kau pandangi kampung nelayan. Kau rasuki kerumunan leppa. Mereka orang-orang yang sangat bersahaja, Dok. Mereka tidak peduli kenikmatan duniawi.”

(25) “Mereka akan mencederai alam… mereka akan merusak ekosistem. Para insinyur kota itu tidak lebih dari segerombolan otak udang yang tidak mengerti keseimbangan alam! Mereka dibayar mahal untuk mengindustrialisasi wilayah ini. Sampai-sampai mereka lupa bahwa hidup tidak semata-mata duniawi. Berapa lama lagi bumi akan bertahan, Dok? Sisakan saja sedikit lahan untuk tidak diperkosa sehingga kami bisa hidup tenang sampai dunia ini berakhir.”

(27) Simpan saja cerita hidupmu. Inilah gunanya lautan. Begitu luas, begitu dalam, untuk kita tumpahkan mimpi buruk hidup kita. Dan ia tidak akan pernah kehabisan ruang atau relung di dasarnya atau bahkan terumbu karang untuk menenggelamkan kesedihan kita.

(70) Justru ia terbebani oleh kehadiran elemen-elemen cintanya—perhatian, tanggungjawab, penghargaan, serta pemahaman. Mungkin, ia bukan satu perempuan terpilih, itu yang membebaninya. Ia tidak mau menjadi satu di antara dua eksistensi. Kalaupun ia terpilih, ia telah menjadi second choice.

(71) Jadi dulu ia pergi meninggalkannya. Mungkin ia sakiti hatinya dengan sangat. Tetapi bayangkan juga sakitnya, pada saat ia harus tidur sendiri di ranjang sepinya, sementara pria itu menghabiskan tiap malam berdua dengan istrinya. Apakah mereka bersetubuh, bukanlah suatu ide yang terlalu penting atau megah. Tetapi hanya bukti, bahwa ia memilih menemani sesosok lain yang bukan dirinya. Jadi, dulu, si tua itu pun telah terlebih dahulu menyakitinya dengan sangat.

(74) Kita tidak akan hidup selamanya, paling tidak sisa waktuku yang sedikit.. lantas kenapa kau habiskan hidup kita dalam diam?

(88) Bahwa, kesendirian pun, hidup akan senantiasa bergulir tanpa bisa menanti kesendirian itu sirna.

(89) Kadang semua terlalu membeku. Bahkan akal pun mengelu. Terkulai oleh dominasi rasa. Tetapi ada kalanya dalam sebuah penggalan waktu, buru-buru ku enyahkan rasa itu. Aku takut waktu ku di dunia akan segera habis, jadi jangan kusia-siakan dalam kekhawatiran. Aku akan merugi.

(95) Dua manusia, bertemu di alam lepas, masing-masing menyimpan kehidupan lampau di dalam setiap pori-pori tubuhnya. Bahkan kadang beban masih terjinjing di kedua bahu. Dan derita masih menyayat di jiwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s